Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
33. Perubahan Rencana


__ADS_3

Diana dan Yanti beserta suami yanti sudah sampai di statiun kereta api di kota kecil bagian Roma dimana kapal berlabuh. Perjalanan yang menghabiskan waktu kurang lebih satu jam tidak terasa panjang karena pemandangan yang dilihat sepanjang perjalanan.


Mereka berjalan keluar dari statiun dan Diana terkejut melihat seseorang yang sudah menantinya disana.


"Din, itu Mr.Andrew kan ? Cieee...dah ga sabar sampai dijemput disini." Yanti menyenggol lengan Diana.


"Oke aku pergi duluan yaa. Sampai jumpa lagi." Yanti dan suaminya meninggalkan Diana.


Diana berlari kecil kearah Andrew dan dengan senyum lebar nya dia menghampiri pria tampan dihadapannya .


"Kenapa kau disini, apakah rapat sudah selesai?" tanya Diana setiba dihadapan Andrew.


"Kau tidak senang melihatku?" Andrew balik bertanya.


"Tentu saja aku senang." Diana memukul dada Andrew gemas.


"Pasportmu tidak hilang kan, masih bersama mu ?"


"Tentu saja. Aku menjaga nya dengan baik. "


"Baguslah kalau begitu, ayo kita pergi. Pesawat kita akan segera berangkat. " Andrew membalikan badannya.


"Pesawat? Kita mau kemana?" Diana memandang heran pada Andrew.


"Ke Venice." Andrew menjawab ringan sambil tersenyum.


"Benarkah? sekarang? lagi?" Mata Diana berbinar mendengar kata Venice yang diucapkan Andrew sekaligus heran, karena sebelumnya kapal sudah berlabuh di Venice selama sehari.


" Tentu saja. Kau tidak mau, apa perlu aku batalkan?" Andrew mengernyitkan keningnya.


"No... No.. No... " Diana mengalungkan tangannya ke leher Andrew dengan bahagia . Sebenarnya dia ingin mengecup kening Andrew, tapi karena tidak sampai akhirnya Diana hanya mengecup dagu Andrew.


"Ayo berangkat. " Diana menarik tangan Andrew menuju kearah mobil dimana Briant sudah menunggu mereka disana.


"Hai Briant, kau ikut ke Venice juga ?" tanya Diana pada Briant yang berdiri membukakan pintu buat Diana .


"Dia tidak ikut. Banyak yang harus dia urus." Andrew menjawab pertanyaan Diana cepat.


"Ooo oke. " Diana masuk kedalam mobil dan bergeser agar Andrew tidak perlu memutar kesisi mobil lainnya.


"Kau mengerti kan kenapa aku tidak mau kehilangan dia?" Andrew berbicara pada Briant sebelum masuk kedalam mobil.


Briant mengangguk.

__ADS_1


"Kau bereskan urusan di kapal, hindari Rachel dan Meredith. " Setelah memberikan pesan kepada Briant, Andrew masuk ke mobil dan duduk disamping Diana.


"Andrew, kita tidak ke kapal dulu? Barang-barang kita masih disana." Tanya diana tak mengerti ketika mobil melaju di jalanan dengan rambu lalu lintas tujuan bandara


"Kita langsung berangkat gadis kecil ku sayang. "


"Lalu pakaiannya?"


"Bisa beli baru di Venice."


"Heh ?! Pemborosan." Diana melotot kearah Andrew.


"Bukankah seharusnya kau senang berbelanja pakaian baru. "


"Iya, tapi punyaku semua masih baru dan aku masih tidak memerlukan pakaian baru lagi. "


"Hahahahha. Dengar Briant kenapa aku terpikat oleh gadis kecil ini?" Andrew tertawa sambil mengusap kepala Diana.


"Ihh.. Apaan sih, aku bukan gadis kecil tapi imut. "


"Iya.. kau gadis kecil ku yang imut. " Andrew mengusap rambut Diana dan menyandarkan kepala gadis itu ke pelukannya.


Briant yang sedang menyetir hanya tersenyum tipis mendengar percakapan mereka sambil sesekali melirik ke belakang sekilas di kaca spion melihat tindakan Andrew yang tampak begitu menyayangi gadis itu.


Selama bertahun-tahun ia mendampingi Andrew ini pertama kali nya dia melihat Andrew tertawa lepas, memandang seorang wanita dengan penuh cinta, panik karena seorang wanita bahkan berlibur karena seorang wanita. Gila! Biasanya meskipun Andrew berkata liburan selalu ada pekerjaan yang menyertai. Selalu ada perjanjian bisnis setelahnya. Wanita, heh .. mereka hanya tempat pembuangan limbah yang tidak bisa disumbat, hanya tempat menyalurkan nafsu. Tidak ada seorang pun yang bisa memiliki hati dan mempengaruhi pikirannya. Dia pembisnis yang handal, berhati dingin tapi masih tetap menempatkan kesejahteraan para karyawan.


Tutur kata nya yang bersahabat.


Amat sangat jauh berbeda dengan setiap wanita yang biasanya mengelilingi Andrew. Wanita-wanita ambisius yang hanya mementingkan diri mereka sendiri, mendekati Andrew karena ada kepentingan entah bisnis ataupun sekedar uang jajan untuk mencukupi kebutuhan mereka. Mereka tidak pernah tulus.


Sekarang dia harus menjauhkan Diana dari Rachel dan Meredith , wanita-wanita gila yang haus kekuasaan. Mereka tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, apapun mereka lakukan untuk mendapatkan keinginan mereka. Entah bagaimana kedua wanita itu bisa mengetahui keberadaan Andrew di Roma.


"Briant. Kau akan membereskan barang kami kan yang masih di kapal?" Diana tiba-tiba bertanya memecahkan keheningan.


"Tidak harus dibereskan, dibiarkan juga tidak masalah. " Andrew menjawab terlebih dahulu.


"Jangan." Diana menyentuh tangan Andrew dan memandangnya memohon.


"Kenapa ada barang yang kamu suka ?"


tanya Andrew.


"Aku membeli beberapa hadiah untuk adiku. "

__ADS_1


"Briant cari barang yang dimaksud Gadisku ini, simpan baik-baik."


"Semua nya yaa barang tanpa terkecuali." Diana berkata pada Briant, kemudian menoleh pada Andrew lagi.


"Pakaianmu juga masih baru beli." Diana mencari alasan lagi.


"Pakaianku tidak masalah, aku punya banyak." sahut Andrew dengan sombong.


"Tapi itu berbeda."


"Apanya yang berbeda, aku juga punya warna yang sama. "


"Pokok nya beda." Diana jengkel. Andrew memandang Dian heran, sambil setengah berpikir apa yang berbeda. Ketika dia sadar ,


"Masukan semua ke koper dan bawa ke Condominoum. Pakaian itu aku beli bersama gadis kecil ku yang imut ini. hahahahhahaha " Andrew tertawa geli sambil mencubit pipi Diana yang kemerahan.


"Okey mr. Andrew. " Briant mengiyakan.


Mereka sudah tiba di Bandara, Andrew menggandeng tangan Diana memasuki bandara. Tampak sekali hanya pasangan ini yang memasuki bandara tanpa membawa apapun. Tidak ada koper hanya tas kecil yang ada di bahu Diana.


Di dalam bandara, mereka menanti keberangkatan pesawat dengan duduk di cafe . Diana memesan Caramel Frapucino sedangkan Andrew hanya segelas machiato. Sambil menikmati minuman dan menanti panggilan untuk boarding mereka memandang setiap orang yang lalu lalang.


Tua muda, cantik dan tampan, sederhana dan perlente, ada yang dengan wajah ceria ada yang dengan wajah dimabuk cinta , ada yang dengan wajah gelisah, ada yang tidak memiliki expressi apapun bahkan ada yang menahan kantuk.


"Lihat. Lihat pria itu... hahahha... sebentar lagi dia akan terjatuh. " Diana menunjuk kearah seorang pria yang duduk di bangku tunggu bandara, pria itu tampak mengantuk berat dia tertidur di duduknya dan badanya berayun condong ke kiri kearah bagian yang kosong.


"hoooho... Coba kita lihat pada hitungan ke berapa dia akan sadar dari tidurnya, satu... dua... tiga.. empat... lima.. enam... tujuh.. Andrew coba lihat bagaimana mungkin dia bisa tidur duduk miring begitu sangat lama. " Diana menoleh kearah Andrew mengungkapkan rasa penasarannya.


"Dan kau melewatkan bagian penting nya. "


Diana menoleh kearah pria itu yang sudah terduduk dilantai berkalungkan tas seorang wanita.


"Yaaaa.... kau lihat apa yang terjadi?" Diana bertanya sambil tetap memandang adegan lucu dihadapannya.


"Pria itu terjatuh tepat ketika seorang wanita lewat dan tas wanita itu terkait tepat di leher nya."


Andrew menjelaskan dengan tersenyum lebar. Sementara Diana tertawa terbahak-bahak, apalagi ketika dilihatnya wajah kikuk pria tersebut mencoba meminta maaf kepada wanita yang terhuyung nenerapa langkah kebelakang akibat ditabraknya tadi.


"Jangan keras-keras. Lihat semua orang memandangmu."


Diana membungkam mulutnya menyisakan tawa .


"Lihat kisah cinta akan dimulai. " tutur Diana ketika dilihatnya kedua orang tersebut sudah berjabat tangan dan mulai mengeluarkan handphone masing-masing.

__ADS_1


"Ayo berangkat bulan madu kita akan dimulai." Andrew berdiri dan menggandeng tangan Diana menuju kearah gerbang tujuan.


Bulan madu ? bagaimana ini disebut bulan madu tanpa ikatan pernikahan


__ADS_2