His Love : The Mafia King

His Love : The Mafia King
Suatu Keterikatan Yang Tak Jelas


__ADS_3

HAPPY READING GUYS


________________________


"Untuk apa aku menjilat padamu, tidak ada untungnya juga bagiku hahaha" Sahut Jeab karena kepercayaan yang Kim berikan kepada semua sahabatnya adalah hal yang paling penting bagi mereka semua bahkan melebihi jabatan dan harta yang bisa mereka dapatkan dari Kim, dan hanya orang-orang dengan loyalitas tinggi yang tertanam dalam hatinya yang bisa memahami apa yang mereka rasakan dan mengapa mereka mau benar-benar setia kepada seseorang di hidup ini... Bahkan walaupun hidup mereka benar-benar cuma sekali, mereka dengan senang hati mau mempersembahkannya hanya kepada Kim Hans Suppanad,


"Pokoknya kau harus ikut denganku nanti untuk melihatnya... Agar setidaknya aku bisa tahu apa penyebabnya dan bisa kembali fokus pada hal lain dan tidak memikirkan sesuatu yang membuatku terganggu oke bosp?" Ujar Jeab lagi pada Kim membujuk Kim agar segera setuju dan menghilangkan rasa penasarannya ketika melihat sesuatu dari pemuda yang sekarat itu,


"Kau ini ya... Baiklah tapi setelah aku melihat kondisi Aom sudah benar-benar baik baru aku akan mengabulkan permintaanmu ini... Paling-paling cuma karena lukanya yang langka atau kau terkesan melihat kondisinya yang sedang kritis saja... Kau kan terkadang memiliki pandangan yang begitu unik pada para pasienmu yang hampir mati Jeab hahaha" Sahut Kim santai menyetujui permintaan sahabatnya itu asal Aom sudah dalam kondisi yang lebih baik nantinya...


"Oh ya... Aku ingat kau mau mengirim Art dan Tan ke Hongkong membantu Mario dan Nan menyelesaikan konflik di sana? Kapan mereka akan berangkat? " Tanya Jeab pada Kim ketika mereka mencapai tangga terbawah,


"Rencananya aku akan mengirim mereka besok pagi, tapi melihat dan mempertimbangkan kondisi saat ini mungkin akan aku undur ke besok sore atau lusa karena aku tidak mau mengirim putra-putraku yang sedang tidak fokus ke misi yang berbahaya... Jika itu aku lakukan maka sama saja aku mau membunuh mereka berdua, jadi sebelum mereka pergi aku akan berbicara dan membujuk Aom agar ia setuju dan putraku juga bisa tenang dan kembali fokus pada misi mereka tanpa harus menghawatirkan kondisi ibu mereka disini..." Sahut Kim


"Tidak perlu cemas kawan... Asal Aom istirahat yang cukup, makan yang cukup dan sesuai dengan apa yang aku tulis dalam catatan tadi maka paling tidak besok pagi dia pasti sudah kembali sehat dan tersenyum cerah seperti biasanya..." Ujar Jeab penuh keyakinan sebagai dokter pribadi bos besar sekaligus sahabatnya ini,


"Aku percaya padamu dan juga kemampuan medismu... Tapi aku tidak percaya dengan matamu ini! Senyum yang cerah? Jadi selama ini kau selalu memperhatikan istriku begitu?!" Tanya Kim sambil menendang Jeab yang tidak dapat menghindar karena serangan tiba-tiba itu,

__ADS_1


"Kau suami posesif yang gila!" gerutu Jeab sambil menjauh memastikan ada jarak diantara dirinya dan bos besarnya yang posesif parah pada istrinya itu,


"Sudahlah cepat pergi sana!" Ujar Kim menyuruh Jeab cepat pergi dari hadapannya,


Mengusirnya seperti biasa dan seperti biasa juga Jeab menanggapinya hanya dengan menggerutu tak jelas walaupun dalam hati ia tak benar-benar merutuki sifat Kim yang satu ini, tetapi tetap saja menggerutu pelan sesuka hatinya seperti saat ini dan tentunya tanpa ada yang mendengarnya dapat membuat suasana hati Jeab merasa lebih baik setelah menerima pengusiran seperti biasanya dari Kim yang poin utamanya hanya satu...


TIDAK ADA PRIA LAIN YANG BOLEH MENDEKATI AOM DENGAN ALASAN APAPUN!


"Ingat janjimu tadi, setelah Aom pulih besok kau akan menemaniku melihat pemuda itu di rumah sakit! ingat itu!" Ujar Jeab sambil berjalan mundur dan mengingatkan Kim akan permintaannya serta janji yang Kim berikan barusan,


"Ya" Sahut Kim singkat kemudian mengeluarkan catatan yang Jeab berikan padanya tadi dan memanggil seorang pelayan yang dengan sangat cepat datang menghampirinya,


***


Sementara itu di markas pelabuhan,


Art terlihat sedang merapikan beberapa berkas dan juga begitu banyak surat-surat resmi seperti paspor dan bisa, sementara Tan tampak mondar-mandir tidak jelas serta rasa khawatir yang tidak pernah lepas dari wajahnya...

__ADS_1


Alasannya tentu sudah jelas, karena mereka tetap dikirim pergi untuk menyelesaikan misi oleh ayahnya ke Hongkong yang mengharuskan mereka pergi jauh dari sisi ibu mereka yang kini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja bersama dengan calon adik mereka yang belum lahir itu...


"kakak, apa kakak yakin kalau kita harus benar-benar pergi besok pagi? kakak lihat kondisi ibu kan? " tanya Tan untuk kesekian kalinya menanyakan hal yang sama pada kakaknya, sementara Art yang sudah mulai bosan menanggapi pertanyaan itu-itu saja sedari tadi hanya bisa menghela napas berat,


"Ya Tan... kita harus pergi, itu perintah ayah... dan ingat, setelah kita take off besok... tinggalkan semua beban dan kekhawatiranmu di negara ini dan fokus menyelesaikan misi yang ayah berikan pada kita... jangan pernah kehilangan fokus karena tentunya kau tahu bahwa setiap saat nyawa kita bisa melayang kalau bertindak gegabah sedikit saja... " ujar Art mengingatkan sambil tangannya kali ini tidak lagi merapikan berkas ke dalam tas kerja mirip koper tipis itu...


Kini bukan berkas maupun surat-surat penting yang ia bereskan, melainkan beberapa bagian senjata yang telah dibongkar hingga setiap bagiannya menjadi berukuran sangat kecil-kecil, dan dengan sangat lihai tangannya memasangkan bagian-bagian itu ke setiap bagian tas itu seolah-olah semua bagian dari senjata itu adalah aksesoris lumrah yang terpasang di sana...


"Huh! baiklah, tapi setidaknya kita harus melihat keadaan ibu sebelum kita pergi kak" ujar Tan lagi sambil membungkus 2 bilah pedang samurai miliknya dan juga milik kakaknya Art yang tentunya adalah pemberian dari ayah mereka setelah ia dan kakaknya benar-benar bisa menguasai segala macam teknik samurai yang diajarkan oleh seorang ahli pedang yang tak lain adalah Kim Hans ayah mereka sendiri...


Namun ketika sudah selesai membungkus kedua pedang mereka itu dengan rapi seolah-olah itu hanyalah souvenir biasa, tiba-tiba tatapan mata dan juga tangannya terhenti di katana milik ayahnya yang terlihat begitu keren dan mengagumkan seperti si pemiliknya, seolah-olah katana itu bisa mewakilkan dan menunjukkan karakteristik dari tuannya sendiri...


______________________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


vote like dan komentarnya guys...

__ADS_1


kasi rating juga karyanya Author ya...


__ADS_2