
HAPPY READING GUYS
________________________
Kim menarik tubuh Aom ke dalam dekapan hangatnya, memeluknya erat nan lembut lalu mengecup dahi Aom tanpa mengatakan sepatah katapun lagi...
Cukup lama mereka terdiam dalam situasi hening dan menikmati suasana yang entah bagaimana begitu menenangkan bagi mereka berdua saat ini...
"Darahku terkontaminasi narkotika jenis heroin, aku tidak mengerti bagaimana bisa itu bisa terjadi dan..." Ujar Kim memecahkan keheningan diantara mereka berdua, namun sesuai dengan yang ia perkirakan...
Aom benar-benar terkejut mendengar perkataannya barusan karena Aom tahu betul bagaimana prinsip Kim yang sangat-sangat tidak bisa dirubah tentang obat narkotika apapun jenisnya karena jika digunakan secara salah maka obat yang seharusnya memiliki fungsi menyembuhkan malah dapat menjelma menjadi obat terkutuk yang hanya akan membawa kesengsaraan dan kebahagiaan yang semu pada para pemakainya...
"Bagaimana mungkin?! Apa kau benar-benar tidak sadar bagaimana bisa heroin itu bisa masuk ke dalam tubuhmu?! Apa ada yang berusaha menjebakmu sayang?!" Tanya Aom yang langsung memotong ucapan suaminya ini, tentu saja di wajahnya kini penuh dengan rasa khawatir,
Bagaimana tidak? Ia sangat-sangat paham tentang melaksanakan misi-misi yang serupa... Mengalihkan perhatian, melemahkan, lalu menghancurkan...
Tiga hal itu adalah kunci dalam menyelesaikan misi rahasia bagi setiap agen khusus dari setiap negara...
"Ya... Aku rasa mungkin ada sesuatu yang berusaha untuk menyerang dan menghancurkan ku beserta SDG yang telah tumbuh semakin kuat dan berkuasa... Seiring dengan rumor yang mulai beredar tentang aku yang berusaha menembus masuk ke dalam rantai bisnis USA, aku rasa sangat-sangat wajar jika ada pihak-pihak yang berusaha menyingkirkan diriku, baik secara diam-diam ataupun secara frontal nantinya..." Ujar Kim dengan raut wajah yang masih begitu santai meskipun sudah tahu bahwa dirinya sedang diincar,
"Bagaimana bisa kamu tidak memberitahuku hal ini Kim?! Ini bisa menjadi hal yang sangat berbahaya jika tidak segera kita antisipasi! " Ujar Aom dengan penuh penekanan disetiap katanya,
"Hmmm? Bagaimana aku bisa mengatakan hal ini padamu jika kamu sudah lebih dulu memilih kabur dari rumah Aomku sayang? Apakah hal sepenting ini bisa aku beri tahu padamu hanya lewat telepon? Tidak kan?" Sahut Kim sambil tangan kanannya mencubit hidung Aom dengan gemasnya, sementara tangan kirinya digunakan sebagai bantal tidur ternyaman untuk istrinya ini,
__ADS_1
"Maaf..." Sahut Aom sambil memanyunkan bibirnya yang membuatnya terlihat begitu imut sekarang,
"Aku terlalu kekanak-kanakan ya?" Tanya Aom lagi,
"Hahaha tidak... Untuk kali ini aku mengaku dalam situasi ini, aku lah yang paling salah karena telah membiarkan emosiku dimanipulasi secara perlahan hingga aku menyakiti perasaanmu... Tapi..." Ujar Kim menggantung lalu menatap mata Aom dengan lekat,
"Aku juga sedikit lega telah bisa mengatakan semua itu dengan lantang padamu... Sehingga sekarang kamu pasti tahu kelemahan terbesarku adalah ketakutan yang tak berdasar yang aku miliki di dalam otakku... Aku selalu paranoid akan apapun yang menyangkut Aomku, anak-anakku dan juga kakakku, tapi karena aku tidak terlalu perlu mencemaskan kakakku lagi... Jadi sifat paranoidku pasti akan berpusat kepadamu dan juga anak-anak..." Ujar Kim lalu ia menghela napasnya,
"Aku akan mulai berpikiran buruk pada setiap tindakan yang kalian lakukan yang tentunya tidak sesuai dengan keinginanku saat paranoid itu kambuh... Jadi yang perlu kamu ingat adalah suamimu ini adalah pria aneh dengan pemikiran aneh yang mungkin saja tiba-tiba muncul dalam otaknya ini... Paranoid adalah salah satu gangguan psikis yang menyulitkan jadi jangan pernah kehilangan kesabaran untuk mencintaiku ya sayang..." Ujar Kim lagi sambil tersenyum tipis,
"Tidak dapat mengekspresikan perasaan dengan sempurna seperti manusia pada umumnya, paranoid, selalu ingin mengorbankan diri meskipun itu adalah keputusan yang salah, keras kepala, mesum, ambisius lalu apalagi yang harus aku pahami tentang seorang Kim Hans ini hmmm?" Jawab Aom sambil menarik kedua pipi Kim dengan gemasnya,
"Dua hal lagi..." Ujar Kim sambil menjauhkan tangan Aom yang usil dengan pipinya,
"Aku tampan, dan mempesona!" Ujar Kim lalu menggulingkan tubuh mereka berdua hingga kini ia berada di atas tubuh Aom tanpa membebaninya karena ia menumpukan kedua tangannya di tempat tidur sebagai penopang tubuhnya,
"Hey! Itu bukan kelemahanmu... Tapi kelebihan yang kamu miliki sayang" Sahut Aom sambil terkekeh geli,
"Ya... Tentu saja! Dan perlu kamu ingat bahwa dirimu telah takluk dengan semua itu sebanyak 2 kali sayang... Saat menjadi mahasiswa polos jurusan hukum, dan juga ketika menjadi agen khusus... Bagaimana bisa seorang agen khusus milik pemerintah yang begitu hebat dan sangat sering dibanggakan oleh badan intelijen kalah pada seorang pria yang notabene adalah target utamanya? Hahaha" Sahut Kim mengejek istrinya ini,
"Dasar rubah jantan! Beraninya kamu mengejek aku ya?! Pergi sana! Tidur di kamar lain!" Sahut Aom sambil mendorong tubuh Kim menjauh,
"Hey! Hey! Hey! Bukan begini caranya! Ini tidak adil sama sekali! Lagi pula yang aku bicarakan adalah fakta yang jelas hahaha" Ujar Kim lagi sambil tertawa puas dan menahan tangan Aom yang mendorongnya agar pergi,
__ADS_1
"Tidak mau tahu! Pergi! Pergi!" Ujar Aom terus berusaha mendorong Kim dari tempat tidur itu,
"Baiklah-baiklah sayang... Tapi... Apa kamu yakin tidak akan merindukanku jika aku pergi?" Tanya Kim yang langsung membuat Aom berkaca-kaca,
"Astaga... Swing moodmu sedang sangat buruk ya? Hey... Aku hanya bercanda, jangan dimasukan ke hati dong..." Ujar Kim mendekat lalu mengusap kedua pipi Aom dengan sangat lembut,
"..........." Aom hanya cemberut dan tetap diam tidak berniat menyahuti Kim,
"Hmmm... Bagaimana kalau aku ambilkan teh lagi? Teh yang tadi itu sangat enak, menyegarkan, dan juga memenangkan... Aku ambilkan dulu ya sayang..." Ujar Kim yang langsung berdiri lalu pergi menuju dapur,
Di dapur,
"Kemana ibu? Kenapa tidak ada?" Gumam Kim karena ibu Wana tidak ada di ruang tamu maupun di dapur... Namun setelah menyiapkan secangkir teh hangat untuk istri hamilnya itu, Kim sempat menoleh ke arah jendela besar rumah itu yang menghadap langsung ke arah pohon besar dimana ayah dari Aom beristirahat untuk selamanya, ternyata ibu Wana ada disana... Duduk tenang sambil merangkai sesuatu, terlihat seperti benang wol?
"Apa ibu sedang merajut sesuatu?" Gumam Kim karena rasa penasaran namun kemudian ia acuhkan saja dan berjalan kembali menuju kamar Aom,
Ketika membuka pintu kamarnya, Kim melihat Aom sedang memandangi foto masa kecilnya bersama kedua orang tuanya... ayahnya mengenakan pakaian formal tentara berpangkat tinggi, ibunya mengenakan pakaian wanita formal yang sangat rapi hingga menunjukan keanggunannya dengan sangat sempurna... Sementara dirinya mengenakan pakaian anak-anak yang berwarna begitu cerah...
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
vote like dan komentarnya guys...
__ADS_1
kasi rating juga karyanya Author ya...