Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
71. Hukuman ketiga = Maya?


__ADS_3

"Andrew! Apa yang kau lakukan?!" suara Diana terdengar keras karena amat sangat terkejut, membuat Andrew kaget dan langsung terduduk.


"Siapa kau?" bentak Andrew pada sosok wanita yang baru saja dipeluknya.


Sosok wanita itu duduk dan tersenyum malu-malu.


"Hallo mr.Andrew, saya Maya."


"Oh **#*! Fu#ck!" Andrew mengeluarkan bermacam-macam sumpah serapah sambil pergi dari kamar.


Flash back on


"Nyonya ada tamu yang mencari anda." Butler Jhon menghampiri Diana di kebun bunga.


"Siapa?" tanya Diana tanpa mengalihkan pandangannya dari tanaman bunga yang sedang dia rapikan.


"Maya."


"Maya? Benarkah? Bawa dia kemari butler Jhon." Mata Diana sontak berbinar-binar.


Tak lama butler Jhon membawa seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut hitam tergerai lurus, dandanan yang memukau dan pakaian putih sexy sepaha.


Wanita itu melangkah dengan anggun bak seorang pragawati.


Dia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya pada Diana yang terpukau.


"Cekkkk... aku kangen sekali loh." ucap wanita tersebut dengan suara kecil yang mencicit.


Diana masih diam. Keningnya berkerut.


"Maya?" tanyanya tak percaya.


"Iyaaaa. Bagaimana?" Maya berputar-putar dan melenggok di depan Diana bagaikan sedang pentas diatas catwalk. Kemudian berpose bagaikan supermodel


"Gilaaa kamu... ah..." Diana menjerit tertahan sambil menutup mulutnya kemudian meloncat girang dan memeluknya.


"Aku kangen cekkk." kata Maya sambil memeluknya hangat.


"Aku juga. Dan wow apa ini, kamu tampak sangat memukau." ujar Diana sambil memandang Maya dari atas ke bawah.


"Sahabatku adalah nyonya muda seorang billioneir tentu aku tidak ingin mempermalukannya dihadapan para pelayan dengan berpenampilan rakyat jelata."


"Ah kamu. Memangnya aku perduli."


"Aku yang perduli."


"Hahhaha kamu memang miss perduli sosial."


"Tapi kenapa kau tiba-tiba datang kemarin dengan berdandan ala miss international?" tanya Diana yang masih tidak percaya dengan kecantikan sahabatnya.


"Aku mau lihat, apakah mr.Andrew masih memilihmu dengan melihatku seperti ini." Kata Maya menggoda.


"Gila kau! Awas kalau berani menggodanya." Diana pura-pura cemberut.


"Hahahhah mana aku mau merebut milik sahabatku sendiri. Kecuali kamu musuhku mati-matian aku akan merebut mr.Andrew."


"Ah.. beruntung sekali aku." Diana mengusap dadanya sambil tersenyum lucu.


"Selain itu sebal aku sama kekasihmu. Tiap kali aku datang dengan penampilan pria, dia selalu bilang aku memiliki modus terhadapmu. Cemburu juga gak pakai kira-kira." mulut Maya manyun.


"Ih kamu, kaya baru sekali saja di begitukan." sahut Diana dengan geli.


Seorang pelayan datang membawa es jeruk dan beberapa camilan.


"Hidupmu tampak luar biasa ya cek." ujar Maya sambil melihat kesekeliling taman dekat kolam renang.


"Begitulah kelihatannya."


"Kamu pasti bahagia." Diana hanya tersenyum sendu mendengar perkataan Maya.


"Loh kok matanya sedih." Maya tampaknya menangkap sorot kesedihan di mata sahabatnya.


"Tidak kok, bagaimana bisa aku sedih dengan kau disini." Diana mengalihkan perhatian.


"Beneran? Kamu baik-baik saja dengan mr.Andrew?"


"Iya kami baik-baik saja. Aku cuma rindu adikku."


"Oh iya aku paham. Sudah lama ya kamu tidak pernah pulang ya cek."


"He eh."


"Lia tidak kemari?"

__ADS_1


"Sebelumnya dia berencana kemari setelah lulus wisuda."


"Oke. Memang seharusnya dia berada disini bersamamu."


"Ceritakan bagaimana teman-teman yang lain. Kamu bertemu Monna?"


"Monna sudah menikah dengan pria Australia. Dia sedang hamil sekarang."


"Ah iya, dia memberiku kabar tentang itu. Sayang sekali aku tidak bisa hadir di pesta pernikahannya."


"Kalau Anthony sudah jadi F&B managers. Sssttt mr. Andrew menepati janjinya, berkat dirimu."


"Ahhh jadi ingat masa lalu."


"Masih ingat kamu berapa kali kau kabur dari mr. Andrew dan bagaimana dia menemukanmu, berkat kerja keras Anthony. Hahahhahaha."


"Jadi malu cek mengenang masa itu."


"Apa dia masih seromantis itu?"


"Iya."


"Wah kamu benar-benar Cinderella."


"Ada-ada aja." sahut Diana sambil menepuk pundak Maya hangat.


"Ada berita duka cek." Tampang Maya berubah serius.


"Apa?"


"Lina sudah meninggal."


"Ya Tuhan, kenapa?"


"Kanker otak nya kambuh."


"Ya Tuhan, kasihan sekali. Bukankah waktu itu asuransi kapal sudah memberinya kemoterapi? Aku pernah mengunjunginya sekali." tanya Diana dengan sedih.


"Benar setelah itu dia pulang dan merawat anak-anaknya. Sementara Nolan tetap bekerja di kapal."


"Lalu bagaimana nasib anak-anaknya. Mereka masih kecil-kecil." Diana meneteskan air matanya penuh duka.


"Ibu dan adik Lina yang merawat nya. Dan yang paling menyedihkan Nolan tidak dapat pulang waktu penguburan Lina. Dia tidak menemukan satu tiket pesawatpun. Kasihan sekali. Nolan menangis meraung-raung mendengar kematian dan dia sempat syok."


"Ya Tuhan kasihan sekali dia."


"Itu lah cek, semasa kita hidup kita harus selalu menghargai orang-orang disekitar kita, menyayangi dan menghargai mereka yang telah memilih menyayangi dan menghargai kita." Maya menarik nafas panjang.


"Kejadian Lina membuatku menyadari satu hal, hidup ini terlalu pendek untuk dihabiskan dengan sebuah konflik apalagi dengan orang yang mencintai kita."


Diana termenung dengan perkataan Maya. Air mata yang menetes di pipinya semakin deras.


Bagaimana dengan diriku. Pantaskah aku memperjuangkan kebahagiaanku.


"Cek, sudah jangan menangis terus. Nanti mr. Andrew datang aku bakal diusir kalau kau begini." Maya panik melihat Diana yang masih saja meneteskan air mata.


"Maya, kamu menginap disini ya. Aku masih kangen ingin berbincang dengan dirimu."


"Mr. Andrew enggak marah?"


"Gak akan. Kan kesempatan bagimu untuk bisa mencoba menaklukan dia." tantang Diana.


"Okey. Aku terima tantanganmu."


***************


"Din, kok mr. Andrew tidak muncul makan malam tadi?"


"Dia sedang sibuk di ruang kerjanya sedari siang tadi." sahut Diana santai setelah menemani Conrad mengerjakan pr.


"Ah, kan hilang kesempatanku."


"Besuk masih bisa." sahut Diana tersenyum geli.


"Besuk kan cuma sebentar. Siangnya aku harus kembali ke hotel karena lusa aku sudah kembali ke kapal." keluh Maya yang ingin sekali bertemu Andrew.


"Dasar kamu ganjen sekali. Cari pacar sendiri sono." goda Diana.


"He eh." Maya hanya terkekeh.


"Ini baju tidur untukmu." Diana membawa setelan piyama satin untuk Maya.


"Bagus sekali cek. Halusss." ucap Maya kegirangan.

__ADS_1


Diana hanya tertawa kecil melihat reaksi sahabatnya. Kemudian dia memberikan dua buah gaun untuk Maya.


"Ini juga untukku? Gilaaaa thankyou kebangetan cek. Ini bagus baget."


"Tapi itu bekas ku cek, maaf ya. Lain kali aku akan mengajakmu shoping."


"Say, memangnya aku pernah meminta sesuatu darimu selain ketulusan persahabatan. Ini sudah luar biasa." Ucap Maya dengan terharu.


"Okey sekarang tidurlah. Sweet Dream Maya sayang." Diana memberikan kode cinta melalui ibu jari dan telunjuknya kemudian dia meninggalkan Maya sendiri.


"Aku akan tidur dengan menggunakanmu sayang dan kau juga sayang." kata Maya sambil menunjuk pada piyama satin dan rambut palsunya.


************


Sementara itu Andrew baru keluar dari ruang kerja jam sepuluh malam. Dia hari itu sengaja tidak keluar dari ruang kerja, setelah kejadian durian pagi tadi, dirinya masih agak takut bertemu Diana. Takut mendapatkan hukuman dengan memakan sesuatu lagi.


Andrew turun menuju ruang makan dan mengambil segelas anggur putih dingin dan menegaknya perlahan di meja bar.


Pelayan berbama Sandra yang kebetulan lewat menyapanya, "malam tuan."


"Kau melihat Diana?" tanya Andrew tanpa membalas salam dari pelayan itu.


"Nyonya sedang di kamar tamu nomer dua tuan. Tampaknya dia menanti anda."


Pelayan itu pergi sambil menyeringai kecil.


Buru-buru Andrew menghabiskan wine ditangannya dan segera menuju ke kamar tamu. Tanpa mengetuk Andrew membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci.


Di atas tempat tidur dia melihat sosok wanita yang berbaring dengan selimut menutupi tubuh dan menghadap tembok.


Andrew merasa senang sekali karena tidak melihat ada bantal pembatas.


"Aha kau tampaknya sudah mulai memaafkan aku." Andrew mendekat, naik keatas kasur dan berbaring di samping wanita tersebut.


Tidak ada reaksi, apakah dia sudah tidur.


Andrew memiringkan tubuhnya dan mulai melingkarkan tangannya ke pinggang wanita tersebut.


Ada yang aneh, dia merasa Diana tiba-tiba tinggi sekali. Dan lingkar pinggangnya tampak lebih besar. Tapi ditepisnya pikiran itu dia sudah merasa kegirangan karena tidak ada penolakan dari wanita tersebut.


"Sayang aku rindu sekali." Bisik Andrew lembut. Jatah sehari dua kali telah lama tidak dia peroleh semenjak pertemuan Diana dengan Rachel.


Andrew menempelkan adik kecilnya yang sudah mengeras ke belakang pantat wanita tersebut. Agak aneh, pantat Diana biasanya lebih montok dan kenyal. Tapi sekarang agak tipis.


Belum sempat nalarnya bekerja. Seseorang membuka pintu kamar dan menyebut namanya.


"Andrew! Apa yang kau lakukan!"


Andrew terkejut. Suara itu suara Diana kekasih hatinya. Dia menoleh dan melihat Diana yang melotot kearahnya. Andrew terperangah dan mengusap matanya. Dia sangat terkejut.


"Sayang?" lalu dia memalingkan wajahnya kearah sosok yang tidur disampingnya.


"Siapa kau?" kata Andrew dengan marah.


Dengan perlahan dan menunduk malu, wanita itu duduk.


"Hallo mr.Andrew, saya Maya."


Andrew terperangah dan buru-buru berdiri sambil mundur kebelakang, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Β 


*apakah ini hukuman lainnya buatku*?


Β 


Andrew menggeram marah dan mengepalkan tinjunya. Dia kelur dari kamar dengan mengeluarkan sumpah serapa sambil menarik tangan Diana mengikutinya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Aduhh... Andrew! Kasihan banget kamu.


Hallo sobat pembaca...


Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.


Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.


Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.


Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.


Terimakasih.

__ADS_1


Salam sayang 😘


__ADS_2