Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
SEASSONS 2. Cinta dan Kekaguman


__ADS_3

Hallo, kisah tentang Andrew dan Diana mulai hadir yaaaa...


Tentunya kisah ini akan ada rooler costernya, seperti halnya kehidupan kita.


Tapi diusahakan rooler coasternya tidak terlalu menanjak.


Selamat membaca semoga menghibur.


Psstt... Jangan lupa bantu share yaaa.


Trimakasih πŸ’—


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Kakak kenapa kau selalu membela Grisella! Kenapa kau harus menghalangi kebahagiaan adikmu sendiri?!Kenapa kau tidak mendukungku! Aku bahkan selalu mendukungmu!" ujar Lia dengan air mata yang berurai sambil memandang Diana dengan penuh amarah.


Tampak sekali bagaimana gadis itu berdiri dengan tegang. Tangan-tangannya terkepal menahan amarah seraya meremas sebuah surat undangan yang datang bersama dengan gucci crystal. Wajah gadis itu sudah memerah oleh karena amarah dan tangisannya yang meledak.


Diana mengelus dadanya yang terasa sakit mendengar perkataan Lia Oktavia, adiknya. Kalimat itu serasa bagaikan pisau menusuk kedalam jantungnya.


Tapi dia berusaha tenang untuk bersikap dewasa dan sabar. Diana melangkah meraih tubuh Lia yang terguncang. Ingin rasanya ia memeluk Lia dan menenangkan adik tercintanya.


"Jangan mendekat! Jangan sentuh aku! Aku benci padamu! Kau bukan kakakku!" serang Lia dengan berapi-api.


JLEB!!! Kata-kata Lia semakin menusuk jantung dan mengoyakan perasaannya. Diana terduduk di kursi tepat didepan Lia berdiri.


"Lia.... kau harus mengerti sayang... perasaan itu tidak dapat dipaksa." ujar Diana perlahan disela-sela isakan tangisnya.


"Tapi setidaknya aku diberi kesempatan untuk mencoba bukan? Tapi kau selalu menghalanginya dan akhirnya aku tersingkir." balas Lia dengan emosi yang meledak-ledak.


Para pelayan segera menyingkir mendengar perdebatan antara kakak dan adik tersebut. Sementara nanny membawa Aaron yang masih bermain pindah kedalam kamar.


"Kau sudah cukup sering mencoba Lia, sampai kapan kau akan mencoba dan terluka? Tidakkah kau ingin dirimu juga Briant bahagia?" tanya Diana kepada Lia yang masih tersedu.


"Kebahagiaanku hanya bersama dia kakak..." ujar Lia lirih.


"Tidak Lia, kebahagiaanmu bersama orang yang mencintai mu." Diana berusaha memberi pengertian.


"Tapi aku mencintainya..." ujar Lia yakin.


Diana memeluk Lia dan membiarkan adik tersayang nya menangis dalam pelukan.


Hatinya ikut sedih melihat bagaimana Lia terguncang ketika akhirnya mengetahui bila Briant sudah bertunangan dengan Grisella dan akan menikah bulan depan.


Awalnya Diana membiarkan keakraban diantara Lia dan Briant. Apalagi setelah Andrew mengijinkan Lia bekerja di perusahaan Andrew dan berkecimpung dalam segala hal yang berurusan dengan proses pembuatan ijin kerja dan kesejahteran seluruh pegawai.


Di bagian itu, Lia meskipun tidak bertanggung jawab langsung kepada Briant, tetapi dia selalu mendampingi atasannya untuk rapat bersama Briant.


Benih-benih kekaguman akan Briant menjadikan Lia beranggapan itu adalah Cinta. Sosok Briant yang dewasa, tegas dan berkharisma membuat Lia terpesona. Tak jarang Lia sengaja bekerja lembur, hingga akhirnya Briant lah yang akan mengantarnya kembali ke Mansion Andrew.


Dan saat ini ketika dia menyadari jika Briant lebih memilih Grisella, Lia merasa dicampakan. Dia seakan mendapatkan harapan palsu yang membuatnya melambung tinggi sebelum akhirnya terhempas melalui surat undangan.


"Lia, cinta itu adalah hal yang mudah diucapkan jika kita mengagumi seseorang. Tapi, kau harus menanyakan jauh kedalam lubuk hatimu, benarkah yang kau rasakan pada Briant itu cinta atau kekaguman." kata Diana sambil membelai Lia yang sudah mulai tenang.


"Bagaimana bisa kau yakin kalau itu bukan cinta? Aku yang punya perasaan tentu saja aku yang tahu." sahut Lia kesal.


Gadis itu kemudian berdiri, berlari menuju kamarnya dan meninggalkan Diana sendiri.


Lia membanting pintu kamarnya dan melempar tubuhnya diatas kasur. Disana dia menumpahkan kembali tangisannya.


*


Sementara Diana hanya terpaku di ruang keluarga. Duduk di sofa sambil menekuk kedua lututnya. Dia ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Lia.


Masih teringat pembicaraannya dengan Briant beberapa bulan lalu.


"Briant apakah kau menyukai Lia?"

__ADS_1


"Siapa orang yang tidak akan menyukai adikmu. Dia orang yang lincah, menyenangkan dan selalu mengundang tawa disekitar." ujar Briant dengan santai yang kala itu sedang makan malam bersama dengan Andrew sekeluarga.


Diana menyempatkan diri mendekati Briant di kala Andrew sedang asyik menggoda Aaron dan Lia sedang membantu Conrad menyelesaikan lego.


"Iya itu memang benar. Tapi, bisakah kau katakan padaku dengan jujur, apakah kau memiliki perasaan lebih pada Lia, hmmm ... sebagai pasangan?" tanya Diana dengan hati-hati.


Briant diam sesaat, pandangannya lurus menatap ke arah Lia yang sedang tertawa riang bersama Conrad. Gadis itu memang memukau.


"Awalnya... aku membiarkan perasaanku menuju kearah sana. Tetapi... aku menghentikannya sebelum jauh."


"Tapi, kenapa?" tanya Diana dengan heran.


"Diana, kau tahu bagaimana pekerjaanku yang menghabiskan lebih banyak waktu di perusahaan daripada dengan keluarga. Aku tidak ingin menghapus tawa Lia karena itu. Dia masih sangat muda untuk mengalami hal tersebut." jawab Briant dengan bijaksana.


"Tapi, Andrew juga awalnya sama seperti mu. Bekerja tanpa mengenal waktu, hingga akhirnya dia lebih memilih keluarga." sahut Diana menyangkal alasan Briant.


"Benar, dia berubah karena kau yang bersama nya memberikan begitu banyak cinta dan perhatian juga... pengorbanan."


"Lalu, bukannya Lia juga bisa mencoba?" tanya Diana yang tidak mengerti dengan keputusan Briant, untuk menutup diri dengan perasaannya pada Lia.


"Sangat berbeda. Kau hanya punya satu Andrew di pelupuk mata dan dalam hati mu. Sedangkan Lia... aku tidak yakin dia mencintai diriku." ujar Briant perlahan sambil menyesap brandi di tangannya.


"Kenapa kau berkata seperti itu, Briant?"


"Karena aku melihat sorot mata yang berbeda ketika dia bersama Jason. Aku melihat perhatiaan yang berbeda." Briant menarik nafas panjang sebelum menyambung kalimatnya.


"Kakak ipar, Lia tidak mencintai ku. Dia lebih mencintai Jason. Mungkin dia tidak memahami perasaannya itu, tetapi aku bisa merasakannya." ujar Briant dengan lirih.


"Mungkinkah kau cemburu sehingga kau tidak dapat melihat perasaan Lia?" ujar Diana penasaran akan perasan Briant yang sesungguhnya.


Briant tertawa. Sesaat dia memainkan brandy yang ada ditangannya.


"Kau tahu bagaimana aku selalu menganalisis sesuatu. Mataku cukup jelly untuk melihat perbedaannya. Dan, aku rasa kau pun mengetahui hal itu bukan? Kau pasti tahu bagaimana sikap Lia yang berbeda ketika dia di dekat Jason, meskipun mereka sering bertengkar." ujar Briant sambil tersenyum lebar.


"Sedangkan Grisella, dia selalu menantiku. Mata dan hatinya hanya ada aku. Sebagaimana kau pada Andrew. Aku sudah melamar Grisella, kakak ipar dan kami akan segera menentukan tanggal pernikahan kami." ujar Briant.


"Aku melarang Grisella mengatakan padamu, karena harus aku yang menyampaikannya, agar tidak ada kesalah pahaman. Dan mungkin kau dapat membantuku berbicara dengan Lia."


Itu lah saat terakhir Diana berbincang panjang lebar dengan Briant mengenai perasaan nya dengan Lia. Diana menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Briant benar.


Lia selalu gelisah dan marah apabila dalam tiga hari dia tidak mendapatkan kabar dari Jason. Apalagi bila Jason menghadiri pertemuan di negara lain tanpa memberitahu Lia.


Saat Jason datang, dia akan meloncat kegirangan, meskipun akhirnya akan memasang tampang tidak perduli dihadapan Jason.


Saat ini, meskipun Lia menangis dan marah padanya karena pernikahan Briant yang baru saja dia ketahui, tapi Diana yakin kalau keputusannya adalah benar.


*


"Apa yang terjadi?" tanya Andrew yang baru saja pulang bekerja. Dia merasa heran melihat Diana sedang duduk dengan bersimbah air mata.


Andrew duduk di sisi Diana setelah melepaskan jas nya dan merengkuh wanita itu kedalam pelukan. Sementara Papito, bergegas melewati mereka dan membawa tas kerja Andrew kedalam ruang kerja di lantai bawah kemudian keluar melalui pintu belakang.


"Lia, dia marah padaku." ujar Diana disela isak tangis nya.


"Apakah dia sudah mengetahui perihal Briant dan Grisella?" tanya Andrew seraya meremas bahu Diana dengan lembut.


"Iya... dan dia marah padaku karena mengetahui hal ini dengan cara seperti itu."


Diana kemudian menengadahkan wajahnya menatap Andrew.


"Ini salahku yang terlalu melindungi dirinya."


"Tidak sayang, kau hanya ingin menjaga dirinya agar tidak terluka."


"Mungkin seharusnya aku berbicara terlebih dahulu dengan Lia."


"Kau sudah berkali-kali memperingatkan dirinya untuk mundur, tapi sikap keras kepala dan penasaranya terlalu kuat." desis Andrew.

__ADS_1


"Dan jika ada yang harus disalahkan adalah Briant. Dia seharusnya berbicara dengan Lia sebelum mengirim undangan ke rumah ini." sambung Andrew dengan geram.


Diana meletakan kedua tangannya menangkup kedua pipi Andrew. Dia tahu, Andrew juga berada diantara perasaan tidak nyaman antara Lia dan Briant, kedua orang yang dia sayangi.


"Sudahlah. Lia harus belajar dewasa. Dia hanya membutuhkan waktu."


Diana tidak bisa menyalahkan Briant karena dari awal pun, Briant sudah menjaga jarak dengan Lia dan selalu menggunakan kata-kata adik ipar disetiap kalimatnya dengan Lia.


Dia memperlakukan Lia bagaikan seorang adik. Bahkan Briant tidak pernah memulai untuk menyentuh tangan Lia kecuali gadis itu yang terlebih dahulu menarik tangan Briant.


Baru saja Diana selesai berbicara, Lia sudah keluar dari kamar nya. Dia berjalan tanpa menghiraukan Andrew dan Diana.


"Mau kemana kau?" tanya Diana


"Mau cari hiburan. Suntuk!" ujar Lia dengan lantang.


Lia menuju ke luar rumah hendak mengendarai mobil nya yang dia parkir sembarangan di halaman depan, tapi suara Andrew mencegahnya.


"Bawa Papito bersama mu. Jangan pergi sendiri!" seru Andrew yang bisa melihat sikap Lia yang mengkhawatirkan.


Papito lari terbirit-birit mendengar namanya disebut. Dia segera membuka pintu untuk Lia dan mulai mengantarkan gadis itu di club malam kalangan atas.


Sesampainya di club malam tersebut, Papito segera memberi tahu kan Andrew posisi Lia. Dan Andrew memerintahkan dua orang pengawalnya untuk menjaga Lia secara diam-diam.


*


"Andrew aku harus melakukan sesuatu, aku harus membuat Lia menjauh setidaknya sampai pernikahan Briant." ujar Diana penuh misteri.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Andrew heran.


Diana diam. Dia mengangkat smartphone dan mulai menghubungi seseorang.


"Kesepakatan kita dimulai hari ini." ucap Diana setelah mendengar jawaban dari orang diseberang sana.


*


*


*


Keesokan hari nya Lia bangun dengan kepala yang berat. Keningnya terasa berdenyut dengan keras. Dan semua tampak berputar. Lia memukul-mukul kepalanya yang sakit.


Dia teringat semalam sudah menghabiskan dua gelas margarita. Lia tidak terbiasa meminum alkohol, tapi entah mengapa semalam dia merasa mampu untuk menghabiskan minuman itu sendiri.


Lia memandang sekeliling tempat dia tertidur. Meskipun kepalanya masih berdenyut tapi bisa dia pahami bahwa dia tidak berada di mansion Andrew. Tempat tidur ini terlalu kecil dengan kasur king size yang berada di kamarnya.


Dinding ruangan pun terasa aneh. Lia mendudukan diri dan memperhatikan sekeliling. Ada suara dengung halus seakan suara mesin. Kemudian dia membuka jendela kecil disisi tempat tidur.


Mata Lia terbelalak. Seketika rasa terkejutnya mengalahkan rasa sakit di kepala dan sekujur tubuh. Dia langsung menyadari suara dengung yang dia dengar adalah suara mesin dari pesawat terbang. Dan pemandangan yang dia lihat adalah langit biru dengan awan-awan putih yang bergelantungan.


Lia beranjak turun dari tempat tidurnya dan langsung melihat sosok pria yang sedang duduk sambil memperhatikan dirinya dengan tersenyum lebar.


Lia memincingkan matanya sebelum sepenuhnya tersadar.


"JASONNNNNN.... kau culik kemana lagi aku?!"


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hai... hai... hai...


Seassons dua dimulai yaaaa...


Diusahakan updated sesering mungkin.


Kisah Jason dan Lia akan di tulis di Novel sendiri dan diperkirakan akan updates mulai Awal Desember.


Jangan Lupa Baca Kisah Lia dan Jason ya. Seru, Kocak dan Halu bareng yukkkk

__ADS_1



__ADS_2