
HAPPY READING GUYS
________________________
"Ayah kecewa atas jawabanmu disaat kritis, karena meskipun adikmu berada dalam kondisi krisis hidup dan mati di tangan musuhmu, kau malah dengan bangga menyampaikan pada musuh itu bahwa kemungkinan ia masih bisa selamat jika di tebas saat itu, dan jika musuh yang kau hadapi mengalami keputusasaan maka kemungkinan untuk adikmu mati juga semakin tinggi... Tidak peduli jika dia yang menjadi rekanmu itu adikmu sendiri atau orang lain, kau seharusnya bisa mengambil pilihan dan kemungkinan terbaik agar bisa menyelamatkan rekanmu, tapi dilihat dari situasi ini kau masih terlalu naif dan ambisius... Bagaimana bisa kau begitu percaya diri akan kehidupan seseorang pasti bisa selamat saat lehernya di tebas? kemungkinan untuk hidup dan mati adalah 50 : 50, dirimu belum memiliki kemampuan untuk memanipulasi lawanmu... Seharusnya dalam keadaan kritis kemampuan itulah yang dapat kau andalkan untuk mengacaukan psikologi lawanmu lalu membalikkan keadaan Art..." Ujar Kim sambil menarik tangan Tan agar berdiri...
Tan menatap wajah kakaknya yang nampak begitu kesal saat ini... Ia sama sekali tidak keberatan jika ia memang harus berkorban untuk kakak yang sangat ia sayangi ini, tapi apa yang dikatakan oleh ayahnya juga benar... Mengorbankan nyawa seorang rekan tanpa memiliki keinginan untuk menyelamatkannya memang terlalu memperlihatkan sisi ambisiusnya...
"Ayah..." ujar Tan yang langsung dipotong oleh Kim,
"kau juga, kenapa beberapa kali mencoba mengecoh musuhmu dengan cara membahayakan keselamatanmu sendiri? apa hidupmu setidak berharga itu? apa hidupmu selama ini tidak ada artinya hingga kau bisa melakukan semua itu Tan?" tanya Kim yang membuat Tan terdiam, seluruh gerakan dan pemikirannya dalam pertarungan ditebak dengan mudah oleh ayahnya...
Akhirnya kedua pemuda ini hanya diam dan bergulat dengan emosinya masing-masing, merasa kesal karena sadar akan kemampuan mereka yang ternyata masih terlalu jauh untuk menggapai titik dimana ayahnya berada saat ini... Merasa tidak terima akan kritikan pedas yang ayah mereka berikan atas apa yang mereka lakukan, tapi kebenarannya memang selalu pahit...
Sikap egois, patriotis, narsis yang berlebihan agar menjadi sorotan orang-orang disekelilingnya memang salah satu kekurangan serta kelebihan yang dimiliki oleh para anak muda pada umumnya tergantung bagaimana cara mereka mengarahkan semua sikap mereka itu ke arah tujuan yang positif atau negatif... Belum lagi kedua putranya ini sangat sering di mabuk pujian oleh orang disekelilingnya selama ini...
Mereka selalu dipuji dan dinilai jenius dalam berbagai hal... Mereka belum pernah menghadapi kegagalan, mereka belum pernah bertemu kesulitan yang nyata dalam hidupnya...
mereka juga perlu tahu bagaimana rasa pahitnya kekalahan...
Selama ini Kim lupa akan semua itu hingga kedua putranya ini tumbuh menjadi seperti sekarang, memang tidak buruk hanya saja sedikit kurang... keangkuhan dalam diri mereka mulai tumbuh pada kebanggaan mereka masing-masing, menganggap dirinya tinggi hingga tak mungkin bisa digapai oleh orang lain adalah hal utama yang membuat mereka jatuh ke tanah dan merasakan pahitnya kekalahan hanya karena terlalu percaya diri tanpa terus mencari kekurangan dari dirinya sendiri,
"Rasakan lah semua kekesalan itu, kemarahan itu dan ubah semua kekurangan yang ada dalam diri kalian... Rasakan kekalahan kalian hanya dari ayah dan bukan dari orang lain! jangan pernah berpuas diri karena pujian dari orang-orang karena itu hanya semu... ingatlah setiap masa punya orangnya dan setiap orang punya masanya sendiri-sendiri... Tapi seberapa lama masa kejayaannya hanya ditentukan oleh orang itu sendiri..." ujar Kim sambil meletakkan tangannya di pucuk kepala kedua anak laki-lakinya ini...
__ADS_1
"Ya ayah... kami akan terus mengasah kemampuan kami... Jangan pernah berhenti membimbing kami ayah..." sahut Art setelah semua rasa kesal yang ia rasakan tadi menguap begitu saja ketika ayahnya berbicara lebih dekat dengan hati mereka, memberikan nasehat dan sebuah apresiasi kecil dengan meletakkan tangannya di kepala mereka berdua membuat mereka merasa lebih nyaman dan aman untuk terus merasakan kekalahan pahit yang berulangkali karena akhirnya mereka sadar akan selalu ada tempat untuk mereka pulang dan memperbaiki diri mereka sendiri dibawah bimbingan ayah mereka ini...
"Tentu saja, dan sekarang mintalah hadiah kalian... bagaimanapun juga kalian masih bisa dianggap menang kali ini..." sahut Kim sambil tersenyum
"akhirnya kau tersenyum juga, dasar gila" ujar Jeab sambil merapikan kemejanya yang sudah lusuh dan kusut karena pertarungan tadi,
"aku rasa gangguan paranoid nya sudah melampaui batas wajar Jeab" sahut Zee menimpali sahabatnya itu,
"tidak ada yang dinamakan paranoid dalam batas wajar bodoh! orang yang memiliki gangguan paranoid tidak ada yang wajar" sahut Jeab sambil menjitak kepala Zee
"ayah memiliki gangguan paranoid?" ujar Art dan Tan bersamaan dalam hati mereka,
"Hey! wajar saja jika aku tidak tahu istilah medis, aku bukan dokter sepertimu!" sanggah Zee hingga akhirnya mereka berdebat kecil akan profesi yang mereka geluti selama ini,
"ckckck..." Kim hanya berdecak heran melihat kedua sahabatnya itu masih saja suka berdebat tidak jelas di usianya yang kini tidak lagi muda... Harusnya mereka menunjukkan wibawa kedewasaan di depan anak-anak tapi malah mereka sering bersikap seperti mereka semua seumuran...
"Hallo? ada apa?" tanya Art setelah melihat yang meneleponnya adalah Decha,
"gawat tuan muda, ibu anda tampak menangis dan hendak pergi membawa sebuah koper! " ujar Decha yang membuat Art melotot mendengarnya,
"Usahakan cegah agar ia tidak pergi kemanapun! " perintah Art dengan cepat,
"baik tuan muda!" sahut Decha dengan sigap sambil memberikan isyarat kepada para penjaga yang membawa ht lalu Art segera memutuskan sambungan telepon diantara mereka,
__ADS_1
Art menatap ayahnya yang sedang mendengarkan pembicaraannya sedari tadi,
"kalian bertengkar masalah apa sebenarnya ayah? kenapa ibu sampai sesedih ini?!" tanya Art dengan nada yang sedikit meninggi di akhir ucapannya,
"ada apa?!" tanya Kim sedikit panik dan sangat merasa bersalah akan apa yang telah ia lakukan pada Aom...
"ibu menangis dan sedang membawa koper" sahut Art sambil mengerutkan keningnya tidak suka akan apa yang sedang terjadi dalam keluarganya, terlebih lagi ini terjadi sebelum mereka akan pergi ke luar negeri untuk menjalankan misi yang telah diberikan kepada mereka,
Kim terdiam beberapa detik, lalu sebuah senyuman keputusasaan muncul di wajahnya,
"akhirnya dia memilih untuk pergi?" gumam Kim namun masih dapat di dengar oleh kedua anaknya dan juga kedua sahabatnya itu,
Mendengar jawaban se-pasrah itu dari ayahnya, Art menyadari bahwa penyebab semua ini ada hubungannya dengan ayahnya, dan Art juga tahu dari cerita yang para pamannya tentang beberapa kali ayahnya ini menjadi sangat bodoh dalam mengambil keputusan tentang cintanya, benar-benar bodoh hingga melukai kedua belah pihak... tidak ada yang diuntungkan dalam tindakannya terkadang...
Art menjadi sangat marah dan kesal kenapa pria yang selama ini selalu menjadi panutannya bisa menjadi se-menyedihkan ini?
Art langsung menarik kerah baju ayahnya tanpa sedikitpun ada rasa takut di matanya...
"aku tidak peduli apapun alasannya! tapi kenapa ayah menjadi seorang suami yang menyedihkan seperti ini?! ayah membuat ibu menangis dan ingin pergi?! persetan dengan paranoid atau apapun itu! buka mata ayah dan sadari bahwa ibu dan calon adik kami sangatlah berharga! jangan menyakiti mereka dengan alasan apapun!" ujar Art tegas
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
__ADS_1
vote like dan komentarnya guys...
kasi rating juga karyanya Author ya...