
Happy Reading Guys
_____________________
Setelah memasukkan ponselnya lagi,
Hito mendekati Kim lagi dan berbisik kepadanya
“Aku akan mulai mengambil kebahagiaanmu satu persatu... aku harus mulai dari mana? Aom atau bayi-bayi mungil itu? atau aku harus memulai dari putri cantikmu itu? mana yang akan lebih menyakitkan Kim Hans?” tanya Hito berbisik di telinga Kim sebelum ia berbalik dan duduk di kursi yang tadinya Aom gunakan itu,
“Kamu berani membuat ibuku menderita maka kamu juga harus siap untuk menderita” ujar Hito lagi sambil tersenyum sinis pada Kim yang terbaring damai di depannya,
Ceklek!
Pintu kamar rawat VVIP itu terbuka,
Hito langsung reflek berdiri dengan sangat cepat dan menoleh untuk melihat siapa yang masuk, dan ternyata itu adalah Aom yang masuk membawa baskom kecil berisi air dan handuk kecil di dalamnya. Aom tidak terkejut melihat seseorang sedang berdiri di dekat ranjang Kim karena laki-laki itu mengenakan pakaian khas tim keamanan SDG sehingga ia dengan santai tersenyum kecil padanya sambil mendekati ranjang Kim itu,
Setelah menaruh baskom kecil berisi handuk di dekat meja yang ada di dekat tiang infus itu lalu ia hendak menyuruh penjaga itu pergi, namun Aom tertegun sejenak menatap mata orang itu... Ada perasaan samar tiba-tiba bergejolak di dalam hatinya pada orang asing ini, mata itu sangat familiar dan entah mengapa sangat ia rindukan tapi Aom tidak begitu yakin kenapa ia bisa merasa familiar tentangnya padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya,
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Aom penasaran dan ia masih menatap mata pria asing ini, jika dipetakan umur pria ini tidak terlalu jauh dengan putra sulungnya Art, sepertinya ia lebih besar beberapa tahun dari putranya,
Pemuda itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaannya,
“Tentu saja sudah pernah nyonya, tapi saya belum pernah punya kesempatan untuk bisa berbicara secara langsung dengan anda karena saya hanyalah seorang anggota keadaan nyonya” sahut Hito sambil mengepalkan tangannya namun dengan cepat ia berpura-pura meregangkan jarinya dengan mengepalkan tangannya beberapa kali agar Aom tidak curiga mengingat intuisinya pasti sangat tajam karena ia adalah mantan agen rahasia negara ini,
“Oh, begitu... saya merasa familiar dengan anda, mungkin saja kita pernah tidak sengaja bertemu sebelumnya ya” sahut Aom lalu ia mengalihkan perhatiannya kembali untuk membasuh tubuh Kim dengan handuk kecil dalam baskom itu,
“Anda bisa berjaga di luar sekarang” ujar Aom lagi pada pemuda itu,
“Baik nyonya, saya akan berjaga di luar bersama dengan yang lainnya” sahut Hito sambil setengah membungkukan badannya pada Aom dan ia memasang senyuman yang sangat ramah di wajahnya, namun senyuman itu runtuh seketika ia berbalik dan wajahnya tak terlihat oleh Aom, wajahnya berubah menjadi kaku dan tatapan matanya penuh dengan kebencian,
__ADS_1
Aom fokus membersihkan tubuh suaminya secara perlahan, ia mulai mengangkat lengan Kim lalu mengelapnya secara menyeluruh hingga dadanya sambil membuka baju pasien yang membalut tubuh Kim saat ini. Aom tersenyum kecil ketika ia mengelap dada dan perut Kim yang tampak masih sixpack tidak seperti pria paruh baya lainnya,
Melakukan olahraga secara rutin memang tidak mengecewakan,
Ketika Aom membasuh wajah Kim, ada pergerakan kecil dari matanya yang masih terpejam itu,
“Kim... Kim Hans...” ujar Aom dengan suara sedikit bergetar sambil menepuk pipi Kim beberapa kali berharap ia tidak sedang berhalusinasi dan Kim akan segera bangun sekarang juga,
“.................”
“Kim bangunlah... Kim Hans!” ujar Aom lagi lalu tangannya mengguncang pundak Kim beberapa kali hingga mata yang telah terpejam cukup lama itupun membuka matanya perlahan-lahan,
Dengan tatapan mata yang masih sangat menerawang. Kim melirik sekelilingnya, kemudian tangannya memegang kepalanya
“Kamu sudah bangun sayang... huhuhu...” ujar Aom yang langsung menangis memeluk tubuh Kim
“Aku dimana Aom?” tanya Kim dengan suara serak,
“Beberapa hari?” tanya Kim lagi tampak terkejut karena dari sudut pandangnya ia hanya sebentar berada di ruangan putih itu dan hanya beberapa saat berbincang dengan 'orang itu'
Lalu Kim tiba-tiba teringat akan bayi-bayinya apalagi si kecil yang kehilangan napasnya malam itu,
“Bayi kita? dimana mereka?” tanya Kim lagi dan ia melihat Aom tersenyum ceria hingga ia dapat menyimpulkan jawabannya sendiri,
“Mereka bertiga baik-baik saja sekarang, mereka sangat kuat sama seperti dirimu” sahut Aom lalu ia mencium pipi Kim
Brakkk!!!
Pintu kamar VVIP itu tiba-tiba terbuka lebar karena ditendang oleh Jeab yang masuk dengan paniknya,
“Apa Kim dalam kondisi kriti....s” ujar Jeab terhenti ketika melihat Kim sudah bangun dari tidur panjang yang tanpa alasan itu,
__ADS_1
“Kau pikir rumah sakit ini punyamu? bagaimana kalau pintunya rusak?” tanya Kim sambil tersenyum mengejek sahabatnya yang tampak sangat panik itu,
“Kim... Kim Hans! Akhirnya kau sadar!!!” teriak Jeab sambil berlari mendekatinya dengan penuh antusiasme
“Kenapa aku bisa pingsan? benarkah sudah berhari-hari aku tidak sadarkan diri?” tanya Kim pada Jeab yang menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki,
“Jangan tanya padaku! kau seperti pingsan karena kelelahan dan mengalami cardiac arrest, tapi setelah kondisimu normal kembali dan tidak ada tanda vital yang bermasalah, tapi kau tetap tertidur sangat lama dan apapun yang aku lakukan untuk membuatmu terbangun tidak ada yang memberikan pengaruh yang nyata! obat apapun tidak berefek padamu” sahut Jeab setengah berteriak karena rasa frustasi yang memenuhi seluruh tubuhnya saat ini, rasa frustasi yang menumpuk karena tidak bisa membantu Kim bangun beberapa hari ini,
“Kau seperti mati suri kau tahu” ujar Jeab lagi sambil mengecek suhu tubuh Kim dan tanda vital lainnya dengan sangat teliti,
“....................” Kim terdiam,
“Apa mati suri itu ada?” tanya Kim lagi sambil meregangkan tangannya,
“....................” kini giliran Jeab yang terdiam mendengar pertanyaan Kim
“Mungkin... Apa kondisi koma sama dengan mati suri?” sahut Jeab sambil bertanya balik lagi
“Kau malah bertanya balik” ujar Kim dengan malas,
“Pergilah aku ingin bersama dengan istriku” ujar Kim sambil mencabut infusnya begitu saja hingga darahnya keluar cukup banyak
“Kamu gila ya!” teriak Aom yang langsung menarik tangan Kim yang berdarah dan mengelapnya dengan tisu yang ada disana,
“Kebiasaan lama” ujar Jeab langsung mengambil plester penutup bekas infus dan memasangkannya pada tangan Kim
“Aku hanya ingin tahu kalau aku benar-benar masih hidup dan merasakan sakit” sahut Kim dengan santainya yang membuat Aom langsung memelototinya,
“Maaf sayang... Kemarilah, peluk aku” ujar Kim sambil tersenyum pada istrinya yang memelototinya saat ini,
_____________________
__ADS_1
See You Tomorrow