Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
bukan waktu yg tepat


__ADS_3

tringg..tringg


telepon masuk terdengar lagi.


"halo Satria? kau baik baik saja? apa yang terjadi dengan istri mu sehingga dia bisa membutuhkan donor darah?." tanya wanita di sebrang telepon


"cerita nya panjang, apa kau bisa membantu ku?." tanya Satria


"aku akan membantu mu, kau ingat? golongan darah ku sama dengan Adinda, secepat nya aku akan ke sana bersama suami ku." kata wanita tersebut


"terimakasih Selin, hati hati."


tut, telepon pun terputus.


Satria kini kembali ke ruangan Adinda, ia berkata "sebentar lagi, Selin akan datang untuk mendonor kan darah nya pada mu."


✖✖✖✖


ketika Selin datang, ia pun segera mengikuti perkataan dokter dan melakukan transfusi darah itu.


.


.


.


.


.


di luar,

__ADS_1


"apa yg terjadi pada Adinda?." tanya Jonatan


"sudah lah tak perlu dibahas sekarang." sahut Satria


"tentu saja perlu, atau jangan jangan kau menyembunyikan sesuatu dari kami semua? kau menyakiti Adinda?." kata Jonatan


"berhenti berbicara begitu!." kata Satria kesal


"kenapa kau marah? jika kau tidak merasa yasudah jangan emosi, sudah lah Satria jujur saja pada ku, aku bisa membantu mu jika kau sedang dalam masalah." gumam Jonatan


"aku memang sedang dalam permasalahan, aku bahkan tega membiarkan istri ku terluka." kata Satria


"ceritakan semuanya pada ku, tidak baik memendam masalah sendirian, kau mau menjadi orang gila?." tanya Jonatan


"hei! tentu saja tidak, memang nya kau mau?!." ucap Satria


"tentu saja tidak, aku tidak akan menjadi orang gila karena ketika aku mempunyai masalah aku selalu menyelesaikan nya bersama dengan istri kebanggaan ku." sahut Jonatan


"tidak seperti kau, mempunyai masalah dan istri menjadi korban, padahal istri bisa jadi penyemangat untuk menyelesaikan masalah itu, sifat mu sungguh diluar dugaan." kata Jonatan menggeleng


"apa aku seburuk itu?." tanya Satria dengan tatapan serius


"kau bahkan lebih buruk dari apa yang aku bayangkan." sahut Jonatan


"kau?!!!!."


"tuan, kita telah berhasil melakukan transfusi darah, kali ini kondisi nona Adinda sudah mulai membaik, tapi belum begitu normal." kata dokter yg datang secara tiba tiba


"ah syukurlah." sahut Jonatan


"saya harus melihat nya." Satria bergegas masuk ke dalam tanpa mendengarkan kata dokter

__ADS_1


tap..tap..tap


"Adinda? cepat lah sadar, karena Arkan membutuhkan mu." kata Satria


"ekhmm, apa kau yakin tidak membutuhkan wanita dihadapan mu itu?." tanya Tania yang masuk secara tiba tiba


"mah?." guamam Satria


"ceritakan pada mama, apa yg membuat mu menjadi seperti ini?." kata Tania


"aku tidak apa apa, hanya..."


"berhenti lah untuk mencari cari alasan, karena sampai kapan pun kau menyembunyikan masalah mu, mama akan tetap mengetahui nya, feeling seorang ibu tidak pernah salah nak." ucap Tania lagi


"jadi, waktu itu-." belum sempat Satria menyelesaikan kalimat nya seseorang masuk ke dalam ruangan Adinda


"permisi tante, Satria, maaf mengganggu kalian tapi aku kesini untuk menjenguk Adinda." ucap teman Adinda


"oh iya nak silahkan, terimakasih atas waktu nya." ucap Tania


Satria segera bergegas pergi menuju keluar dan tidak jadi untuk membicarakan alasan mengapa dia menjadi seperti sekarang


ada ada saja, mungkin sekarang bukan waktu yg tepat untuk Satria bisa menceritakan semua nya pada ku. gumam Tania Anggara


"tante? dimana Arkan?." tanya teman Adinda


"Arkan bersama dengan Desi, ada apa nak?." kata Tania


"tidak apa apa tante, apa benar yg menyebabkan Adinda seperti ini adalah suami nya?." tanya teman Adinda


"sssstt, lebih baik kita ga bahas ini sekarang ya." ucap Tania

__ADS_1


"baik lah tante."


__ADS_2