Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
the game has begun


__ADS_3

Sambil mengenakan handuk yang melilit ditubuhnya, Lia mengamati isi closet tersebut. Penataan yang rapi. Pakaian disusun berdasarkan jenis dengan warna-warna pastel yang ceria. Blus, kaos, kemeja, gaun casual, long dress, dari bahan yang ringan elegan hingga bahan yang bertaburan swarozki. Bluss tertutup, model sabrina, satu tali semuanya ada.


Pakaian dalam pun semua tampak baru dan berbahan lembut. Lia melirik pada pakaian dalamnya yang dia beli discount di matahari deptartment store sangat jauh berbeda dengan pakaian dalam yang ada disini.


Selama tiba di negara ini, Lia memang belum sempat keluar shopping karena permasalahab yang Diana hadapi. Selama ini dia hanya memakai baju yang dia bawa dari kampung halaman. Meskipun Diana memberinya banyak pakaian baru. Tapi closet ini berbeda, membuay dia merasa memiliki semuanya. Apalagi size disini pas sekali dengan dirinya.


"Aku heran, kenapa pertama kali datang ketempat ini, lalat buah tidak memberiku satu pun baju disini? Menyiksaku semalaman menggunakan bathrobe. Dasar tidak berperasaan." Lia menggumam sendiri seraya mengambik satu buah blus tertutup dan memasangkannya dengan celana pendek.


Dia tidak berencana untuk langsung tidur malam ini. Dia ingin menjelajahi rumah ini, kali-kali saja beruntung bisa menemukan tephone rumah untuk menghubungi Diana.


Rasa penasarannya muncul lagi.


"Bagaimana mungkin pakaian sebanyak ini tidak ada pemiliknya?" Lia berjalan mengelilingi setiap sudut kamar dan membuka setiap laci, kalau aja doa dapat menemukan foto atau apapun yang menunjukan kepemilikan kamar ini.


Tapi nihil. Tidak ada tanda-tanda apapun.


"Apakah semua ini pakaian untuk pacar-pacarnya?"


Lia menarik-narik bluss yang dipakai dan menimbang-nimbang, apakah harus dilepaskan dan menggunakan pakaian lama atau tetap membiarkannya menempel dengan cantik di tubuhnya.


"Ahhh perduli amat, biar punya pacar atau siapapun, kan si lalat buah sudah menyuruhku mandi disini. Berarti boleh dong aku memakainya." gumam Lia sendiri sembari mematut dirinya di depan cermin.


Ketukan di pintu menghentikan aktivitasnya. Segera Lia menggerai rambut hitam cantiknya dan membuka pintu.


"Hai bibi Ruth apa kabar?" sambut Lia hangat ketika melihat pelayan wanita yang dia kenal di depan.


"Tuan Jason mengundang anda di ruangan home theater." kata pelayan tersebut setelah membalas salam dari Diana.


"Baiklah, bisa kau antar aku?" tanya Lia dengan ceria.


Pelayan wanita itu membawa Lia menuju ruangan lain di lantai atas. Sesampainya ditempat yang dituju, pelayan itu mengundurkan diri.


Lia membuka pintu dan didalam dia melihat ruangan mewah kombinasi hitam dan merah. Warna yang digunakan sangat tegas. Berbeda dengan home theater di rumah Andrew yabg berwarna soft dan lebih sering dipakai untuk memutar film kartun oleh Conrad.


Jason didalam sedang duduk dengan memegang segelas brandy sambio mengamati beberapa kepingan Dvd. Entah dia mengetahui atau tidak kehadiran Lia tapi Jason tetap diam di posisinya.


"Kau mengajakku menonton?" tanya Lia sambil duduk disisi Jason.


"Kau mau menonton?" tanya Jason balik.


"Coba lihat apa yang belum kau tonton." Lia bergerak mengambil beberapa dvd yang dipegang Jason dan mengamatinya.


"Ini semua belum kau lihat?" tanya Lia dengan heran.


Jason menggelengkan kepala.


Kening Lia berkerut, ingin sekali rasanya meledek pria dihadapannya itu, tapi dia urungkan karena melihat wajah serius Jason.


"Aku tidak mempunyai waktu untuk menonton semuanya itu." Jason berkata seolah-olah dia mengerti jalan pikiran Lia.


Β 

__ADS_1


*Lalu buat apa kau membeli semua ini*.


Β 


Pikir Lia dalam hati. Tapi dia meilih diam.


"Ini. Film ini box office dan banyak penggemarnya." ujar Lia seraya memberikan dvd Iron man.


Jason mengambil dvd tersebut dan memasangnya.


"Ah tidak ada popcorn."


"Kau mau popcorn?" tanya Jason tanpa menoleh


"Kau memilikinya?" tanya Lia.


"Aku bisa memerintahkan pelayan untuk menbuat atau membelinya."


"Tidak usah. Sudah malam. Bagaimana dengan kripik kentang?"


Jason menggelengkan kepala. Lia mengerutkan bibirnya kecewa.


"Kau mau nonton atau makan?" tanya Jason heran.


"Nonton sambil makan." sahut Lia cuek.


"Makan saja apa yang ada disitu." Lia meoleh dan melihat disudut ruangan sudah dipenuhi beberapa jenis canape juga buah.


Jason menggelengkan kepalanya seraya berkata, " bagaimana perut sekecil itu bisa menampung semua makanan?"


"Sudah sini duduk, jangan berisik." Lia memukul sofa disisinya.


*******************


"Kenapa sayang?" tanya Andrew ketika Diana mengernyitkan keningnya membaca pesan di smartphone.


"Jason." jawabanya singkat.


Lagi-lagi Jason mematikan ponselnya. Berkali-kali Diana mencoba menghubungi maupun membalas pesan tapi semua nya sia-sia.


"Dia matikan ponselnya lagi?" tanya Andrew tanpa mengalihka matanya dari tulisan di laptop.


"Iya." jawab Diana singkat. Saat ini Diana sedang menemani Andrew di ruang kerja. Dia membiarkan Andrew bekerja sedangkan dirinya asyik membava artikel tentang ibu dan bayi.


Sebelumnya setelah makan malam, Diana menghabislan waktu bersama Conrad sambil menanti Lia menghubunginya. Salah satu pengawal memberitahu Andrew kalau Lia membawa Dylan bersama Jason.


Setelah membacakan cerita untuk Jason dan mencium keningnya mengucapkan selamat malam Diana naik keruang kerja Andrew. Baru saja dia membuka artikel, pesan dari Jason masuk. Secepat pesan itu masuk. Secepat itu pula ponsel Jason sudah mati.


"Dia lagi-lagi membawa Lia pergi begitu saja semaunya!" gerutumu Diana dengan kesal.


Andrew melirik Diana sekilas sambil tersenyum penuh arti. Dia cepat-cepat menyelesaikan membaca setiap laporan dari laptopnya dan menyunting beberapa hal yang perlu diperbaiki oleh Briant.

__ADS_1


"Kalau aku bertemu dengan Jason besuk, akan aku marahi dia habis-habisan. Menculik anak gadis semaunya sendiri."


Diana masih saja kesal.


"Biarkan saja." ucap Andrew santai.


"Biarkan bagaimana? Tambah nglunjak dia nanti."


Andrew menggelengkan kepala. Secepat itukan perubahan suasana hati seorang wanita hamil. Tadi sore menangis tersedu-sedu akibat ulah Dylan. Kemudian terenyum ceria untuk Conrad, ribut mencari Lia dan sekarang marah-marah karena Jason.


"Untung ada Lia." gumam Andrew perlahan untuk dirinya sendiri. Tapi sayang, bahkan indera pendengaran ibu hamil lebih peka ternyata.


"Apa maksudmu untung?" tanya Diana dengan cepat.


"Iya untung. Jika tidak mungkin Jason masih ribut denganku merebutkanmu." ucap Andrew dengan mata yang menatap tajam namun lembut kepada Diana.


Diana tersenyum malu, wajah nya merona merah. Dia memalingkan wajahnya kembalo kepada notepad yang dia pegang dan mulai membaca artikel tentang bayi dalam kandungan.


Melihat perubahan wajah Diana dan senyum malunya. Andrew sudah tidak bisa menahan diri. Dia segera menutup latopnya dan menekati Diana. Diambilnya notepad dari tangan Diana kemudina mengetik sesuatu di pusat pencarian tanpa memperdulikan Diana yang keheranan.


"Nah, ini yang harus kita pelajari." ucap Andrew sambil tersenyum lebar. Dia menyodorkan hasil pencarian di notepad kepada Diana sambil menyeringai puas. Dengan heran Diana mengalihkan pandangannya ke notepad, matanya terbelalak dan mukanya merona melihat apa yang diketik Andrew.


Posisi aman bercinta ketika hamil.


"Andrew." ucapnya lirih.


Andrew tidak menjawab karena dia sudah ******* bibir Diana seraya membaringkannga perlahan diatas sofa.


"Kita akan melakukannya disini, sayang."


Sebtuhan tangan dan bibir Andrew mulai merajai setiap sudut tubuh Diana. Setiap jengkal bagian yang disentuh Andrew membuat Diana mendesah. Memang benar, kehamilan membuat wanita lebih sensitif bahkan setiap sentuhan ringan sudah membuatnya mengerang menikamti.


Hal itulah yang membuat Andrew semakin ketagihan. Seperti saat ini ketika Andrew hanya mengusap lembut tubuh Diana dan mencium sebentar bibir lembut bagian bawah, wanita itu menggelinjang. Tidak perlu waktu lama untuk merangsang, karena saat itu juga the Game has begun.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hallo sobat pembaca,


Terimakasih ya sudah membaca novel ini.


Jangan lupa ya beri like, biar makin semangat.


Hayooo yang lupa like scroll dari episode satu yaaa


Yang sudah Vote terimakasih banyakkkk


Sesuai janji Author


Kakak Surika, Yelli Niska dan Yun Hata please masuk group chatt yaaa, biar bisa bagi bonus.


Terimakasih.

__ADS_1


Semangat


__ADS_2