
"Mommy kenapa?" tanya Conrad yang melihat raut wajah sendu Diana.
"Mommy nangis?" kali ini Aaron yang terkejut melihat air mata menetes di pipi Diana.
"Kenapa sedih sekali, Frances ikut sedih."
Ketiga anak itu mengerubungi Diana yang baru saja pulang dari pemeriksaan usg. Mereka tampak bingung dan khawatir, karena jarang sekali Diana menangis dihadapan anak-anaknya.
Tapi, kali ini Diana tidak dapat menyembunyikan kegalauan hati nya.
Diana berusaha tersenyum disela-sela perasaan hancurnya. Memandang ketiga wajah anak yang sangat mengkhawatirkan dirinya, membuat Diana merasa bersalah. Meski bagaimana pun, ada anak-anak yang lain yang membutuhkan dirinya.
"Mommy cuma lelah. Makanya mommy menangis." ujar Diana menyembunyikan kegalauan hatinya.
"Biarkan mommy beristirahat ya." ujar Andrew sambil mendorong kursi roda Diana dan membawa masuk wanita itu ke dalam lift, yang mengangkat mereka sampai ke lantai atas.
Andrew dengan penuh perhatian membanru Diana untuk berbaring di atas tempat tidur. Dia meninggikan bantal untuk tumpuan punggung dan kepala wanita hamil itu.
Seringkali Andrew merasa bersalah dan kasihan pada istrinya. Dulu dia sangat menyombongkan diri karena berhasil membuahi tiga sel telur sekaligus. Tetapi melihat bagaimana besarnya perut Diana yang berisi tiga bayi itu, Andrew merasa kasihan.
Dia dapat merasakan betapa berat beban yang dibawa Diana, seringkali wanita itu kesulitan untuk tidur dan tampak kesusahan ketika ingin memiringkan tidurnya. Belum lagi saat ingin kencing.
Andrew sudah lama berusaha menahan hasrat nya. Dia tidak lagi meminta jatah pada istrinya. Meskipun seringkali Diana yang pengertian dan membantu Andrew, tanpa persetubuhan.
Saat ini Andrew tahu, dia harus kuat demi istri dan anak-anaknya. Dia harus membuat Diana ceria dan lebih tabah.
"Kau menginginkan sesuatu?" tanya Andrew setelah melihat Diana berbaring dengan nyaman.
Diana menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku akan mengambilkan makanan, kau belum makan siang ini."
"Aku tidak bernafsu." ujar Diana dengan lesu.
"Aku mengambilkan makanan bukan untuk dirimu, tapi nitip lewat buat ketika anakku di dalam sini." kelakar Andrew sambil mengusap perut Diana.
Diana tidak dapat menjawab perkataan Andrew. Dia hanya dapat menatap Andrew yang berjalan hendak keluar dari kamar. Tetapi ketika baru saja Andrew membuka pintu kamar, dihadapannya sudah muncul ketiga bocah kecil nya.
"Daddy, kami membawa makan siang sekaligus sore buat mommy." ujar Conrad sambil mendorong troli makanan.
"Kenapa banyak sekali?" ujar Andrew heran dengan troli susun tiga yang berisi penuh makanan.
"Karena kami mau ikut makan sama mommy." Jawab Aaron.
"Iyaaaa kami mau menghibur mommy, biar mommy gak sedih lagi." ujar Francesca.
Andrew segera menggeser tubuhnya dan membiarkan anak-anaknya lewat. Andrew merasa sangat bangga melihat ketiga anak nya yang terdidik dengan penuh kasih sayang, sehingga mereka pun tumbuh dengan penuh kasih sayang juga.
"Mommy, ayooo makan sama-sama." ajak Conrad.
"Lihaaaatttt ini ada french fries dan chicken nugget kesukaan Aaron. Aaron mau bagi dengan mommy." seru Aaron ceria dengan suara nyaring.
"Frances bawa salad. Nanti Frances suapim ya mommy. Kata mommy, kita wanita harus banyak makan sayur kan, biar kulit cantik." ujar Francesca dengan anggun.
"Conrad bawakan steak. Ini buat mommy juga, biar adik-adik di dalam sini sehat selalu."
Bayi di dalam kandungan Diana mulai bereaksi, mereka menendang dan mulai bergerak. Diana bisa merasakan baby nomor satu dan dua menendang dengan kuat, sedangkan baby nomor tiga, bergerak lemah.
"Kalian mau menyapa adik? Coba letakan tangan kalian disini." Diana meminta mereka meletakan tangan di atas perutnya.
__ADS_1
Conrad dituntun untuk merasakan gerakan baby nomor dua, bayi perempuan yang aktif.
Francesca meletakan tangannya di daerah baby nomor satu, bayi pria yang beberapa kali bereaksi. Sedang si kecil Aaron, Diana meletakannya di baby nomor tiga yang paling lemah. Dalam pikiran Diana, tangan Aaron yang kecil mungkin lebih bisa merasakan tendangan lemah.
Melihat Conrad dan Francesca berseru riang merasakan gerakan dari baby nomor satu dan nomor dua, Aaron menjadi iri. Dia tidak dapat merasakan gerakan dari baby nomor tiga. Dia berkali-kali menggerakan tangannya di sisi kiiri Diana.
"Adikkkk.... ini kakak Aaron, mau menyapa. Hallo.. permisi, ada orang tidak?" ujar Aaron dengan mengelus-ngelus sisi kiri perut Diana.
Tidak ada respon membuat Aaron jengkel, karena di bagiannya bayi itu sangat tenang. Aaron kemudian mendekatkan bibirnya ke perti Diana.
"Ayooo di tendang dong perut mommy, kakak Aaron mau berkenalan. Nanti kakak kasih chicken nugget lohhh enakkkkkk." ujar nya dengan serius.
Dan beberapa detik kemudian, tendangan muncul di tangan Aaron. Aaron memekik gembira merasakan gerakan dari dalam perut Diana.
"Mommyyyy, baby nomor tiga suka chicken nugget!" serunya dengan senang.
"Mau chicken nugget yaaa?" tanya Aaron lagi.
Lagi-lagi dia merasakan gerakan di sisi sebelah kiri. Dan Aaron terpukau. Mulut nya terbuka dan kedua mata melotot takjub. Aaron dengan segrra mengklain baby nomor tiga adalah sekutunya.
Diana menjadi terhibur dengan kehadiran Conrad, Aaron dan Francesca. Mereka bertiga benar-benar bisa membuat dirinya terhibur dari rasa sedih yang dirasakannya.
Andrew apalagi. Dia harus bersyukur, ketiga bocah itu sangat membantu nya dalam memberi semangat Diana. Kecerian terus dirasakan dan mereka memutuskan untuk mengahbiskan waktu siang dengan tidur bersama. Menyisakan Andrew bersandar di sofa.
Aaron tertidur dengan meneyentuh perut sisi dimana baby ketiga berada. Sayang sekali dia tidak tahu, saat ini yang dia serukan sebagai sekutu sesungguhnya bukan baby nomor tiga. baby nomor tiga bergeser kebawah ketika mendengar suara nyaring dari Aaron, dia merasa berisik.
Baby nomor satu lah yang berulangkali menendangkan kakinya, mendengar Aaron menyerukan chicken nugget. Sedangkan baby nomor dua yang berusaha mendekati suara Aaron, tidak berhasil karena terhalang oleh bokong saudaranya baby nomor satu.
...πππππππ...
__ADS_1