
HAPPY READING GUYS
________________________
Di depan kamar rawat Aom, Kim berhenti sejenak dan melihat dari jendela kaca kecil ruangan itu... setelah beberapa saat ia membuka pintunya dan masuk ke dalam sana...
Saat Manaying, papa Aom melihat Kim datang... ia langsung berdiri dan memukul perut Kim dengan sangat keras...
Kim membungkuk karena pukulan itu, menahan rasa sakitnya namun ekspresi wajah datar sekaan tak terjadi apapun...
"apa yang kau bilang setelah latihan hari itu Kim Hans?! kau akan menjaga putriku, tapi apa yang terjadi sekarang ini?!" geram Manaying pada Kim...
sedangkan mama Aom berusaha menenangkan suaminya itu...
"maaf guru... aku memang salah, maafkan aku" pinta Kim sambil menundukkan kepalanya...
"apa aku harus meragukan penilaianku padamu Kim Hans? kau tidak bisa menjaga putriku, bagaimana aku membiarkan kalian bersama..." ujar Manaying sambil menatap Kim tajam
"tidak guru... aku bisa... ini semuanya tidak akan terjadi lagi... jika ini terjadi lagi, maka bunuhlah aku detik itu juga guru... aku benar-benar mencintai putrimu guru... sungguh..." ujar Kim penuh keyakinan dan harapan yang begitu besar...
"sayang... tenanglah... jangan buat keributan, kasihan Aom..." ujar mama Aom sambil mengusap punggung suaminya itu...
Lalu akhirnya mereka bertiga duduk di sofa yang ada di ruangan itu...
untuk beberapa saat, Manaying masih menatap putrinya yang terbaring di tempat tidur rumah sakit itu... hatinya sangat sesak melihat putri satu-satunya harus dalam kondisi seperti ini...
"apa yang akan kau lakukan sekarang? aku dengar ayahmu sedang merencanakan pernikahanmu dengan putri keluarga kaya itu... perlu kau ingat dia adalah sahabat baik dari Aom juga..." ujar Manaying tanpa melihat kearah Kim
"dia juga adalah temanku sedari kecil guru... aku menyayanginya, namun tidak akan pernah bisa mencintainya... karena aku sudah jatuh cinta pada putrimu..." sahut Kim dengan mantap
"kau akan menolak perintah ayahmu? kau yakin? dia sangat keras dan kejam setelah kematian ibumu..." ujar Manaying sambil menatap mata Kim lekat, seakan mencari kesungguhan hati Kim dari sorot matanya...
Saat mereka tengah berbincang, Aom tersadar dan mulai bergerak sedikit demi sedikit... tangannya memegang kepalanya yang terasa sakit...
"Aom sadar..." ucap mamanya sambil berlari kearah tempat tidur putrinya itu, lalu menekan tombol pemanggilan dokter itu dengan cepat...
"sayang... kamu sudah sadar nak..." ujar mamanya sambil menggenggam tangan putri kesayangannya itu... hatinya terasa sakit melihat tatapan lemah dan kosong dari putrinya itu... ia tampak tak berdaya...
__ADS_1
"Aom..." gumam Kim dari sampingnya, Aom menoleh perlahan... menatap satu persatu ketiga orang yang ada di hadapannya itu...
"pa... mama... si.. siapa di..a..?" tanya Aom lemah sambil mencoba menunjuk Kim
"dia seniormu nak... bukankah dia orang yang cukup spesial untukmu? kamu sering membicarakan dia dari saat kamu masih SMA sampai sekarang... kenapa kamu bertanya begitu?" sahut mamanya yang mulai sedikit panik dengan pertanyaan putrinya yang sangat tidak normal ini...
"aku... ti..dak ingat.. ma..." sahut Aom lemah sambil memegangi kepalanya yang semakin sakit....
"ada apa ini..." gumam Kim sambil memundurkan langkahnya dengan sangat amat pelan ke belakang...
"kita bicara di luar..." ujar Manaying sambil menarik Kim keluar dari sana saat dokter masuk dan memeriksa keadaan Aom yang sudah sadar...
***
Diluar ruangan itu...
"tidak mungkin...." gumam Kim pelan berulangkali ketika ia berjalan keluar ruangan tadi...
"apa yang akan kau lakukan jika Aom kehilangan ingatannya?" tanya Manaying to the point, wajahnya juga terlihat pias sama seperti Kim...
"aku dan Aom saling mencintai guru... walaupun aku anak seorang mafia, tapi aku akan keluar dari dunia itu untuknya... walaupun calon anak kami sudah tiada, tapi kami bisa memulai semuanya dari awal..." ujar Kim yang mulai kehilangan kendali atas perasaannya sendiri...
"apa kau bilang?" tanya Manaying sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat
"Aom mengalami keguguran, paman... guruku yang paling aku hormati... izinkan aku terus bersama putrimu... aku mohon... kami saling mencintai" pinta Kim sambil berlutut di hadapan Manaying
"brengsek! beraninya kau menyentuh putriku!" teriak Manaying sambil memukuli Kim
"jauhi putriku!!!" teriaknya terakhir kalinya ketika meninggalkan Kim yang terlentang di lantai...
Ia menatap langit-langit koridor rumah sakit itu... dirinya tampak kacau, lebam begitu banyak di wajah dan tubuhnya ketika di hajar oleh gurunya sekaligus papa Aom itu...
"tuhan... apa ini caramu menyadarkanku bahwa aku tidak bisa memilikinya? cinta pertamaku... bahkan kau mengambil bukti dari cinta kami berdua... kami memang salah karena melakukan semua itu sebelum menikah... tapi kau tidak harus mengambilnya..." gumam Kim dalam hatinya
Setelah cukup lama berbaring di lantai itu, Kim berdiri dan berjalan gontai menuju kamar rawatnya lagi...
ketika masuk ke dalam, disana sudah ada alat-alat kedokteran yang belum pernah ia lihat sebelumnya...
__ADS_1
"kau kenapa?! kenapa berantakan seperti ini? lebam dimana-mana, siapa yang berani menghajar adikku?!" tanya Yang Mao sambil meraba semua luka lebam yang terlihat di tubuh Kim itu...
"tidak apa kak, tidak sakit... dokter lakukanlah pemeriksaan yang mau dokter lakukan, tidak perlu khawatir ini tidak seberapa..." sahut Kim datar saat melihat ekspresi ragu di wajah dokter itu untuk melanjutkan pekerjaannya hari ini, Kim duduk di tempat tidurnya, sementara keempat sahabatnya itu hanya saling pandang kebingungan...
"baik tuan..." sahut dokter itu sambil mengambil beberapa alat...
"maaf, permisi tuan..." ujarnya saat hendak menempelkan alat-alat itu di pelipis, kening, dan di bagian kepala Kim yang lain dengan alat yang berbeda...
"tuan... apa yang anda rasakan sekarang?" tanya dokter itu pada Kim
"kesedihan, tapi semakin terasa sepi dan kosong... bingung dengan beberapa perasaan lain yang muncul... terasa begitu samar, semakin samar..." sahut Kim dengan wajah datarnya
Dokter itu mengangguk dan meningkatkan frekuensi alat itu sedikit...
setelah beberapa pertanyaan ditanyakan lagi, alat-alat itu dilepas semua dan Kim langsung berbaring di kasur itu tanpa memperdulikan apapun lagi...
"Kim, jangan khawatir... aku sudah menemukan rekaman pria brengsek yang sudah berani menyentuh gadismu itu... tapi sayangnya dia memakai topi saat masuk ke apartemen Aom saat itu..." ujar Nan mencoba memulai pembicaraan setelah kak Yang Mao dan dokter keluar dari ruangan itu
"kita bisa membuat perhitungan sesuai yang kau mau Kim, kita semua bisa menghajar laki-laki kurang ajar itu!" ujar Mario juga
"lakukanlah... dia ada disini sekarang..." sahut Kim tanpa menoleh kearah sahabatnya itu... ia hanya diam dan memandangi langit-langit kamar rawatnya...
"jangan bilang bahwa..." ujar Jeab menggantung...
"Ya... aku laki-laki pertamanya... dan dia wanita pertamaku... entah bagaimana, tapi kami melakukan itu di hari yang sama ketika aku menyatakan cintaku padanya... tanpa paksaan, semua karena cinta... tapi sekarang dia kehilangan ingatan, dia sama sekali tidak mengingatku... ayahnya bahkan melarangku menemuinya lagi, dia menyuruhku menjauhinya..." ujar Kim datar dan wajahnya juga tanpa ekspresi...
"Kim..." ucap Zee lembut
"aku kehilangan semuanya... tidak ada apa-apa lagi sekarang... aku rasa ini takdir dan aku hanya bisa menerimanya..." ujar Kim lagi yang membuat teman-temannya membisu...
______________________
jangan lupa vote like dan komentarnya guys...
kasi rating juga karyanya Author ya...
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1