His Love : The Mafia King

His Love : The Mafia King
Bertengkar


__ADS_3

HAPPY READING GUYS


________________________


"Tapi di sana sangat bahaya, mereka bisa terluka bahkan mati Kim!" sahut Aom yang mulai emosi karena dari sudut pandangnya sebagai seorang ibu, ia tidak mungkin bisa rela membiarkan anaknya berada dalam bahaya dan kesulitan... Selain itu, pikiran semacam ini hanya bisa terlintas dalam benak seorang ibu... benar-benar seorang ibu...


"Apa kau ingin mendorong mereka ke jurang kematian?!" tanya Aom yang sudah berdiri dari tempat tidurnya dengan marah,


"Mereka harus menghadapi hidup dan mati" sahut Kim datar, ia mulai tidak dapat mengontrol emosinya entah karena apa ia juga menjadi lebih mudah marah saat ini...


"Aku membencimu Kim Hans! " teriak Aom sambil mencabut paksa selang dan jarum infus yang masih terpasang di tangan kanannya itu lalu berbalik dan berjalan dengan cepat menjauhi Kim,


Kim merapatkan giginya, mengeraskan rahangnya menahan emosi yang ingin keluar disertai napasnya yang mulai tidak teratur...


mereka berdua tidak lagi saling mengerti, mereka berdua telah berselisih paham yang cukup hebat hari ini... entah mengapa tidak ada yang mau mengalah kali ini...


meskipun Aom jelas-jelas sedang hamil, tapi ia tetap tidak bisa dengan mudah memenangkan apa yang ia inginkan seperti biasanya karena Kim tidak lagi selembut itu saat ini...


"Apa kau lupa telah menikah dan memiliki anak dengan orang seperti apa Aom?!" bentak Kim tanpa memikirkan apapun lagi, Kata-kata itu terlontar dari mulutnya begitu saja...


"........." Aom menghentikan langkah kakinya, air mata mengalir dari matanya yang indah,

__ADS_1


"Aku bukan orang biasa, dan anak-anakku juga bukanlah orang biasa... mereka juga bukan anak-anak yang bisa memiliki kehidupan yang menyenangkan tanpa khawatir akan mati setiap saat di manapun mereka berada di tangan musuh-musuhku... Aku tahu kau bercita-cita keluar dari kemiliteran dan ingin menikah dengan pria yang memiliki latar belakang keluarga yang normal dan biasa, menikmati kehidupan yang damai dan nyaman setiap harinya di sebuah desa kecil yang nyaman di perbukitan yang indah... maka dari itu maaf jika kau tidak bisa menikahi pria idamanmu saat itu! " ujar Kim yang juga bangun dari tempat tidur mereka dan beranjak pergi,


Saat mereka berdekatan dalam beberapa detik... Kim ingin sekali mengobati dan membersihkan darah di tangan Aom akibat dari selang infus yang dilepas secara paksa tadi, tapi kini pikirannya sedang berkecamuk... Ia sama sekali tidak dapat berpikir jernih, maka Kim memutuskan untuk pergi dari kamar mereka ini untuk memenangkan pikirannya dulu...


Pertengkaran yang tiba-tiba terjadi, yang awalnya kecil lalu berubah menjadi semakin rumit entah karena apa? seorang Kim Hans yang biasanya selalu bisa tenang kini sama sekali tidak dapat mengendalikan emosinya sendiri...


Setelah Kim pergi, Aom masuk ke dalam kamar mandi dan menangis sambil menghidupkan kran wastafelnya hingga air keluar dengan cukup deras dari sana, namun suara kucuran air itu tidak dapat sedikitpun meredam tangisan Aom... Beberapa ingatan masa lalunya kembali lagi terlintas dalam benaknya...


Ingatan ketika ia dan Kim sedang 'berkencan' di suatu taman yang indah yang di depan mereka juga ada sebuah danau buatan yang indah dengan bunga-bunga lotus yang bermekaran begitu indahnya di permukaan danau itu... Meskipun saat itu mereka sama sekali belum resmi berpacaran, namun hanya bisa mengekspresikan cinta mereka satu sama lain,


Mereka mengobrol begitu banyak sambil menikmati pemandangan yang indah itu berdua, menikmati cerianya angsa yang bercanda satu sama lainnya di danau itu sambil mencari makan, melihat kupu-kupu yang berterbangan mencari serbuk sari dari bunga lotus yang bermekaran... Lalu Kim tiba-tiba menggenggam tangan Aom dan bertanya,


"Hahaha... aku penasaran seperti apa kriteria dari calon suamimu, gadis cantik dan manis sepertimu akan menetapkan kriteria seperti apa kira-kira ya?" tanya Kim kala itu sambil tertawa menyembunyikan kecangguangannya saat menanyakan hal yang spesifik menjurus ke arah hubungan asmara yang lebih jauh dari hanya sekedar pacaran...


Kala itu Aom tersenyum lembut, menatap lurus ke depan, tatapannya seakan menerawang jauh... ia sebenarnya wanita yang sangat ambisius, tapi setelah beberapa bulan menjalani begitu banyak tugas seperti yang ia dambakan sebelumnya, Aom pun mulai sadar bahwa bukan ini yang sebenarnya ingin ia cari... Hal-hal yang kini ia lakukan hanya kebahagiaan semu di matanya...


"aku hanya ingin hidup bahagia dengan seorang pria tanpa latar belakang yang mencolok, hidup di desa kecil yang indah di dekat perbukitan... aku lelah menjadi orang-orang kota yang penuh ambisi di setiap hembusan napasnya... sangat simpel kan kak..." ujar Aom sambil tersenyum manis dengan tatapan yang masih menerawang jauh ke depan...


Tangan Kim perlahan melepaskan genggaman tangannya lalu menangkup tangan Aom dengan kedua tangannya dan berkata,


"ya... semoga kamu menemukan pangeranmu itu... hidup yang nyaman, aman dan damai... sepertinya itu memang sangat menyenangkan..." ujar Kim namun dengan raut wajah yang sulit diartikan meskipun ia masih memperlihatkan senyum di wajahnya...

__ADS_1


"Aku menginginkan dirimu, aku berharap pria itu adalah kamu kak... " gumam Aom dalam hatinya kala itu,


~


Aom membasuh wajahnya berkali-kali, ia sangat sedih karena pertengkaran mereka berdua... Aom tidak bermaksud untuk menimbulkan konflik seperti ini dengan suaminya yang tentunya sangat ia cintai, tapi tetap ia tidak bisa begitu saja setuju untuk membiarkan anak-anaknya berada dalam bahaya dengan alasan apapun... hati seorang ibu tentunya akan sangat keras untuk hal-hal yang menyangkut keselamatan anak-anaknya...


Tapi ingatan-ingatan yang tadi terlintas kembali dalam benaknya mulai sedikit mengganggunya karena jika dihubungkan dengan kata-kata yang Kim ucapkan tadi itu sangat dapat menunjukkan korelasi yang jelas... Apa Kim benar-benar terpengaruh dan masih ingat apa yang Aom katakan dulu?


atau apa? kenapa Kim tidak bisa tenang seperti biasanya... kenapa Kim tidak bisa tenang menghadapi Aom yang selalu mengatakan apapun seenaknya seperti sebelumnya? apalagi saat ini Aom sedang hamil... biasanya Kim akan menuruti dan mengalah pada Aom untuk masalah apapun itu...


Tapi kali ini berbeda...


Kim tampak begitu emosi dan meninggalkan Aom sebelum membuat permasalahan ini menjadi jelas... terlebih lagi dengan sebuah pernyataan yang seolah-olah menyatakan bahwa Aom menyesal telah menikah dan memiliki anak dengan seorang Kim Hans...


Kim Hans yang notabene seorang bos mafia besar dan bukanlah orang biasa!


______________________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


vote like dan komentarnya guys...

__ADS_1


kasi rating juga karyanya Author ya...


__ADS_2