His Love : The Mafia King

His Love : The Mafia King
Sebuah Keputusan?


__ADS_3

HAPPY READING GUYS


________________________


Malam hari semakin larut, bulan pun sudah mulai bersiap-siap untuk berganti dengan sang mentari...


Namun hal ini tak membawakan perubahan apapun pada seorang laki-laki yang masih meringkuk diatas kasurnya, bantal berwarna putih bersih itupun sudah berubah menjadi seperti bendera Jepang...


Ada warna merah di tengahnya, tepat di bawah kepala laki-laki itu karena ia sama sekali tidak menyeka sedikitpun darahnya yang mengalir begitu saja dari mulutnya...


Sedangkan tatapan matanya menerawang jauh, mencoba menghilangkan segala suara yang terngiang-ngiang di dalam kepalanya itu...


Seorang anak laki-laki yang tidak pernah menerima kasih sayang dari yang namanya seorang ibu...


Seorang anak laki-laki yang harus menerima siksaan yang lebih kejam dari pada neraka dari para manusia yang bahkan lebih kejam dari iblis ketika ia baru berusia 9 tahun dan tak bisa mengerti apapun yang orang dewasa lakukan kala itu... dan tentunya belum benar-benar paham apa itu yang namanya benar dan salah...


Dan ketika ia berhasil bangkit dan berdiri dengan tegak lagi...


Namun saat seseorang selain kakaknya dapat mengajarinya untuk mencintai dan menyayangi dengan hati yang tulus, ia harus melepaskannya begitu saja karena paksaan...


Apa di dunia ini masih ada yang namanya kebebasan?


Apa di dunia ini masih ada yang namanya keadilan?


Pikirnya sambil terus menatap lurus kedepan... terus menatap tembok putih kamarnya, mencoba mencari jawaban diantara kegelapan kala itu...


Namun tetap gagal, tidak bisa menemukan apapun disana... semuanya semakin gelap, gelap dan gelap...


Semuanya menjadi benar-benar gelap!


***


Pagi harinya Kim terbangun dengan keadaan yang berantakan sekali...


luka lebam di pipinya, luka yang masih belum kering, namun darah yang mengalir sudah mengering di pipinya itu hingga yang terlihat bukan lagi berwarna merah, namun sudah berubah menjadi warna cokelat gelap...


"kau sudah bangun?" tanya kakaknya yang sedari tadi sudah duduk di sofa kamarnya itu... akhirnya ia memutuskan masuk saat dini hari ke dalam kamar adiknya itu...


"iya kak" sahut Kim singkat


"makanlah... setelah itu kakak bersihkan lukamu..." ujar Yang Mao namun makanan itu tidak disentuh sedikitpun oleh Kim beberapa menit kemudian...

__ADS_1


"baiklah... tidak usah makan, tapi kakak tidak mau lukamu itu terpepapar bakteri ataupun debu, hingga nanti luka itu bisa bernanah tanpa kau sadari..." ujar Yang Mao sambil membawa alkohol dan juga obat merah...


Ia menuangkan alkohol di atas kapas itu hingga benar-benar basah... lalu membersihkan luka dan noda darah di wajah Kim yang dibiarkan begitu saja dari kemarin malam...


Kim sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun, walaupun biasanya Kim akan bersikap sedikit lembut dihadapan kakaknya itu, namun saat ini sosok adik kecilnya seolah-olah telah hilang entah kemana...


"sudah selesai..." ujar Yang Mao setelah selesai mengobati luka Kim itu...


"terima kasih kak... aku mau mandi dulu..." ujar Kim lalu ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandinya, namun langkahnya terhenti saat melihat ponselnya yang ada diatas meja...


Kim mengambilnya dan mengetik sebuah pesan...


"Siang ini ada waktu? mau makan siang bersama?" ketik Kim dan mengirimkannya pada kontak yang disave dengan nama 'gadis kecilku' di ponselnya...


Lalu Kim benar-benar mandi sekarang, ia meninggalkan kakaknya begitu saja disana yang hanya menatap adiknya dengan tatapan datar namun masih terlihat kesedihan di matanya...


10 menit kemudian


~di ruang kerja ayah mereka


"ayah... apa ayah tidak bisa mempertimbangkan lagi tentang keputusan ayah untuk menikahkan Kim dengan putri dari tuan Suppasara?" tanya Yang Mao saat ia sudah membereskan berkas pekerjaannya


"tidak, itu keputusan final... mereka harus menikah!" tegas ayahnya tanpa menoleh pada Yang Mao sedikitpun...


"diam kau!" bentak ayahnya


"tidak pernahkah ayah berusaha menunjukkan kasih sayang ayah pada Kim? dia bahkan menyayangimu walaupun sikap yang ayah tunjukan padanya selalu keras, tapi ini berbeda... dia sudah mencapai batasnya ayah... aku mohon jangan seperti ini... aku pernah melihat ayah sangat menyayangiku saat ibu masih hidup... namun Kim? dia bahkan hanya tahu wajah ibu dari sebuah poto!" ujar Yang Mao yang sudah terbawa emosi...


Braaakkk!!!!


"aku bilang diam!!!" bentak ayahnya lagi dengan wajah yang sudah merah padam sambil menggebrak meja kerjanya


"aku tidak akan diam ayah! jika memang anakmu hanyalah sebuah kesepakatan bisnis bagimu, maka aku yang akan menggantikan Kim untuk menikahi gadis itu!" tegas Yang Mao


Saat ini ia bahkan tidak takut jika harus mati di tangan ayahnya sendiri...


Mati di tangan ayah yang telah dikuasai dendam dan rasa sakit karena kehilangan istrinya ini...


"kau mulai berani membantah dan melawanku sekarang ya!" geram ayahnya sambil berjalan kearah etalase samurai yang ada di ruangannya itu...


"ya, dan aku tidak akan pernah takut! dan yang perlu kau ingat adalah kematian ibu bukanlah kesalahan Kim! dan aku yakin jika ibu masih hidup maka dia juga akan sangat menyayanginya! tidak sepertimu!" bentak Yang Mao yang detik itu juga menghentikan langkah kaki ayahnya...

__ADS_1


Setelah mereka saling diam... Akhirnya Yang Mao memutuskan untuk keluar dari ruang kerja ayahnya itu...


ia rasa ia juga perlu menenangkan dirinya sendiri saat ini...


***


~Di dalam kamar Kim


Setelah selesai mandi ia melihat sebuah pesan balasan yang berasal dari kontak 'gadis kecilku' itu...


"tentu saja kak... dimana? jam berapa?" tanyanya lewat pesan teks itu


"jam 11 siang hari ini di kafe Twinstar bagaimana?" balas Kim


Lalu dibalas dengan cepat juga olehnya...


"oke aku tunggu kak... itu dekat dengan kampusku" isi pesan teks itu dan berhasil membuat segurat senyum tipis di wajah Kim yang sangat datar saat ini...


Tanpa basa-basi lagi Kim langsung bersiap, namun saat menyisir rambutnya, Kim melihat wajahnya yang lebam dan terluka itu sangat tidak keren untuk dilihat...


Maka ia memutuskan untuk menempelkan perban di pipinya itu...


"oke lumayan..." gumamnya pada pantulan dirinya di cermin itu...


Namun saat hendak melangkah ke arah pintu kamarnya, Kim kembali mundur dan mengambil kacamatanya...


"aku hampir lupa memakai kacamata fashion ini... hahaha" ujar Kim sambil mengenakan kacamata yang bukanlah kacamata minus, plus, atau pun silinder itu... kacamata yang selama ini juga membantunya untuk mengubah sedikit penampilannya saat masa sekolahnya dulu itu...


Tak perlu waktu lama, Kim pun sudah sampai di kafe Twinstar... matanya menyapu ke segala penjuru, memperhatikan setiap bangku namun orang yang ia cari ternyata belum datang juga...


"sepertinya aku terlalu bersemangat..." gumam Kim saat melihat jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 10.50 a.m


Namun setelah duduk dan menunggu cukup lama, orang yang ia tunggu tak kunjung datang juga hingga pukul setengah dua belas siang...


Kliiing!


Suara kerincing pintu kafe berbunyi menandakan ada pengunjung yang datang lagi... Kim menoleh kearah pintu dan melihat seorang gadis cantik dengan nafas memburu sedang memperhatikan setiap meja, yang terlihat sedang mencari seseorang yang pasti sudah menunggunya...


______________________


jangan lupa vote like dan komentarnya guys...

__ADS_1


kasi rating juga karyanya Author ya...


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2