His Love : The Mafia King

His Love : The Mafia King
Melangkah Kearah Sebuah Cahaya


__ADS_3

Happy Reading Guys


_____________________


“Ayah!” teriak Art sambil berlari mengejar Kim yang sedang di dorong ke arah ruang ICU,


“Maaf tuan, anda tidak boleh masuk ke dalam, tolong tunggu di luar... kami akan melakukan yang terbaik untuk bos Kim” ujar salah seorang dokter yang selalu menjadi asisten Jeab itu,


“Ada apa dengannya? kenapa ayahku sampai tidak sadarkan diri?” tanya Art dengan penuh kecemasan di wajahnya,


“Kami tidak tahu tuan, mungkin karena bos Kim terlalu syok jadi ia pingsan di dalam” sahut dokter itu lagi,


“Apa yang bisa membuat ayahku sampai syok?” tanya Art lagi dengan penuh kecemasan dan rasa curiga dalam hatinya kepada kondisi ibunya yang saat ini kemungkinan sedang dalam proses melahirkan bayinya, bayi yang akan menjadi adik terkecilnya itu... Jauh di dalam hatinya, Art memiliki beberapa dugaan kemungkinan dari situasi ini. Ibunya yang ada dalam bahaya atau adik bayi itu yang berada dalam bahaya hingga bisa membuat seorang pria seperti ayahnya syok... ini... ini sesuatu yang terlalu sulit ia terima jika ini adalah kenyataan,


“Dokter! semuanya sudah siap” ujar seorang perawat yang membuka pintu ICU itu dan tetap berdiri di ambang pintu itu seakan-akan ia tidak akan mau membuang waktunya hanya untuk melangkah keluar ruang ICU itu meskipun hanya beberapa detik saja,


“Saya akan masuk tuan” ujar dokter itu sambil langsung berlari meninggalkan Art sendirian di depan ruang ICU itu saat ini,


Beberapa kali Art bergantian menoleh ke arah ruang operasi caesar dan juga ruang ICU seolah saat ini jiwanya sedang terbagi 2, ia ingin berada di depan ruang operasi dan juga di depan ruang ICU di saat yang bersamaan tapi itu mustahil dilakukan saat ini. Art menatap tangannya yang sedari tadi terus bergetar tanpa ia sadari, sejak kapan ketakutan mulai menguasai hatinya ia tidak bisa mengetahuinya,


Art mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik pencarian kontak adiknya Pim dan Tan untuk segera menghubungi mereka, namun setelah beberapa kali mencoba Tan masih tetap tidak bisa dihubungi hingga Art beralih untuk menelepon Pim saat ini,


“Hallo? ada apa kak?” sahut suara seseorang dari balik telepon itu tapi dia bukan Pim melainkan Lee yang menjawabnya,

__ADS_1


“Hah? Pim dimana?” sahut Art sambil mengerutkan keningnya mendengar bukan adik perempuannya yang mengangkat telepon itu sepagi ini,


“Dia sedang buru-buru mengambil bukunya yang tertinggal di kamarnya kak, hari ini ujian masuk perguruan tinggi dan dia bangun kesiangan untuk bisa berangkat lebih awal karena sekarang pasti akan macet” sahut Lee menjelaskannya sedikit mendetail agar Art tidak berpikir macam-macam setelah reaksi terkejutnya itu,


Lagi pula mendengar suara seorang laki-laki yang mengangkat telepon adik perempuannya di pagi hari seperti ini akan sangat mencurigakan meskipun ia mengenal orangnya pun akan tetap membuat seorang kakak curiga kenapa bisa sepagi ini adik perempuannya bersama dengan orang lain mengingat kebiasaan Pim untuk bangun pagi tidak pernah bisa lebih pagi dari jam setengah 7 pagi setiap harinya,


“Ah, jadi hari ini ujiannya...” sahut Art mengingat beberapa hari yang lalu Pim sempat berkeluh-kesah dengannya lewat telepon mengenai ujian yang sudah semakin dekat,


“Kenapa kakak menelepon pagi sekali? ada yang bisa aku katakan pada Pim kak? apa ada hal yang penting?” tanya Lee setelah beberapa detik tidak ada suara dari Art,


“Tidak perlu, tolong kamu jaga adikku Lee, katakan aku menelepon untuk menyemangatinya” sahut Art setelah berpikir sejenak


“Baiklah... kamu yakin hanya itu kak?” tanya Lee lagi karena ia merasa ada yang sedang disembunyikan oleh kak Artnya ini,


“Untuk saat ini Pim harus fokus pada ujiannya jadi tolong rahasiakan jika ada kabar yang kamu terima dari siapapun Lee, jangan sampai fokusnya terganggu sebelum ujian selesai” sahut Art yang langsung membuat Lee mengerti akan apa tugas yang harus ia lakukan sekarang untuk tuan putri keluarga HS ini,


“Dia selalu menjadi kakak yang sangat baik, tapi tadi saat ia terkejut mendengar suaraku dari ponsel Pim, jika seandainya, seandainya saja... apa reaksinya ya kalau aku bilang Pim menginap? hehehe” ujar Lee sambil tertawa kecil namun ia langsung menggelengkan kepalanya dan menelan ludahnya sendiri karena membayangkan seberapa marahnya Art jika ada yang berani menyentuh adik kesayangannya itu,


“Jangan menggali lubang kematianmu sendiri Lee... Jangan pernah bercanda tentang itu” ujar Lee pada dirinya sendiri sambil mengembalikan ponsel Pim kembali ke atas tumpukan berkas pendaftaran ujian itu,


***


Di dalam ruang operasi caesar,

__ADS_1


Jeab dapat menghela napas lega karena detak jantung Aom sudah kembali dan operasinya segera dapat diselesaikan...


Ketiga anak kembarnya itu sudah dalam keadaan bersih dan dibalut kain lembut dalam box penghangat, hanya bayi yang lemah itu yang dipasangi alat medis cukup banyak untuk memantau keadaannya karena detak jantungnya berdetak dengan sangat lambat namun irama detak jantungnya normal sehingga masih perlu pemeriksaan lebih lanjut apakah ini sebuah kelainan ataukah bisa pulih kembali seperti orang pada umumnya...


Menit demi menit berlalu tanpa ada masalah hingga operasinya pun selesai dan Aom siap dipindahkan ke kamar VVIP seperti yang sebelum-sebelumnya ketika ia melahirkan Tan dan juga Pim belasan tahun lalu,


“Bagaimana kondisi bos Kim?” tanya Jeab pada salah seorang perawat yang barusan ia suruh untuk mengecek ruang ICU, ia berharap Kim hanya kelelahan hingga pingsan dan tidak ada hal lain selain itu,


“Maaf dokter tapi sepertinya keadaan tuan Kim tidak begitu baik karena mereka masih melakukan segala cara untuk membuatnya sadar tapi tidak ada respon dari tubuh pasiennya” sahut perawat itu cemas,


“Apa?” ujar Jeab yang langsung melempar sarung tangan karet yang baru saja ia lepaskan dan dengan cepat bergegas pergi ke ruang ICU,


Sesampainya di sana ruang ICU itu sedang dalam keadaan riuh, semua dokter dan perawat bergerak menjalankan tugasnya masing-masing dengan sangat cepat, kondisi yang cukup panik karena pasien tiba-tiba saja mengalami gagal jantung atau cardiac arrest, sama seperti keadaan Aom barusan... Seakan kondisi Kim dan Aom terhubung satu sama lainnya hingga tidak cukup 1 yang masuk kondisi kritis tapi keduanya bahkan mengalami situasi yang sama meskipun dengan jangka waktu yang sedikit berbeda...


“Kim Hans!” ujar Jeab yang langsung dengan cepat menggantikan dokter yang kelelahan melakukan CPR tanpa henti di dada Kim


***


Kim terbangun dan melihat hanya ada warna putih di sekelilingnya, kemanapun ia melangkah tidak ada hal lain selain dirinya dan warna putih kemanapun ia mengarahkan pandangannya...


“Dimana ini?!” gumam Kim sambil mengerutkan keningnya, lalu ada sebuah cahaya terang di depannya yang seolah menuntunnya kearah itu...


Semakin ia dekati semakin terang cahaya itu dan semakin nyaman rasanya, berjalan mendekati cahaya itu seakan ia bisa melepaskan semua bebannya... Tubuhnya terasa ringan dan semakin ringan setiap langkahnya,

__ADS_1


___________________


See You Tomorrow


__ADS_2