Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Pisau dan Darah


__ADS_3

"Tuan, kami mohon kerjasama anda. Jangan khawatir, tim kami pasti akan melindungi anda." Kepala polisi secara khusus datang menemui Andrew di mansion.


"Jika aku menolak?"


"Maka nyawa anak itu ada dalam ancaman."


"Dia bukan anakku." Desis Andrew geram.


"Benar tuan, dia bukan anak dan tidak ada hubungan apa-apa pula dengan kami sebagai penegak hukum. Tetapi, tidak kah ada sedikit belas kasihan. Kasus ini menyangkut anda juga. Menyangkut nama baik anda dan perusahaan. Saat ini, banyak warga yang mengelilingi rumah nyonya Bertha dan wanita itu terus menerus meneriakan nama anda. Dia memiliki hal yang ingin disampaikan langsung pada diri anda."


Kepala Polisi dengan panjang lebar menjelaskan, membuat Andrew terdiam. Dia tidak berkeinginan menemui Bertha. Apalagi Leonel, bukankah anak itu juga yang telah menyakiti putranya, Aaron? Biarkan saja mereka, ibu dan anak saling menyakiti.


"Kami mohon bantuan dari anda tuan, kasihan anak malang itu, dia juga korban disini." Lagi, kepala polisi memohon.


"Ada apa ini Andrew?"


Diana yang sedari tadi berada di luar ruangan, menangkap sekilas pembicaraan mereka. Dia merasa aneh dengan sikap Andrew yang keras dan tegang. Sementara kepala polisi yang berulang kali memohon.


"Bertha menyandera anak angkatnya." Sahut Andrew singkat.


"Ya Tuhan. Bagaimana nasib anak itu?" Diana menutup mulutnya dengan terkejut.


"Anak itu babak belur nyonya, tampaknya dia tidak mendapatkan perawatan serius."


Kepala polisi menunjukan foto yang dikirim oleh anggota polisi lainnya yang sedang berada di rumah Bertha. Tampak bagaimana Leonel dengan tubuh terluka dipaksa berdiri oleh Bertha. Pisau melekat dileher Leonel yang mulai tergores. Wajah Bertha bahkan seperti orang hilang akal. Matanya melotot penuh kebencian, meskipun masih dengan dandanan yang rapi.


Orang dengan masalah kepribadian yang masih bisa berdandan rapi layaknya normal, tampak lebih menakutkan daripada orang yang benar-benar tidak waras, dengan dandanan berantakan. Bertha tampak menakutkan.


Disudut lain mereka juga mengirimkan foto seorang pemuda yang sedang duduk di kursi roda. Pemuda cacat dengan kondisi memprihatinkan. Tampak kurus kering tak berdaging. Tubuhnya yang lelah dan sorot mata yang susah diartikan.


"Ini... Mereka..." Diana tercekat.


"Iya nyonya. Leonel yang disandera merupakan anak angkat, sedangkan pemuda cacat itu kami asumsikan anak pertama nyonya Bertha." Kepala Polisi menjelaskan.


"Andrew. Leonel merupakan teman sekelas yang bertengkar dengan Aaron. Aku sudah mengirimkan sejumlah uang untuk biaya perawatan. Tapi, ternyata anak ini tidak mengalami perawatan." Diana mendesah kasihan melihat keadaan Leonel.


"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"


"Begini nyonya, kami datang kemari karena tuntutan nyonya Bertha yang ingin bertemu dan berbicara langsung dengan tuan Andrew. Dia mengancam jika dalam satu jam ini, tuan Andrew tidak datang, dia akan menyakiti Leonell." ujar kelapa polisi dengan pelan, menekankan pada setiap kalimatnya.


Diana memijat keningnya.

__ADS_1


"Tidak bisakah, anda dari pihak polisi melakukan sesuatu, tanpa harus suami saya datang kesana?"


ujar Diana dengan suara bergetar.


Andrew mengahampiri Diana dan merangkul istrinya dari belakang. Lelaki itu mengerti perasaan halus yang dimiliki Diana. Satu sisi dia begitu mengkhawatirkan Leonel dan satu sisi dia tidak rela suaminya sebagai bahan barter.


"Kami bisa saja langsung menembaknya, nyonya. Tapi resikonya terlalu besar. Dua nyawa sekaligus yang menjadi taruhan. Dan banyak masyarakat disekeliling rumah yang mengerubungi. Terlalu beresiko." ujar Kepala Polisi.


"Biar Aaron yang kesana. Lagipula Leonel seperti itu juga akibat perbuatan Aaron." Aaron yang sedari tadi menguping, muncul ditengah-tengah mereka.


"Tidak Boleh!!!" Jerit Diana spontan.


"Tapi mom, ini salahku juga yang terpancing emosi."


"Tidak!! Ini bukan urusanmu lagi!" Bentak Andrew tak kalah garangnya.


"Tapi, nyawa Leonel akan menjadi taruhannya, dad!" Jiwa muda Aaron yang penuh belas kasihan sedang muncul di permukaan.


"Dan kau yang akan menjadi taruhan jika berada disana." sahut Diana tidak rela.


"Bukannya banyak polisi disana, apa yang harus ditakutkan. Aku bawa pengawal juga." ucap Aaron dengan tenang.


"Maaf tuan muda. Anda tidak bisa datang karena yang diminta oleh nyonya Bertha adalah tuan Andrew." ucap Kepala Polisi sambil berulangkali melihat jam ditangannya. Waktu terus bergerak, persyaratan waktu yang diminta Bertha mulai bergulir.


"Aaron! Kemari kau!" Andrew menyeret Aaron dari ruang tamu masuk kedalam ruang keluarga. Disana sudah berkumpul ke lima anaknya yang lain.


"Daddy. Apakah kakak Aaron akan pergi kesana?" tanya Archie dengan khawatir.


Andrew memaksa mendudukan Aaron di kursi tepat disisi Anna. Gadis kecil itu segera menggenggam tangan Aaron. Dia memegang dengan kuat, seakan takut kakak kesayangannya akan kabur. Anna bagaikan polisi kecil yang menjaga tawanannya.


Andrew menatap manik mata anak-anaknya satu persatu. Dia mendesah melihat sorot mata Aaron yang gusar dan berakhir di sorot mata Diana yang khawatir. Sebagai seorang ayah dan sebagai seorang warga negara yang baik, dia berada dalam pilihan sulit.


"Daddy akan datang memenuhi permintaan kepala polisi. Daddy akan lihat bagaimana cara menyelamatkan temanmu." ujar Andrew dengan beban.


"Tidak! Tidak! Aku tidak akan mengijinkanmu." ujar Diana dengan panik.


Dia tidak akan membiarkan suaminya masuk lagi dalam, rangkaian jerat maut dari keluarga terkutuk itu. Cukup sekali pengalaman yang membuat dirinya hampir kehilangan nyawa dan Diana tidak ingin Andrew menjadi sasarannya kali ini.


"Tenanglah Diana. Aku tidak akan dengan bodoh mempertaruhkan keselamatanku begitu saja. Seperti kata Aaron, disana banyak polisi dan aku akan pergi dengan pengawal. Jika sesuatu terjadi pada anak itu, bagaimana kita bisa memandang mata Aaron yang dipenuhi penyesalan?" Ujar Andrew perlahan dengan bersimpuh di pangkuan istrinya.


"Tapi... keluarga itu..." Tubuh Diana bergetar ketakutan. Trauma akibat keluarga Rachel masih membekas kuat.

__ADS_1


"Aku akan baik-baik saja. Jika kalian semua berkumpul dan berdoa untuk ku, maka tidak kah Tuhan akan lebih mendengar permohonan kalian?"


Perkataan Andrew memberikan sedikit ketenangan bagi Diana. Secara Manusia dia tidak akan merelakan suaminya maauk kedalam sarang buaya liar. Tetapi jika iman bisa menaklukan segala nya, mungkin itu patut di perjuangkan.


"Kembali dengan selamat! Kirim wanita itu ke rumah sakit jiwa selamanya!"


Andrew mengangguk mendengar perkataan tegas Diana.


"Aku mencintaimu. Kau adalah anugerah terindah dalam hidupku." Andrew mencium kening Diana dalam-dalam.


"Conrad! Selama daddy tidak di sini, kau jaga adik-adikmu. Berhenti bermain kucing-kucingan dengan wanita."


"Aaron, tetap dirumah! Ingat Perusahaan daddy adalh tanggung jawabmu. Kau harus berlatih banyak dengan uncle Briant!"


"Frances, Archie, Adel dan Anna. Jaga Mommy. Kalian harus rukun dan mendukung satu sama lain."


Pesan Andrew kepada keluarganya.


"Daddy! Kau harus kembali dengan selamat. Ingat, aku tidak akan mau belajar dari uncle Briant. Aku hanya mau dengan daddy!" ujar Aaron tak kalah tegas.


Andrew tersenyum dan mengusap kepala Aaron dengan penuh kebanggaan.


"Ayo kita berangkat." Ujar Andrew kepada kepala polisi.


Dengan diiringi tatapan sedih dari keluarganya, Andrew berangkat dengan diiringi oleh tatapan sedih keluarga dan pelayannya. Waktu berdetak. Tinggal Tiga puluh menit lagi. Sedangkan perjalanan pun menghabiskan waktu tiga pukuh menit jika tidak macet.


Tanpa diminta, Greg kepala pengawal menugaskan delapan anak buahnya menemani Andrew. Mereka ditugaskan untuk menjaga keselamatan tuannya. Dan jika gagal, maka hukuman yang mereka dapatkan dipastikan bukan sekedar pemecatan.


Tepat tiga puluh menit kemudian.


"Akhirnya kau datang Andrew." ujar Bertha dengan tenang.


"Lepaskan anak itu. Kita bisa bernegosiasi dengan baik- baik." Pinta Andrew.


"Kau pria pengecut! Hanya menghadapi seorang wanita lemah saja harus membawa pengWal dan meminta perlindungan polisi. Daddyyyy lihattt dia pengecut. Hahhahahha. " Bertha berbicara dengan menatap foto Bill Willingthon di dinding.


Dalam satu gerakan, Bertha mendorong Leonel dengan keras kearah polisi yang berada di depan Andrew. Forrmasi polisi itu terbuka, mereka berusaha menangkap Leonel. Dan Bertha dengan sigap berlari, mengarahkan pisaunya ke arah Andrew.


Pisau itu menancap, meminta korban. Darah menyembur dengan keras mengenai tubuh dan wajah Bertha. Wanita itu melotot lebar-lebar hingga mata itu seakan hendak tumpah. Dia tertawa menggelegar dengan bahagia. Kemenangan sudah dia peroleh. Dan matanya menatap nanar ke arah Andrew yang terkejut.


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...

__ADS_1


Bab selanjutnya diperkirakan dua hari lagi ya...


__ADS_2