
Karena Kesalahan teknis, cerita yang udah ditulis sebelumnya menghilang... karena itu mood author buat nulis lagi juga hilang, karena udah capek-capek nulis malah hilang gitu aja di worksheetnya mangatoon 😓
ya udah segitu aja, tanpa berlama-lama lagi...
Selamat membaca...
HAPPY READING GUYS
______________
14 Tahun kemudian...
Malam hari di salah satu bank besar yang ada di Singapura saat ini adalah pergantian shift malam dari security-nya...
"Hey bro pergantian shift..." ujar salah satu security yang baru datang pada temannya yang sudah berjaga sedari sore tadi...
"akhirnya selesai juga shift malamku... aku sudah lapar sekali dari tadi..." sahutnya sambil melepaskan topi securitynya itu dan tiba-tiba saja sembulan asap tipis mengalir dari fentilasi udara gedung bank itu tanpa mereka sadari...
"hey bro kenapa tiba-tiba aku merasakan kepalaku berat ya? uaaaahhhh... mengan...tuk...."
Bruuuukkk!!!
Semua security itu jatuh tak sadarkan diri di lantai...
Melihat hal itu 5 orang laki-laki dan seorang perempuan yang sedari tadi mengamati mereka dari sebuah layar kecil yang tersambung dengan seluruh cctv gedung bank yang sudah mereka hack itu...
"Let's do our job tonight guys..." ujar salah seorang laki-laki itu yang nampak memimpin temannya yang lainnya...
Mereka semua mengenakan topeng anonymous untuk menyembunyikan wajah mereka, saat tengah beraksi...
Ya...
Mereka berenam akan merampok Bank besar ini malam ini...
masing-masing orangnya sudah memiliki tugasnya masing-masing, mereka juga mempersenjatai diri mereka dengan senapan mesin dan juga pistol, yang tentunya sudah dilengkapi dengan peredam suara...
Dengan gerakan yang begitu cepat mereka langsung menuju berangkas tempat penyimpanan uang bank itu...
"siapa kalian!" teriak penjaga ruangan brankas itu saat mereka mendobrak masuk...
"hohoho... kami hanya ingin mengambil sedikit uang kotor itu agar bisa kami bagikan paman... tenanglah oke?" ujar salah seorang pria itu sambil menodongkan senjatanya pada si penjaga yang sudah mulai berkeringat dingin itu...
"aku hanya penjaga biasa, tolong jangan bunuh aku..." pintanya disela-sela ketakutannya
"kak sudah terbuka..." ujar salah satu laki-laki itu kepada laki-laki yang sedang berbicara dengan penjaga itu
"bagus... ambil uangnya sesuai dengan yang telah di rencanakan sebelumnya" perintahnya pada lima orang itu dan mereka mengikutinya dengan patuh sampai semua tas yang mereka bawa sudah penuh terisi uang tunai itu...
"kenapa tidak kita ambil semuanya kak?" tanya satu-satunya wanita yang ikut merampok bank itu
"karena sisanya adalah uang yang mungkin adalah hasil kerja keras beberapa orang, sedangkan yang kita ambil hanyalah uang hasil korupsinya dan berbagai pekerjaan kotor lainnya..." sahutnya tegas
"dan sekarang... kau tulis apa yang aku perintahkan" ujar pria itu lagi kepada si penjaga
yang tertulis dalam note kecil itu adalah...
__ADS_1
~
Kami hanya mengambil uang hasil korupsi dan juga hasil penjualan narkotika...
sisanya tidak kami ambil sepeserpun..
tertanda : RobinHood Reeborn
~
setelah itu mereka mengambil poto bersama dengan sang penjaga, dengan sebuah kamera instan dan menempelkannya pada note kecil itu...
"sudah dulu ya paman aku dan kakakku akan pergi dulu... bye!" ujar salah seorang pria itu pada penjaga itu lagi... lalu mereka langsung melarikan diri menuju puncak gedung bank itu...
"sial polisi, cepat telepon polisi" gumam penjaga itu dengan tangannya yang masih bergetar
di atap gedung bank itu telah terpasang seutas tali yang menghubungkan gedung tinggi satu dengan gedung tinggi lainnya...
para perampok ini langsung mengaitkan pengait yang ada di rompi mereka ke tali itu...
"ooh tidak pengaitku rusak kak!" teriak gadis itu pada laki-laki yang menjadi pimpinan perampok malam ini...
"bukannya sudah selalu aku ingatkan untuk memeriksa semua alat-alat sebelum digunakan? dasar ceroboh!" sahutnya lalu dengan cepat menggendong gadis itu ala bridal style dan meluncur melalui tali itu dari atap gedung bank itu menuju gedung yang di sebelahnya, layaknya sedang bermain playing fox...
setelah penjaga itu berhasil melaporkan detailnya kepada pihak kepolisian, akhirnya polisi langsung berangkat menuju tkp kejadian... namun sayangnya para perampok itu sudah melarikan diri dari gedung itu tanpa meninggalkan jejak sedikitpun...
"lagi-lagi kawanan perampok Robin hood itu..." gerutu polisi yang menerima note kecil dan sebuah poto yang sengaja mereka tinggalkan itu...
"sial!!!" upat sang letnan polisi itu karena kesal
Keesokan harinya...
di sebuah gedung Apartemen mewah, terlihat beberapa anak muda lima orang laki-laki dan 2 orang perempuan sedang sibuk mengepak sesuatu kedalam beberapa tas kertas berwarna cokelat...
"kak Art, mau dikirim kemana saja paket ini kali ini?" tanya seorang laki-laki yang terlihat lebih muda darinya itu
"Kita akan kirim ke beberapa panti asuhan dan yayasan sosial... ingat acak nomer serinya dengan baik, jangan sampai ada yang berurutan satupun..." sahutnya sambil memainkan ponselnya, mencari beberapa informasi tentang panti asuhan dan yayasan sosial yang terjamin kredibilitasnya...
"kak, kakak harus mengizinkan aku ikut lain kali... kalian bersenang-senang tanpa mengajakku!" protes seorang gadis cantik yang tengah membantu kegiatan mengemas itu...
"Pim, kau tau kan bagaimana tegasnya ayah... kau mau kakakmu ini digantung oleh ayah karena mengajakmu melakukan hal yang seharusnya tidak perlu kamu lakukan?" sahut Art sambil menaruh ponselnya diatas meja
"lalu kenapa Tan boleh ikut?! tidak adil!" protes Pim lagi
"Hey panggil aku kakak! aku lebih tua darimu" protes Tan
"Ciiih... cuma lebih tua satu tahun saja bangga, pokoknya ini tidak adil!!!!!!!" ujar Pim bersikeras pada ucapannya dan ingin ikut dalam setiap kegiatan yang kakaknya lakukan...
"Pimchan Hans Suppanad! jangan keras kepala" ujar Art tegas yang langsung membuat adik cantiknya itu diam sambil memanyunkan bibirnya
"hahaha diam kau diam..." ujar Tan sambil tertawa melihat Pim tidak berkutik lagi setelah Art memberikan titahnya
Setelah semuanya dikemas dengan rapi, mereka semua memasukan semua tas itu kedalam bagasi sebuah mobil Pajero hitam yang sudah terparkir rapi di depan Apartemen mewah itu...
"tuan muda, apa tuan muda mau diantar sopir?" tanya seorang pria yang tampak seperti pelayan yang selalu siap siaga untuk melayani Art dan yang lainnya...
__ADS_1
"tidak perlu, aku akan menyetir sendiri... siapkan saja sopir untuk mengajak Ace dan Pim, jangan lupa beberapa pengawal yang bisa menjaga mereka..." sahut Art memberikan perintahnya
lalu mereka semua pergi ke panti asuhan dan yayasan sosial yang telah Art catat dalam listnya itu...
~Arthit Hans Suppanad~
Sesampainya di sebuah panti asuhan itu, Art turun bersama dengan Tan dan juga yang lainnya...
Melihat ada tamu yang datang para petugas dan penjaga panti asuhan itu datang ke depan dan menyambut mereka semuanya...
"tuan dan nona, apa ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang ibu yang merawat anak-anak di panti asuhan itu
"bibi, kami datang untuk melihat-lihat saja... dan kami juga ingin memberikan sedikit dukungan untuk teman-teman yang ada disini..." sahut Tan
~Tanawat Hans Suppanad~
Setelah berbincang cukup lama dan menyapa beberapa anak kecil yang tinggal di panti asuhan itu, mereka semua berpamitan dan menyerahkan 2 buah tas kertas berwarna cokelat itu kepada ibu kepala panti asuhan itu...
"kami hanya bisa memberi ini bu, mohon diterima untuk semua adik-adik disini ya bu..." ucap Art lalu menyerahkan 2 tas itu kepada ibu panti...
"terima kasih nak... kalian sangat baik..." ujar ibu kepala panti itu sambil menerima kedua tas itu
Setelah itu mereka semua melanjutkan perjalanan ke tujuan mereka selanjutnya...
namun tiba-tiba ponsel Art berbunyi dan menunjukkan sebuah nama di layarnya...
'Ayah's Calling'
"wah... sepertinya kita sudah harus kembali pulang... bos besar sudah menelepon hahaha..." ujar Art setelah melihat siapa yang sedang meneleponnya, dan ia langsung menepikan mobilnya...
"Ah... padahal masih seru berlibur disini..." ujar Tan, Naw, Tao, Benz kompak
Art turun dan menghampiri mobil yang dinaiki oleh Pim dan Ace yang ikut menepi
"kenapa kak?" tanya Ace
"sepertinya kita harus segera pulang ke rumah..." sahut Art
"Yaaaahhh... kenapa begitu?" rengek Pim pada Art, lalu Art hanya tersenyum dan memperlihatkan layar ponselnya yang masih terus berdering
"hmmm ya sudah, mau bagaimana lagi kan..." ujarnya dengan wajah cemberutnya itu
~Pimchan Hans Suppanad~
_____________________
Jangan lupa vote like dan komentarnya guys..
kasi rating juga karyanya Author ya...
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐