
Ngungggggg!!!!!! Ngungggg!!!!!
Suara sirena Kapal Pesiar berbunyi dengan nyaring, menandakan jika kapal akan segera berangkat. Seluruh awak kapal yang berada di pelabuhan segera masuk. Pintu kapal perlahan menutup otomatis, begitu juga dengan pintu pembatas diantara lorong-lorong cabin (kamar) lantai bawah. Pintu pembatas ini berfungsi untuk menahan aliran air masuk, apabila ada kebocoran di salah satu lambung kapal.
Bersamaan dengan bunyi sirena kapal, suara cruise director bergema melalui speaker di setiap area, meminta para tamu segera bersiap untuk mengikuti instruksi evacuation ( tindakan penyelamatan). Mereka akan di tunjukan ke arah mana, harus berkumpul apabila terjadi situasi darurat. Selama di lokasi berkumpul, beberapa staff yang bertugas akan memberikan pengarahan, bagaimana mengenakan life boat dan apa saja yang harus dilakukan apabila ada situasi emergency.
Conrad, Francesca, Aaron, Archie dan Anna dengan bersemangat mengikuti instruksi. Mereka berjalan menuruni tangga menuju ke area kolam renang dan berkumpul bersama tamu lainnya. Cheft Paul, butler Jhon, Matilda dan Maria pun ikut dalam proses pelatihan kilat emergency.
Setelah pengarahan selesai, mereka semua segera menuju ke Penthose yang berada pada lantai atas. Bersama dengan keluarganya mereka akan bersorak ketika kapal pesiar mulai bergerak. Di Balcony, ke enam anak-anak itu bersuka cita, melambai dan berteriak pada siapapun yang ada di daratan.
Ngunggggg!!!!!!
Sirena kapal melengking tinggi. Dan kapal pun bergerak. Kapal Pesiar Pacific Ocean, mulai bergerak. Dengan berdiri pada pagar balcony, Andrew dengan mesra memeluk Diana. Mereka tersenyum melihat bagaimana kebahagiaan yang tersirat pada setiap wajah disana.
Seluruh keluarga besar berkumpul di Penthouse, termasuk Arthur. Dia berpindah dari Kapal pesiar yang melintasi lautan Eropa, bergabung dengan cucu-cucu nya di kapal pesiar yang menuju ke Asia. Bersama dengan rombongan itu, Andrew juga membawa dua orang perawat, dua orang pengajar dan empat orang pengawal.
Yang paling bahagia tentunya cheft Paul. Dia tidak perlu bekerja, hanya memastikan menu yang di makan Adelaide saja. Cheft Paul mendapatkan kamar suite nya sendiri bersama Matilda. Ruangan Penthouse terdiri dari tiga kamar besar dan satu kamar kecil. Butler Jhon mendapatkan kamar nya sendiri di salah satu kamar Penthouse. Conrad, Aaron dan Archie berada dalam satu kamar, Anna dan Francesca, Adelaide dengan perawat dan Matilda.
Andrew memilih ruangan terpisah yang masih bersebelahan dengan Penthouse. Kamar Executive . Begitu juga Arthur dengam butler Markus. Para pengawal tentu mendapatkan kamar suite nya masing-masing. Bekerja sambil berlibur, membuat iri mereka yang tertinggal di mansion.
"Daddy... jadi di sini kalian berdua bertemu?" Tanya Archie dengan antusias kepada kedua orang tuanya.
Diana menengadah memandang Andrew. Pria itu menatapnya dengan sangat lembut. Tatapan mata itu, masih sangat berkharisma, sehingga masih sanggup membuat Diana tersipu. Mereka tersenyum bersama dan menjawab Archie bersamaan pula.
"Iya, sayang."
"Wow. Ceritakan lagi." Pinta Archie.
"Mommy adalah bartender, yang berhasil mengguncang hati daddy. Saat daddy pertama kali melihat mommy, jantung daddy sudah melompat-lompat hampir terjun bebas ke lautan, kemudian diselamatkan oleh tatapan lembut mommy. Dan daddy terus menyerang pertahanan mommy, dengan ancaman lembut, mommy menolak. Karena mommy menolak, daddy semakin penasaran. Dan daddy harus menggunakan semua awak kapal, untuk mencari seorang gadis mungil yang manis, yang bersembunyi menghindari dirinya. Dan begitu mendapatkannya, Hap! Daddy memeluk dan tak pernah melepaskannya. " Aaron dengan berkobar-kobar bercerita sekaligus memeragakannya di depan semua keluarga.
"Kak Aaron! Archie kan mau dengar cerita dari daddy, bukan dari kamu yang lebay!" Protes Archie kesal.
"Yeaaa... pasti sama lah ceritanya kaya itu." Aaron mencibir.
"Mommy, kenapa mommy menolak daddy waktu itu?" tanya Archie yang masih penasaran.
"Iya, kenapa kau berani sekali menolakku waktu itu? Apa tidak takut aku pecat?!" Goda Andrew juga.
"Apa? Jadi daddy sampai mengancam memecat mommy? Sadis amat!" Anna protes.
__ADS_1
"Habis mommy, susah didekatinya," sahut Andrew sambil terkekeh.
"Karena semakin susah ... makanya daddy semakin tertarik. Perempuan itu semakin menarik apabila teguh menjaga kehormatannya sebagai wanita." sahut Francesca membela Diana.
"Anak mommy, sudah semakin dewasa dan bijaksana." Diana memeluk Francesca.
"Jelas, kan mommy yang selalu mengajariku." Francesca membalas pelukan Diana.
"Jadi, sengaja menolak daddy, supaya daddy tertarik?" tanya Archie dengan polosnya.
Pertanyaan Archie membuat Andrew tertawa dengan keras dan bangga.
"Eh... bukan. Lihat itu daddy mu sampai ge-er. Yang pasti daddy dulu menyebalkan. Mentang-mentang boss besar, seenaknya saja main mengurung mommy dan mengancam akan memecat atau melempar ke laut, jika mommy tidak menurut." Cerita Diana akhirnya.
"Kok mengurung? Mommy di kurung dimana? Kenapa sampai daddy mengancam?" Kali ini Adelaide yang jeli, ikut penasaran.
"Dikurung dimana mommy?" Anna menambahkan.
"Itu..." Diana menatap Andrew meminta bantuan. Tapi pria itu diam saja sambil tersenyum. Pertanyaan dari anak-anaknya membawa dirinya kembali ke nostalgia masa lalu, membuat Andrew menatap Diana bagaikan gadis kecil di masa lalu.
"Itu... itu kenapa mommy?"
"Loh... kan enak mom, berarti mommy mendapatkan kepercayaan dari daddy." Ujar Anna tak mengerti.
Diana jadi bingung, bagaimana mungkin dia menjawab jika saat itu Ayah mereka begitu mesum? Itu terlalu memalukan untuk diceritakan di depan anak-anak yang masih kecil. Apalagi... ayah mereka dengan sengaja merusak pakaian dan stocking miliknya.
"Mana enak lah, butler dua puluh empat jam. Capek." Butler Jhon menyelamatkan situasi.
"Ayo anak-anak, kita bersiap makan malam di dinning room. Bukankah kalian ingin melihat kehebohan makan malam di kapal pesiar?"
Arthur akhirnya memutuskan percakapan yang semakin mendesak menantu tersayang nya.
Diana berbisik mengucapkan terimakasih pada ayah mertuanya. Dia merasa lega, terselamat dari hujan pertanyaan yang tiada henti.
Keluarga bahagia dan rukun itu, menghabiskan malam pertama mereka di kapal pesiar dengan menikmati makan malam di restaurant yang sangat luas. Mereka juga mendengarkan dan turut bernyanyi bersama para waiter dan waitrees, yang menghibur para tamu di akhir makan malam.
Malam ini dihabiskan dengan penuh sukacita. Setelah menonton cabaret show dengan keluarganya, Andrew segera kembali ke kamar nya. Dia menghindari basa-basi dari manajemen kapal. Andrew hanya ingin bersantai dan menikmati waktu bersama keluarganya.
Malam semakin larut. Ketika semua sudah terlelap, Aaron dan Conrad bersandar di balcony kapal sambil menatap lautan luas. Dalam pandangan Conrad, sejenak dia melepaskan beban pilihan antara Ruby dan Jasmine. Dua wanita cantik yang sering membuatnya tak mengerti, meskipun kerap kali mulutnya mengatakan Ruby.
__ADS_1
Sementara Aaron memandang lautan dengan penuh harap. Ratusan ribu kilometer lagi, dia akan meilihat negara kelahiran ibunya. Tapi bukan itu saja yang membuatnya bahagia penuh harap. Di sana di negara itu, ada belahan hatinya yang pergi. Akankah menemukan belahan hati itu menemukan dirinya?
Archie yang ternyata belum terlelap di dalam kamar, memandang keluar kaca jendela, menatap lautan. Kisah cinta daddy dan mommy membuatnya berpikir, apakah dirinya akan menemukan belahan hatinya di kapal juga? Meskipun semua itu masih sangat lama, tapi Archie tak bisa berhenti memikirkan keromantisan diantara kedua orang tua nya.
Di dalam kamar Executive.
"Aku memiliki kejutan untuk dirimu," ujar Andrew dengan mesra.
"Oh ya apa itu?"
Andrew mengambil sebuah kotak besar di sudut ruangan dan memberikan pada Diana. Dengan penasaran wanita itu membuka kotak besar itu. Dia terbelalak melihat isinya, matanya menatap Andrew tak percaya.
"Kau, ingin aku mengenakan ini?"
Andrew mengangguk.
Diana masuk ke dalam kamar mandi, melepaskan gaunnya dan berganti dengan pakaian yang disediakan Andrew. Ketika keluar lagi, Andrew di buat tertegun dengan penampilan istrinya, yang sudah mengenakan serangam butler kapal.
Tubuh itu tak jauh berbeda dengan gadis kecil, yang merengut hatinya.
Andrew segera menghampiri Diana, memeluk dan hendak mencium bibir menggoda itu.
"Tuan, lepaskan saya. Tolong sopan sedikit ya."
Andrew mengeringai mendengarkan perkataan Diana. Dia benar-benar dibuat kembali di masa lalu. Diana sungguh-sungguh berjuang, menolak pelukan dan kecupan suaminya, membuat pria itu semakin tertantang. Dan kembali, kancing kemejanya di tarik dengan paksa begitu juga stocking menjadi bolong.
Andrew tidak lagi bersabar seperti dahulu. Kali ini dia menaklukan si gadis bartender dalam satu malam.
...❤ THE END ❤...
Hallooo semua pembaca, Kisah Andrew dan Diana kali ini beneran tamat ya.
Tak terasa sudah Tiga musim cerita ini. Terimakasih sekali atas kesetian dan dukungan kalian terhadap karya recehan ini.
Kisah yang belum selesai, akan perlahan dibuatkan karya tersendiri ya. Saat ini, saya akan berkonsentrasi pada novel 48 Months agreement with Ceo. Ayoo.. siapa yang belum baca kisah cinta unik Lia dan Jason? Cusss buruan, jangan sampai ketinggalan.
Sekali lagi trimakasih yaaa buat pembaca setia.
Tuhan Memberkati.
__ADS_1