Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
34. Venice


__ADS_3

Venice merupakan kota apung yang sangat indah, Kota yang dibangun diatas ratusan pulau - pulau yang kecil dan terpisah oleh kanal - kanal yang kecil dan dihubungkan oleh jembatan indah bahkan jembatan itu tanpa anak tangga , bisa digunakan dengan berkuda.


Bangunannya sangat artistik dan kuno, setiap sudut merupakan obyek foto yang indah. Gang - gang kecil yang dilalui tidak akan membuat kita tersesat , karena masih ada penunjuk jalan yang membawa kita kepusat kota. Venice malam hari begitu indah dengan lampu - lampu berkilauan di sepanjang jalan . Gandola yang melintasi kanal utama berlalu lalang, taxi air pun tak sebanyak pada waktu siang hari.


Sesampainya di Venice, Andrew mengajak Diana untuk memasuki sebuah butik yang tidak terlalu ramai . Butik itu indah dengan lampu berwarna kuning yang cerah, tapi sayang tidak ada senyum ramah terpancar dari pelayannya. Benar saja ketika Diana mengambil beberapa pakaian yang terletak di atas meja pajangan untuk melihat model, pelayan itu dengan kasar menghampiri, "Jangan diberantakin, dibuka - buka, sana lihat yang sebelah sana saja. " Menunjuk kearah area diskon.


Diana yang mendengar nya hanya tertegun , agak terkejut dengan sikap kasar terlintas dalam pikirannya apakah aku tampak begitu buruk dan miskin hingga dia memperlakukanku seperti itu.


Andrew yang berada di belakang Diana merasa geram dengan perkataan pelayan tersebut, " hei kamu layani wanitaku , apapun yang wanitaku inginkan harus kamu sediakan ! " Bentak Andrew dengan kasar sambil mengeluarkan kartu hitam nya.


Tamu - tamu yang berada di tempat itu langsung menoleh kearah mereka dan pelayan wanita itu langsung berubah 180 derajat dari sikapnya semula.


" maaf saya tidak tahu kalau dia bersama anda Sir. "


ujar wanita itu sambil memandang Andrew dengan senyum lebar dan mata yang berbinar. Berbinar karena sosok Tampan dan gagah yang memegang kartu kredit hitam langka itu.


" mari nona, saya bantu memilih pakaian yang cocok untuk anda. Baju ini kelihatannya manis. Ini juga dan tunggu... sepatu dan tas ini juga serasi dipakai dengan setelan ini . " pelayan wanita itu berjalan kesana kemari mengambil segala macam pakaian yang terbaik.


Diana memandang kesal kepada pelayan dihadapannya yang sedratis itu berubah sikap. Dia tidak menghiraukan perkataan pelayan wanita itu.


" Anda tidak suka nona, sebentar saya carikan yang lain. " pelayan wanita itu hendak melangkah mencari beberapa pakaian lainnya.


" Tidak perlu . " Diana menghentikan langkah wanita tersebut dan berbalik kepada Andrew.


" Andrew ayo kita keluar ketempat lain, aku sudah tidak selera berbelanja disini. " Diana menarik tangan Andrew keluar meninggalkan butik itu dan membiarkan pintu butik tetap terbuka sehingga hembusan udara dingin di luar masuk mengusik kehangatan butik, dia tidak menghiraukan pelayan wanita yang berteriak memanggil.


" Kenapa, kau tidak ingin membeli apapun di tempat tadi ?"


" Hahahha... " Diana tertawa setibanya diluar beberapa jarak dari butik tadi.


" Tidak ah.. Pelayannya terlalu rasis, buat apa memberi keuntungan pada mereka. Masih banyak butik yang lain . " sahut Diana ringan.


" Kau tidak ingin membalas atau mempermalukan mereka ?" tanya Andrew penasaran.

__ADS_1


" Buat apa menghabiskan hari yang indah dengan hal yang tidak penting. " Diana mengangkat bahu nya.


Andrew menggenggam semakin erat tangan gadis yang bergandengan tangan dengannya saat ini. Ada rasa kekaguman dan Cinta yang semakin besar terhadap gadis yang selalu tersenyum ceria dan melangkah dengan riang.


Wanita lain akan berbeda menanggapi hal tadi, mereka tidak akan diam saja dan pergi. Wanita lain akan memepermalukan pelayan tadi, membentak, mencaci ataupun menunjukan kekuasaanya.


" Ayo kita kesana, butik itu tampaknya menjual lebih lengkap pakainmu dan aku. " Diana mengajak Andrew ke butik yang lainnya. Mereka disambut lebih ramah. Untuk menghindari kesalahan yang sama dan membuat malam Diana menjadi buruk, Andrew segera menunjukan kartu hitamnya dan berkata pada pelayan toko, " Sediakan apapun yang dia perlukan , layani dia dengan baik. "


" baik tuan. " jawab pelayan itu dengan hormat.


Kali ini semua menjadi lebih baik. Setelah mendapatkan semua hal yang di perlukan, Andrew memberikan alamat hotel yang mereka tempati dan meminta pelayan toko untuk mengantarkan semua yang telah mereka beli.


Masih dengan berjalan menyusuri pusat night market yang menjual berbagai macam souvenir cantik. Souvenir yang banyak dipamerkan disana tentunya berbagai macam topeng, layaknya topeng joker yang dihias cantik. Sayangnya malam ini bukan malam festival perayaan topeng yang terkenal di Venice. Jikalau ada, pasti suasana akan lebih meriah.


Diana menghampiri seorang penjual toko souvenir melihat beberapa souvenir yang dipajang.


" Belilah yang kau suka. " kata Andrew ketika melihat Diana memegang beberapa barang.


" Hmm... aku sudah membeli beberapa tempohari. " Diana menolak halus.


" Kenapa banyak sekali. "


" tidak apa - apa. "


" Trimakasih. "


"Hanya terimakasih ? "


" tentu saja, arigato , kamsia, merci.... " Belum selsai Diana melafalkan semua kata terimakasih dalam berbagai bahasa, Andrew sudah mengecup bibir nya.


" ini yang aku minta, cup. " sekali lagi Andrew mengecup bibir Diana membuag wajah nya bersemu merah.


" Kalian pasangan yang serasi. Anda harus membeli ini untuk istri anda. " Pemilik toko itu menunjukan sebuah hiasan bunga dari kaca yang bersemu warna warni indah.

__ADS_1


" eh.. saya.. " lagi - lagi belum selesai Diana menyelesaikan kalimatnya, Andrew menyela.


" Itu bagus, saya akan membelinya untuk istri saya." Sambil menoleh dan mengecup kening Diana.


Wajah diana bersemu merah dan jantung nya berdebar kencang mendengar perkataan Andrew.


" Anda tampak mencintai istri anda. Kalian pasangan yang serasi. " Kembali pemilik toko membubuhi mreka dengan pujian.


" Tentu saja, kami serasi kan ?" Andrew tersenyum lebar sementara Diana tersipu.


" Dia wanita yang baik, anda harus menjaganya selamanya. " ujar pemolik toko itu lagi.


" Tentu saja, dia yang terbaik. " Andrew merangkul bahu Diana dari belakang.


" Hahahhaha... Benar. Benar seperti itu. Pasangan yang serasi. " Pemilok toko tertawa girang.


" Berapa semua nya ?" Andrew mengeluarkan dompet hendak membayar.


" 500 euro. " tanpa menawar Andrew membayar semua yang telah dipilih.


" Nona , dia amat sangat mencintai anda. Anda beruntung. Pertahankan pria baik dan tampan disisimu maka kau akan bahagia. " Pesan pemilik toko kepada Diana sebelum mereka meninggalkan toko.


" Dengar itu gadis kecilku. " Andre berbisik di telinga Diana, " aku tampan. " membuat Diana lebih tersipu.


" Selamat tinggal, terimakasih untuk semuanya. " Diana mengucapkan selamat tinggal kepada pemilik toko dan meninggalkan toko sambil berpelukan.


Mereka berjalan melewati jembatan Canal yang menghubungkan kota air . Tampak bebrapa turis berfoto ria dan menaiki gondola. Perahu air yang biasa digunakan para turis untuk mengelilingi kota melalui jalur air.


" Apakah kau kembali ke hotel dengan gondola ?" tanya Andrew sambil memeluk Diana di jembatan.


" hmm.. .tidak.Bisakah kita naik Gondola besuk , siang hari tentunya bisa menikamti kota dengan lebih jelas." tanya Diana dalam pelukan Andrew.


" tentu saja. Kalau begitu ayo segera kembali kehotel. Aku ingin makan sesuatu sebelum memakanmu . "

__ADS_1



__ADS_2