
HAPPY READING GUYS
________________________
Di ujung gorong-gorong itu terlihat ada beberapa perangkat elektronik yang dipasang dan saling terhubung satu sama lainnya di atas sebuah meja darurat yang terlihat sangat mudah untuk dibongkar pasang, ada juga beberapa orang yang berjaga di sekitar kawasan itu menghadap ke seluruh penjuru mata angin...
Sementara itu di hadapan semua alat elektronik yang mengeluarkan cahaya yang berpendar cukup terang hingga terlihat dengan jelas wajah seorang pria yang sangat familiar bagi Tan, pria yang selalu ia nantikan kehadirannya ketika ia menghadapi masa krisis dalam hidupnya... Siapa lagi kalau bukan ayahnya sendiri, problem solver terbaik yang pernah ia ketahui sepanjang hidupnya sampai saat ini...
“Ayah! Aku perlu orang untuk segera menjemput kakak!” ujar Tan langsung tanpa basa-basi kepada ayahnya yang terlihat sangat fokus menatap beberapa layar yang ada di hadapannya,
“Ayah!” teriak Tan karena tidak mendapatkan tanggapan apapun, selain itu ia menjadi semakin tidak nyaman akan perasaannya sendiri yang dari waktu ke waktu semakin tenggelam merasakan suatu krisis, ia tidak tahu kenapa, tapi jauh di dalam hatinya ada sesuatu yang membuatnya menjadi sangat tidak nyaman bahkan hanya untuk bernapas saat ini,
“Sudah terlambat” gumam Kim membuat Tan hanya bisa membuka lebar mulutnya, ia benar-benar tidak percaya kalau ayahnya bahkan akan menyerah seperti ini padahal belum mengirim bantuan apapun,
“Apakah nyawa kakak tidak berharga?!” gumam Tan dalam hatinya sementara rahangnya mengeras karena kesal,
“Apa ayah tidak akan mengirim bantuan? Kalau begitu aku akan pergi sendiri menyelamatkan kakak!” ujar Tan dalam kondisi pikirannya yang sudah mulai kalut saat ini memikirkan nasib kakaknya yang sekaligus menjadi rekannya dalam misi kali ini, sambil mengepalkan tangan dan juga menggertakkan giginya ketika ia hendak berbalik tiba-tiba ayahnya bangun dan berjalan memutari meja lalu berdiri di hadapannya tanpa mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya,
Selama beberapa saat keheningan tercipta dan hanya suara aliran air yang terdengar, untuk beberapa alasan Mario langsung membalikkan badannya membelakangi ayah dan anak ini sambil berjaga-jaga... Seakan ia tahu apa yang akan Kim lakukan kepada anaknya saat ini dan ia tidak ingin ikut campur di dalamnya, tidak ingin karena memang tidak bisa tentunya...
“Apa yang ayah katakan sebelum kalian mengambil misi ini? Apa kau ingat?” tanya Kim yang akhirnya bersuara,
__ADS_1
“Apa itu penting sekarang?! Kakak sedang dalam bahaya!” teriak Tan karena tidak paham bagaimana bisa ayahnya masih berbicara omong kosong di kondisi seperti ini,
“Jawab!” bentak Kim hingga membuat mata Tan semakin membulat,
“Jalani misi, susun strategi, jangan mati dan jangan gagal” sahut Tan masih dengan tangan mengepal dengan kuat menahan kekesalannya sendiri,
“Jalani misi Oke, susun strategi big no, jangan mati, jangan gagal” sahut Kim menanggapi dan ekspresi di wajahnya benar-benar tidak tertahankan saat ini, ia memerah seakan-akan kepalanya bisa meledak kapan saja,
Melihat semua ini, kekesalan di dalam hati Tan sedikit demi sedikit digantikan oleh rasa takut karena sepanjang hidupnya sampai saat ini ia tidak pernah melihat kemarahan dari ayahnya hingga ke tahap ini,
“Seperti dugaanku, kalian memang memandang remeh misi yang bahkan dapat menghilangkan nyawa kalian sendiri hanya karena selama ini kalian selalu menjadi superior di seluruh kawasan Thailand kita” ujar Kim sambil menggertakkan giginya menahan emosi, terlebih lagi ketika ia menyadari fluktuasi emosi dari anak keduanya ini yang benar-benar tidak stabil dan selalu hanya terikat pada dirinya dan juga kakaknya, seakan ia hanya bisa menggantungkan setiap hal kepada kakak dan ayahnya,
“Bukan begitu! Kami sangat serius dan tidak meremehkan apapun ayah, kami...” sebelum Tan dapat menyelesaikan ucapannya Kim langsung memotongnya,
“Kakak mengatakan ini yang terbaik dan langkah yang paling efisien!” sahut Tan sambil mengerutkan keningnya waspada, ia merasakan aura yang mengerikan dari ayahnya saat ini,
“Lalu kau setuju begitu saja? Apa ini memang yang terbaik? Dari segala analisa ini yang terbaik untuk dilakukan? Kalian memiliki pemikiran yang sama? Atau kau hanya menjadi anak yang penurut? Meskipun tahu ada jurang hanya karena disuruh untuk melompat kedalam jurang oleh Art maka kau akan dengan senang hati melompat tanpa mengutarakan argumentasi apakah itu tidakan terbaik untuk dilakukan atau tidak?” ujar Kim mencercar putranya dengan kata-kata yang tajam dan langsung ke inti permasalahan yang benar-benar sudah mereka pahami,
Mengerti akan semuanya, Tan bahkan tidak membantah sedikitpun, ia kembali ke akal sehatnya.... Ia perlahan menundukkan kepalanya ketika mengingat sebelumnya ketika mereka menyelinap masuk, ketika semuanya terasa berjalan lambat akhirnya kakaknya memutuskan untuk berpencar agar menghemat waktu dan juga upaya untuk menemukan tujuan dari misi mereka,
Sebenarnya Tan memang sedikit tidak setuju karena itu meningkatkan tingkat bahaya yang bisa mereka terima dikarenakan mereka sedang menyelinap di sarang musuh dan musuh mereka saat ini merupakan kelompok terkuat selama beberapa dekade di negara ini, jadi sebenarnya tindakan untuk memitigasi resiko adalah hal utama, mengefisienkan waktu hanyalah masalah sekunder yang tidak penting sebenarnya...
__ADS_1
Tapi karena kepercayaan butanya kepada kakaknya, maka Tan mengurungkan niatnya untuk menolak saran itu alih-alih mengikuti semua perintah kakaknya dengan senang hati...
Tan juga tahu bahwa ini adalah kelemahan terbesar dalam dirinya, entah sudah seberapa sering ayahnya memarahinya karena masalah ini tetapi pada kenyataannya ia masih tetap sama sifat ini seakan tidak dapat ia rubah,
Hingga saat ini, kekurangannya ini telah mendorongnya sampai ke jurang terburuk yang bahkan tidak pernah ia bayangkan satu kali pun dalam hidupnya, ia tanpa sadar telah mendorong dan mendukung kakaknya untuk melompat ke lubang api besar...
“Dimana gelangnya?” tanya Kim dengan cepat lalu kembali duduk di depan layar yang menunjukkan grafik dan angka,
“Ini ayah...” sahut Tan sambil melipat baju lengan panjangnya hingga sebuah gelang hitam dengan setitik lampu terlihat, itu adalah gelang yang selalu harus mereka gunakan di setiap misi tanpa pengecualian yang sebenarnya mereka berdua tidak tahu kenapa ayahnya selalu memerintahkan mereka untuk memakainya,
“itu adalah indikator kehidupan kalian” ujar Kim seolah tahu akan kebingungan yang ada di kepala putranya saat ini,
“lihat ini, persentase dari indikatormu adalah 85% itu artinya dirimu terluka, dan itu terlihat jelas dari lengan atasmu yang berdarah, sementara Art, kakakmu...” ujar Kim memandang layar monitor itu lalu mengepalkan tangannya,
“20%? Apa maksudnya ayah?! Apa kakak sedang sekarat?” tanya Tan dengan tangannya bergetar hebat,
“Sepertinya menghancurkan stasiun kereta hari ini tidak akan memberikan efek yang signifikan untuk kita” ujar Kim pada Mario yang mulai menoleh padanya,
“Kakakmu sekarat namun ia tidak akan dibiarkan mati begitu saja... Karena ketua sesungguhnya dari SYO punya kebiasaan yang 'unik' ” ujar Kim sambil menggertakkan giginya ketika kata unik itu keluar dari mulutnya,
______________________
__ADS_1
Kasi komentar atau kesan kalian sama isi novelnya
😉😁🥂