
Lampu-lampu temaram yang menghiasi kolam renang belakang menerangi langkah kaki Lia menuruni jalanan setapak menuju ke geladak dekat lautan. Angin laut berhembus sepoi-sepoi menerbangkan rambut hitam panjangnya yang terurai.
Langit cerah ditaburi bintang-bintang yang berkerlap-kerlip menemani bulan sabit yang bersinar. Lampu-lampu rumah di sepanjang kanal lautan ini menerangi pemandangan canal lautan. Ini pertama kali seumur hidup Lia menikmati pemandangan indah. Mungkin ini seperti gambaran kartu pos Venice yang dikirim Diana kepadanya, tetapi bedanya disepanjang pinggiran canal ini adalah Mansion mewah.
Jason memperhatikan Lia dari kejauhan. Gadis cantik ini berbeda dengan Diana. Diana jauh lebih tenang dan anggun sementara Lia lebih berapi-api, lincah dan tentunya lebih cerewet.
Pasangan kakak adik yang tampak saling mendukung, membuat setiap orang akan iri melihat kedekatan mereka. Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui ketulusan hati dan sikap pengertian sepasang kakak adik ini. Rasa penasarannya akan Diana, membawa pada jalan buntu.
Lia meloncati setiap tangga batu yang mengantarnya kembali ke atas ke kolam renang tempat dimana Jason berdiri dan menatapnya.
"Hei lalat buah, rumahmu bagus juga ya."
"Berhenti memanggilku lalat buah. Jelek sekali." protes Jason yang merasa risih dengan sebutan lalat buah.
"Ah, sebutan lalat buah cocok untuk mu."
"Kenapa kau terus menerus memanggilku lalat buah?" tanya Jason kesal.
"Kenapa kau memanggilku kucing liar?" balas Lia tak kalah garangnya.
"Karena kau banyak bicara dan suka menarik baju orang." ucap Jason asal.
"Hahhahahhahaha. Itu karena aku harus melindungi kakakku dari lalat buah sepertimu." balas Lia
"Kenapa harus lalat buah? Kau bisa menjulukiku pangeran tampan, mata elang, rajawali perkasa atau pria misterius..."
Lia terbahak mendengar perkataan Jason. Bagaimana mungkin pria ini menyebutkan segala sesuatu julukan bagus untuk dirinya sendiri sementara dia bersikap seperti stalker ke Diana.
"Kenapa kau tertawa?" Jason merasa jengah dengan sikap Lia yang menertawakannya.
Melihat wajah Jason yang serius, Lia diam. Gadis itu menarik nafas, mengatur emosi agar tidak tertawa lagi.
"Karena kau lucu."
"Bagianmana yang lucu?!" hardik Jason dengan mata melotot.
Seketika Lia terdiam. Dia tidak menyangka Jason benar-benar akan marah padanya. Mata Jason tampak melotot dan satu tangan dipinggang.
"Tidak. Aku yang salah. Aku yang lucu." ucap Lia menghindari perdebatan lebih lanjut.
"Terus?" Jason menaikan salah satu alisnya.
"Iya. Iya. Kamu memang pahlawan yang tampan, rajawali perkasi, pria misterius..."
"Terimakasih atas pengakuanmu." kali ini Jason tertawa penuh kemenangan membuat Lia geram karena lelaki ini berhasil mengelabui nya.
Bukan Lia namanya kalau dia tinggal diam dengan kekalahan. Otaknya berputar bagaimana cara membalas Jason. Dan kesempatan itu tiba ketika Jason melewatinya. Dengan tanpa berpikir panjang Lia menjulurkan kakinya. Jason yang tertawa sambil melewati Lia tentu saja tersandung dan oleng hingga dirinya tercebur kedalam kolam.
Dari dalam kolam yang hangat dia bisa mendengar bagaimana gadis itu tertawa mengolok dirinya. Jason berhasil menyeimbangkan dirinya di kolam renang dan berenang menghampiri pinggiran kolam tempat gadis itu berdiri.
Lia lebih tanggap, dia segera bergerak mundur dan berjalan melintasi kolam menuju ke arah dalam rumah. Setelah agak jauh dari kolam dia berbalik dan berkata, "makanya rajawali perkasa kalau jalan hati-hati terlalu mendongak membuatmu jatuh." Lia duduk di kursi sambil melihat jason yang jengkel.
Jason keluar dari kolam renang dan melepaskan kaos putihnya kemudian melemparkan begitu saja di kursi dan dia menghempaskan tubuhnya di kursi lain disisi Lia.
"Puas kau kucing liar?" kata Jason sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk.
"Puas sekaliiiii. Kau benar-benar menghibur." Lia bertepuk tangan dengan riang.
__ADS_1
Saat itu juga Jason yang masih tidak terima dengan perbuatan Lia padanya berdiri dan dengan tiba-tiba menggendong Lia. Gadis itu terkejut, belum sempat dia berontak, Jason sudah melemparnya ke dalam air seperti sebuah karung.
Byurrr!!!! Lia tampak bergerak-gerak tidak beraturan didalam air. Muncul. Tenggelam.
"To..tolong..to...long." suara Lia putus-putus.
"Hei kucing liar apa kau tidak bisa berenang?" Jason menjadi panik apalagi ketika dilihatnya tubuh Lia tenggelam dan tidak muncul lagi. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik. Byurr! Jason melompat kedalam air dan menggapai tubuh Lia, jason benar- benar tidak menyangka gadis itu tidak bisa berenang.
Dengan sigapnya dia menarik tubuh Lia keatas kolam renang, membopong gadis itu dan meletakannya di lantai. Kemudian dia menepuk-nepuk pipi Lia dengan panik.
"Lia.... Lia... kau tidak apa-apa kan?"
Jason panik tidak ada jawaban. Kemudian dia hendak meletakan tangan di dada Lia dan untuk memompa, tetapi dia dibuat terkejut dengan suara hardikan, "Jangan sentuh aku!"
Gadis itu sudah duduk dan mendorong tubuh Jason hingga terduduk ke belakang.
"Lalat buah kau keterlaluan!!!! Aku tidak punya baju tauuuu!!! Kau membuatku basah kuyup!!! Lain kali mikir dulu sebelum ngerjain orang!" Lia berdiri dan berteriak penuh emosi sambil mengambil handuk dan melingkarkan di tubuhnya.
Kaos putih yang dia kenakan basah dan untung saja dia mengenakan bra berwarna nude sehingga tidak tembus pandang.
Jason yang sebelumnya panik dan mengira Lia pingsan karena dirinya menjadi terperangah melihat wanita itu berteriak dengan penuh energi di depannya.
"Dimana kamar tamu?" tanya Lia dengan kesal. Dia sudah melupakan sopan santun ketika berhadapan dengan pria satu ini.
"Dilantai dua sebelah kiri." ucap Jason yang masih setengah syok.
Lia menghentakan kakinya dan dengan tubuh basah kuyup dia naik kelantai dua tanpa memperdulikan tetesan air yang membasahi karpet mewah.
Lia mendapati kamar itu tidak terkunci, kemudian dia masuk dan mengunci kamar tersebut dan segera menuju ke kamar mandi. Dengan kesal dia melepaskan pakaiannya mencuci dengan sabun dan membilas di westafel. Sedangkan celana jeans nya dia peras sedemikian rupa.
Lia bersyukur dia menemukan hair dryer di kamar mandi yang segera dia gunakan untuk mengeringkan pakaiannya. Setelah setengah kering dia biarkan bergelantungan di westafel sementa dirinya mulai mandi dengan air hangat.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa?"
Samar-samar dia mendengar jawaban dari balik pintu. Karena tidak jelas dan dia yakin itu Jason, Lia membuka pintu dan menghardik, " mau apalagi!"
Alangkah terkejutnya dia, dihadapnnya bukan Jason melainkan seseorang berpakaian pelayan wanita setengah baya berwajah sangat pucat dan tersenyum manis.
Aaaaaaaaaaaaaa...
Lia berteriak dan menghempaskan pintu kamar seketika. Dia berlari masuk kedalam selimut di kasurnya dengan dada berdebar.
Tak lama kemudia seseorang masuk ke dalam kamarnya membuat dirinya semakin meringkuk seperti bayi.
"Hei kucing liar! kenapa kau berteriak?" tanya Jason.
Lia masih diam tidak bergerak.
"Hei kucing liar apa yang kau lakukan?" kali ini Jason menarik selimut Lia dan hampir terbahak melihat gadis itu meringkuk seperti bayi.
"Kau baik-baik saja?" Jason menyentuh pundak Lia.
Lia melihat dari balik jemarinya dan mengetahui benar Jason dihadapannya.
"Tadi ada seorang wanita setengah baya mengetuk pintu kamarku. Apakah dia pelayanmu?" tanya Lia dengan perlahan setelah berhasil mengontrol rasa takutnya.
__ADS_1
"Tidak ada seorang pun ketika aku sampai disini." jawab jason dengan tenang.
"Huaaaa...Ada. tadi ada." Lia bergidik.
"Kalau memanng ada pelayan, kenapa tidak kau ajak bicara?"
"Karena aku terkejut."
"Kau takut?" Jason mengejek.
"Tidak!" jawab Lia dengan gengsi.
"Baiklah kalau begitu." Jason hendak melangkah pergi.
"Tunggu... tunggu jangan pergi. Diam disini dan temani aku mengobrol." Lia beralasan untuk menyembunyikan rasa takutnya.
"Baiklah bila kau memaksa." Jason duduk di kursi dan mulai menuangkan teh di gelas.
"Kenapa cuma satu gelas?" tanya Lia dengan heran.
"Kau menyiapkan ini semua?" Lia mengambil sepotong sandwich dan mulai memakannya. Jason tidak menjawab. Dia kemudian ikut mengambil satu sandwich lainnya.
Lia berjalan menuju kamar mandi dan mengambil gelas kristal yang cukup tebal kemudian dia gunakan untuk minum teh hangat tersebut. "Ah hangatnya. Terimakasih Jason." ucap Lia dengan tulus.
Jason menoleh, dia sedikit terkejut. Belum lama gadis ini marah dan membentak dirinya yang membuatnya basah kuyup. Sekarang dengan santainya dia mengucapkan terimakasih.
"Jason bisakah kau membantuku kali ini, please."
"Jangan bilang kau hendak menyuruhku mengantarmu pulang di malam hari. Aku tidak mau."
"Tidak. Hehehehe. Aku hanya minta tolong temani aku tidur."
Mata Jason terbelalak menengar permintaan Lia.
"Jangan mesum dulu! Dasar lalat buah mesum!" gerutu Lia dengan jengkel.
"Kau tidurlah dikasur itu. Aku akan tidur disini. Jangan macam-macam dan jangan pergi dari kamar ini hingga besuk pagi." Lia mengambil bantal dan bedcover kemudian menggunakan sofa kecil yang menyatu di kasur untuk dia tidur.
"Ingat tidur disini dan jadilah rajawali perkasa yang menjagaku."
Jason hanya diam saja. Seumur hidupnya baru sekali ini dia berhadapan dengan wanita yang bossy dan memerintahnya tanpa memberi kesempatan padanya untuk membantah.
Jason sesungguhnya tidak tega melihat gadis itu tidur di sofa kecil sementara dirinya berbaring di atas kasur yang superempuk. Tapi demi harga diri wanita itu, Jason diam dan menurut. Dia membaringkan tubuhnya miring searah dengan Lia. Dipandanginya wajah gadis cantik yang terlelap dihadapannya.
"Kau benar-benar imut ketika tidur." ucapnya lirih melihat wajah polos Lia yang tetap cantik tanpa make up sedikitpun.
πππππππππππππππππππ
Hallo sobat pembaca...
Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.
Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.
Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.
Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.
__ADS_1
Terimakasih.
Salam sayang π