
HAPPY READING GUYS
________________________
Setelah membicarakan tentang permasalahan dan persiapan yang mereka perlukan sebelum pergi ke Hongkong, akhirnya diputuskan Art dan Tan akan pergi bersama dengan paman Nan mereka kemudian setelah waktunya tepat Kim akan datang bersama dengan Zee sementara Jeab akan diberikan tugas untuk menjaga semuanya di rumah mereka ini...
Tok!Tok!Tok!
Tiba-tiba suara pintu diketuk oleh seseorang dari luar terdengar,
"Boleh aku masuk bos? Aku sudah membawakan obat yang kau minta" ujar Jeab dari luar ruang kerja Kim, karena seberapa pun dekatnya ia dengan Kim, jika tidak dalam keadaan terdesak maka Jeab tidak akan berani langsung membuka pintu dan masuk begitu saja ke dalam ruangan tertutup manapun tempat Kim berada, masih ada banyak norma yang harus ia ikuti karena Kim adalah bos besar mereka semua...
Hanya Aom dan Pim saja yang akan dimaklumi untuk melanggar norma-norma itu... Bahkan Art dan Tan tidak termasuk dalam pengecualiannya...
"Masuklah" sahut Kim memberikan izinnya pada Jeab
"Apakah perutmu masih terasa sakit? Terasa seperti melilit atau terbakar?" Tanya Jeab sambil mengeluarkan peralatan medisnya,
"Tadi saat makan keduanya, tapi setelah minum susu murni untuk sedikit menetralisir efeknya, sekarang hanya terasa seperti melilit saja..." Sahut Kim lalu Jeab memberikan beberapa buah obat untuk Kim minum saat ini juga...
Setelah obat itu Kim minum, Jeab mulai memeriksa tensi dan denyut nadinya... Art dan Tan nampak hanya memperhatikan mereka saja hingga Tan mulai bertanya sesuatu yang sedikit lucu pada kedua sosok pria yang sudah menjadi ayah ini...
"Apa semua wanita hamil akan bersikap seaneh itu? Kenapa permintaan wanita hamil sering aneh-aneh paman?" Tanya Tan sambil mengerutkan alisnya,
"Hahaha... Kebanyakan wanita hamil memang kadang menjadi sedikit aneh dan meminta banyak permintaan aneh yang kadang tidak masuk akal nak... Tapi tidak semua seperti itu, karena semua tergantung pada hormon yang dihasilkan oleh tubuh masing-masing wanita itu sendiri... Tidak ada takaran pastinya karena setiap individu berbeda-beda... Terkadang ada yang saat hamil benar-benar lemas tidak memiliki tenaga hanya untuk bangun, ada juga yang kuat dan terus ingin berolahraga, ada yang makan makanan seperti biasanya dan ada juga yang sering meminta makanan yang spesifik yang mungkin terlintas di benaknya..." Sahut Jeab sambil merapikan memasukkan alat-alat yang tadi ia gunakan memeriksa kondisi Kim,
__ADS_1
"Kenapa dirimu penasaran Tan? Jangan bilang bahwa kau sudah menghamili anak orang di USA sana?" Tanya Jeab sambil tersenyum jahil pada keponakannya ini, meskipun Tan adalah keponakannya yang paling playboy diantara yang lainnya tapi Jeab tetap yakin bahwa Tan tidak akan melakukan hal yang lebih jauh lagi karena mendekati setiap wanita sama seperti permainan kecil baginya, ia terbilang cukup pintar untuk tidak tenggelam dalam hubungan yang rumit hanya karena ia mendekati begitu banyak wanita yang terlihat cantik dan menarik...
"Astaga paman... Aku tidak sebodoh itu untuk melakukan hal-hal seperti itu, lagi pula jika aku benar-benar ingin melakukan hal yang lebih jauh lagi kepada para wanita yang selalu terjerat oleh pesonaku ini, aku tentunya tidak akan membiarkan diriku melakukan hal bodoh, lagi pula aku juga paham betul apa fungsi dari alat kontrasepsi yang disebut dengan ****** itu sendiri paman!" Sahut Tan penuh percaya diri dan juga terdengar sangat lucu di telinga yang lainnya karena terkadang ada beberapa aspek kepolosan yang pria muda ini tunjukan dan selalu bisa mencairkan berbagai suasana...
"Hahaha bagus... Putraku sudah pintar ya hahaha" sahut Kim sambil tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang Tan katakan barusan, ia bahkan sampai melupakan sakit perutnya...
"Hahaha berarti tidak sia-sia ada pengenalan materi PMR ketika kau mendapatkan kelas percepatan di SMA ya..." Ujar Art sambil tertawa juga,
"Hahaha sudahlah, sekarang paman pergi mengecek kondisi ibu kalian dulu... Dan bos mari silahkan berjalan duluan agar tidak ada tatapan cemburu tidak jelas lagi dari figur suami dan ayah posesif ini..." Ujar Jeab sambil menyisipkan sindiran halus pada Kim yang selalu saja menatapnya dengan tajam saat ia menyentuh Aom...
Hanya dengan tatapan tajam itu saja sudah seperti menuduh Jeab ingin membawa Aom lari dari sisi Kim, walaupun dengan logika sederhana saja itu sudah sangat mustahil untuk dilakukan tentunya..
***
Mereka berdua pun berjalan kearah kamar pribadi Kim dan Aom, di tengah perjalan Kim mengatakan semua rencana yang telah ia buat untuk segera menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi di Hongkong akibat stabilitas kekuasaan dan politik yang sedang tidak stabil mendekati ajang pesta demokrasi di negara yang terbilang cukup kecil namun begitu maju karena semua hal di negara itu selalu hidup 24 jam seakan tanpa mengenal istirahat...
"Ya, dan aku harus menjaga semua orang dalam damai dan kenyamanan disini kan? Huuuh! Kenapa aku selalu menjadi penjaga rumah sementara kalian menjadi petugas lapangan sih?" Sahut Jeab sambil mendesah sedikit sebal,
Bagaimana tidak?
Saat semua sahabatnya mempertaruhkan nyawanya untuk sesuatu hal di luar sana...
Mempertahankan dan meningkatkan kekayaan dari kelompok mereka hingga ke titik dan sudut yang tak terbayangkan sebelumnya, Jeab malah harus diam di tempatnya dengan kewaspadaan, kesigapan, dan tentunya kecemasan yang tiada akhir menunggu kabar dari mereka semua...
Selain itu, menjaga semuanya tetap tenang, aman dan damai juga tidaklah semudah yang dibayangkan tentunya... Terkadang ia menjadi tempat pelampiasan kekesalan dan keresahan semua orang...
__ADS_1
Tugas yang ia pikul memang bukanlah tugas yang ringan dan sepele... Tapi dalam hatinya ia tetap ingin menanggung beban yang sama dengan semua sahabat yang sudah seperti saudara kandungnya itu...
"Hahaha... Ya sudah kuduga kau akan bereaksi seperti ini... Dari tahun ke tahun kau tetap sama..." Ujar Kim sambil menepuk bahu Jeab
Setelah mereka masuk, Aom masih dalam posisi yang sama di atas tempat tidurnya...
Matanya terpejam dengan sempurna...
"Dia sudah tertidur ketika aku tinggal ke toilet sebentar" ujar Kim sambil duduk di samping istrinya yang tengah tertidur menurutnya tadi,
Namun ketika memperhatikan wajah Aom dengan seksama, raut wajah mereka berdua berubah karena Aom terlihat sedikit pucat...
Jeab langsung mengambil tangan Aom dan memeriksa denyut nadinya... Setelah beberapa detik kemudian Jeab langsung menggunakan stetoskopnya memeriksa detak jantung Aom untuk memastikan analisanya...
"Dia tidak tidur Kim! Istrimu pingsan!" Ujar Jeab tegas setelah memeriksa dan memastikan denyut nadi dan jantung Aom yang terdeteksi melemah setara dengan orang yang kehilangan kesadarannya...
"Kenapa?! Kenapa dia pingsan?! Astaga!" Ujar Kim mulai panik dan cemas
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
vote like dan komentarnya guys...
kasi rating juga karyanya Author ya...
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐