
HAPPY READING GUYS
________________________
"sudah terlambat Aom... Anan sudah mati, yang bisa dilakukan sekarang hanyalah menjaga Kim dari berbagai hal yang bisa menjatuhkannya, ia bahkan sudah mempersiapkan rencana terburuk jika ia harus berada di penjara sekalipun setelah kejadian ini..." ujar Zee pada Aom dengan wajah seriusnya...
"aku hanya akan berbicara saja... aku tidak akan memaksa untuk menemui Kim, ayolah... aku tahu kalian selalu berusaha menjaga Kim dengan segala cara, tapi aku berjanji tidak akan gegabah lagi... aku memang terkadang ceroboh, tapi percayalah aku tidak akan membuat Kim semakin menderita lagi..." ujar Aom memohon agar mereka mengizinkannya naik ke lantai 2...
Walaupun hanya sekedar berbicara di depan pintu kamar mereka saja, Aom rasa itu sudah cukup untuk sekarang ini...
ia hanya ingin Kim mendengar kata-kata yang langsung ia ucapkan sendiri... bahwa Aom tidaklah benar-benar bermaksud untuk membenci Kim atas apa yang telah Kim lakukan... apapun yang Kim lakukan tidak akan pernah mengubah rasa cintanya Aom pada seorang Kim Hans Suppanad...
"baiklah, naik tapi jangan sampai membangunkan anak-anak..." sahut Mario sambil memberinya jalan naik ke atas...
Aom dengan sangat cepat berlari keatas, ia melihat pintu kamar mereka sudah ditutup rapat oleh Kimnya...
Aom berjalan mendekat dan menempelkan tangannya di depan pintu itu...
Sejenak ia kembali mengingat kegiatan yang mereka lakukan sedari pagi tadi...
semuanya begitu menyenangkan, begitu manis dan penuh dengan cinta darinya dan juga dari Kim... ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Kim bermanja-manja dengannya di pagi hari dan juga menggodanya di dapur sore tadi... namun sekarang, keadaan sudah berbanding terbalik 180°....
Sekarang ini bahkan hanya untuk memeluk tubuh Kim saja Aom sudah benar-benar tidak bisa lagi, pintu ini menghalanginya...
"Kim... kamu dengar aku sayang?" tanya Aom dari luar kamar mereka itu...
"dengarkan aku... aku tidak pernah bermaksud untuk mengatakan kata-kata itu... aku hanya bingung dan cemas... kamu mau membunuh salah seorang petinggi di badan intelijen negara, begitu banyak bahaya yang bisa mengancammu karena melakukan ini... aku hanya tidak mau itu terjadi sayang..." ujar Aom sambil duduk dan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mereka itu... begitu juga Kim yang ada di dalam kamar...
Mereka ada pada posisi yang sama namun yang satu berada di luar dan satu lagi berada di dalam kamar...
__ADS_1
"aku memang bodoh karena mengatakan kata-kata yang sangat tidak tepat pada waktu yang sangat tidak tepat pula... ketika itu pikiranku hanya mengingat bahwa saat aku mengancammu dengan cara seperti itu, biasanya kamu akan mengalah dan berkata... Ya sayang, iya... aku lakukan apapun yang kamu mau... karena aku bisa memberikan apapun yang ada di dunia ini untukmu..." ujar Aom lagi...
"aku memang bodoh sayang... tapi jangan tinggalkan aku, aku takut kamu akan pergi lagi seperti dulu... aku mohon jangan tinggalkan aku untuk alasan apapun..." ujar Aom lagi sambil terisak-isak...
Sementara itu di dalam kamar, Kim tidak mengucapkan sepatah katapun...
ia hanya berbicara dalam hatinya...
"tidak Aom... kamu tidak pantas bersama dengan orang sepertiku... aku seperti monster saat aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri... aku bahkan mau menyakitimu tadi... aku tidak bisa tetap berada di dekatmu, karena aku bisa membahayakan dirimu kapan saja... emosiku yang tak terduga, rasa cemburuku saat melihat pria lain mendekatimu juga semakin parah... aku mencintaimu melebihi diriku sendiri Aom..." gumam Kim dalam hatinya sambil menjambak rambutnya sendiri dan mengusap wajahnya dengan gusar...
Keheningan malam semakin menyelimuti seluruh rumah ini...
setelah lelah menangis dan mengutarakan semua yang ingin ia katakan pada Kim, Aom ketiduran di depan pintu kamar mereka itu...
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 subuh... Kim membuka pintu kamarnya perlahan-lahan agar tubuh Aom tidak terjatuh ke belakang...
Kim berjongkok lalu mengangkat tubuh Aom dengan mudahnya, setelah itu Kim membawanya ke dalam kamar...
ia menidurkan Aom di tempat tidur, hingga saat Aom mengigau,
"Kim... aku mencintaimu... maafkan aku..." gumam Aom dalam tidurnya sambil memeluk tangan Kim...
Perlahan-lahan Kim menarik selimut dan menyelimuti seluruh tubuh Aom hingga ke lehernya... Kim mencium kening Aom penuh dengan kasih sayang, namun ketika itu juga setetes air matanya mengalir begitu saja...
"aku juga sangat mencintaimu sayang..." ujar Kim setelah menyudahi ciumannya di kening Aom itu...
Untuk sejenak Kim berbaring di sebelah Aom, menikmati wajah istrinya yang begitu damai saat tidur... namun mata sembab dan wajah lelahnya ini membuat Kim merasa semakin bersalah.... Kim berpikir bahwa ia lah sebenarnya penyebab utama dari segala penderitaan dan juga kesedihan yang Aom alami selama ini...
Pikirannya yang sedang tidak begitu rasional membuatnya berpikir dengan pergi menjauhi Aom mungkin akan bisa memberikan Aomnya kebahagiaan... tidak ada lagi kesedihan dan air mata...
__ADS_1
pikiran sempitnya begitu saja memunculkan kesimpulan itu...
sebuah kesimpulan yang sangat konyol dan tak dapat dipercaya selain oleh Kim sendiri...
Setelah cukup puas memandangi Aom, Kim bangun dan pergi dari kamar mereka lalu turun ke bawah...
Seakan tahu apa yang akan Kim lakukan, ibu Wana dan juga Zee, Mario, Nan masih belum tidur dan minum kopi di ruang tamu...
"kenapa kalian belum tidur?" tanya Kim saat melihat mereka semua
"kami tahu kau akan pergi kan... kebiasaanmu untuk mengambil kesimpulan yang tidak berdasar dan menyalahkan dirimu atas kesedihan yang Aom rasakan lalu mengambil keputusan untuk pergi dan berharap Aom akan lebih bahagia tanpa dirimu sudah benar-benar aku hafal dengan baik Kim Hans Suppanad..." ujar Jeab yang baru saja tiba di Pattaya setelah mendengar cerita dari ketiga sahabatnya itu tentang kejadian hari ini...
"kenapa kau selalu berpikir bahwa dengan mengorbankan dirimu sendiri Aom akan bahagia? ayolah... kau ini jenius Kim... kenapa disaat-saat seperti ini kau berubah seperti orang bodoh yang ingin lari dari masalah?!" ujar Jeab lagi memaksa Kim untuk menjawab perkataannya...
"aku tidak lari dari masalah! aku hanya tidak mau dia selalu bersedih, karena ada di dekatku hanya memberinya kesedihan seperti ini!" sahut Kim sedikit emosi
"benarkah? bukannya kau hanya akan menyiksa istrimu dengan pergi dari sisinya? iya kan ibu?" ujar Jeab lagi sambil meminta pendapat dari ibu Wana...
"Kim... ibu tahu, pola pikirmu ini selalu muncul ketika kamu berpikir dan terfokus pada kebahagiaan Aom... tapi apa kamu yakin dengan meninggalnya akan membuatnya bahagia? tidak sayang... kalian berdua hanya akan mengalami penderitaan karena perpisahan ini..." ujar ibu Wana pada Kim sambil mendekatinya lalu membingkai wajah Kim...
"sebenarnya kamu hanya perlu waktu untuk memikirkan semuanya... bukan pergi darinya untuk selamanya... " ujar ibu Wana lagi
______________________
jangan lupa vote like dan komentarnya guys...
kasi rating juga karyanya Author ya...
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1