
HAPPY READING GUYS
________________________
“ Tentu saja aku tahu banyak hal di bidang ini karena aku pernah menyamar menjadi bartender berbulan-bulan saat melaksanakan misi ” ujar Tan dalam hatinya,
“ Jadi orang tuamu sudah ‘men setting’ dirimu untuk jadi apa? kamu disetting untuk menjadi apa? ” tanya gadis itu tiba-tiba, ia nampaknya mulai mau membuka pembicaraan dengannya, Tan hanya tersenyum tidak langsung menjawabnya melainkan ia mulai memainkan gelas cocktail nya, memutar-mutar gelas itu beberapa kali seakan sedang berpikir keras sebelum menjawab,
“ Kata-katamu sedikit... terdengar tertekan, apa orang tuamu juga menetapkan bahwa kamu harus menjadi apa dan seperti apa yang mereka mau? ” tanya Tan yang malah bertanya balik pada gadis itu, namun belum sempat gadis itu mengucapkan sepatah katapun Tan sudah berbicara lagi,
“ Aku memang diharapkan oleh ayahku untuk meneruskan bisnisnya tapi hanya perusahaan yang merupakan bisnis pribadinya bukan bisnis keluarga... Sebelum pergi kesini aku sempat berpikiran dan bertindak bodoh karena ingin terlihat hebat di segala bidang hanya karena ingin mengejar bayangan kakakku yang terlihat begitu sempurna itu... Tapi suatu hari, kenyataan menamparku dengan sangat kuat... membuatku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa melakukan segalanya, tapi untungnya di hari yang paling buruk dan membuatku sangat depresi itu, ayahku datang dan menjelaskan banyak hal tanpa melukai sedikitpun harga diriku, menyadarkanku bahwa setiap manusia itu berbeda, memiliki minat dan kemampuan yang berbeda ” ujar Tan sambil menatap gelas yang ada di tangannya,
“ Aku memang tidak cocok meneruskan bisnis keluarga dan aku memang paling cocok untuk meneruskan bisnis pribadi ayahku dan kakak tertuaku yang meneruskan bisnis keluarga, memang apa salahnya jika aku tidak sehebat kakakku? mungkin saja aku lebih hebat darinya di bidang lain bukan? hahaha... Ah, maaf aku terlalu banyak berbicara omong kosong ya ” ujar Tan dan ia menatap mata gadis itu sambil tersenyum manis,
“..................” gadis itu terdiam namun menatap mata Tan dengan sangat lekat seolah ia telah menemukan sesuatu yang tak ingin ia lewatkan, percakapan yang menyejukkan seperti ini jarang ia rasakan,
“ Jika tidak keberatan apa aku boleh tahu siapa namamu? ” tanya Tan lagi sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan,
“ Aku Davika kamu? ” tanya gadis itu yang ternyata bernama Davika sambil menjabat tangan Tan
“ Aku Ryan ” sahut Tan menyebutkan nama Amerika nya
“ Jadi, kenapa kamu menggunakan bahasa di setting? kenapa kamu membuat perumpamaan seolah kamu itu adalah robot ciptaan orang tuamu? ” tanya Tan pada Davika tanpa melepaskan tangannya meskipun Davika menariknya,
“ Aku akan melepaskan tanganmu saat kamu sudah menjawabnya, maafkan aku, aku bukannya mau memaksamu aku hanya merasa khawatir... Karena kesendirian dan kesepian terkadang merupakan bahaya terbesar bagi seorang manusia ” ujar Tan menatap Davika dengan lembut
__ADS_1
“ Aku... ” ujar Davika tampak ragu, lalu Tan menariknya ke sebuah sofa yang ada di bar itu,
“ Duduklah, kita bisa berbicara berdua... mungkin aku hanya orang asing saat ini bagimu, tapi aku bisa menjadi temanmu jika kamu mau... Aku tidak punya niat buruk ” ujar Tan lalu melepaskan tangannya saat mereka sudah duduk di sofa,
“ Ayahku memaksaku untuk belajar bisnis dan masuk kuliah bisnis agar aku bisa melanjutkan posisi CEO dan mewarisi perusahaan milik ayahku itu... Tapi aku tidak suka bisnis, aku lebih suka seni... aku tidak tahan dengan begitu banyak dokumen, aku ingin menari dengan bebas, bernyanyi dan bermusik untuk menggambarkan apa yang aku rasakan tapi... ” sahut Davika
“ Tapi apa? kamu takut mengatakannya pada orang tuamu? ” tanya Tan lagi,
“ Tidak, aku sudah mengatakannya tapi ayahku tetap memaksaku, dan ibuku tidak berani menentangnya... ” sahut Davika, sebenarnya ia merasa sedikit aneh kenapa dia bisa begitu nyaman bersama dengan pria asing ini sampai mulai bisa membuka dirinya, entah bagaimana pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Ryan ini dengan mudahnya membuatnya nyaman dan merasakan kehangatan yang ia butuhkan di saat terburuknya saat ini, perlahan namun pasti mereka mulai dekat satu sama lainnya,
“ Perusahaan Akari technology... ” gumam Tan dalam hatinya
***
Setelah berpisah dengan Simmon, Art langsung pergi ke rumah sakit lagi untuk melakukan perawatan yang telah di jadwalkan untuk dirinya dari pihak rumah sakit,
beberapa kali dokter juga menusukkan jarum ke tangan Art untuk melihat reaksinya terhadap rasa nyeri dan rasa sakit namun masih belum ada respon sensorik seperti orang normal pada umumnya,
“ Apa ini terasa sakit? ” tanya dokter lagi setelah menggunakan palu untuk memukul kakinya berapa kali,
“ Terasa ada benda yang menyentuh kaki saya tapi tidak terasa sakit ” sahut Art dengan tenang,
“ Hmmm... beberapa minggu terapi yang dilakukan hanya memberikan pengaruh yang sedikit ” ujar dokter itu setelah melihat monitor yang menunjukkan tingkat respon saraf Art saat ini,
“ Baiklah anda sudah boleh bangun dan mari kita lakukan beberapa survei untuk anda ” ujar dokter itu lalu beberapa perawat membantu melepaskan alat-alat yang terpasang pada tubuh Art saat ini,
__ADS_1
“ Baiklah mari kita mulai, ini hanya survei singkat untuk anda, mungkin terkesan tidak terlalu penting tapi tolong tetap dijawab dengan serius ya nak ” ujar dokter itu lagi, Art menganggukkan kepalanya karena sudah percaya dengan kualifikasi dokter yang sudah menyandang gelar profesor di bidang spesialisnya ini,
“ Apa anda pernah merasakan takut? kira-kira berapa kali anda merasa takut sejak kecil yang mampu anda ingat? ” tanya dokter itu pada Art
“ Takut... Saya tidak pernah merasa takut sejak kecil, saya hanya beberapa kali merasa cemas, saya belum pernah merasa ketakutan ” sahut Art
“ Pernah menangis karena rasa sakit? ” tanya dokter itu lagi
“ Pernah ketika saya dipukuli dulu saat diculik oleh beberapa orang ” sahut Art setelah berpikir sejenak,
“ Wow... baiklah, selanjutnya... ” ujar dokter itu sedikit terkejut mendengar jawaban Art itu namun ia tetap profesional tidak menanyakan detailnya meskipun merasa penasaran,
“ Lalu bagaimana dengan cinta? Apa anda pernah merasakan cinta? pernah jatuh cinta? ” tanya dokter itu lagi sambil tersenyum
“ Tidak, saya rasa tidak pernah... Bagaimana rasanya saat jatuh cinta? ” sahut Art sambil bertanya balik pada dokternya ini
“ Hmmm... bagaimana saya menjelaskannya ya... ” sahut dokter itu tanpa men judge pasiennya ini,
“ Beberapa contoh umumnya misalnya ketika anda bertemu dengan seseorang jantung anda terasa berdebar kencang, anda menjadi seperti tidak tenang dan merasa gelisah jika berada di dekatnya di awal-awal, anda merasa ingin selalu membuatnya tersenyum lalu anda merasa bahagia jika ia bahagia misalnya seperti itu ” sahut dokter itu sambil tersenyum ramah
“ Saya rasa belum pernah secara rinci merasa seperti itu, tapi terkadang jantung saya berdebar dan merasa senang saat bersama ayah dan ibu saya, begitu juga adik-adik saya” sahut Art yang langsung membuat dokter itu sedikit ketawa,
“ Maaf saya bukan bermaksud menertawakan anda tapi anda sangat lugu... ” ujar dokter itu melihat wajah serius Art saat ini,
“ Benar-benar anak muda yang berterus terang... ” gumam dokter itu dalam hatinya
__ADS_1
______________________
See You Tomorrow