His Love : The Mafia King

His Love : The Mafia King
Menghilang Di Pagi Hari


__ADS_3

HAPPY READING GUYS


________________________


“ Kim... Apa kamu di kamar mandi? ” tanya Aom yang mengira Kim ada di dalam toilet,


“ Tidak ada? Dia pergi kemana? ” gumam Aom sambil bergerak perlahan turun dari tempat tidurnya,


Ia tidak langsung keluar kamar mencari suaminya itu karena masih perlu untuk membersihkan dirinya sendiri dulu di kamar mandi...


Setelah merasa lebih segar, berganti baju dan menata rambutnya sedikit hingga memberi kesan ibu rumah tangga sederhana namun cantik dan menggoda walaupun tanpa riasan apapun yang melapisi wajahnya saat ini,


Di dapur rumah itu, ibu Wana tampaknya sudah selesai menyiapkan makanannya, ada berbagai macam lauk, begitu banyak macam sayur dan sup tertata rapi di atas meja makan itu...


Usianya yang sudah tua sama sekali tidak tercermin dari energi yang ia habiskan setiap hari untuk melakukan banyak hal... Apalagi setelah mengetahui bahwa anak satu-satunya telah hamil lagi untuk ke-4 kalinya membuat semangatnya semakin meningkat pesat seakan ia masih berumur 40an yang masih dalam usia yang sangat produktif... Walaupun pada kenyataannya umurnya bahkan sudah hampir 2 kali lipat dari yang terlihat itu...


Tulang-tulangnya yang semakin rapuh dimakan usia, kulitnya yang semakin mengkerut tidak sekencang dulu, dan tubuhnya yang semakin kurus seiring berjalannya waktu tetap tidak dapat diperdaya... Meskipun beberapa hal itu tidak dapat terelakkan, akan tetapi tentunya Kim sudah sangat merawat mertuanya ini hingga ia memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada orang tua lain pada umumnya yang mungkin sudah mulai sakit-sakitan ataupun sulit untuk bergerak dari tempat tidurnya...


“ Mama... ” sapa Aom ketika ia menuruni tangga,


Matanya terfokus melihat ibunya ini menata makanan yang tampak begitu lezat, sedangkan hidungnya fokus menghirup aroma makanan lezat yang seakan sudah memenuhi udara...

__ADS_1


“ Mama? Sejak kapan kamu menggunakan panggilan ini lagi sayang? ” tanya ibu Wana karena sudah cukup lama Aom tidak memanggilnya dengan panggilan dan nada yang se manja ini,


“ Hehehe... Dimana Kim ma? ” tanya Aom sambil terkekeh pelan tanpa menanggapi pertanyaan dari ibunya secara langsung,


“ Kenapa? Apa Kim yang melarangmu memanggilku dengan panggilan 'mama' lagi Aom? ” tanya ibu Wana yang balas tidak menanggapi pertanyaannya juga,


“ Ah... Tidak-tidak ma, dia tidak pernah melarangku melakukan hal seperti itu... Aku hanya berinisiatif sendiri, kenapa? Karena aku merasa sedikit malu di depan anak-anak kalau masih bersikap manja meskipun itu pada mamaku sendiri... ” sahut Aom sambil mengaitkan lengannya ke lengan ibunya,


“ Aku merasa sedikit seperti lupa akan usiaku jika aku tetap seperti itu, tapi karena sekarang tidak ada mereka jadi tidak masalah hehehe... ” ujar Aom lagi,


“ Hmmm? Memangnya kalian berdua pernah ingat kalau umur kalian sudah jauh dari kata remaja? Tingkah laku kalian masih seperti anak remaja yang dimabuk cinta asal kamu tahu Aom... ” ujar ibu Wana sambil mencubit pelan hidung putrinya ini,


Meskipun usia mereka sudah bertambah sangat banyak dari tahun ke tahun, tapi kedekatan di antara keluarga kecil ini masih sangat hangat dan harmonis... Karena tidak jarang banyak keluarga di luar sana yang terlalu sibuk dengan urusan dan keinginan mereka masing-masing hingga saat bertemu dengan keluarga sendiri pun mereka bersikap acuh tak acuh seperti bertemu dengan orang asing,


“ Hehehe... No comment mamaku sayang... ” ujar Aom setelah tak menemukan celah untuk menolak fakta yang sudah pasti benar ini... Bahkan suatu hari kala itu anak mereka Tan pernah melihat ia dan Kim sedang berciuman hingga selama kurang lebih satu minggu itu dijadikan bahan candaan oleh Tan yang tentunya selalu berhasil membuat wajahnya memerah, sedangkan Kim? Tentu saja pria dingin itu selalu cuek dan malah mengajari putranya itu bagaimana cara berciuman agar kekasihnya merasakan dorongan untuk ketagihan meminta jatah ciuman setiap harinya...


Sungguh sosok ayah yang luar biasa dari segi manapun, bahkan ia tak ragu-ragu atau malu membahas hal seperti itu seolah sedang memberikan seminar pengalaman pribadi pada putranya yang sudah memang cukup playboy di usianya ini, bagaimana mungkin ia tidak semakin menjadi-jadi jika mendapatkan dukungan secara langsung secara teori dan materi dari sang ayah ini? Hahaha...


“ Oh ya... Kim dimana ma? Kenapa dia pagi-pagi sekali sudah hilang? ” tanya Aom dengan sedikit cemberut karena mengingat saat tadi ia bangun tidak melihat Kim ada disisinya hingga membuat pagi ini terasa kurang sempurna baginya,


" Kim? Ah, hmmm... Dia kembali ke Bangkok karena ada pekerjaan rumit yang mendesak ” sahut ibu Wana sambil segera menarik kursi dan menyuruh Aom duduk dengan cepat menyiapkan berbagai makanan selagi masih hangat, hampir mirip seperti berusaha mengalihkan topik tertentu...

__ADS_1


“ Kenapa dia tidak mengajak ku? Menyebalkan! Aku akan menyusulnya setelah sarapan ” ujar Aom sedikit kesal karena merasa ditinggalkan begitu saja,


“ Tidak nak, kamu harus tetap di sini... Kim melarangmu untuk bepergian jauh dan hanya boleh menikmati waktu yang nyaman dan tenang disini... ” sahut ibu Wana dengan cepat tidak menyetujui ide putrinya ini,


“ Tapi kan... ” ujar Aom dan belum sempat ia menyangkal, ibu Wana sudah kembali berbicara lagi,


“ Sejujurnya udara di kota sudah sangat tidak baik bagi kesehatan kita Aom, itu buruk bagi calon cucuku juga jadi ibumu ini secara alami setuju dengan suamimu... Dan tidak ada bantahan lagi, tidak ada tawar menawar juga... ” ujar Ibu Wana dengan tegas,


“ Kalian berdua memang selalu satu Koalisi kan?! Hemmm! ” sahut Aom sambil mendengus kesal karena tidak bisa melakukan apapun lagi saat ini, selain itu apa yang ibunya katakan juga ada benarnya... Ini semua demi kebaikan dirinya dan juga si calon Kim junior yang ke-4 ini, jadi ia tidak perlu repot-repot meributkan apapun lagi,


***


Setelah sore hari, beberapa orang tampak datang ke rumah ini, diantaranya ada pelatih senam kehamilan profesional yang selama ini selalu menjadi mentor Aom selama kehamilannya, ada juga dokter kandungan yang juga selama ini selalu mengawasinya bersama dengan Jeab tentunya, dan juga ada satu orang yang tidak begitu akrab namun Aom pernah melihatnya selama beberapa waktu, dan ternyata ia adalah seorang psikiater...


Suasana menjadi semakin ramai dan ceria seakan-akan semua orang ini memang datang untuk membuat suasana rumah ini menjadi sangat baik dan nyaman bagi seorang ibu hamil yang sensitif... Dan benar saja, mereka dengan segala upaya telah berhasil membuat Aom melupakan aliran waktu yang telah terlewati selama ini, tidak terasa sudah 2 hari berlalu begitu saja tanpa terasa, dan bahkan hanya sedikit waktu yang Aom miliki untuk memikirkan Kim yang bahkan tidak menghubunginya setelah 2 hari berlalu,


Setelah Aom tertidur di kamarnya, ibu Wana pergi turun dan duduk bersama orang-orang ini,


“ Kalian sungguh profesional... Bagaimana bisa kalian membuat putriku begitu penurut, sangat sehat dan juga tidak memiliki keluhan tentang bos kalian yang telah pergi keluar negeri itu? ” tanya ibu Wana dengan jejak keheranan cukup memenuhi wajahnya saat ini, ia bahkan secara alami dapat merasakan manipulasi psikologis dan juga beberapa hal lainnya seperti lilin herbal yang selalu dinyalakan di kamar Aom hingga ia bisa selalu tertidur nyenyak tanpa terganggu oleh suara apapun,


______________________

__ADS_1


Kasi komentar atau kesan kalian sama isi novelnya, Gak usah komen up, next, atau apalah itu, kalau penulis senang baca komentar pasti update cepet tapi kalo komentarnya nagih lanjutan cerita aja maka bersabarlah kalian menunggu 😉😁🥂


__ADS_2