Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Masa kritis


__ADS_3

WAktu bergulir begitu lambat bagi mereka yang sedang dalam masa penantian. Apalagi yang dinantikan adalah keselamatan seseorang yang sangat berarti. Sosok seorang kekasih, istri, ibu, kakak dan seorang teman baik.


Andrew masih memejamkan matanya sambil bersandar lemas di sandaran sofa, pria itu tidak benar-benar terlelap, terlihat dengan jari telunjuk yang mengetuk-ngetuk sofa dan klopak mata yang bergerak-gerak. Briant sibuk dengan laptop yang dia bawa sedari tadi. Sedangkan Lia masih tidur di pangkuan Jason dengan gelisah.


Jason? Tampaknya dia sibuk merenung, sambil membelai rambut Lia perlahan dengan lembut.


"Bagaimana isteriku?" tanya Andrew langsung begitu melihat dr. Bell keluar dari ruang operasi. Lia yang mendengar suara Andrew segera terbangun dari tidurnya menepis tangan Jason yang berada di rambutnya.


Operasi yang dialami Diana memakan waktu lebih dari empat jam. Membuat semua berharap cemas menanti hasilnya. Meskipun bayi mungil itu sudah berhasil diselamatkan, tapi apalah arti anak tanpa kehadiran seorang ibu.


dr. Bell memandang mereka semua dengan mata lelahnya. Saat ini sudah jam dua dini hari. Proses yang melelahkan bukan saja pada mereka yang menunggu tetapi terlebih bagi para dokter.


"Operasi isteri anda berhasil tuan. Tapi masa kritisnya belum berakhir. Selama dua puluh empat jam kedepan akan ada perawat yang berjaga menemani isteri anda secara bergantian."


Ucapan dr.Bell membuat semua yang berada di ruang tunggu mulai bisa bernafas lega. Setidaknya operasi sudah berhasil, meskipun masa kritis belum berakhir.


"Sebaiknya anda semua beristirahat, agar tenaga kalian pulih sehingga bisa tampak segar ketika pasien sadar." saran dari dr.Bell.


"Terimakasih dokter atas kerja keras kalian. Pastikan perawatan yang terbaik untuk kakak ipar ku." ucap Briant mewakili Andrew yang tampaknya terlalu lelah untuk berbicara.


"Kenapa kakakku belum keluar dari ruang operasi?" tanya Lia.


"Sebentar lagi nona, perawat kami sedang mempersiapkan dirinya." Jawab dr. Bell.


Andrew menghembuskan nafas lega. Perjuangan belum berakhir tapi keyakinan masih tetap ada. Andrew berdiri sambil memandang lurus kearah pintu yang mengarah ke lorong ruangan operasi. Harapan untuk melihat kekasih hatinya dengan segera. Merindukan sosoknya membuat diri Andrew begitu tersiksa.


Aku mau percaya jika Kau benar-benar ada


Tuhan, tolong tunjukan mujijat-Mu lagi, biarkan


Diana melalui masa kritisnya.


Aku mohon kepada-Mu


Tak lama, perawat yang membawa Diana datang dengan mendorong ranjang beroda itu menuju ruangan VVIP untuk observasi lebih lanjut. Tampak disana wajah pucat Diana yang masih mengenakan tabung oksigen terbaring lemah.


Tanpa banyak bicara Andrew mengikuti arah jalan perawat tersebut. Dia berjalan disisi ranjang sambil tak hentinya memandang kekasih hatinya dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya yang hendak menggenggam tangan Diana dihentikan oleh perawat.


"Jangan tuan, maaf. Anda sebaiknya membersihkan diri terlebih dahulu. Akan berbahaya bagi pasien bila terkena kuman."


ujar perawat tersebut yang melihat tampang lusuh Andrew dengan sisa-sisa darah mengering yang masih menempel di bajunya.


Andrew menarik tangannya dan menyadari kalau keadaan dirinya kacau sekali saat ini. Amat sangat berantakan. Dia bahkan sempat mengatakan pada pengawalnya untuk berganti pakaian sedangkan dirinya lebih kacau lagi.

__ADS_1


Setibanya di ruang VVIP, perawat mulai bekerja memasang berbagai macam alat di tubuh Diana. Andrew mengamati semuanya dengan seksama, seakan takut apabila ada satu alat yang lupa mereka pasang.


"Andrew, mandi lah dulu. Itu pakaianmu sudah disiapkan oleh butler Jhon." kata Briant sambil menyodorkan tas baju louis vouito kepada Andrew. Andrew dengan ragu melangkah ke kamar mandi di dalam ruang pasien. Dirinya belum puas berada disamping Diana yang baru keluar dari ruang operasi.


"Pergilah mandi, jangan khawatirkan kakak ipar. Aku akan berjaga disini. Lihat Lia dan Jason juga berada disini." Briant memberi dorongan pada Andrew untuk segera membersihkan diri. Akhirnya dengan berat hati, Andrew membersihkan dirinya di kamar mandi, membiarkan air hangat mengalir membersihkan noda darah yang sebagian sudah menempel kering di tubuhnya.


Melihat air bercampur darah yang mengalir di lantai, membuat Andrew menangis. Dia menunduk di bawah pancuran air dan mendorong kuat-kuat dinding, perasaan marah, sesal, kesedihan dan juga syukur bercampur jadi satu dalam dadanya yang dia tumpahkan saat itu juga.


Darah dan air mata menyatu dalam pancuran air mengalir menuju saluran pembuangan air, seakan hendak membuang semua duka.


Sesaat setelah meratapi kekasih hatinya sekalugus setengah bersyukur karena Diana masih bernafas dengan nornal, Andrew mulai membasuh diri dengan sabun dan kemudian mengeringkan dirinya. Ketika keluar dia melihat Briant, Lia dan Jason masih duduk didalam.


"Kalian kembalilah. Aku akan berjaga disini." ucap Andrew yang melihat lelah di wajah mereka.


"Aku akan menunggu di luar," ujar Briant dan mulai beranjak keluar duduk di ruang tamu ruang VVIP tersebut. Selain karena tidak baik terlalu babyak orang dalam ruabgan pasien, Briant merasa jengah melihat bagaimana Jason selalu berada di sisi Lia.


"Aku juga akan tidur di ruang tamu." ujar Lia mulai berdiri dari sofa hendak menyusul Briant.


"Kau pulanglah, Lia. Beristirahatlah dan kembalilah setelah kau merasa segar." saran Andrew.


"Tidak aku akan disini." ucap Lia tidak perduli dengan perkataan Andrew.


"Aku akan membawanya pergi." ucap Jason sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada Lia.


"Aku tidak mau pulang! Aku mau disini dengan kakakku." Lia ngotot.


"Tapi aku mau menemani kakakku. Apa kau tidak mengerti perasaanku, aku tidak mungkin bisa pulang dengan tenang." ucap Lia jengkel.


"Masih ada hal yang lainnya yang harus kau perhatikan." ucap Jason dengan sabar.


Lia menengadahkan kepalanya memandang Jason dengan pandangan penuh tanya.


Dia belum mengerti maksud perkataan Jason, ada hal yang juga memerlukan perhatian selain kakak tercintanya yang saat ini sedang berbaring lemah.


Jason mendengus kesal, bagaimana mereka semua disini bisa melupakan sosok lainnya yang juga memerlukan perhatian.


"Apa kau lupa kalau keponakanmu masih dalam inkubator? Bayi mungil itu perlu perhatian juga." ucap Jason dengan meletakan kedua tangannya pada bahu sofa dan menekankan setiap kata nya dengan suara perlahan.


Bukan saja Lia yang tersentak Andrew juga menegang di tempat duduknya.


Anaknya saat ini juga sendirian di inkubator. Tapi dia tidak bisa berada di dua tempat sekaligus. Dan sedari lahir bayi itu sendirian tanpa ada anggota keluarga yang memperhatikan.


Andrew lalu memandang Lia dengan penuh harap.

__ADS_1


Lia sadar apa yang dikatakan Jason benar, dia harus memiliki tenaga extra untuk semua yang dia sayangi. Akhirnya Lia menurut, "baiklah. Brother Andrew ingat hubungi aku apa bila kakak sadar atau apapun itu." pesan Lia sebelum meninggalkan ruangan bersama Jason.


"Mungkin sebaiknya aku pulang dengan pengawal, mereka masih banyak disini." ucap Lia ketika sudah keluar dari ruangan dan berpamitan dengan Briant.


"Biarkan pengawalmu beristirahat. Mereka juga manusia yang bisa merasa lelah." tolak Jason dengan lembut.


"Baiklah."


"Apakah kau membawa pakaian sewaktu kemari?" tanya Jason lagi.


"Iya. Aku memang mempersiapkan diri hendak menginap di rumah sakit."


"Mintalah pengawalmu untuk memindahkan ke mobilku."


"Baiklah," meskipun masih tidak mengerti, Lia menuruti perkataan Jason.


Jason menjalankan mobil nya sendiri dan membawa Lia ke sebuah hotel terdekat.


"Kita akan tidur disini?" tanya Lia tidak mengerti.


"Lokasi ini cukup dekat dengan rumah sakit, sehingga kau bisa segera kembali begitu Diana sadar."


"Kau memang hebat." sahut Lia dengan suka cita.


Seorang bell boy sudah menanti mereka dan tamoak mengenal Jason dengan baik. Pegawai hotel tersebut membawa mereka pada kamar yang tampaknya sudah dipesan Jason tanpa Lia ketahui.


Setelah membuka pintu kamar dan menerima tip, bell boy tersebut meninggalka mereka.


"Loh, cuma satu kamar? Kau akan tidur disini juga?" tanya Lia heran.


"Iya."


"Tapi..."


"Kamar ini memiliki twin bed , jadi jangan khawatir kau masih bisa tidur dengan tenang."


"Kau seharusnya memasan dua kamar. Aku akan menghubungi reseptionist." Lia mengangkat telphone di nakas yang segera ditahan oleh Jason.


"Jangan membuang-buang uang, kita hanya akan tidur beberapa jam saja atau kau bernyali kecil sekamar dengan diriku? Atau jangan-jangan kau pikir aku menyukaimu dan akan bertindak tidak senonoh padamu?" ujar Jason dengan mengangkat satu alis matanya.


Lia yang mendengar itu menjadi gemas. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. Dan sekali lagi Jason berhasi. Lia dengan jengkel langsung masuk ke dalam selimut dan mematikan lampu di nakas.


Jason tersenyum. Sebenar dia memiliki penthouse dengan dua kamar di hotel ini, tetapi entah mengapa dirinya merasa khawatir meninggalkan Lia tidur sendirian.

__ADS_1


Meraka akhirnya terlelap di tempat tidur masing-masing. Jason yang masih mengalami jetleg akibat perbedaan waktu dengan Kuwait, akhirnya bisa tertidur setelah puas memandangi wajah cantik Lia.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2