
HAPPY READING GUYS
________________________
"Ckckck... Sepertinya malam ini akan terasa dingin untuk kita bertiga kak... Tapi mungkin ini keadilan yang diberikan oleh tuhan, karena kita benar-benar disama ratakan malam ini... Bahkan ayah tidak lagi bisa membuat iri dengan pamer-pamer kemesraan di depan kita... Hahaha" ujar Tan dengan wajah yang begitu puas dapat mengejek ayahnya...
"Makanya cari pacar... Jangan main-main saja!" Ujar Kim sambil menarik daun telinga Tan dan mengajaknya duduk di dekat api unggun yang ada di depan mereka, sementara Art hanya tertawa... Hari ini benar-benar menyenangkan pikirnya...
"Ampun ayah... I'm sorry my father, my master..." Ujar Tan dengan gaya hiperbolanya di depan ayahnya ini...
"Kalian duduklah..." Ujar Kim sambil melepaskan jewerannya pada Tan,
"Apa hari ini menyenangkan? Kalian menikmati liburan ini?" Tanya Kim lagi setelah kedua putranya duduk di hadapannya...
"Sangat-sangat menyenangkan ayah... Akhirnya kita punya waktu untuk dihabiskan bersama..." Sahut Art sambil tersenyum manis,
"Tentu saja yah... Ini luar biasa... Tapi bisakah pulau ini kita beli dan jadikan benar-benar menjadi pulau pribadi kita sendiri?" Tiba-tiba ide ini muncul di pikiran Tan, dan Kim hanya tersenyum...
"Kamu pikir pulau ini milik siapa sehingga tidak ada yang berani melakukan pengembangan apapun disini?" Tanya Kim dengan senyuman misterius dimunculkan di wajahnya yang tampan itu...
"Tunggu... Tunggu dulu... Jangan bilang kalau ayah..." Ujar Tan dengan mata berbinar-binar yang tidak dapat ia tutupi...
"Pulau ini sudah menjadi bagian dari aset yang ayah miliki? Benar begitu?" Tanya Art to the point karena ia mulai menjadi antusias dengan topik ini...
"Ya... Dulu saat negara dilanda krisis ekonomi yang sangat besar... Bahkan hampir di seluruh benua Asia mengalami krisis kala itu, negara memutuskan untuk menjual beberapa pulau kecilnya demi menutupi hutang di bank internasional... Lalu daripada pulau-pulau kecil ini dikuasai oleh negara asing, maka kenapa tidak kita saja yang membelinya? ketika itu negara sudah tidak punya pilihan lain, maka sampai detik ini pun tak ada seorangpun yang berani mengusik pulau ini tanpa persetujuan dari seorang Kim Hans Suppanad... Makanya pulau ini bisa tetap alami seperti ini, alami tapi tetap bebas dari semak belukar hahaha..." Sahut Kim dengan bangganya, kebanggaan tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tapi kedua putranya tercengang mendengar apa yang ayah mereka ini katakan barusan, ia membeli sebuah pulau seakan hanya dengan membalikkan telapak tangannya saja, begitu mudahnya dilakukan...
Apalagi jika dihitung-hitung, saat krisis moneter itu terjadi... Paling tidak umur ayah mereka ini kala itu masih di usia 20-an sepertinya...
__ADS_1
Seorang laki-laki macam apa yang di usia 20 tahun mampu mengakuisisi begitu banyak perusahaan bahkan mampu membeli sebuah pulau dari negaranya sendiri?
Namun lamunan mereka terpaksa harus terhenti karena mendengar ucapan dari ibu mereka yang sudah mulai marah karena ketiga pria ini malah begadang bersama di depan api unggun malam ini...
"Kalian benar-benar ingin sakit ya?! Masih belum tidur! Cepat tidur!" Perintah Aom sambil bertolak pinggang di hadapan mereka bertiga...
Meskipun Kim, Art dan Tan adalah figur yang begitu ditakuti dan disegani di luar sana karena sifat dan kemampuan mereka yang luar biasa... Akan tetapi di hadapan seorang wanita hebat ini mereka selalu bertindak seakan-akan figur yang selalu ditakuti dan disegani oleh siapapun di luar sana itu tidak pernah ada...
Di hadapan singa betina ini mereka bahkan tidak mampu melakukan apapun lagi... Mereka hampir selalu memilih jalan mundur dan pasrah mengikuti semua yang yang mulia ratu ini perintahkan...
"Hoaaam.... Aku memang sudah mengantuk sayang, ayo kita tidur..." Ujar Kim yang pura-pura lupa bahwa tadi Aom tidak mau tidur bersama dengannya, siapa tahu dia berubah pikiran kan... Pikirnya...
"Tidurlah sendiri!" Sahut Aom yang langsung masuk kembali ke dalam tendanya bersama dengan mama dan juga putrinya itu...
Sementara Kim hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal... Lalu ia hanya bisa tersenyum pasrah...
"Mungkin dia hamil lagi..." Sahut Kim dengan entengnya,
"Apa?!!!" Sahut mereka berdua berbarengan dengan suara yang cukup kencang lalu refleks menutup mulut mereka karena ini bisa membuat ibunya marah lagi karena mereka masih saja belum tidur walaupun sudah di marahi tadi....
Hahaha... Mereka berdua benar-benar seperti dua orang anak SD yang bandel...
Selalu melawan dan melanggar perintah dari gurunya dengan sengaja ataupun tidak sengaja...
"Cepat-cepat!" Ujar Art dan Tan yang langsung menarik ayahnya ke dalam tenda mereka seperti sedang berusaha untuk menculiknya...
"Kalian ini apa-apaan... Dasar anak nakal..." Ujar Kim sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala karena tingkah mereka berdua...
__ADS_1
Dan benar saja, Aom kembali mengintip keluar untuk memastikan mereka bertiga sudah benar-benar tidur sekarang...
Ia benar-benar menjadi seperti seorang guru BP yang ketat saat ini...
"Ayah... Apa yang ayah katakan tadi? Itu serius atau hanya lelucon?" Tanya Art mulai mengkonfrontasi ayahnya, Tan pun tidak mau kalah, ia juga ikut mengkonfrontasi ayahnya...
"Ya ayah! Katakan pada kami yang sebenarnya!" Ujar Tan mendesak jawaban dari ayahnya...
"Ya... Itu serius... Tapi masih belum dapat dipastikan kebenarannya... Masih hanya sekedar harapan ayah... Jika nanti setelah liburan dan melakukan tes di rumah sakit, setelah hasil tesnya sudah keluar baru kita benar-benar yakin..." Sahut Kim asal, namun sebuah senyum penuh harapan tidak bisa lepas dari wajahnya...
"Ayah bercanda?!" Tanya Art lagi dengan suara yang sedikit meninggi, sementara Tan hanya bisa terpaku mendengar jawaban dari ayahnya yang benar-benar ambigu dan sedikit tidak relevan menurutnya...
"Kenapa? Apa kalian tidak bisa terima jika kalian akan memiliki seorang adik lagi? Apa yang kalian permasalahkan? Umur kalian yang terpaut jauh? Atau kalian berpikir bahwa orang tua kalian ini terlalu bersemangat dan tidak bisa menahan diri hingga kemungkinan kalian akan memiliki saudara yang baru?" Tanya Kim berbalik memborbardir putra-putranya ini dengan begitu banyak pertanyaan...
Tentu saja Kim sudah mengatur dengan sangat baik apa yang ia katakan dan secara perlahan dan tak dapat disadari oleh kedua putranya yang kini sedang digiring opininya oleh Kim... Menggiring opini untuk mendapatkan jawaban yang pasti dan yang terjujur dari hati tentunya adalah salah satu dari keahlian tak terlihat dari seorang Kim Hans Suppanad tentunya...
"Hah?! Tidak terima? Tentu saja!" Ujar Tan sedikit mengerutkan keningnya
"Tentu saja kami sangat menerima dan bahagia akan hal itu ayah! Tapi jawaban yang ayah berikan belum adanya kepastian hitam di atas putih oleh pihak dokter dan rumah sakit membuat kami kecewa berat!" Ujar Tan lagi dengan penuh semangat, sementara Art hanya mengangguk setuju dengan tatapan tajam yang dipenuhi semangat itu...
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
vote like dan komentarnya guys...
kasi rating juga karyanya Author ya...
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐