
Happy Reading Guys
_____________________
“ Jika itu benar... Lalu dimana anak itu? Jika kamu sudah melakukan tes DNA berarti kamu sudah tahu siapa dia dan dimana dia berada kan? A-apa dia mirip dirimu atau mirip Kao? ” tanya Aom dengan perasaan yang campur aduk, benar-benar tidak dapat digambarkan apa yang kini sedang ia rasakan,
Entah karena ia telah terlatih menjadi agen rahasia yang hebat hingga logikanya lebih dominan dibandingkan dengan perasaannya saat ini atau karena otaknya sudah dengan pasti mendefinisikan hal ini menjadi sebuah potensi ancaman bagi keselamatan seluruh keluarga hingga Aom tidak memiliki perasaan seperti cemburu atau yang lainnya, di lain sisi entah mengapa ia malah sangat ingin bertemu dengan anak itu... Dia berharap anak itu akan mirip dengan sahabat baiknya yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri Kao~
“ Menurutku dia lebih banyak mewarisi ibunya, dia memiliki mata yang sama indahnya dengan Kao... Mata yang membuat setiap orang terpaku setiap kali menatapnya... Tatapan matamu yang sejujurnya sangat aku rindukan Kao ” ujar Kim lalu ia menyentuh pusara Kao yang berisikan fotonya itu seolah ia sedang mengingat masa lalu yang sangat ia sesali,
“ Apa aku bisa bertemu dengannya? ” tanya Aom namun Kim terdiam tidak langsung menjawabnya,
“ Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan anak itu? Aku akan merawatnya seperti anakku sendiri... Dia anaknya Kao, dia tidak boleh kamu terlantarkan di luar sana Kim ” ujar Aom sambil memegang lengan Kim,
“ Aku terkadang bingung kenapa kamu seringkali bersikap cukup naif seperti ini Aom... Aku memang akan senang jika kamu mau merawat anakku dengan Kao, tapi apa kamu pikir anak itu datang kemari dengan maksud baik? Apakah orang-orang yang membuatnya tidak pernah menanamkan doktrin tertentu padanya? ” Sahut Kim sambil tersenyum kecut, bagaimana mungkin tidak... Otaknya yang terlampau pintar ini bahkan sudah memikirkan banyak sekali kemungkinan buruk yang bisa terjadi karena kedatangan anaknya yang seharusnya tidak pernah bisa lahir karena telah mengalami kematian bersama dengan ibunya di dalam kandungan...
“ Saat ini dia tiba-tiba datang pasti dengan sebuah rencana besar dari orang-orang yang ada dibelakang semua ini... Entah apa yang telah mereka doktrin pada anak itu, aku hanya bisa memiliki banyak pikiran negatif... Kehadirannya yang seharusnya menjadi anugerah malah berubah menjadi ancaman yang sangat berbahaya ” ujar Kim lagi,
“ Aku tahu ini naif, tapi kita harus meluruskan semuanya sebelum terlambat... Mungkin saja kita dapat membuat anak itu percaya” ujar Aom lalu Kim langsung berkata,
__ADS_1
“ Dia bukan anak kecil Aom, dia seorang pemuda yang sama gagahnya dengan Art dan Tan... Sejak pertama kali ia datang ke rumah sakit karena kecelakaan, ia sudah membuat perasaanku tidak tenang ketika melihatnya terluka hingga akhirnya aku curiga pada asal-usulnya, namun diselidiki dengan cara apapun tidak ada data yang bisa didapatkan oleh anak buahku meskipun hanya sebuah nama. Saat ia sadar katanya ia tidak mengingat apapun sehingga dokter berpikir bahwa ia mengalami gegar otak yang menyebabkan amnesia... Tapi kurasa ini hanya sebuah plot yang dirancang dengan sempurna hanya agar bisa masuk ke dalam SDG, entah dengan tujuan membunuhku atau kita berdua ” ujar Kim sambil mengusap rambut Aom yang duduk di sampingnya,
“ Aku akan terus mengawasinya seketat mungkin agar tidak bisa membahayakan kalian ” ujar Kim lagi dengan sebuah senyuman lembut di wajahnya yang bukannya membuat Aom tenang malahan membuatnya khawatir karena ia mengatakan kata-kata itu,
“ Tidak bisa membahayakan kalian? kenapa menggunakan kata kalian? Kim Hans?! ” tanya Aom sambil menarik tangan Kim,
“ Kita sudah disini terlalu lama, bukankah bayi-bayi imut kita akan merindukan ibunya? hehe ” sahut Kim sambil mengajak Aom berdiri dan mengabaikan pertanyaan Aom sepenuhnya,
“ Kim Hans! ” ujar Aom setengah berteriak pada suaminya itu, ia khawatir Kim akan membahayakan dirinya sendiri, karena meskipun suaminya ini terlihat kejam dan tidak memiliki belas kasihan pada siapapun, tapi Aom tahu betul sifat yang menjadi kelemahan terbesarnya...
Kim selalu menaruh dirinya sebagai nomor 2
Di dalam mobil bagaimana pun cara Aom membujuknya untuk mengatakan rencananya, Kim sama sekali tidak terpengaruh dan hanya mengalihkan topiknya kearah lain, sehingga Aom hanya bisa marah tanpa mendapatkan jawaban apapun dari suaminya ini... Hanya satu kalimat Kim yang akhirnya membuatnya menyerah untuk mencari tahu rencana Kim lebih jauh lagi,
“ Aku akan mengatakan rencana apapun yang akan aku lakukan saat aku akan melakukan sesuatu Aomku sayang, jangan cemas dan ingat bahwa stress yang tidak baik bagi ibu menyusui ” ujar Kim sehingga Aom hanya memiliki pilihan untuk percaya pada suaminya ini,
“ Apa aku boleh tahu siapa nama anak itu? Dan bagaimana wajahnya? ” tanya Aom pada Kim ketika ia sudah menyerah dari tujuannya sedari tadi,
“ Aku belum bisa mengatakannya karena aku tidak bisa mempercayai seorang wanita sepenuhnya dalam sebuah misi yang melibatkan perasaan ini... Karena seorang wanita cenderung bertindak berdasarkan perasaannya, jadi aku harap wanitaku ini dapat mengerti diriku saat ini... Oke? ” sahut Kim sambil tersenyum tapi tatapan matanya cukup tajam hingga membuat Aom yakin kalau Kim sudah hampir kehabisan kesabaran menghadapinya sedari tadi,
__ADS_1
“..............” Aom terdiam dan mengalihkan pandanganya kearah jendela mobil, ia tahu jika ia mendorong Kim lebih jauh lagi maka mereka hanya akan bertengkar yang tentunya tidak akan membawa keuntungan sama sekali,
Saat tiba di rumah,
Kim tiba-tiba tersenyum tipis ketika melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan rumah, putranya telah pulang ke rumah...
Kim berjalan santai sementara Aom sudah berlari ke dalam rumah, lagi pula apa lagi yang bisa seorang ibu lakukan ketika tahu kalau sebenarnya putranya sempat terluka parah tanpa tahu keadaannya saat itu. Aom memeluk Art dan berkali-kali mengecek kondisi tubuhnya seakan-akan ingin melihat kondisi tubuh putranya masih benar-benar lengkap dan sempurna,
“ Ayah... ” ujar Art sambil membungkuk ketika melihat Kim masuk ke dalam rumah,
“ Kamu sudah kembali nak, semuanya baik-baik saja kan? ” tanya Kim sambil menepuk bahu putranya itu,
“ Semuanya baik ayah dan... ” ujar Art lalu ia mengambil sebuah map tebal yang khas dari atas meja, lalu dengan cukup bangga memberikannya kepada ayahnya,
“ Nilai sempurna seperti biasanya... Kerja bagus, putraku memang selalu melakukan yang terbaik ” ujar Kim setelah menerima apa yang Art berikan padanya saat ini yang tidak lain adalah ijazah yang baru ia dapatkan beberapa minggu lalu dari universitasnya,
_________________________
See You Next episode... Mungkin besok? Mungkin kapan-kapan? Hehehe :)
__ADS_1