
"Kok bisa Frances dapat banyak bekal? Itu pasti buat Aaron kan!" Aaron menegaskan dan mengklaim apa yang dia rasa untuk dirinya.
"Bukannnn. Ini dikasihkan ke Frances. Frances laparrrrr." ujar nya dengan terisak.
"Loh, tadi di sekolah, Frances tidak makan apa-apa?" tanya Matilda dengan heran. Pengasuh itu kemudian mengeluarkan kotak bekal dan memberikan sandwich kepada Francesca. Francesca kemudian langsung mengambil sandwich tersebut dan memakannya dengan lahap.
"Gak makan tadi, lapar." ujar nya dengan mulut yang penuh makanan.
"Loh, tadi katanya kalau dekat Aaron banyak makanan." tanya nanny Maria dengan heran.
"Aaron gak bilang kalau olah raga hari ini. istirahatnya beda." keluh Francesca dengan kesal.
"Loh, tadi Aaron panggil Frances kok. Frances aja yang lari-lari." ujar nya tanpa mau disalahkan.
"Frances mau minta ambilin bekal ke pak satpam, tapi bel sudah berbunyi." Francesca mengadu kesal.
"Hadehhh... sudah gendut, diet sedikit kenapa." ujar Aaron cuek.
"Biarin gendut. Yang penting cakep." ujar Francesca dengan percaya diri.
"Terserah. Aaron mau bubuk."
"Aaron sebentar lagi sampai, ayo sekalian tidur di kamar saja." ujar nanny Maria. Dia pasti akan kerepotan jika Aaron tertidur di mobil, karena jika dipindahkan, bocah itu bisa mengamuk.
"Huh... oke dah."
Mobil memasuki gerbang mansion. Di depan pintu rumah, Diana tampak sudah menunggu. Kali ini dia duduk di kursi roda. Kehamilannya di usia delapan bulan ini, membuat dirinya semakin susah bergerak. Perut nya sangat besar, dan posisi rahim mendesak ulu hatinya.
Terkadang berulangkali Diana merasakan nyeri di ulu hati, dia seringkali bersendawa dan mengeluarkan udara dari dalam tubuh. Meski begitu Diana tetap berusaha untuk mengunyah makanan berprotein untuk perkembangan janinnya.
Wanita itu tersenyum melihat kedatangan kedua anaknya yang lucu-lucu. Francesca yang melangkah dengan riang, karena perutnya sudah terisi dan Aaron yang melangkah gontai karena mengantuk.
"Mommy, lihat apa yang Frances bawa." ujar nya tersenyum senang sambil mengayun-ayunkan ke enam tas bekal makanan yang dia bawa.
"Frances dapat hadiah dari siapa itu?" tanya Diana dengan tersenyum.
Mereka melangkah masuk di samping Diana.
"Dari selirnya Aaron." ujar Frances dengan tertawa.
"Kannnn!!!! Itu pasti punya Aaron!" ujar Aaroj dengan penuh kemenangan.
"Tidak boleh bilang selir. Tapi Fans. Fans nya Aaron." Diana menegaskan. Dirinya tidak suka dengan istilah selir. Tampak seperi seorang raja dengan puluhan istri. Tentu saja Diana tidak ingin hal itu terjadi pada anak pertama yang dia lahirkan.
"Iya mommy, dari Fansnya Aaron." ujar Francesca membenarkan.
"Ayo cuci tangan dan kaki dulu. Setelah itu kita akan membuka nya bersama. Kita lihat apa isinya." ujar Diana dengan raut wajah yang dibuat penasaran.
"Okeyyy mommy." ujar Francesca bersemangat.
__ADS_1
"Aaron mengantuk." kata Aaron dengan lelah.
"Kalau begitu, Aaron tidur saja. Biar mommy dan Frances yang buka ya. Kalau tidak di buka nanti bau."
"Gak mau. Aaron mau lihat juga. Tapi gendong." ucapnya manja.
Diana memajukan bibirnya dengan sedih, Sambil membelai perutnya.
"Mommy kan sudah gendong tiga baby. Maaf ya sayang. Mommy gak bisa gendong Aaron." Ujarnya dengan sedih.
"Lupa. Aaron gendong bibi Maria saja yaaaa." pinta Aaron. Seandainya tidak penasaran, maka dirinya lebih memilih tidur daripada melihat isi bekal.
Mereka berjalan ke ruang makan. Nanny Matilda meletakan tas bekal di meja dan mengeluarkan kotak bekal itu. Satu persatu kotak bekal di buka. Dan wow, Diana terpukau di buatnya. Ke enam kotak bekal itu memiliki isi yang berbeda.
Ada nugget dan french fries, ada bento, ada hotdog, ada potongan buah, ada cake dan terakhir ada sekotak penuh cokelat. Isinya luar biasa. Pantas saja, Aaron dan Francesca tidak pernah mau membawa bekal dari rumah. Karena ada jamuan luar biasa di sekolah.
"Aaron, kau yakin tidak pernah meminta ini pada mereka?" tanyanya lagi.
Aaron menggelengkan kepala dengan mata sayup.
"Baiklah jika begitu. Besuk Kalian kembalikan kotak makanan ini pada mereka dan sebagai gantinya akan mommy isi puding. Nanti setiap hari jumat, mommy akan membawakan kalian makanan yang bisa dibagikan di kelas ya."
"Gak usah repot-repot momny. Mereka nanti manja." ujar Aaron cuek.
"Heiii anak mommy, tidak boleh begitu. Mereka teman-teman yang baik dan memperhatikan dirimu. Maka kau harus membalas nya. Jangan cuma menerima. Sesekali kita juga harus memberi." nasihat Diana.
"Kalau behitu Frances aja yang membagikan ya. Kan Frances juga menerima kebaikan dari mereka. Berbagi itu indah loh." bujuk Diana
"Siap mommy. Frances yang akan membagikan. Frances sukaaaa." ujar Francesca dengan hidung kembang kempis karena senang.
"Anak pintar. Hitung-hitung ini sebagai ucapan terimakasih untuk Fans nya Aaron loh." ujar Diana sambil mengerdipkan matanya pada Aaron.
"Ah benar mommy, Fans club nya Aaron. Frances manager nya. Hahhahahhaha... enak... enak.." ujar Frances sambil membayangkan makanan apa saja yang akan dia peroleh.
"Okey, sekarang bubuk dulu sana."
Kedua pengasuh membawa Aaron dan Francesca kembali ke kamar untuk tidur siang. Sepeninggal mereka, Diana mengambil foto dari ke enam bekal itu. Suatu saat ketika Aaron dewasa, Dia akan senang sekali melihat nya.
*
"Lihat foto ini." Diana menunjukan foto keenam bekal dari teman-teman Aaron kepada Andrew, Saat mereka sedang berduaan di kamar.
"Apa ini?" tanya Andrew tak mengerti.
"Coba tebak."
Andrew mengernyutkan keningnya.
"Kai membeli bekal makanan untuk ke enam anak kita?" jawabnya dengan yakin.
__ADS_1
Diana memukulkan bantal kecil ke dada Andrew.
"Mana mungkin. Yang tiga saja belum lahir. Coba tebak lagi."
"Hmmm... itu apakah contoh bekal untukku?" tanya Andrew dengan heran dan geli.
"Hahhahhaha... kau mau aku buatkan bekal dengan kotak makanan bermotif kartun seoerti itu?" tanya Diana dengan geli.
"Ya enggak lah. Bisa turun wibawa ku nanti." jawab Andrew dengan menyeringai lebar.
"Tidak bisa menebak?"
Andrew menggwlengkan kepalanya.
"Itu bekal dari fans nya Aaron." ujar Diana dengan tersenyum geli.
"Lucu ya mereka," sambung Diana lagi.
"Ckckckck, benar-benar anakku." ujar Andrew dengan bangga.
"Trus bukan anakku?" Diana mengernyitkan keningnya.
"Dia mewarisi bakat alamiku." ujar Andrew percaya diri.
Diana menaikan alisnya.
"Maksudku, ku tidak perlu melakukan apapun, mereka sudah mengerubungi diriku."
"Masa?" ujar Diana menggoda.
Andrew mengangguk yakin.
"Sewaku sekolah dulu, tiap Valentine aku mendapatkan lima puluh cokelat setiap tahunnya." ujar Andrew dengan bangga.
"Oh ya, kau makan semua?"
Andrew menggelengkan kepala.
"Aku bagikan ke semua pelayan dan pengawal." ujar Andrew dengan tersenyum bangga.
"Hemmm... kalau Aaron tiap tahunnya medaoatkan kurang dari dua puluh. Kita lihat, Apakah Aaron bisa mengalahkanmu."
"Baik
"Kita lihat. Apakah Anak satu itu bisa mengalahkan kecharmingan sang daddy."
"Sombong." ujar Diana kesal sambil memenjet hidung suaminya kesal.
...πππππππ...
__ADS_1