
HAPPY READING GUYS
________________________
Sekilas Aom seperti mengingat beberapa kebiasaan yang sering Zero lakukan dulu, dan itu mirip dengan apa yang Kim lakukan sekarang ini...
Tapi pikirannya kembali berputar pada beberapa konsekuensi berat yang bisa Kim terima jika ia benar-benar menghabisi nyawa Anan saat ini... Aom cemas, takut dan mulai kalang kabut...
Namun saat Kim hendak membunuh Anan, Aom berteriak padanya...
"Kim!!! berhenti!!! jangan bunuh dia!!! atau aku akan membencimu selamanya!" teriak Aom begitu saja tanpa berpikir panjang lagi demi menyelamatkan Kim dari kasus yang akan semakin runyam nantinya menurut sudut pandangnya...
Biasanya dengan ancaman ini Kim akan berhenti dan menuruti apapun yang Aom ingin Kim lakukan...
tapi entah kenapa hari ini berbeda... Kim memang berhenti menghajar Anan namun sorot mata Kim padanya berubah...
tatapan mata yang setengah kosong... namun tetap tajam...
"kau bodoh Aom!" teriak Mario yang langsung berlari ke depan Aom yang seakan ingin melindungi Aom dengan merentangkan tangannya di depan tubuh Aom menghadap Kim bersama dengan Zee dan Nan...
"sial, kita juga akan ikut terluka sepertinya!" gerutu Nan
"kau harus belajar menempatkan ancamanmu lain kali, jika tidak Kim tidak akan pernah bisa kembali padamu... atau... kau tidak benar-benar mencintainya hingga kau bisa mengatakan kata-kata itu pada Kim?" tanya Zee tanpa menoleh kearah Aom...
Aom menutup mulutnya sendiri saat menyadari perkataannya itu bisa menjadi sangat ambigu di situasi ini...
Kim yang sedang tidak dalam kondisi yang bisa merasionalkan apapun sekarang ini, Kim yang tidak berperasaan dan tidak membedakan siapapun dalam amarahnya seperti apa yang pernah Jeab katakan dulu pada Aom hari ini benar-benar ia lihat...
Wajah datar, tatapan bengis dan aura yang menakutkan... hanya itu yang dapat disimpulkan saat ini setelah melihat Kim sekarang...
"Minggir kalian!" geram Kim berusaha mendekati Aom
__ADS_1
"tenangkan dirimu sebelum kau menyesali perbuatanmu Kim!" sahut Mario setengah berteriak pada Kim
"Aku bilang minggir!" ujar Kim menghajar Mario begitu saja...
Melihat Mario tersungkur ke tanah namun mesih sempat mencengkram kuat kaki Kim agar tidak bisa mendekati Aom, Zee dan Nan ikut berusaha melumpuhkan pergerakan Kim dengan cara menyergapnya...
Mario berusaha bangkit dan menahan Kim dengan sekuat tenaganya...
ibu Wana yang baru saja keluar langsung terkejut melihat kondisi saat ini...
"ibu! cepat bawa Aom masuk dan kunci pintunya!" teriak Zee pada ibu Wana
Tanpa basa-basi dan bertanya tentang apapun lagi, ibu Wana langsung membawa Aom masuk secara paksa...
"kau benar-benar akan membenciku hanya karena pria ini Aom?! maka lakukanlah! mungkin saat ini kau sudah bosan berpura-pura bahagia bersamaku kan?! dengan kembalinya mantan kekasihmu ini mungkin sudah membuatmu menyesali pernikahan kita, ya kan?!" teriak Kim penuh emosi...
Sekarang ini Kim sepenuhnya dikendalikan oleh emosinya yang meluap-luap melewati batas wajarnya...
Jangan lupakan bahwa Kim memiliki masalah dalam emosional disorder...
dulu ia kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi, namun seiring dengan terapi yang ia lakukan bersama dengan psikiater dan juga Jeab sebagai dokter pribadinya... Kim bisa mulai mengenali setiap emosinya lagi, tapi ada sebuah kondisi dimana ia masih kesulitan untuk membedakan dan mengatur emosi itu...
Kim kehilangan rasa takut dalam dirinya, begitu juga di saat yang bersamaan ia memiliki amarah yang awalnya akan berakumulasi lalu akan meledak saat ia benar-benar kehabisan akal untuk bersabar...
ingat dulu kenapa Kim hanya terlihat sedikit marah saat Aom menghianatinya dengan kehamilan palsu di awal-awal pernikahan mereka?
Itu bukan karena Kim lebih memilih diam, tapi amarah itu sedikit demi sedikit berkumpul menciptakan amarah yang lebih besar dan lebih menakutkan serta bisa saja meledak kapan saja saat Kim kehilangan kendali akan akal sehatnya...
"Kim... bukan begitu sayang!" sahut Aom sambil berusaha melawan mamanya yang berusaha keras membawanya masuk ke dalam rumah
"kau mencintai pria ini, dan aku hanya permainan bagimu! brengsek!" umpat Kim yang sudah tidak terkontrol lagi sambil melawan sahabat-sahabat itu...
__ADS_1
Kim menghajar sahabatnya itu sampai mereka benar-benar terluka... walaupun mereka sudah bertiga berusaha menghentikan Kim, mereka tetap kewalahan dan tak dapat menghindari serang tak terkendali dari Kim itu...
Beberapa anak buah mereka juga ikut membantu untuk menghentikan pergerakan bos besar mereka itu hingga terjadi kerumunan yang semakin banyak disana hanya demi menghentikan pergerakan Kim seorang...
4 orang anak buahnya mengunci pergerakan kaki Kim sedangkan Mario, Zee dan Nan mengunci pergerakan tubuh bagian atas Kim, mulai dari tangan hingga kepalanya...
Kini Kim benar-benar terlihat seperti seekor buaya yang mengamuk dan sedang berusaha dijinakkan lagi oleh para warga sekitar beramai-ramai dengan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri...
"berapa lama kita harus seperti ini? aku tidak tega pada Kim" ujar Nan pada Mario dan Zee
"dia harus mendinginkan kepalanya dan juga menjernihkan pikirannya dulu... jika sudah benar-benar yakin ia dapat menguasai akal sehatnya lagi baru kita bisa melepaskan kuncian kita padanya..." sahut Mario
"Kim... tenanglah... atur napasmu... tenangkan pikiranmu dulu... jangan sampai kau melukai orang yang paling kau cintai hanya karena emosimu yang benar-benar tidak terkontrol ini!" ujar Zee berusaha mengajak Kim berbicara untuk mengembalikan kesadarannya secara total...
"bos... maafkan kami yang lancang mengunci pergerakan bos seperti ini..." gumam keempat anak buahnya itu dalam hati mereka... rasa takut akan tindakan mereka ini serta rasa cemas pada kondisi bosnya ini membuat mereka benar-benar kehabisan akal juga...
Dua orang diantara keempat anak buahnya itu tidak lain adalah Petjah dan juga Daw...
Anak buah kepercayaan Kim yang selalu mengikutinya kemana saja dan hanya tunduk pada perintah yang Kim berikan...
Meskipun kedudukan mereka tidak setinggi tangan kanan Kim, namun mereka sudah benar-benar memiliki kepercayaan dari Kim karena loyalitas mereka yang sangat tinggi dari awal Kim mengambil alih SDG Daw sudah bersumpah setia pada Kim, sementara Petjah yang sudah menyelamatkan Kim saat kecelakaan itu mulai menyatakan sumpah setianya pada Kim di hari ia menemukan Kim di tepi pantai dekat rumahnya dulu...
Jadi mereka berdua tidak begitu takut jika harus melakukan ini untuk Kim selama ini untuk kebaikan bos besarnya ini... berbeda dengan dua anak buah lainnya yang masih sedikit ragu dan takut jika melakukan kesalahan saat ini...
______________________
jangan lupa vote like dan komentarnya guys...
kasi rating juga karyanya Author ya...
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1