
Pagi hari setelah keluar dari condominium, Andrew memerintahkah supir untuk menuju ke Perumahan real estate yang terletak di kawasan dekat pantai. Rumah mewah yang telah dia siapkan untuk Diana. Rumah itu sudah lama dia miliki, tetapi tidak pernah dia gunakan karena baginya tinggal di kediaman kecil seperti condominium membuat dirinya bisa lebih dekat dengan Diana. Selain itu perubahan yang drastis dikhawatirkan akan membuat Diana tertekan.
Ketika dia melihat kesungguhan hati gadis itu dan tekad nya yang luar biasa untuk dapat menjadi wanita yang bisa berjalan bersama nya dengan penuh percaya diri, hati Andrew menjadi tersentuh dan semakin jatuh cinta.
Baginya Diana bukan saja wanita yang sekedar cantik dan lembut tapi juga penuh pengertian. Sikap mental nya yang luar biasa membuat dirinya mendaki keatas. Andrew mengetahui kalau Diana mengikuti beberapa kursus bahasa asing dan kursus kecantikan adalah untuk membuat dirinya selangkah lebih naik. Dengan segala yang dia miliki juga tekad yang luar biasa tidak membuat pribadinya berubah. Dia tetap wanita cantik yang lemah lembut dan selalu menaruh perhatian terhadap Andrew dan Conrad.
Dan Andrew tidak dapat menunggu lama. Dia sudah memerintahkan Briant untuk membuat rumah tersebut menjadi siap dipakai. Briant memang sepupu sekaligus asisten yang luar biasa.
Memasuki halaman Mansion yang baru, Andrew segera turun dan disambut oleh kepala Pelayan, Jhon. Pria separuh baya ini sebelumnya adalah pelayan dirumah orang tua Andrew. Hubungan baik diantara mereka membuat Andrew memutuskan untuk membawa Jhon bersamanya dan membantu menjaga Diana.
"Pagi tuan Andrew, bagaimana kabar anda?" Sapa Jhon ketika dia membukakan pintu.
"Baik. Bagaimanana semuanya apakah sudah rapi?"
tanya Andrew langsung ke pokok permasalahan.
"Sudah tuan. Apakah anda mau berkeliling?" tanya Jhon.
"Iya."
Mereka mulai berjalan masuk melewati ruang tamu yang dibatasi dengan lemari buffet yang indah menuju ke ruang keluarga yang luar biasa besar dengan smart tv terbaru berukuran jumbo. Guci - guci mewah menghiasi sudut - sudut ruangan, sofa besar dan mewah berwarna putih juga karpet bulu yang lebar menambah kenyamanan ruang keluarga dan disamping ruang keluarga adalah ruang bermain bagi Conrad yang bisa tembus ke taman. Terdapat tiga kamar tamu di lantai bawah dengan jendela menuju taman tapi tidak memiliki pintu yang menembus ke taman. Melewati ruang keluarga adalah ruang makan yang dibatasi oleh dinding dengan lukisan pemandangan jembatan Venice yang besar. Lukisan yang disukai oleh Diana dan dibeli Andrew. Akan menambah kejutan.
Ruang makan yang mewah dengan meja pualam putih besar dan terdapat enam kursi menghiasi meja. Lemari marmer indah menghiasi dinding ruang makan tersebut, selebihnya adalah ruang belakang. Andrew tidak terlalu memperhatikan detail ruang belakang yang tentu saja terdiri dari dapur, ruang karyawan, mencuci , gudang dan sebagainya.p
Kemudian mereka menaiki ruangan di lantai atas. Lantai atas terdiri dari kamar utama, ruang kerja, kamar Conrad, ruang fitnes dan ruangan keluarga. Kamar utama mereka memilki balcony luas dengan pemandangan kolam renang di bawah.
Design interior rumah sudah sedikit berubah dari pertama kali dia membelinya. Andrew mengamati setiap detail ruangan dengan design interior yang sudah sedikit berubah. Simpel, elegant dan mewah.
"Apakah Briant membawa design interior yang baru?" tanya Andrew.
"Benar tuan." Sahut kepala pelayan Jhon hormat.
Andrew mengangguk - angguk mendengar jawaban kepala pelayan Jhon.
"Dia masih disini tuan." Sambunv kepala pelayan.
__ADS_1
"Maksudmu orang yang merancang design interior ini?"
"Iya tuan. Dia datang tadi pagi untuk memastikan segala sesuatunya sebelum anda datang."
"Bawa dia keruang tamu. Aku akan mengucapkan terimakasih." Perintah Andrew.
"Baik tuan." Kepala Pelayan segera turun kebawah dan menuju pintu samping yang tembus ke kolam renang. Sedangkan Andrew menuju ruang tamu.
"Pagi tuan, nona designer sudah disini."
" Silahkan duduk." Andrew mempersilahkan duduk ahli design interior tersebut.
"Terimakasih tuan. Nama Saya Grisella. Saya adalah orang yang ditunjuk oleh mr. Briant untuk memberikan sentuhan nuansa baru di rumah ini. Apakah semua sesuai selera anda tuan?" tanya wanita yang tak lain adalah Grisella sahabat baru Diana.
"Semua bagus. Mungkin hanya beberapa sentuhan di gorden yang harus dirubah setiap bulan."
"Baik tuan. Warna - warna apa saja yang hendak anda gunakan?" tanya Grisella. Saat ini gorden di setiap ruangan berwarna coklat keemasan.
"Bisa kau tanyakan nanti kepada calon istriku." jawab Andrew.
"Baiklah. Kau bisa pergi sekarang. Dan kau bisa menghubungi kepala pelayan Jhon kapan bisa bertemu dengan nyonya rumah ini." Kata Andrew.
"Baik tuan. Saya permisi dulu. Terimakasih." Grisella beranjak dari ruang tamu kearah pintu samping.
Setelah berbincang dengan kepala pelayan Grisella meninggalkan mansion mewah.
Sementara Andrew mengeluarkan smart phonenya dan menghubungi Papito.
"Bawa mereka hari ini langsung ke mansion." Perintah Andrew. Dan sambil menunggu siang, Andrew memutuskan menggunakan ruang kerja untuk mulai membuka laptop dan lembali belerja.
Hari sudah menjelang sore ketika Papito datang membawa Diana dan Conrad. Sejak awal ketika mobil baru di depan gerbang, seorang sekurity sudah mengabari kepala pelayan Jhon akan kedatangan mereka. Kepala Pelayan segera memerintahkan semua anak buahnya untuk keluar dan memberi sambutan pada nyonya rumah mereka.
Diana dan Conrad turun dengan menahan perasaan tidak mengerti. Semua dia sembunyikan dibalik kacamata hitam besar Dolce Gabana.
"Selamat sore nyonya, perkenalkan saya kepala pelayan di rumah ini. Nama saya Jhon." Jhon membungkuk memberi hormat ketika memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Hallo Jhon, aku Diana dan ini Conrad." Diana memperkenalkan diri menutupi rasa canggung.
"Selamat siang nyonya dan tuan muda, selamat datang." Seperti sudah dikomando semua pelayan serempak menyapa mereka.
Diana tersenyum. Tiba - tiba onrad berlari kearah salah satu pelayan wanita.
"Nannyyyy... aku rindu padamu." Ujar Conrad sambil memeluk pelayan wanita yang merupakan pengasuh Conrad sedari bayi. Andrew membawa wanita tersebut keluar dari kediaman Rachel. Meskipun Rachel berulangkali berusaha mencari informasi dimana Andrew menyembunyikan Diana dan Conrad, tetapi semua sia - sia. Bahkan Nanny pun tidak mau memberitahukan meskipun sudah diancam dengan berbagai cara.
"Mari Nyonya, tuan sudah menunggu anda didalam." Kepala pelayan Jhon mengajak Diana ke dalam. Baru saja hendak memasuki pintu rumah, Andrew sudah muncul dan memeluk dirinya. Memberikan kecupan ringan di kening dan bibir. Kepala pelayan Jhon segera mundur beberapa langkah sementara para pelayan yang melihat kemesraan mereka tersenyum bahagia. Nyonya yang cantik dan anggun tampak baik hati sedangkan tuan mereka begitu tampan dan gagah.
"Andrew... Mansion siapa ini?" tanya Diana setelah ciuman dibibir selesai.
"Mansion kita sayang. Rumah kita." Jawab Andrew dengan mesra.
"Rumah kita?" Tanya Diana tak mengerti.
"Iya sayang. Kita akan menempati rumah ini mulai sekarang."
Diana tampak terkejut dengan perkataan Andrew. Sebuah kejutan yang tidak pernah dia pikirkan.
"Ayo kita masuk, akan kutunjukan kamar kita." bisik Andrew di telinga Diana hingga membuat wanita itu tersipu dan pipinya memerah.
"Tapi Conrad..." Diana teringat Conrad yang masih diluar.
" Tenang saja Nanny akan mengurusnya. Sekarang dia pasti sedang berlarian di taman." Kata Andrew sambil menganggkat tubuh Diana dan menggendongnya.
"Andrew turunkan aku, malu." Sahut Diana tetapi tangannya tanpa dia sadari sudah mengalung di leher Andrew.
"Ha.ha.ha.ha.ha Kau menggemaskan, malu tapi suka." Godw Andrew sambil melangkah keatas dengan menggendong Diana.
Para pelayan yang melihat mulai kasak kusuk bergosip melihay kemesraan tuan rumah mereka.
"Jangan bergosip saja. Mulai kerja dan siapkan snack sore." Kepala Pelayan Jhon memberi perintah.
Sore ini begitu cerah secerah perasaan hati setiap orang di Mansion Andrew.
__ADS_1