Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Menghilang


__ADS_3

Keesokan hari nya. Conrad tetap bersekolah seperti biasa. Hari ini adalah hari terakhir dia mengikuti ujian. Meskipun dengan wajah sendu, anak itu berangkat sekolah.


Dia memeluk Diana berpamitan, membuat wanita itu tersentuh. Meskipun tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir bocah itu, setidaknya tindakan kecil ini sesuatu yang luar biasa bagi Diana.


Semalaman Conrad memeluk Andrew dengan erat, menangis dan tertidur dalam pelukan ayahnya. Hati Andrew pun sangat kacau. Dia sangat menyayangi Conrad, tetapi saat mendengar kenyataan jika bocah ini ada kemungkinan adalah anak kandungnya, hati Andrew diliputi kebahagiaan juga ketakutan.


Dia takut jika semua itu adalah bualan Caroline semata. Test dna memerlukan waktu. Dan Andrew takut hasil test dna itu turut mempengaruhi Conrad.


Jika benar Conrad adalah anaknya, Andrew akan sangat senang sekali. Meskipun anak itu lahir dari wanita masa lalu. Hal itu bagi Andrew tidak akan pernah bisa menggeser kedudukan Diana.


Diana membiarkan Andrew bersama Conrad lebih lama. Bahkan dengan tulus dia meminta pria itu untuk tidur di sisi Conrad hingga esok hari. Conrad perlu dukungan, agar dia tidak merasa sendiri.


"Apapun hasil test dan apapun yang di katakan Caroline kepadamu, ingatlah kalau kau adalah anak daddy dan mommy Diana. Kami tidak akan menjauhkan dirimu dengan orang tua kandung mu, asalkan.... dia tidak membahayakan dirimu. Asalkan dia tulus menyayangimu." Ujar Andrew dengan penuh kasih sayang.


Conrad yang mendengar hal itu hanya meneteskan air mata. Ada rasa bersalah jauh dalam lubuk hatinya ketika bersikap buruk pada Diana. Tetapi, dengung suara Caroline selalu menggema di hatinya.


Wanita itu hanya memanfaatkan dirimu untuk mendapatkan hati ayahmu. Dia yang membuat kedua orang tua mu berpisah.


Hari ini disekolah, ketika semua temannya bercanda dan bercerita kemana mereka akan berlibur, Conrad hanya terdiam. Dulu dia selalu gembira menyambut hari libur. Karena mereka akan pergi kemanapun yang dia inginkan. Sekarang, akankah hari libur membuat dirinya bahagia?


*


"Nyonya, maaf tapi Conrad tidak ada disekolah." Lapor Papito, supir yang menjemput Conrad.


"Maksudmu tidak ada disekolah?" tanya Diana dengan panik.


"Sekarang saya berada di ruang guru nyonya. Mereka menegaskan kalau Conrad sudah pulang lebih awal. Dia beralasan jika anda sedang sakit." Ujar Papito.


"Bagaimana bisa? Kenapa mereka mengizinkan dia pulang lebih awal tanpa mengkonfirmasi nya kepadaku?" Ujar Diana panik.


"Maaf kan kami nyonya. Anak itu bersikeras mengatakan anda sakit. Dan saya sudah mencoba menghubungi tuan Andrew, tapi tuan tidak mengangkat telphone nya. Dan ada seorang wanita yang menyakinkan kami jika dia adalah keluarga Conrad. Conrad membenarkan hal itu." Ujar guru yang bertugas menjelaskan.


Ruang guru menjadi panik. Mereka khawatir jika telah melakukan kesalahan dan sudah pasti hal itu adalah kesalahan dengan suara panik Diana. Mereka harus bersiap-siap akan konsekuensi buruk yang terjadi.


"Kirimkan video cctv padaku, siapa wanita yang membawa Conrad pulang dan jam berapa. Kalian dengar, jika terjadi sesuatu hal buruk pada anakku. Aku akan menuntut sekolah ini!" Diana mematikan sambungan telphone setelah meninggalkan ancaman.


Secepat kilat video cctv yang direkam ulang melalui handphone salah satu guru, dikirim kepada Diana. Dan disitu dia melihat Conrad yang panik sedang berada bersama Caroline. Caroline ternyata membawa Conrad pergi dari pintu belakang sekolah.


Diana menghubungi Andrew.

__ADS_1


"Andrew... Caroline menculik anak kita. Dia membawa Conrad pergi." Ujar Diana dengan tersedu.


"Bagaimana mungkin. Dia disekolah bukan?" Sahut Andrew dengan nada tinggi.


Diana menceritakan kejadian di sekolah kepada Andrew, dan mengenai rekaman cctv yang dikirimkan padanya.


"Aku tadi sedang rapat. Arggggh kenapa mereka para guru begitu bodoh! Percuma membayar mahal!" Umpat Andrew dengan marah.


"Temukan dia. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya." Isak Diana dengan khawatir.


"Tunggu, aku rasa aku tahu rumah Caroline di sini. Aku akan kesana." Sambung Diana lagi.


"Tidak. Tidak. Jangan pergi kesana. DENGARKAN AKU DANN TURUTI AKU! Mintalah pengawal untuk mencari nya. Kau tetap dirumah. Kau harus menjaga Aaron. Ingat Aaron masih bayi dan lebih memerlukan dirimu." Ujar Andrew dengan tegas.


Diana mematuhi. Saat ini meskipun naluri sebagai seorang ibu ingin sekali mencari Conrad, tapi dia tahu apa yang dikatakan Andrew benar. Dia harus menuruti suaminya.


Diana memerintahkan kepala pengawal Greg untuk mengerahkan anak buahnya dan memeriksa cctv sekolah. Mereka harus mengetahui dimana Conrad berada.


*


Pegawal segera menuju ke rumah Caroline berdasarkan alamat yang diberikan oleh Diana. Disana rumah itu sudah sepi. Penjaga rumah mengatakan jika Caroline sudah pergi dengan membawa koper.


Disana mereka mencari kesegala sudut tetapi tidak menemukan apapun.


Tidak berhenti di sana, dengan latar belakang hubungan baik antara Andrew dan kepala polisi, mereka mencari jejak mobil Caroline dari cctv kota.


Sementara Diana mencoba menghubungi Yoora dan Elina. Diana mencari tahu apakah mereka mengetahui keberadaan Caroline. Tapi tidak satupun dari mereka pernah berhubungan dengan Caroline lagi.


"Katakan padaku jika kau memerlukan bantuanku," ujar Elina dengan tulus.


"Iya terimakasih," sahut Diana.


"Apakah sesuatu terjadi? Kau memerlukan sesuatu? Kenapa kau mencari Caroline?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Yoora.


"Lain waktu akan aku ceritakan. Trimakasih Yoora." Diana menutup percakapan.


Dia tidak menghubungi Grisella, karena wanita itu sedang hamil. Dan Diana tidak ingin membebani sahabatnya. Dia terus memutar otak hingga tidak memperhatikan si kecil Aaron.


Dalam kesedihan Diana sangat merindukan Lia. Diana masuk dalam kamar Lia dan merebahkan dirinya disana. Diana menangis putus asa. Jikalau Lia disisinya, gadis itu pasti akan selalu menghibur dirinya.

__ADS_1


Diana membuka lemari pakaian Lia. Air matanya menetes. Bahkan Jason tidak membiarkan Lia mengepak pakaian sedikit pun. Semua nya masih utuh. Diana membelai sati persatu pakaian disana.


Dia tersenyum melihat beberapa pakaian yang tidak terlipat dengan baik.


Dalam kesedihan dan kerinduan, Diana mengekuarkan pakaian Lia satu persatu. Dia melipat dan menata pakaian Lia satu persatu dengan rapi.


Hingga di bagian dasar lemari itu, Diana menemukan sebuah tas. Tas itu sudah pama tidak pernah Lia pakai. Dan akan mudah rusak jika hanya disimpan dalam lemari begitu saja.


Diana mengeluarkan tas tersebut. Diana membuka tas yang dan mengeluarkan isinya,


dia bermaksud meminta pelayan untuk membersihkan tas itu. Saat itulah dia menemukan sesuatu.


Sebuah kotak dari tembaga berlapis emas dengan beberapa taburan mutiara. Diana mencoba mengingat dimana dia pernah melihat kotak itu. Dia merasa mengenal kotak tersebut. Dan... ah mengapa kotak tersebut bagaikan sebuah magnet yang memaksa dirinya untuk membuka.


Diana akhirnya membuka. Buku harian. Diana tersentak! Dia ingat sekarang. Ini adalah barang milik Rachel. Pelayan itu memberikan padanya dan Lia merebut kemudian menyimpannya.


Diana resah, kenapa saat ini dia harus menemukan kotak ini. Apakah dia harus membacanya atau membiarkan semua kenangan Rachel terkubur rapat? Apapun rahasia disana....


Diana mengusap buku bersampul coklat dengan pinggiran berwarna emas. Ada keinginan untuk membuka dan membacanya. Ada keinginan untuk menyelami Rachel. Tapi ingatan akan kenangan buruk bersama wanita itu, membuatnya takut. Apa yang harus dia lakukan?


"Diana!!" suara Andrew memanggilnya.


Diana berlari keluar mendapati Andrew dan pertanyaan pertama yang keluar dari bibirnya adalah, "Apakah kau menemukan Conrad?"


...💗💗💗💗💗💗...


Cerita ini belum tamat ya sobat setia.


Sengaja saya tekan tombol end.


Karena memasuki tahun baru, mungkin akan


sedikit terlambat untuk up nya.


Tapi akan terus diusahakan up ya untuk


menemani kalian semua.


Stay Healthy dan Semangat

__ADS_1


__ADS_2