Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
aura kebencian


__ADS_3

setelah penguburan Tio Anggara, Adinda pun terbangun dan melihat sekeliling.


"pa.. papaaa." sebut Adinda, ia mulai menangis lagi


"sayang, sabar ya, papa sudah tenang di alam sana." kata Satria mengelus kepala istrinya seraya memeluk erat


"jangan mas, jangan ambil papa." ucap Adinda terus bergulir air mata


"jangan menangis terus, papa akan sedih melihatmu begini." ujar Satria berusaha menenangkan istrinya


"mas jahat sama aku! kenapa mas tidak bicara kalau papa pergi!! mas tega!." Adinda terus meneriaki suaminya dengan rasa kecewa, sementara Satria berusaha mengerti dengan kondisi istri tercintanya.


Adinda pasti sangat sulit menerima kenyataan kalau Tio Anggara telah tiada, karena Adinda benar-benar menyayangi Tio dan istrinya, ia bahkan sudah menganggap Tio sebagai ayah tercintanya selama dia hidup dengan Satria.


"maafin mas Din, mas hanya tidak ingin kamu syok dan tidak terima dengan semua ini." balas Satria, lalu Adinda beranjak berdiri dari kasur nya dan mulai berjalan seraya memanggil-manggil papa.


"papa.. jangan tinggalin Adinda pa, Adinda sayang sama papa." kata Adinda berjalan sempoyongan lalu ambruk lagi dilantai


"Adinda?!!!!." teriak Satria berlari ke arah istrinya dan memangku nya


"sayang aku mohon jangan seperti ini, aku sangat khawatir denganmu." kata Satria


"mas, tolong bawa papa ke hadapanku, aku ingin memeluk dia hanya untuk terakhir kalinya saja." gumam Adinda dengan suara lemah, matanya terpejam namun air mata nya tetap berjalan. melihat sang istri seperti ini, rasanya Satria ditikam oleh benda yang sangat tajam hingga ke dasar hatinya.


"sakit, sakit sekali melihatmu seperti ini." ucap Satria mengelus pipi Adinda lembut


"mas, kamu dengar aku kan?." tanya Adinda


"Adinda sayang, sebaiknya kamu beristirahat untuk sekarang-sekarang ini, mas khawatir kamu kenapa-napa." ucap Satria menggendong Adinda dan membaringkan nya di atas ranjang.


"paaa.. papa dimana? papa dengar aku kan, aku ingin papa disini sebentar saja." ucap Adinda masih dalam kondisi mata terpejam, Satria segera mencium kening istrinya dengan waktu yang lama dan memegangi tangan Adinda.


"maafkan aku Din, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu kali ini, aku tidak bisa membawa papa kehadapan mu." kata Satria


ketika Adinda sudah tertidur pulas, Satria keluar dari dalam kamar dan duduk di sofa ruang santai.


dari cara ia duduk dan melamun, semuanya sudah terlihat sangat jelas kalau sebenarnya Satria tidak mampu menghadapi hal seburuk ini, tapi mau tak mau dia harus tetap kuat, karena jika bukan dirinya lalu siapa lagi.


"Satria, kamu terlihat sedang tidak baik." ucap Tania Anggara mendekati putranya


"ma, mama kenapa tidak istirahat? pasti sangat lelah sehabis melakukan penguburan tadi." kata Satria


"mama baik-baik saja nak, kamu harus sabar ya, mama tau semua ini sangat berat untuk mu, apalagi keadaan Adinda yang mungkin sedikit terguncang saat papa pergi, tolong jangan lelah untuk terus menguatkan diri dan juga istrimu." kata Tania Anggara


"jangan khawatir ma, ya sudah sekarang mama istirahat, Satria antar ke kamar." ajak Satria membantu Tania memasuki kamar nya


sesaat, Satria meminum segelas teh hangat untuk merilekskan tubuhnya, namun tiba-tiba matanya tertuju pada istrinya yang sedang menuruni anak tangga dengan pandangan kosong.

__ADS_1


"Adinda?!!." Satria segera meletakkan gelas tersebut dan berlari menangkap istrinya, takut sewaktu-waktu Adinda terjatuh


"sayang, kenapa kamu kemari? apa kamu haus? lapar?." tanya Satria lembut


"mas, dimana papa?." tanya Adinda memegang bahu suaminya


"sini sayang, ikut mas." ucap Satria mengajak istrinya turun secara perlahan-lahan dan duduk di sofa


"Desi, tolong buatkan teh hangat untuk istriku." pinta Satria


"baik tuan, oh iya Arkan sudah tertidur pulas dikamar dengan nona Selin dan putri nya." ucap Desi dibalas senyuman oleh Satria, setelah Desi kembali membawa segelas teh hangat, Satria segera mengambil alih dan memberikan nya kepada Adinda


"minum dulu." pinta Satria, beberapa menit Adinda meminum teh itu hingga habis, dan bersandar ke pelukan suaminya.


"mas, kenapa papa tidak bilang padaku kalau dia akan pergi?." tanya Adinda


"semua sudah diatur oleh sang pencipta sayang, siapapun akan kembali padanya, termasuk mas." ucap Satria membuat Adinda menatap dirinya dengan takut


"tidak, aku tidak mau kehilanganmu, tolong jangan." gumam Adinda memegang tangan Satria erat, tergambar jelas aura ketakutan dalam diri Adinda saat ini.


"mas akan temani kamu setiap hari sampai kamu benar-benar membaik Dinda, mas ga akan pernah tinggalin kamu dalam keadaan apapun." ucap Satria memeluk istrinya lagi, Adinda hanya diam karena pikiran nya masih linglung dengan kejadian hari ini, dia masih tak menyangka atas kepergian papa, padahal semalam dia masih bertelepon dan berbincang sama-sama.


"sebenarnya apa yang terjadi sama papa mas? kenapa tiba-tiba dia meninggalkan kita semua?." tanya Adinda


"papa terkena serangan jantung, aku bahkan belum tahu apa sebabnya." kata Satria


"aku berjanji sayang, aku akan mencari tahu penyebabnya." balas Satria


setelah 5 hari kemudian, Adinda sudah terlihat jauh lebih baik dari pada sebelumnya, akan tetapi dia masih belum banyak bicara.


"sayang, kita pergi yuk?." ajak Satria


"mau kemana mas?." tanya Adinda


"kita ke mall, mas lihat tas kamu sudah sedikit lecet, lebih baik kita membeli nya yang baru, kamu boleh belanja apa saja di sana, sekalian mas mau belikan hadiah untuk mama." ucap Satria di anggukan istrinya


...


di mall, Adinda dan Satria memutari toko tas yang sering ia beli, tetapi rupanya belum ada yang pas di hati Adinda.


"apakah dari tadi belum ada yang cocok untuk mu sayang?." tanya Satria menghentikan langkah kaki nya


"aku belum bisa menemukan yang pas, maukah kau menungguku sebentar lagi?." ucap Adinda menatap suaminya


"tentu saja, aku akan menunggumu sampai kapan pun." Satria kembali menggandeng istrinya dan lanjut berjalan, tak lama kemudian Adinda melihat sebuah tas berwarna silver dilapisi beberapa butir berlian di setiap sisinya.


dengan cepat Adinda menuju tempat tas itu berada, sementara suaminya ingin menyusul tetapi tiba-tiba bertemu seseorang yang dikenalnya

__ADS_1


"halo Satria, apa kabar?." ucap seorang laki-laki tersebut


"oh ya tuhan, Jack? kau disini?." tanya Satria


"ya, aku baru saja tiba pagi tadi, kudengar tuan Tio Anggara telah tiada, bagaimana semua itu terjadi?." ucap Jack


"entahlah, aku sedang menyelidiki penyebab kematian papaku, jika semua itu terjadi atas kesengajaan seseorang yang mencoba menginginkan kematian nya, aku akan membunuhnya." jawab Satria dingin, tatapan nya terlihat sangat mengerikan, Jack hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dia turut bersedih atas kepergian Tio.


sementara disisi lain, ketika Adinda baru saja ingin mengambil tas yang dia inginkan, justru tas itu sudah lebih dulu dipegang seseorang.


"ini milikku!." ujar wanita itu dengan tatapan sombong


"berikan tas nya padaku, aku lebih dulu melihatnya." kata Adinda


"memang nya kau siapa memintaku memberikan tas ini padamu?!." ucap wanita itu lagi


"aku sangat menginginkan nya." ucap Adinda


"dasar wanita tidak tahu malu, bisa-bisanya bermimpi untuk memiliki tas semewah ini." kata nya lagi


"ya sudah, aku mengalah padamu." Adinda ingin beranjak pergi, ia pikir dirinya masih bisa menemukan tas yang lebih bagus ditempat lain dari pada harus bertengkar dihadapan banyak orang.


"hei! mau kemana kamu?!." kata wanita itu menarik lengan Adinda dengan kasar


"aghh! lepaskan." gumam Adinda menepis tangan wanita yang tak dia kenali itu


"jangan kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah menyuruhku untuk memberikan tas ini padamu!." ucap wanita tersebut, lalu ia menarik Adinda untuk ikut bersamanya.


ia menyeret Adinda ke sebuah toilet yang tak jauh dari tempat itu.


"mau apa kamu?!." ucap Adinda, wanita sombong itu memasukkan Adinda ke dalam toilet dan menyemprotkan air ke tubuhnya dengan ganas


"aaaaah!!! hentikan tindakan mu!." teriak Adinda


"ini balasan untuk wanita sepertimu! asal kamu tahu, keluargamu telah menghancurkan hidupku!!!! kekasih hatiku mati, itu semua karena suruhan mertua mu! aku memang tidak kenal siapa kamu, tapi aku ingin kamu juga mati agar Satria tahu betapa sakitnya ditinggal pasangan hidup yang sangat dia cintai!." kata wanita tersebut, sepertinya ada aura kebencian yang mengalir didalam dirinya untuk keluarga Anggara setelah kematian Anggara.


"apa salahku padamu!!!." teriak Adinda lagi, ia tak bisa melawan karena cengkraman erat wanita itu begitu dalam, ia juga menendang kaki Adinda hingga Adinda merasa kesakitan


"mas Satria..." panggil Adinda, ia berharap suaminya datang dan menghentikan perbuatan wanita dihadapan nya ini


"silahkan kamu panggil suamimu itu! dia tak akan mendengar kita hahahaha." sepertinya wanita itu sudah kehilangan akal, sampai-sampai ia tak takut jika seseorang mendengar suara jeritan Adinda.


kemudian setelah Satria selesai berbicara dan ingin menyusul istrinya, ia tersadar kalau istrinya tidak ada di sana.


Satria mencoba menghubungi istrinya namun dengan keji wanita yang sedang menyakiti Adinda segera menginjak ponsel tersebut sampai hancur.


"jangan! jangan hancurkan ponsel ku, aku mohon." balas Adinda,

__ADS_1


"kenapa Adinda tidak menjawab panggilan telepon dariku?." gumam Satria


__ADS_2