His Love : The Mafia King

His Love : The Mafia King
Pelatihan Dini ?


__ADS_3

Hallo para reader kesayangan Author... maafin author yang menghilang cukup lama ya 🙏🙏🙏


Author lagi bener-bener sibuk dari kemarin banyak berkas dan kerjaan yang harus diselesaikan dengan waktu yang bersamaan hehehe....


oke tanpa berlama-lama lagi langsung aja ya...


HAPPY READING GUYS


_________________


“Wah… ini papa yang beli pa? kapan papa belinya cepat sekali yey!” seru Art dengan penuh antusiasme menoleh kearah Kim dengan mata yang berbinar-binar dan menunjuk kotak pizza yang ada di atas meja itu…


“Iya… baru saja sayang... kan anak papa ini lapar katanya tadi… jadi papa langsung pesan secepat mungkin” sahut Kim sambil tersenyum gemas kepada anaknya ini


“Yey!!! Papa memang yang terbaik… papa terthebest” seru Art sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah papanya kesayangannya ini...


“Ayo kita makan nak… nanti keburu dingin kan jadi tidak enak anakku sayang...” Ajak Kim


Mereka berdua menikmati makanan mereka diselingi canda tawanya,


Setelah selesai makan, Kim mengajak Art menuju ke sebuah kontainer besar diatas kapal Feri besar itu, yang di dalamnya tentu sudah disulap secara profesional menjadi tempat latihan menembak untuk semua anggota SDG…


“Wow pa ini keren sekali !… apa Art boleh mencobanya? itu terlihat sangat keren pa” tanya Art sambil menunjuk anak buah Kim yang sedang berlatih menembak dengan pistol disana...


“Yakin Art? Tidak takut dengan suara tembakan yang keras itu? pistolnya juga cukup berat sayang” tanya Kim meyakinkan putranya ini terhadap keinginannya untuk mencoba menembak dengan pistol...


“Tentu saja pa, Art kan anak papa… Art tidak akan takut dan Art kan kuat” sahutnya penuh keyakinan dan menatap papanya lekat...


“Baiklah nak, pegang ini… (memberikan pistolnya) apa itu berat?” tanya Kim lagi setelah Art mencoba menggenggam pistol yang ia berikan itu dengan kedua tangannya, cukup berat untuk anak umur 5 tahun…


Art menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat pistol itu agar seimbang dan mengulurkan tangannya lurus kedepan seperti yang dilakukan oleh anak buah Kim yang ada disana…


“cukup Berat pa, tapi aku bisa pa…” sahutnya lalu tanpa sengaja ia menarik pelatuknya dan peluru pistol itupun melesat lurus kearah tembok ruang latihan itu, Art sangat terkejut melihat hal itu sementara Kim hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya ini…


Art masih bengong natap tembok yang ia rusak, ia sudah jatuh terduduk karena tubuhnya belum sanggup menahan hempasan dari peluru yang melesat itu…


Kim mendekati putranya itu dan mengambil pistol itu kembali serta langsung menggendong Art yang masih termenung menatap dinding itu…


Kim membawanya mendekat ke dinding kontainer yang terkoyak peluru pistolnya itu...


“Lihat ini… (mengetuk besi baja yang menjadi dinding ruangan itu yang sudah penyok karena terkena tembakan Art tadi)” ucap Kim sambil terus mengetok besi baja itu

__ADS_1


Taktak! Taktak! Taktak!


“Ini adalah besi baja, kau tau nak? Ini adalah besi yang sangat kuat… memang bukan baja terbaik tapi ini sangat kuat juga… akan tetapi bisa bayangkan kan jika peluru ini” ucap Kim menunduk dan memungut peluru yang jatuh di lantai ruangan itu...


“Bayangkan jika peluru ini bukan mengenai tembok, tapi melesat menembus kulit dan tubuh manusia… seseorang bisa langsung mati karena ini” tutur Kim dengan wajah seriusnya sambil menyentuh tembok kontainer itu lalu beralih ke kulit mulus anaknya itu...


Art memandangi wajah papanya yang tengah mengajarkan sesuatu yang baru kepadanya itu… ia mengerti apa yang tengah dibicarakan papanya…


ini memang mengerikan….


Hal yang ingin ia pelajari ini sangat mengerikan…. Dan juga….


Sangat menarik untuk dipelajari….


P


erlahan sebuah senyuman terukir dengan indah di wajah anak umur 5 tahun ini…


Kim mengamatinya dan tersenyum juga…


“Oke mari kita coba pada papan target Art…” ucap Kim, ia mengerti putranya tidak takut sama sekali pada apa yang sudah ia lihat dan apa yang dijelaskan oleh Kim, serta Kim tau…


senyuman ini adalah senyumannya yang mengartikan sebuah tekad sekuat baja sudah menanti untuk dilatih mulai dari sekarang…


“Tapi kalau mamamu tau, dia pasti akan marah… mau tetap melanjutkan?” goda Kim


Art tampak berpikir…


ia memang takut jika mamanya akan marah… tapi tidak… kan ada papanya yang akan selalu mendukungnya…


mamanya juga tidak akan berdaya hehehe...


“Hehehe… kan ada papa…” sahutnya dengan polosnya..


“Hahaha… papa yang akan dimarahi mama begitu maksudmu? lalu nenek bagaimana?” tanya Kim lagi dan mereka tertawa bersama


***


Latihan siang itu berjalan dengan lancar dan Art terlihat sangat antusias untuk berlatih menembak sasarannya… walaupun bidikkannya masih sangat jauh dari papan target tentunya…


Kim duduk di sebelah anaknya yang masih fokus mencoba berlatih itu… ia membantu anaknya menahan hentakan akibat lontaran peluru-peluru pistol itu dengan satu tangannya...

__ADS_1


kemudian satu tangannya yang lain mengambil ponsel yang ada di sakunya dan langsung menghubungi Jeab


“Hallo... ada yang bisa aku bantu bos?” tanya Jeab dari seberang telepon itu


“Datanglah ke rumah jam 2 siang, bawa peralatan yang lengkap aku ingin memastikan sesuatu…” sahut Kim dan langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Jeab diseberang sana tentunya…


“Art kita harus cukupkan latihan untuk hari ini… besok kita akan berlatih lagi setelah pulang sekolah ya nak…” ujar Kim lalu meraih pistolnya dari tangan anaknya dan menyimpannya kembali dibalik jas yang ia pakai itu…


“Oke pa… janji ya besok lagi…” sahutnya sambil meraih tangan papa kesayangannya itu


“Iya besok kita akan berlatih lagi… asalkan Art tidak nakal saja…” sahut Kim sambil berjalan bersama anaknya itu keluar dari ruang latihan menuju parkiran dan masuk kedalam mobilnya yang sudah disiapkan anak buahnya itu...


Kim berpikir selama perjalanan pulang mereka itu tentang latihan yang sudah ia berikan kepada anaknya hari ini…


“Tidakkah aku terlalu dini mengajarinya cara menembak? Aku dulu diajari ayah saat berumur 7 tahun… sedangkan Art masih berumur 5 tahun sekarang… terlalu cepat kah aku mengambil keputusan? Apakah ini masuk akal?” gumam Kim dalam hatinya pada dirinya sendiri…


What! Apa masuk akal?!


Jangan bercanda Kim Hans!


Bahkan kau yang belajar menembak diumur 7 tahun itu saja sudah sangat tidak wajar!!!


Astaga!


“Sepertinya tidak akan apa-apa” pikir Kim dan mereka sudah memasuki garasi rumah megahnya itu...


Tak perlu waktu yang lama mereka berdua melewati tangga dan masuk ke rumah lalu disambut oleh sang nenek yang sudah menunggu kepulangan mereka...


“Nah cucuku sudah pulang… sini sayang..” ujar neneknya dan mengambil Art dari genggaman tangan Kim itu...


“Tunggu dulu…” ucap ibu Wana lalu menciumi tubuh cucunya itu


“Kenapa Art bau bubuk mesiu Kim?” tanya ibu Wananya dengan tatapan curiganya


“Tadi kami berlatih menembak bu… Art sangat antusias akan hal itu…” sahut Kim dengan santainya, namun berbanding terbalik dengan reaksi ibunya ini…


“Apa? Menembak?! Diusianya yang baru 5 tahun?! Apa kau gila Kim Hans? Itu bisa melukainya!” protes Wana pada Kim dengan nada yang meninggi...


Jangan lupa vote like dan komentarnya readers...


I Miss You...

__ADS_1


~Kim Hans


__ADS_2