His Love : The Mafia King

His Love : The Mafia King
Kejutan


__ADS_3

 


HAPPY READING GUYS


 


________________


Pagi hari telah tiba... nampaknya sang surya telah membawa semangat baru yang semakin kuat ke dunia...


Nampak jelas di wajah para pegawai yang berlalu-lalang penuh semangat membawa berbagai berkas dari divisi satu ke divisi lainnya...


hari ini pergerakan pasar benar-benar terjungkir balik... semua saham-saham yang harganya meroket tinggi sebelumnya sekarang langsung terjerembab jatuh ke jurang paling dalam...


dapat dipastikan jika mereka tidak dapat melewati krisis hari ini maka perusahaan yang mereka jalankan selama ini akan segera gulung tikar alias bangkrut tak bersisa...


pada dasarnya dunia bisnis memang sangat kejam... permainannya bak seorang penjudi kelas kakap namun legal...


alur yang mereka lalui tergantung dari kepintaran si pemimpin perusahaan memutar modal yang diberikan para investor, jika sekali gagal maka lubang kegagalan itu masih bisa ditutupi dengan berhutang di bank...


namun bagaimana jika kerugian yang dialaminya melebihi dari aset perusahaan bahkan aset pribadinya?


tentu saja pemimpin perusahaan yang awalnya kaya raya akan berubah menjadi gelandangan dalam sekejap mata... karena banyaknya hutang yang harus mereka bayarkan ke bank...


Seperti hari ini... semua perusahaan sedang mengalami keadaan chaos... dimana ini merupakan titik tertinggi dari sebuah krisis yang dapat dialami... jika tak dapat melewatinya maka hanya ada dua kemungkinan yaitu bangkrut atau diakuisisi oleh perusahaan besar lainnya...


bahkan hari ini Whatcaree Group pun tak terlewatkan...


perusahaan besar ini mengalami krisis yang sangat pelik... sedari subuh tadi Araya sudah berkeringat dingin... berusaha mencari jalan keluar dari krisis yang perusahaannya hadapi...


Namun sampai siang hari, tak ada satupun tindakannya yang membuahkan hasil yang dapat menyelamatkan perusahaannya dari krisis...


Saat ini di gedung pusat Whatcaree Group tengah dilakukan rapat dewan direksi perusahaan untuk membahas bagaimana caranya keluar dari krisis ini sesegera mungkin...


para pemegang saham sudah berdatangan sebagian dari mereka telah menjual setengah sahamnya pada beberapa pembeli untuk mengurangi kerugian...


saat ini kursi kepemimpinan masih berada di tangan Araya namun saham yang ia kuasai terbilang sangat kecil yaitu hanya 15,4% dari total keseluruhan... sedangkan Dewan direksi yang baru memegang lebih dari 75% saat ini...


Namun sampai sekarang ia tak tahu siapakah sebenarnya orang yang sangat berkuasa ini...

__ADS_1


jika ia mau bahkan saat rapat dewan direksi perusahaan ini pun ia akan langsung menggantikan Araya sebagai Presiden Direktur dari Whatcaree Group...


15 menit telah berlalu dari kesepakatan waktu rapat akan dimulai namun pemegang saham terbesar dari perusahaan ini belum juga datang...


mereka semua hanya bisa menunggu sambil berdiskusi kecil tentang bagaimana solusi untuk lepas dari krisis yang sedang melanda perusahaan ini sekarang...


"tuan Araya, apa kau tidak tau siapa pemegang saham terbesar perusahaan saat ini? karena sampai saat ini dia belum juga datang... kita harus segera memulai rapatnya..." ujar salah satu orang penting perusahaan itu


"bukankah kalian yang menjual sebagian besar saham kalian padanya? aku sama sekali belum mengetahui siapa pemegang saham tertinggi saat ini... jikalau pun kita mau memulai rapat ini sekarang persentase saham kita hanyalah sekitar 25% saja... tetap tidak bisa mengambil keputusan penting untuk krisis saat ini..." sahut Araya dengan wajah tegang yang sudah tidak bisa ia tutupi


Sreeettt...


Pintu ruangan itu dibuka oleh dua orang pengawal pribadi, lalu seorang laki-laki masuk kedalam membawa tas kerjanya dengan sangat elegan...


betapa terkejutnya Araya saat melihat bahwa menantunya lah yang sedang masuk ke dalam ruang rapat tanpa permisi, membuatnya naik darah seketika...


"Kenapa kau kemari? ini ruang rapat pimpinan kau tidak punya hak untuk berada disini..." desisnya marah pada Jeab


"jangan marah dulu ayah... aku tidak punya niat buruk datang kesini... aku hanya ingin membantu ayah mertuaku ini untuk keluar dari krisis besar perusahaannya... ya walaupun dirimu tidak pernah mau mengakuiku sebagai menantumu itu tidak masalah..." ujar Jeab santai


saat Araya akan angkat bicara lagi handphonenya berdering... ada sebuah panggilan masuk... ia mengambil handphonenya dan melihat panggilan dari siapa itu...


Kim Hans...


"untuk apa kau meneleponku sekarang?!" tanya Araya setengah berteriak


"hooiiih... santai paman... santai... sepertinya paman tertekan sekali saat ini... hahaha" ujar Kim santai sambil tertawa mendengar Araya diselimuti oleh emosinya


"bedebah ini kau meneleponku hanya untuk basa-basi busuk ini?! aku matikan" ujarnya tak mau membuang waktunya untuk berbincang dengan Kim di telepon...


"Hahaha... jangan terburu-buru begitu paman... ini baru hadiah pertama dariku... hadiah keduanya mungkin akan bisa menyadarkanmu bahwa diatas langit masih ada langit... seorang bocah yang kau anggap tidak bisa apa-apa akan memberikan surprise yang sangat indah untukmu paman... semoga kau menikmatinya... karena semua saham kuserahkan padanya, sudah dulu ya paman... semoga harimu menyenangkan..." ujar Kim dengan sangat enteng namun terdengar seperti penghinaan bagi Araya saat ini...


tut....tut...tut...


sambungan telepon itu sudah terputus...


"bocah sialan!" umpat Araya lalu menaruh handphonenya dengan kasar diatas meja rapat itu


"baiklah... ayo segera mulai rapatnya..." ujar Jeab pada semua orang

__ADS_1


"hei bocah kau kira kau siapa bisa memerintah disin?!" ujar Araya dengan amarahnya


"tuan Araya tenang dulu... tidak ada hasil apapun yang bisa kita dapatkan dengan emosi..." ujar salah satu pemegang saham itu mencoba menenangkannya...


"jika menurut ayah mertua orang yang memegang 75% saham perusahaan ini tidak punya hak apapun disini, maka apa hak yang kalian semua miliki hanya dengan saham di bawah 20% ?" tanya Jeab dengan sangat tenang


semuanya terdiam... mereka tidak percaya mengetahui bahwa pria muda inilah pemegang saham terbesar saat ini...


"bagaimana mungkin?" ucap Araya terkejut


"Apapun mungkin dibawah kendali seorang Kim Hans... aku hanya beruntung karena dipercaya untuk sepenuhnya bertanggung jawab atas proses pengakuisisiannya perusahaan ini darinya..." sahut Jeab


"bagaimana mungkin? Hans Group sudah terancam bangkrut kemarin kenapa bisa seperti ini?" tanya Araya lagi dengan wajah bingung tak percaya pada semua yang dikatakan Jeab


"ayah terlalu meremehkan dirinya... jika ia sangat tertarik untuk bisnis maka untuk menjadi perusahaan terbesar se-Asia pun hanyalah serpihan kecil baginya... hanya saja ia tidak menginginkan hal itu... mungkin lebih tepatnya belum menginginkannya..." sahut Jeab


mendengar hal itu Araya memijat kepalanya pelan....rasa pening menjalar di kepalanya...


rasa kekalahan yang begitu dalam ia rasakan saat ini...


"bahkan perusahaanku bisa di rampas dengan mudahnya..." gumam Araya pelan sambil terus memijat kepalanya


"Tidak ayah... tuan Kim tidak mau merebut apapun darimu..." ujar Sara dari arah pintu ruang rapat itu...


"Sara..." ucap Jeab lalu menghampiri istrinya


"....." Araya hanya diam...


"tuan Kim Hans itu hanya membantu menyadarkan ayah bahwa tindakan ayah selama ini pada Jeab itu salah ayah... ayah menghinanya, mengatainya sebagai budak Kim Hans tapi itu tidak benar... bahkan tuan Kim itu menganggap Jeab sudah seperti saudaranya sendiri..." ujar Sara dengan air mata yang sudah mengalir di pipi mulusnya itu


"jangan bicara lagi... keluarlah..." perintah Araya dengan matanya yang masih terpejam sementara tangannya masih setia memijat sendiri kepalanya dengan lembut


"tuan apa rapatnya masih akan dilanjutkan? sepertinya anda sedang kurang sehat..." ujar sekertaris Araya khawatir pada bosnya itu


"rapat ini akan tetap dilanjutkan" sahutnya sambil mengenakan kacamatanya lagi


________________


jangan lupa vote like dan komentarnya guys...

__ADS_1


kasi rating juga karyanya Author ya...


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2