
Mengherankan melihat sikap Andrew yang terkesan tidak sabar mengirim dirinya pergi bahkan dengan pria yang baru saja dikenalnya. Sikap Mike dan Fransisca yang berubah tegang dan Conrad yang biasanya bergelanyut manja sekarang diam dibalik punggung Diana dan menggenggam erat baju bagian belakang. Diana heran. Sekilas dia melihat wajah Andrew yang tanpa senyuman.Tidak seperti biasanya. Apakah kedatangannya begitu mengganggu dan tidak layak sehingga dia ingin cepat - cepat mengusirnya pergi. Hal itulah yang terlintas di benak Diana.
Ting! Pintu lift terbuka.
Mike bergegas membuka jalan dan Fransisca setengah mendorong nya masuk kedalam lift kosong. Saat bersamaan ketika dia masuk, lift disebelah terbuka. Ting !
Bersamaan dengan pintu liftnya yang hendak tertutup, Diana melihat seorang wanita melintas. Wanita dengan rambut pirang yang sekilas saja tampak cantik, mewah dan angkuh. Inikah alasan Andrew menyuruhnya cepat - cepat pergi. Siapa wanita itu? Apakah mereka....
Hatinya berdegup kencang. Ada rasa sakit yang baru pertamakali dia rasakan sangat nyeri.
Diana meletakan tangannya di dada dan sedikit menunduk.
"Hai cantik, Kau tidak apa - apa ?" tanya Mike dengan penuh kekuatiran.
"Aku tidak apa - apa." Jawab Diana setelah bisa mengatur nafasnya dan mengendalikan diri.
"Kau yakin?" tanya Mike penasaran.
"Iya." Diana tersenyum berusaha meyakinkan Mike.
Ting! Pintu lift terbuka dan mereka sudah sampai di lobby.
"Tunggu disini aku akan menyuruh bellboy mengambil mobil dan membawa kalian ke restaurant."
"Mike tidak perlu. Kami datang dengan Papito."
"Tapi aku berjanji dengan Andrew akan mengajak kalian ke restaurant dan Andrew akan menyusul segera."
"Kami bisa pergi dengan Papito, Mike."
"Tapi..."
"Kau bisa menyusul dengan mobilmu bila kau ingin."
"Okey. Pergilah ke Hotel Four Seassons. Aku akan menunggu kalian di Lobby." Mike akhirnya mengalah. Setelah dilihatnya Papito datang menjemput dia segera menyusul mereka menuju Foor Seassons.
Sementara itu di Kantor Andrew.
Rachel keluar dari lift dengan tergesa dengan wajah angkuhnya. Sepintas dia melihat sosok wanita dan anak kecil yang dia yakini adalah Conrad ada didalam lift yang tertutup.
Dengan wajah penuh emosi, Rachel segera memencet tombol lift hendak menyusul mereka. Tapi semua pintu lift sudah tertutup dan menuju kebawah. Terlambat sekian detik!
"Apa yang kau lakukan disini!" Suara Andrew penuh ketidaksukaan dengan kehadiran Rachel.
"Anak itu Conrad bukan? Dan wanita itu pasti dia bukan?!" Suara Rachel berapi - api.
"Apa perdulimu!" Suara Andrew terdengar galak. Fransisca segera mundur menuju mejanya dan diam disana menelpon customer service lobby untuk menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan Andrew dan juga memberi tahu Briant tentang situasi di ruangan Andrew.
"Apa perduliku katamu?" Suara Rachel sinis.
"Ha.ha.ha.ha.ha. Dia anakku. Tentu saja aku perduli!"
__ADS_1
"Dia bukan anakmu!"
"Aku yang membesarkannya!"
"Membesarkan dengan apa? Kau bahkan hampir tidak pernah menyentuhnya."
"Aku yang merawatnya dari bayi!"
"Heh?! Nanny yang mengurusnya dari bayi."
"Tapi dia tinggal denganku dan memanggilku mommy."
"Itu karena kau yang memerintahkannya!"
"Andrew! Jangan memputarbalikan fakta!" Rachel berteriak.
"Fakta apa? Anak itu tidak pernah menjadi anakmu bahkan merasakan kasih sayangmu."
"Apapun katamu, aku adalah ibunya."
"Kau tidak pantas dipanggil sebagai ibu." Desis Andrew dengan geram.
"Kau! Aku benci padamu Andrew!"
"Bagus kau membenciku, segera tanda tangani surat perceraian!"
"Ha.ha.ha.ha.ha. Kau pikir semudah itu aku akan menyerahkanmu? Kau milikku!" Rachel tertawa sinis dan menyeringai.
"Aku bukan milikmu! Dan tidak akan pernah menjadi milikmu!"
"Kau wanita gila! Aku tidak akan pernah menyentuhmu kalau saja kau tidak berlaku licik!"
"Aku terpaksa agar aku bisa melayanimu sebagai seorang istri." Andaikan saja Andrew adalah pria seperti dahulu, dia akan tersentuh melihat sikap Rachel yang tiba - tiba seperti orang tertindas dan merana.
"Istri? Kau bahkan menjadikan aku sebagai perjanjian dengan wanita lain agar mendapatkan keinginanmu."
"Tapi kau menikmatinya bukan?"
"Lebih baik bersama mereka daripada bersamamu!"
"Ayolah.. Akui kau mencintaiku. Kau bahkan menanyakan pendapatku ketika hendak mengabdosi Conrad." Ejek Rachel dan tersenyum sinis.
Andrew teringat masa itu. Ketika itu dia merasa kasihan melihat Rachel yang telah keguguran dan berakting menjadi wanita yang begitu merana, setiap saat ibu Rachel selalu menyudutkan dirinya dengan mengasihani putrinya menikah dengan seorang pria mandul. Menyinggung betapa besarnya pengorbanan keluarga Rachel untuk membantu keluarga Andrew yang sedang krisis. Bahkan mengatakan bahwa sia - sia dia menikahkan putrinya karena pada akhirnya bayo yang di kandung Rachel gugur.
Saat itu Andrew sudah memberikan peluang perceraian supaya hidup Rachel tidak menjadi sia - sia dengan dirinya seperti yang selalu ditekankan Rachel dan ibunya. Tetapi dengan berbagai alasan mereka menolak dan mengatakan bahwa dirinya tidak tahu terimakasih. Bahkan setiap kali Rachel dan keluarganya meminta bantuan, Andrew selalu berusaha mendukung. Pernikahan mereka hanya karena politik tanpa cinta. Dan itu seperti berenang di sungai yang kering.
Dan ketika Briant membawa berita tentang Conrad, Rachel yang mendengarnya kemudian memaksa Andrew untuk mengabdosi bayi laki laki itu dengan alasan untuk menghibur dirinya. Tapi bahkan Rachel tidak memilih nama untuk bayi itu dan tidak mengurus surat adopsi. Hingga akhirnya Conrad terdaftar sebagai anak Andrew saja.
Sayang sekali, kehadiran Conrad bahkan tidak dapat menutupi penghinaan yang dilontarkan oleh ibu Rachel dan bahkan tidak mampu mengubah sikap Rachel untuk mempunyai naluri keibuan.
Wanita itu tidak tahan dengan suara tangisan bahkan melihat sosok mungilnya. Dia selalu pura - pura tersenyum pada Conrad saat Andrew tiba.
__ADS_1
"Kau tidak pernah menginginkan dia. Bahkan kau mengugurkan darah daging mu sendiri." Suara Andrew pelan tapi seperti sayatan pisau.
"Kau! Aku menggugurkan anak itu demi kau! Ternyata kau mandul, heh!" Suara Rachel lantang dan mengejek.
"Apa maksudmu demi aku. Itu bayi yang kau kandung dan kau gugurkan sendiri."
"Karena aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman dengan kehadiran bayiku."
"Kau gila!"
"Ha.ha.ha.ha.ha. Aku masih waras, Andrew sayang!" Rachel menghampiri Andrew dan hendak menyentuh dada pria itu. Dengan kasar Andrew menepis tangan wanita itu.
"Kau tidak akan pernah pantas menjadi seorang ibu!"
"Apa hak mu menilai aku? Kau pikir dirimu pantas dengan semua waniga yang pernah kau gauli?"
"Setidaknya aku tidak pernah main gila didepan seorang bocah." Andrew tahu apabila Rachel seringkali membawa pulang pria dan bersenang - senang di rumahnya.
"Dimana kau sembunyikan wanita itu heh? Wanita itu pasti lebih parah dariku."
"Jangan pernah kau menghina dia."
"Wanita miskin itu pasti hanya pura - pura lembut didepanmu. Merayu mu dengan senyum manjanya yang genit." Rachel berusaha untuk memprovokasi Andrew.
"Dia jauh 1000x lebih baik darimu."
"Heh? wanita kampungan itu tak akan pernah sebanding dengan diriku."
"Tentu saja dia tidak sebanding dengan dirimu. Karena dia jauh diatasmu." Suara Andrew terdengar melecehkan.
"Kau benar - benar menghinaku. Lihat saja nanti wanita miskin itu yang dia inginkan hanya hartamu."
"Kau tidak perlu khawatir tentang hal itu. Cukup tandatangani surat perceraian itu."
"In your dream baby." Rachel melengos hendak pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Briant.
"Hei tampan... sudah lama tidak berjumpa apakah kau merindukanku?" Tanya Rachel sambil berjalan meliuk menggoda. .
Briant hanya diam. Dari sorot matanya dapat terlihat Briant juga amat tidak suka dengan wanita cantik dihadapannya.
"Ternyata kau masih saja bisu."
"Segera tanda tangani surat perceraian, atau saya akan menggali setiap kebobrokan anda dan keluarga anda." Ancam Briant dengan suara rendah namun terdengar menyeramkan.
"Lakukan kalau kau bisa tampan." Rachel berbisik di telinga Briant dan menggigit telinganya. Briant segera mendorong tubuh Rachel hingga dia terjerembab ke belakang.
"S#it! Aku akan membalas semua penghinaan ini!"
Briant tidak banyak bicara, begitu pintu lift terbuka dia segera menarik tangan Rachel dengan kasar masuk ke lift.
"Silahkan pergi dan bawa kembali berkas perceraian yang sudah ditandatangani."
__ADS_1
Rachel hanya dapat melotot dan menyebutkan banyak nama binatang didalam lift yang membawanya langsung ke lantai parkiran.
****************