His Love : The Mafia King

His Love : The Mafia King
Belum Cukup...


__ADS_3

HAPPY READING GUYS


________________________


Kim masih menatap kedua sahabatnya yang jatuh terduduk tanpa ada sedikitpun emosi yang tergambar dari sorot matanya yang dingin saat ini...


Namun perhatiannya mulai teralihkan ketika dua orang pemuda datang ke tempat itu sambil memegang katananya masing-masing yang seharusnya tadi sudah mereka bungkus dengan sangat rapi hingga menyerupai parsel,


"Ada apa dengan dirimu ayah? Kenapa bisa kehabisan akal sehat seperti ini?" Tanya Art sambil menarik pedang miliknya keluar dari sarung pelindungnya,


"Ayah bertengkar dengan ibu karena kami? Lalu kalian mencari pelampiasan masing-masing?" Tanya Tan yang kini melakukan hal yang sama dengan kakaknya,


".........." Kim hanya tetap diam tanpa menyahuti sepatah katapun pertanyaan dari kedua putranya ini, tangannya mengeratkan pegangannya di gagang pedang yang sedari tadi ia gunakan itu...


"Sebelum kami berdua pergi, ayah harus mengukur kemampuan kami diantara hidup dan mati... Dan jika kami atau salah satu diantara kami bisa mengalahkan dirimu atau paling tidak dapat memukul mundur dan membuatmu kewalahan maka berikan kami berdua hadiah..." Ujar Art lagi sambil memasang kuda-kudanya dan mengangkat pedangnya hingga pedang itu sejajar horizontal dengan dahinya, sementara Tan memasang kuda-kuda dengan mata pedang yang mengarah lurus ke depan...


Mereka berdua tampak seperti duo samurai yang begitu gagah dan menawan, tatapan mereka begitu tajam dan terlihat sangat ambisius...


Apa yang kedua pemuda ini rencanakan? Mereka mau menghadapi ayahnya dalam pertarungan hidup dan mati? Yang benar saja?!


Dengan wajah tanpa ekspresi sedikitpun, Kim langsung memasang kuda-kudanya... Menarik kaki kanannya ke belakang dan menekuknya 90° sempurna, sementara kedua tangannya memegang gagang pedangnya dengan kuat dengan posisi tangannya hampir sejajar dengan pinggangnya...


Posisi yang benar-benar sempurna untuk melakukan serangan maupun bertahan, meskipun tentunya posisi ini hanya bisa digunakan oleh para samurai handal karena gerakannya sangat amat susah serta sangat beresiko jika dilakukan oleh orang yang tidak ahli dalam permainan pedang...


"Haaaa!!!" Seru Art ketika ia mulai melancarkan serangan pertamanya pada ayahnya,

__ADS_1


Tang! Ting! Teng! Teng! Tang! Ting!


Suara pedang-pedang tajam itu beradu satu sama lain dengan gerakan yang luar biasa cepat dari ketiga pria itu...


Meskipun 2 orang menyerangnya dengan sangat terstruktur dan masif serta gerakan yang sangat baik, Kim masih dapat menghadapinya dengan wajah yang datar meskipun keringat sudah mulai membasahi wajahnya...


Stamina mereka tentunya sudah jauh berbeda, mungkin jika tadi Kim belum menghabiskan tenaganya untuk mengamuk lalu melawan Jeab dan Zee maka pertarungan ini akan berlangsung begitu lama hingga salah satu diantara mereka bertiga benar-benar kehabisan tenaga...


Akan tetapi walaupun Kim sudah hampir kehabisan tenaganya, ia masih sangat mampu mengalahkan kedua putranya sekaligus muridnya ini dengan bantuan pengalamannya selama puluhan tahun bertarung diantara hidup dan mati hingga dengan mudah ia dapat menemukan titik kelemahan dari masing-masing gerakan mereka berdua hingga pada akhirnya ia berhasil menjatuhkan Tan dan mengarahkan pedangnya pada leher putranya itu...


"Kau kalah, dan kita seri" Ucap Kim dengan deru napas yang memburu pada Art yang ternyata juga sudah mengambil keuntungan dari tindakannya dan berhasil menempatkan pedangnya juga di belakang leher ayahnya...


Siapa yang menang? Karena mereka sama-sama mendapatkan mangsanya, tinggal satu kali gerakan lagi maka mereka bisa membunuh targetnya masing-masing jika ini benar-benar pertarungan antara hidup dan mati...


"Tidak ayah... Aku menang, kau sudah kalah karena sekali aku menebaskan pedang ini maka kepala dan tubuhmu akan langsung terpisah detik ini juga... Sementara Tan masih memiliki kemungkinan untuk diselamatkan jika seandainya kau menebaskan pedang itu di lehernya dengan sudut itu..." Sahut Art dengan penuh percaya diri,


"Jika seandainya aku benar-benar kehilangan akal sehat dan menganggap kalian berdua sebagai musuh yang akan aku hadapi dalam pertarungan hidup dan mati, maka pada gerakan terakhir aku tidak akan memilih untuk menjatuhkan Tan, tapi melakukan tebasan sabit bulan hingga perut kalian berdua akan terkoyak detik itu juga..." Ujar Kim sambil melemparkan pedangnya ke lantai, Art tersentak ketika mengingat kembali pertarungan tadi... Ya, mereka berdua memberikan celah yang cukup besar untuk terbunuh oleh musuh karena ambisi mereka untuk menang saat itu,


Art mengeraskan rahangnya karena semua yang dikatakan oleh ayahnya memang benar... Mereka seharusnya sudah kalah jika ayahnya ini benar-benar musuh mereka berdua...


Saat ini ia sangat kesal pada dirinya yang bisa gagal menyelesaikan apa yang ia anggap bisa untuk ia selesaikan karena saat ia masuk tadi ia melihat bahwa ayahnya tidak memiliki tenaga yang full, tapi pada kenyataannya mereka berdua masih saja kalah...


Menyerang berdua, stamina yang fit dan kualitas pedang yang jauh lebih bagus juga tidak dapat mendukung mereka untuk mendapatkan kemenangan!


"Kalian memang sudah hebat, tapi masih perlu terus berlatih karena setiap saat akan ada orang yang bisa menjadi lebih hebat dari kalian jika kalian berdua lengah..." Ujar Kim lagi kepada kedua putranya itu, lalu terduduk di lantai...

__ADS_1


Tenaganya hampir benar-benar habis, hingga ia kembali dapat mengontrol emosinya yang sangat tidak stabil hari ini...


Sebenarnya mengapa Kim memilih untuk menjatuhkan Tan bukanlah tanpa alasan yang jelas... Ia bisa saja menang tanpa harus benar-benar melukai kedua putranya seperti yang baru saja ia katakan, ia bisa saja memutar arah pedangnya hingga yang menghadap ke lawannya adalah punggung pedang yang tumpul, tapi Kim ingin menguji sebuah keputusan besar yang akan diambil oleh Art dikala genting...


Pengambilan keputusan yang tepat di waktu dan situasi yang tepat sangat diperlukan kala ia menjadi seorang pemimpin yang akan memimpin SDG kelak...


Namun pada kenyataannya Kim mendapatkan jawaban yang sedikit mengecewakan harapan yang ia miliki untuk Art di titik ini...


Apa yang Art lakukan benar-benar memenuhi kekhawatirannya selama ini...


Putra pertamanya ini belum memiliki kualitas yang cukup sebagai figur pemimpin yang sesungguhnya karena ia masih terlalu berambisi untuk menang dengan segala macam cara dan resikonya...


Ia hanya terfokus pada kemenangan, tidak peduli apa yang harus ia korbankan untuk mencapai kemenangan itu adalah sesuatu yang membuat Kim kecewa... Kim tadinya berharap bahwa Art akan lebih memilih melakukan negosiasi yang elegan dan juga menyisipkan ancaman agar ia bisa menyelamatkan rekannya dari bahaya namun tetap dapat memikirkan cara untuk meraih kemenangan...


Seharusnya ia bisa memanipulasi kondisi musuh disaat kritis, hingga dapat membalikkan keadaan agar ia bisa menguasai jalannya permainan,


Kemampuan untuk memanipulasi lawan sangat penting untuk dikuasai oleh seorang pemimpin, namun itu akan sulit dilakukan jika tujuan dari pemimpin itu sendiri masihlah dalam bentuk ambisi semata...


Dan putranya yang ia lihat saat ini masihlah terbelenggu oleh ambisi dan juga sifat naifnya...


______________________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


vote like dan komentarnya guys...

__ADS_1


kasi rating juga karyanya Author ya...


__ADS_2