Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Baby Aaron


__ADS_3

"Mo...mo...mommy...a... he..." Aaron mulai mengucapkan kata pertamanya.


"Lihat... iya nak. Mommy... mommmmmyyyy..." Diana gembira sekali karena baby Aaron sudah bisa memanggil dirinya.


"Mo...mommy...aa...." kembali dia mengucapkan kata tersebut sambil tertawa lebar dan menggerakan kedua kaki dan tangannya.


"Heiii... Aaron sayang pintar sekali. Aaron sayang mommy kan." ucap Diana sambil bertepuk tangan.


Dan bayi itu mulai menirukan gerakan Diana bertepuk tangan.


Pok...pok.


heh..heh... ea....


Baby Aaron berceloteh sambil bertepuk tangan.


"Hahhahhaha.... kau hebat sayang... ayo sekarang tirukan mommy ya. Daaaaaaddyyy... daaaaaddddyΓ½y."


Baby Aaron memandang Diana kemudian tertawa melihat expressi ibunya.


Bukannya menirukan ucapan Diana, bayi mungil yang baru saja bisa duduk itu tertawa melihat wajah ibunya.


"Aaaa... kamu lucu sekali Aaron." Diana buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk merekam moment tersebut.


Tetapi begitu melihat ponsel, Aar9n langsung berhenti tertawa dan menatap benda tersebut dengan mata berbinar.


Aa...eh..eh....


Baby Aaron menggerakan tangannya untuk menggapai ponsel dari tangan Diana.


"Aaron mau main hp mommy, gak boleh yaaa... mommy mau nya mereka tawa Aaron yang imut." ujar Diana sambil menjauhkan ponselnya.


Melihat incarannya dijauhkan, spontan saya bayi itu menangis.


Uaaaaa....oekkkkk....oekkkk....


"Loh Aaron kok menangis, mau ini ya?" Diana mendekatkan ponselnya.


Bayi itu kemudian diam dan langsung memamerkan dua gigi nya yang baru saja tumbuh sambil menggapai ponsel Diana.


Diana membiarkan ponsel itu disentuh anaknya, dimana bayi itu menggenggamnya erat sambil memperhatikan benda tersebut. Di bolak balik nya ponsel itu sambil tersenyum lebar.


Detik selanjutnya, mulut baby Aaron membuka lebar dan HAP! Ponsel Diana sudah dalam mulut bayinya.


"Hei.. Aaron tidak boleh dimasukan mulut yaa.. kotor." Diana mengambil ponsel itu dari tangan anaknya.


Uaaaa..... oekkkkk.... uaaaa...


Baby Aaron menangis dan berteriak protes.


"Okey. Okey. Mommy pinjamkan ke Aaron ya, tapi tidak boleh dimasukan di mulut ya, kotor."


Diana mengulurkan ponselnya yang langsung di sambut baby Aaron dengan riang.


Kembali baby Aaron menggenggam ponsel tersebut dengan riang. Dia mendekatkan ponsel tersebut ke matanya kemudian dia jauhkan.


Dan kembali mulut baby Aaron terbuka lebar sambil mengarahkan ponsel ke arah mulutnya.


Diana yang sudah siaga langsung memperingatkan bayinya.


"No Aaron! It's dirty." ucap nya dengan tegas. Dan berhasil bayi itu mengerti. Gerakannya mematung dengan wajah yang sedih hendak menangis.


Expressi bayi itu yang sedang ngambek, lucu sekali. Dengan mata berkaca-kaca dia memandang ponsel yang ingin sekali dia rasakan kembali. Air liur baby Aaron menetes.


Diana tersenyum lebar melihat expressi anaknya. Menggemaskan bagaimana wajah imut itu sedang ngambek.


Dan tiba-tiba ponsel ditangan baby Aaron berbunyi. Baby Aaron terkejut. Dengan masih menggenggam ponsel tersebut dia menangis keras.


Uaaaa....uaaaaΓ ....


Diana tertawa sambil menggendong anaknya dan mengambil ponsel dari tangan baby Aaron.


"Ini daddy sayang. Jangan takut." ujar Diana sambil menjawab panggilan Video call dari Andrew.


"Hey daddy..." sapa Diana.


"Hey Aaron kenapa menangis sayang?" tanya Andrew dengan heran.

__ADS_1


"Itu daddy, Aaron sayang coba lihat." Diana membujuk anaknya untuk berhenti menangis.


" Dia menangis karena terkejut ponsel ini berbunyi ketika di genggamannya." ucap Diana sambil terbahak.


Kemudian dia meletakan ponsel tersebut di meja dan mendudukan baby Aaron di pangkuannya.


"Hey Aaron ... daddy miss you."


"Da.... da.. daddyyy." ucapa Aaron sambil menggerak-gerakan kedua tangan dan kaki nya girang melihat wajah andrew di ponsel.


"Kau dengar? Dia memanggilku daddy. Iya Aaron ini daddy. Ayo... panggil daddy lagi." ucap Andrew dengan girang.


"Dia juga sudah bisa memanggilku mommy. Iya kan Aaron, coba panggil mommy.. mommmy..."


"Da..da..daddy. daa...daa..daddy." baby Aaron terus memanggil ayahnya.


"Hahhahah iyaaa Aaron sayang daddy yaaa... yeaaaaa...." Andrew tertawa girang karena Aaron masih terus memanggil dirinya.


"Yaaa... Aaron yaa... suka kompak sama daddy yaaa." ucap Diana sambik mencium pipi anaknya gemas.


"Kau akan pulang cepat hari ini?" tanya Diana pada Andrew yang masih saja melakukan Video call sambil menandatangani berkas-berkas di mejanya.


"Iya, selama Patricia tidak membebani diriku dengan pekerjaan." ujar Andrew sambil mengarahkan ponsel nya ke arah sekretarisnya.


"Hallo nyonya Diana."


"Hey Patricia, pastikan dia makan siang dan minum banyak air putih ya."


"Tentu saja nyonya. Tuan Andrew harus menyelesaikan banyak hal sebelum mengambil libur panjang seminggu lagi." ujar Patricia dengan senyum lebar.


"Baiklah aku mengerti."


"Sayang, aku rapat dulu ya. I miss you. Daddy love you Aaron. Muah." Kecupan jarak jauh memutuskan hubungan telphone mereka.


Dan saat itu baby Aaron sudah menguap. Nanny juga sudah datang dengan membawa botol susu.


Diana menggendong anaknya dan membiarkan bayi itu memegang sendiri dot susu nya hingga terlelap.


Kemudian Diana membawa anaknya ke kamar bayi dan meletakannya di kasur.


"Tolong jaga Aaron ya nanny." pesan Diana setelah meletakan bayinya.


Lia dan Conrad tampak bersemangat berjalan di dalam lobby hotel.


Hari ini mereka bersama-sama pergi ke hotel bintang lima di pusat kota Miami untuk mencicipi ulang cake yang akan disajikan di pesta pernikahan Diana.


Mata mereka berbinar melihat potongan cake kecil-kecil yang telah disajikan dihadapan.


"Wahhh... kelihatan nikmat semua Conrad." Ucap Lia dengan mata berbinar melihat potongan kue yang tertata rapi.


"Unty ini enak sekali, coklatnya meleleh di mulut." ucap Conrad sambol mengunyah cake tersebut.


"Kau suka, kita akan memesan itu." ujar Lia.


"Yang ini juga enak unty." Conrand menikmati apple pie.


"Oke itu juga."


"Coba Conrad, Panacota ini sausnya enak sekali." Lia menyodorkan panacota saos markisa pada Conrad.


"Bisakah anda menyajikan panacota saos markisa ini di gelas kecil-kecil ?" tanyanya pada cheft pastry.


"Tentu saja nona. Gelas yang bagaimana yang anda inginkan?" merka membuka berbagai jenis gelas yang ada disana.


"Hemm.... margaritta gelas akan digunankan untuk shrimp cocktail. Bagaimana dengan ini." Lia menunjukan gelas brandy kecil.


"Perfect sekali nona, selera anda memang berkelas."


"Dan tiramisu bisakah di letakan di gelas martini?"


"tentu saja nona."


Lia dan Conrad menggantikan Diana yang memilih tinggal di mansion bersama baby Aaron. Sebelumnya pihak hotel telah mengirimkan seseorang untuk memberikan contoh cake dan penyajiannya. Kedatangan Lia dan Conrad hanya untuk memastikan kembali apa yang telah dipilih oleh Diana dan Andrew.


Sebelumnya, Lia sempat menghubungi Briant dan mengatakan kalau dia berada di kota dan akan menghabiskan waktu di pusat kota. Dia bermaksud menemui Briant, tapi dengan halus Briant menolak dan mengatakan kalau dia memiliki janji dengan seseorang sore itu.


"Unty itu uncle Briant." tunjuk Conrad.

__ADS_1


Tampak Briant berjalan bersama seorang wanita disampingnya.


Lia hendak mencegah Conrad memanggilnya, tapi terlambat. Conrad sudah berlari kecil menghampori Briant. Hati Lia merasa kecewa karena ternyata Briant lebih memilih wanita tersebut daripada dirinya.


"Uncle...uncle..." Conrad berlari mendapati Briant dan memeluknya.


"Conrad. Dengan siapa kau disini?" tanya Briant dengan heran.


"Dengan unty Lia." Ucap bocah itu dengan polos


Briant terkejut dan sontak menjadi salah tingkah.


"Hai unty Grisella. Ayo sini duduk sama Conrad dan unty Lia. Banyak kue disana." Conrad menarik tangan Grisella yang mengikutinya sambil menatap heran pada expressi wajah Briant yang tampak kikuk.


"Hai Lia, sudah lama disini?" Sapa Grisella.


"Ah tidak... baru saja. Lihat kue-kue ini masih banyak yang utuh." sahut Lia dengan tersenyum manis sambil menahan kekesalan dihatinya.


"Hai Lia."


"Hai brother."


"Uncle dan unty apakah hendak makan malam disini? Sekalian saja ya unty Lia kita makan di sini, Conrad sudah lama tidak makan Chiken steak disini." pinta Conrad.


"Jangan Conrad kita tidak boleh mengganggu Uncle Briant dan Unty Ella." ucap Lia dengan kecewa.


"Tidak apa-apa Lia, kita bisa menghabiskan waktu bersama." Kata Grisella dengan tulus.


"Maaf kak Grisella, tapi kami sudah berjanji dengan brother Andrew dan kakak ku untuk kembali makan malam bersama di rumah."


tolak Lia


"Ya unty..." rengek Conrad.


"Lain waktu ya kita akan kemari lagi bersama baby Aaron, bagaimana?" bujuk Lia.


"Hemm... baiklah. Tapi Conrad mau bawa kue ini pulang. Enakk.. " ujar bocah itu sambil menunjuk pada beberapa potong cokelat cake.


"Tentu saja tuan muda." ujar cheft pastry tersebut dengan tersenyum kecil.


Cheft tersebut kemudian memanggil seorang pelayan untuk membungkus semua sisa cake.


"Baiklah nona, bisakah anda tandatangan disini sesuai kesepakatan kita sebelumnya?"


ujar pihak marketing sambil menyodorkan surat perjanjian.


"Tentu saja."


Setelah membubuhkan tandatangannya dan berbasa-basi dengan pihak marketing seorang pelayan datang dengan membawa kotak besar cake.


"Ayo Conrad kita pulang. Kak Ella, brother kami pamit."


"Tetaplah disini bersama kami." ucap Briant.


Lia menggeleng seraya tersenyum dan berlalu menggandeng Conrad.


Sepanjang langkah dia menghembuskan nafas berat. Ada sesak dalam dadanya melihat bagaiman Grisella berganyut mesra di lengan Briant.


Ini penampakan Briant dan Grisella yaa




πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hai... terimakasih sudah setia membaca dan memberikan dukungan terlebih kritikan pada karya pertama ini ya.


Seperti janji Author Vote terbanyak tetap akan mendapatkan hadiah langsung ya.


Perhitungannya sampai sistem perhitungan dari mangatoon berubah lagi ya.


Terimakasih.


Stay healthy and safe.


Jangan lupa mampir ke cerita Georges dan Felicia ya.

__ADS_1



__ADS_2