His Love : The Mafia King

His Love : The Mafia King
Segala Hal Untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

Di Los Angeles, Amerika Serikat


Art sedang duduk di sebuah taman dekat kampusnya, ia tampaknya sedang menunggu seseorang di sana. Hanya beberapa minggu lagi sebelum musim dingin tiba, maka suhu secara alami akan semakin dingin setiap harinya hingga semua orang mengenakan pakaian tebal untuk menghangatkan diri mereka tentunya, begitu juga Art yang mengenakan topi baseball dan kacamata hitam serta masker hitam untuk menutupi wajahnya,


“ Hey, apa kau menunggu lama? ” tanya seorang pria yang baru saja datang menghampiri Art,


“ Cukup lama untuk menikmati udara yang mulai berubah dingin ” sahut Art sambil tersenyum simpul padanya,


“ Dasar kau ini... nih dokumennya, dengan semua proposal dan penelitian yang telah selesai dilakukan itu kemungkinan untuk kau lulus jauh lebih cepat dari orang lain di kampus ini akan semakin besar, tapi tetap perlu melewati beberapa ujian langsung dari para profesor... ” ujar pria itu lagi,


“ Kakak seniorku ini sangat-sangat baik karena mau membantuku... ops, maaf salah sebut, maksudku pak Simons dosen baru dari kampus terkenal NY itu hahaha ” ujar Art lagi sambil sedikit mengejek pria yang ternyata bernama Simons itu,


“ Dan kau adalah satu-satunya junior yang paling tidak sopan namun tidak pernah bisa aku marahi karena kemampuanmu dalam segala hal lebih unggul dari kemampuanku, sungguh menyebalkan! anak emas dari semua Profesor, kau benar-benar brengsek! ” ujar Simons sambil melemparkan dokumen yang ia bawa ke pangkuan Art yang duduk di kursi taman itu, meskipun ia sering mengumpat pada Art bukan berarti ia membencinya, ia malah mengagumi bakat juniornya ini yang meskipun sering kurang ajar padanya tapi selalu bisa jadi solusi saat ia mengerjakan tesisnya kala itu,


“ Aku melihatmu di rumah sakit kemarin, apa kau sakit? ” tanya Simons pada Art,


“ Tidak, aku tidak sakit hanya perlu membeli beberapa vitamin saja karena beberapa hari ini aku full begadang hingga pagi untuk menyelesaikan semua ini ” sahut Art berbohong pada seniornya itu sambil menunjukkan dokumen itu,


“ Jangan sampai kolaps, karena percuma kau dapat gelar jika pada akhirnya kamu sakit dan cepat mati hahaha ” ujar Simons lagi sambil tertawa,


“ Aku tidak akan mati semudah itu, jadi tenang saja hahaha ” sahut Art sambil tertawa juga,


“Jadi karena kau tidak sedang sakit apa kau mau ikut aku ke kampus HY? sekalian jalan-jalan di New York, jangan hanya berjudi di kasino Los Angeles ” ujar Simons menawarkan Art untuk ikut ke kampus NY yang terkenal itu dimana ia akan mengajar nantinya,


“ Oke ” sahut Art dan merekapun langsung pergi ke New York City yang jaraknya cukup jauh dari sini,


Pukul 4 sore,

__ADS_1


Setelah semua keperluan yang perlu diselesaikan oleh Simons selesai, Simons dan Art memutuskan untuk makan di restoran yang ada di dekat sana,


“ Aku ke toilet sebentar calon istri masa depanku menelepon ” ujar Simons lalu ia segera pergi ke toilet


Tak berselang lama, tiba-tiba ada seorang gadis yang duduk di dekatnya yang langsung mengambil menu untuk menutupi wajahnya sendiri sambil memperhatikan sekitarnya seolah-olah ia sedang menghindari seseorang, Art memperhatikannya sekilas namun tak memperdulikannya sambil berkata,


“ Jangan buat masalah, kalau mau bersembunyi pergi saja ke toilet wanita” ujarnya tanpa menoleh ke gadis itu,


“ Sebentar saja, izinkan aku untuk duduk di sini sampai orang itu pergi... hmmm, sebagai gantinya aku yang akan membayar billnya oke? ” ujar gadis itu sambil menatapnya dari balik buku menu itu,


“ Ckckckck terserah kamu saja, lagi pula aku tidak perlu uangmu juga jadi tidak usah bayar bill apapun ” ujar Art dari balik maskernya,


“ Akhirnya dia pergi ” ujar gadis itu ketika sudah tidak melihat orang yang mencari-carinya sedari tadi,


“ Apa dia dikejar Dep kolektor? tapi kalau iya kenapa ia menawarkan untuk membayarkan bill meja ini? ” gumam Art dalam hatinya,


“ Dia pasti kaya, berarti bukan dep kolektor yang mengejarnya ” ujar Art ketika gadis itu sudah berlari menjauh, lalu tiba-tiba pria yang mencarinya itu datang lagi dan berteriak,


“ Nona Ana tunggu jangan kabur lagi! ” ujar pria itu,


“ Sialan! kenapa kau kembali, pergi aku tidak butuh bodyguard! ” sahut gadis bernama Ana itu dengan kesal


“ Tolong nona... jangan seperti ini, jangan kabur terus karena tuan besar akan marah... ” ujar pria yang ternyata adalah bodyguard gadis itu dengan napas yang cukup ngos-ngosan mengejar nona mereka itu,


“ Ternyata dia adalah putri orang kaya yang manja dan keras kepala, kasihan sekali nasib orang yang menjadi bodyguardnya pasti kewalahan dan kesal setiap harinya hahaha ” ujar Art lalu menahan lembaran uang kertas itu dengan gelas yang ada di meja,


“ Makanannya belum datang juga? sepertinya antriannya cukup banyak ” ujar Simons ketika ia baru kembali setelah menerima telepon dari pacarnya itu,

__ADS_1


“ Ini uang siapa? ” tanya Simons pada Art,


“ Aku tidak tahu, tadi ada seorang gadis di sini dan saat ia pergi ia menaruh uang itu di meja ” sahut Art dengan santainya dan bersikap acuh tak acuh di depan Simons seperti biasanya,


“ Hohoho... Jangan bilang kamu buka layanan open BO sekarang? kalian janjian di hotel mana? hahaha ” tanya Simons padanya


“ Mau aku pukul wajahmu hah? ” ujar Art menatap Simons dengan tatapan dinginnya,


“ Hahaha santai bro, ini Amerika, kamu bisa jadi apapun yang kamu inginkan di Amerika hanya di Amerika hahaha ” ujar Simons lagi sambil tertawa puas


“ Aku benar-benar akan memukulmu! ” ujar Art sambil mengangkat tinjunya hingga Simons harus menggeser jauh kursinya untuk menghindari pukulan itu,


“ Hahaha just kidding bro... ” sahut Simons lalu tak lama setelahnya makanan mereka pun datang,


Di sisi lain,


Di sebuah Bar di Los Angeles Tan tampak sedang menikmati segelas koktail bernama Whiskey Sour yang merupakan koktail beralkohol ringan yang cocok diminum meskipun hari masih sore. Di samping Tan ada seorang gadis sedang duduk menatap koktail nya sediri seakan tidak menghiraukan apapun yang ada disekitarnya saat ini, Tan memperhatikan koktail beralkohol yang berwarna coklat itu yang bernama Manhattan,


“ itu adalah koktail yang benar-benar klasik yang diciptakan dan dipopulerkan di club terkenal yang ada di Manhattan sekitar pada tahun 1970-an, salah satu koktail old - fashion terbaik sampai saat ini... ” ujar Tan sambil memperhatikan koktail dan gadis itu secara bergantian. Akhirnya ada sesuatu yang menarik perhatian gadis itu, pria yang duduk di sampingnya terlihat tampan dan manis, ia tidak tahu sejak kapan ia duduk di sana,


“ Pengetahuan anda tentang koktail lumayan juga tuan, apa anda seorang bartender juga? ” tanya bartender club itu cukup tertarik untuk bertukar pengetahuan dengan pengunjung barunya ini,


“ Tidak aku bukan seorang bartender karena keluargaku tidak mengizinkan aku menjadi seorang bartender, aku hanya seorang penggemar koktail... ” sahut Tan berbohong namun sambil tersenyum ramah pada bartender itu,


_____________


See You Tomorrow

__ADS_1


__ADS_2