His Love : The Mafia King

His Love : The Mafia King
Untuk Terbang Lebih Tinggi


__ADS_3

HAPPY READING GUYS


________________________


Aom terkekeh geli pada dirinya sendiri...


Apa yang ia lakukan barusan terlihat seperti seorang wanita yang tidak berani menyatakan cintanya kepada pria yang sangat ia cintai di dalam hatinya... Hal-hal yang dilakukan diam-diam karena takut akan mendapatkan kenyataan yang pahit bahwa pria itu tidak membalas cintanya hahaha...


Tapi bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi padanya? Aom tidak mungkin merasakan hal seperti itu karena ia menerima cinta yang melimpah dari pria tampan yang menjadi ayah dari anak-anaknya ini...


Namun entah bagaimana sebuah siluet bayangan terlintas di dalam kepalanya...


Sebuah siluet seperti adegan masa lalu yang kembali terlintas dalam ingatannya, sebuah ingatan yang hilang terlintas kembali dalam benaknya...


"Ah, sakit..." Aom memegang kelapanya yang mulai terasa pening dan berputar-putar karena semua itu...


Sementara itu di dalam kamar mandi Kim menelepon Jeab memintanya untuk membawakan obat yang perhubungan dengan pencernaan... Perutnya mulai terasa sakit seperti melilit...


"Cepatlah datang, aku perlu obat apapun itu secepatnya!" Ujar Kim di telepon sambil membasuh wajahnya,


"Hahaha siap bos! Semangat menghadapi istri hamil dan morning sickness mu ya!" Ejek Jeab yang langsung menutup telponnya,


"Eiiissshh! Dia semakin senang mengejekku setelah tahu aku mual pagi ini!" Gerutu Kim sambil mengeringkan wajahnya,


***


Dalam ingatan Aom yang kembali terlintas sebuah kejadian di dalam sebuah apartemen, dirinya terlihat masih sangat muda... Dan seorang pria yang sedang membelakanginya hendak keluar dari pintu apartemen itu...


"Aku mencintaimu!" Gumam Aom tanpa suara pada punggung laki-laki yang hendak pergi itu,


"Kenapa kamu mengatakan itu?" Tanya laki-laki itu sambil perlahan membalikkan badannya menghadap ke arah Aom lagi,


"Me-mengatakan apa?" Tanya Aom yang tidak menjawabnya tapi malah bertanya balik... Pria dengan kacamata frame kotak tipis yang membuatnya terlihat lebih seperti seorang jenius tampan itu terlihat tidak asing baginya...


Wajah yang tampan itu benar-benar mirip dengan pria dewasa yang kini sudah terus bertambah umurnya... Pria yang benar-benar mencintainya dengan penuh setiap harinya...


"Aku tanya kenapa kamu mengatakan hal itu?" Tanya pria itu lagi pada Aom yang membuat Aom semakin gugup, saat itu ia benar-benar takut jika ternyata faktanya berbeda... Bagaimana jika pria ini tidak mencintai dirinya?

__ADS_1


Kepala Aom semakin sakit seiring dengan ingatan masa lalu yang kembali itu...


Aom memejamkan matanya sambil memegang kepalanya dengan kuat...


"A-apa?" Tanya Aom lagi pada pria itu,


"Jangan berpura-pura bodoh, lihat itu..." Ujar pria itu menunjuk sebuah bingkai cermin kecil di dekat pintu,


"Aku bisa tahu apa yang kamu katakan barusan karena terpantul dari cermin itu" ujar laki-laki itu


"Seharusnya aku yang mengatakannya lebih dulu... Aku mencintaimu!" Ujar laki-laki itu sambil tersenyum dengan begitu manisnya...


Malam itupun akhirnya mereka habiskan bersama di dalam apartemen itu kala itu...


Bersamaan dengan hilangnya kenangan itu, kesadaran Aom juga menghilang di saat yang bersamaan...


Ia pingsan karena rasa sakit dari munculnya ingatan masa lalu itu... Tapi apa yang membuatnya mengingat kejadian itu? Apa trigger yang membuatnya mengingat sebagian kecil ingatan masa lalu yang hilang itu?


Kim keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil menggantung di bahunya...


Ia melihat Aom yang tertidur di atas tempat tidur mereka, ia tidak tahu Aom sedang pingsan saat ini bukan tertidur...


"Mungkin kamu benar-benar akan kesulitan karena kehamilan di usia yang tidak lagi muda ini sayang... Maafkan aku..." Ujar Kim lalu ia mengecup kening Aom cukup lama...


"Aku ingin terus berada di sampingmu tapi bagaimana menyelesaikan masalah yang terjadi di Hongkong itu..." Gumam Kim sedikit cemas, karena dari apa yang Mario katakan padanya melalui telepon tadi bahwa kondisi disana benar-benar menghawatirkan saat ini...


Ada sebuah kondisi yang tidak dapat diatasi hanya dengan wewenang yang dipegang oleh Mario saat ini, jadi mau tidak mau Kim harus pergi kesana juga... Tapi halangan terbesar dalam hatinya adalah Aom, bagaimana bisa ia meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk menyelesaikan permasalahan disana?


Hal ini benar-benar mengganggu pikiran dan hatinya, Kim segera beranjak dan pergi menuju ruang kerjanya setelah memastikan bahwa ia sudah menyelimuti Aom dengan sebaik mungkin...


Ceklek!


Ketika ia masuk ke dalam ruang kerjanya, Art dan Tan yang ternyata sudah menunggunya disana langsung berdiri ketika melihat ayahnya datang...


"Apa ada sesuatu yang penting ayah? Karena kelihatannya ayah begitu serius tadi saat paman Mario menelepon..." Tanya Art langsung ketika mereka bertiga sudah duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja Kim itu,


"Huh... Ya anakku, ada perselisihan yang cukup sengit di Hongkong hingga wewenang yang dibutuhkan tidak bisa hanya dilakukan oleh paman Mario kalian... Ayah harus kesana menyelesaikan masalah yang ada, tapi sekarang ibu kalian sedang hamil... Bagaimana bisa ayah meninggalkannya untuk menyelesaikan masalah itu..." Sahut Kim nampak serius dan berpikir keras,

__ADS_1


"Izinkan kami membantu ayah... Kami bisa pergi kesana!" Sahut Tan dengan cepat,


"Masalahnya tidak sederhana..." Ujar Kim yang langsung dengan cepat ditanggapi oleh Art sebelum ia sempat menyelesaikan apa yang hendak ia katakan,


"Bukankah ayah selalu bilang hidup ini kejam dan keras? Bahkan seekor burung harus berani terjatuh dari sarangnya jika ingin cepat bisa terbang karena dengan cara ekstrim itu ia bisa lebih cepat tahu bahaya jatuh yang bisa mengancam nyawanya dan juga belajar bagaimana menyelamatkan dirinya di saat genting ayah..." Ujar Art dengan penuh keyakinan


"Hahaha... Tapi ibu kalian akan sangat marah jika tahu aku mengirim anak-anakku untuk mempertaruhkan nyawanya di Hongkong..." Sahu Kim sambil tertawa seakan perselisihan yang berbahaya itu hanya sebuah lelucon kecil yang tidak ada artinya...


Ia tertawa seakan nyawa itu sangat murah harganya... Bahkan nyawa dari anak-anaknya yang bisa dipertaruhkan jika ia setuju seakan tidak ada artinya jika dilihat dari caranya tertawa saat ini...


Tapi tunggu...


Bukan itu inti dari permasalahannya...


Sudut pandang yang digunakan terlalu awam untuk memahami sifat dari para mafia... Mereka adalah mafia, bukan preman pasar...


Hidup yang setiap hari harus mereka lewati memang selalu hitam dan gelap, setiap hari harus waspada kepada musuh yang mengincar nyawa mereka dari segala arah...


Hidup itu kejam sudah bagaikan sebutir pasir kecil yang tidak berguna bagi mereka...


Karena permainan mafia lebih kejam dari pada kejahatan yang terjadi pada umumnya... Bermasalah, menghilangkan, terlupakan... Itulah alur yang sering mereka gunakan, karena jika ada yang orang yang bermasalah tentu akan mereka lenyapkan tanpa meninggalkan jejak apapun...


Mereka tidak bekerja dengan urakan seperti para preman yang terlihat kejam dan keji dengan memamerkan kekerasan apa yang bisa mereka lakukan pada orang-orang...


Tapi dalam kamus mafia mereka bekerja dengan lebih lembut namun jutaan kali lebih mematikan karena tidak akan bisa terdeteksi oleh radar apapun...


"Maka jangan biarkan ibu tahu ayah..." Sahut Tan sambil tersenyum,


"Dasar anak nakal... Hahaha" Sahut Kim sambil tertawa lagi


"Besok kalian akan berangkat, jadi bersiaplah... Ayah mengizinkannya, dalam beberapa hari ayah juga akan kesana setelah memastikan semuanya aman disini..." Ujar Kim lagi,


______________________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


vote like dan komentarnya guys...

__ADS_1


kasi rating juga karyanya Author ya...


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2