Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Penawaran


__ADS_3

Andrew berangkat seorang diri menuju ke rumah sakit. Dia hendak melihat keadaan Caroline sekaligus berbicara pada nya.


Ketika sampai di pintu ruangan tempat Caroline dirawat, Andrew melihat wanita itu di perban kepala dan kakinya.


Caroline tampak duduk bersandar dengan tenang sambil menonton televisi. Dia masih menggunakan infus, tapi tidak tampak menderita. Andrew sejenak ragu.


Sebenarnya Andrew tidak ingin bertemu dengan Caroline. Jikalau bisa dia akan pergi dengan Conrad, itu yang terpenting. Tapi mengingat bagaimana Conrad dan Diana merasa terbeban akan keadaan Francesca, membuat Andrew memutuskan untuk menemui Caroline.


Andrew mengetuk pintu dan masuk tanpa permisi. Mata Caroline sontak berpijar melihat kedatangan Andrew. Dia yang awalnya duduk dengan segar, segera merebahkan kepalanya, terkulai lemah.


"Andrew... kau datang. Maafkan aku jika kau harus melihat diriku seperti ini," ucap Caroline lembut.


Andrew berdiri di dekat kaki Caroline. Dia memeriksa bagian kaki Caroline yang di perban. Memastikan semua itu asli bukan tipuan.


"Aku kemari untuk memberimu peringatan. Jauhi Conrad dan keluargaku." Andrew langsung ke pokok permasalahan.


Mata Caroline terbekalak mendengar perkataan Andrew yang tanpa basa-basi. Pria itu berbicara dengan dingin. Dia bahkan tidak bertanya bagaimana keadaan Caroline saat ini. Padahal jelas-jelas keadaan Caroline sangat mengenaskan.


"Tidak mungkin Andrew, dia anak kita. Aku menyayangi dirinya." Rachel meneteskan air mata.


Andrew melirik sinis ke air mata yang di teteskan Rachel. Dia bukanlah pemuda dungu seperti dahulu. Perjalanan hidup menjadikan dirinya lebih berhati-hati.


"Anak itu sudah kau buang, Rachel dan anak itu sudah sah menjadi milikku." Ujar Andrew dengan sinis.


"Tidak. Aku tidak pernah membuang Conrad. Rachel yang merebutnya dari sisiku. Aku tersiksa sekian tahun merindukan Conrad. Aku merindukan dirimu." Ujar Caroline dengan terisak.


Andrew heran, sejaj kapan wanita ini pandai berakting. Apalagi mengeluarkan air mata yang bercucuran. Apakah semenjak dulu dia seperti itu dan dia begitu bodoh termakan tipuan wanita ini?


"Sudahlah, aku tidak perduli dengan apa yang kau lakukan di masa lalu. Aku juga tidak perduli dengan apa yang kau lakukan di masa datang, asalkan tidak melibatkan keluargaku." Sahut Andrew dengan dingin.


Caroline menggigit bibirnya dengan putus asa. Dia menggenggam selimutnya. Caroline ingin menunjukan pada Andrew, betapa putus asa dan frustasinya dia. Betapa terlukanya dia dengan sikap dan perkataan Andrew.

__ADS_1


"Kau harus mendengarkan aku Andrew. Rachel mengancam akan membunuhmu jika aku kembali padamu, Dia mengancam akan melenyapkan Conrad jika aku tidak memberikan anak itu pada nya." Caroline menangis tersedu-sedu.


"Aku terpaksa meninggalkanmu dan Conrad demi kebahagiaan kalian. Aku tidak pernah ingin meninggalkanmu. Kau harus ingat, sewaktu kita kuliah dulu, aku selalu disampingmu. Hanya aku yang menemanimu." Lanjutnya lagi.


"Dan pergi ketika aku jatuh miskin." Andrew tertawa sinis.


Caroline mendongakan kepalanya.


"Kau tahu kan, bukan begitu ceritanya. Orang tua ku memaksa diriku menikahi pria lain. Kau tentu tahu jika hatiku tulus kepada mu. Kepera** anku pun aku serahkan pada dirimu." Ujar Caroline dengan mengiba.


Andrew tertawa sinis. Dia merasa muak dengan kalimat Caroline. Jika saja dia tidak memerlukan surat kuasa dari wanita ini. Ingin rasanya dia muntah dihadapan wanita ini. Tapi Andrew harus bersabar.


"Dulu aku bodoh. Sekarang aku tau wanita yang masih suci dan penipu. Karena Diana istriku adalah wanita yang benar-benar masih suci dan tak pernah terjamah." Andrew menertawakan tipuan Caroline.


"Tidak Andrew.... Itu tidak benar. Kau lah yang pertama dan kau lah yang selalu aku inginkan. Aku selalu menginginkan kebahagiaanmu." Suara dan wajah Caroline begitu mengiba.


"Lalu kenapa kau rusak kebahagiaan ku dan Conras sekarang?"


"Jika Diana memberimu uang sebesar Rachel, Kau akan menjauhi kami, bukan? Katakan harganya, maka akan aku sediakan uang itu." Suara Andrew terdengar dingin dan tidak berperasaan. Dia sudah malas berbiara berbelit dengan Caroline.


"Kau menyinggung aku Andrew. Aku bukan wanita materialistis. Aku mencintaimu apa adanya dan aku sudah berkorban banyak untukmu."


"Sudah, hentikan dramamu."


"Aku tidak berbohong Andrewww... lihatlah aku sedang sakit. Aku berjuang sendiri mengatasi kanker ini. Tidakkah kau tersentuh akan penderitaanku?"


"Aku akan membantu meringankan bebanmu."


"Ah, Andrew kau memang baik. Aku tahu kau selalu mencintaiku," Caroline tampak sangat bahagia.


"Aku akan membiayai pengobatanmu dengan ahli yang terbaik. Asal dengan dua syatay. kau memberikan Francesca kepadaku dan jangan pernah muncul lagi di kehidupan kami."

__ADS_1


Mata Caroline memincing. Dia heran kenapa Andrew menyebutkan nama Francesca. Apa yang sudah diperbuat Francesca hingga bisa memikat hati Andrew.


"Kau menyukai anak itu. Dia manis bukan. Dia anakku Andrew. Lihat, aanak yang aku lahirkan semuanya luar biasa bukan?"


"Dia memang anak yang manis. Tapi sayang sekali kau menelantarkan dirinya."


"Aku tidak pernah menelantarkan dirinya Andrew. Pengasuh itu pasti bercerita yang buruk tentangku. Aku harus memecat dirinya." Suara Caroline beruabah dari memelas menjadi geram.


"Berikan hak asuh Francesca dan aku akan memenuhi keinginanmu." Andrew masih berusaha bernegosiasi.


"Keinginanku? Aku hanya menginginkan dirimu Andrew. Jika kita menikah, maka Conrad dan Francesca akan bersatu. Anak-anak kita Andrew. Itu keinginanku. Kau pasti merasakan hal yang sama, bukan?" ujar Caroline dengan oenuh semangat.


Caroline berusaha setengah mati untuk merayu dan meluluhkan hati Andrew. Dia kembali terpikat dengan ketampanan, kedewasaan dan tentu saja dengan kekayaan Andrew.


"Berhentilah mengatakan hal yang tidak masuk akal Caroline. Aku sudah menikah dengan Diana dan aku mencintai dia juga anakku dengan dirinya. "


"Tidak! Kau tidak mencintai dirinya. Dia hanya tempat pelampiasan dendamu padaku. Dia hanya penggantiku. Kau hanya mencintaiku. Kau hanya menginginkanku. Kau hanya milikku seorang! HANYA AKU!" Caroline tiba-tiba histeris.


Andrew mengernyitkan keningnya melihat sikap Caroline. Mendengar suara Caroline yang histeris, dokter dan perawat segera masuk ke dalam ruangan.


"Maaf tuan, kami harus memeriksa keadaan nyonya Caroline," ujar dokter setengah baya tersebut.


Andrew menjauh dengan memperhatikan apa yang mereka kerjakan.


"Kau hanya mencintai aku Andrew. Aku tidak masalah jika kau bersenang-senang dengan wanita manapun, asal kau kembali lagi padaku. Kau millikku! Kau milikku!" Caroline masih saja histeris dan menolak dokter menenangkannya.


Sebuah suntika penenang akhirnya di berikan pada Caroline dan perlahan obat itu bereaksi. Dalam keadaan setengah sadar Caroline berkata pada dokter dan perawat.


"Lihat dokter suamiku tampan bukan?" ujar Caroline dengan senyuman manis sebelum akhirnya dia tertidur.


...💗💗💗💗💗...

__ADS_1


__ADS_2