Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Mati lampu


__ADS_3

"Obsesi ? mana mungkin, kau yang ingin menikah denganku. Hal itu terjadi tanpa paksaan, sekalipun aku mencintaimu." Kata Jeremy.


"Aku harap kau benar, lagi pula aku yang menginginkan pernikahan ini. Bahkan aku merebutmu dari Marry." Agatha menunduk sedih.


"Tidak, kau sama sekali tidak merebut apapun darinya. Kau tahu takdir ? dia menyatukan kita dengan cara seperti ini. Aku memang tidak sebaik Greg, perlakuanku jauh berbeda dengannya, tapi aku akan menepati janji untuk membuatmu bahagia." Ucap Jeremy.


"Rasanya seperti mimpi kalau sekarang kita sudah menikah, aku tidak pernah berpikir akan secepat ini." Ia menyadari Agatha benar-benar terkejut akan hal yang terjadi sekarang.


"Aku ingin tahu kenapa kau memilih menikah denganku, aku yakin tidak mungkin kau melakukannya karena keinginan. Pasti ada suatu hal yang membuatmu seperti ini kan ?." Agatha menatap mata Jeremy, tiba-tiba menangis sambil memeluknya.


"Sebenarnya aku- aku takut Jeremy. Saat itu Leonard mendatangiku, membekap mulutku seakan akan dia akan memakan tubuhku." Jeremy terkejut, merasakan tubuh Agatha gemetar dan dingin.


"Leonard ?." Agatha mengangguk.


"Dia memintaku membebaskan Greg dalam waktu dua hari, jika tidak dia akan membahayakan semua keselamatan keluargaku, dan aku tidak mungkin diam saja." Kata Agatha menjelaskan.


"Agatha, respon tubuhmu benar-benar berbeda. Ceritakan padaku kenapa kau begitu takut padanya." Agatha memeluk Jeremy sangat erat.


"Dia- dia.." Jeremy melihat Agatha sangat tidak tenang, lalu membelai kepalanya sambil mencium kening itu.


"Kau aman bersamaku, katakan saja." Agatha berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk cerita pada pria yang kini sudah menjadi suaminya.


"Dia hampir memperkosaku.." Jeremy syok ! bagaimana mungkin Agatha mendapat perlakuan seperti itu.


"Apa ?! apa dia ada hubungannya dengan Greg ?." Agatha mengangguk.


"Dia adik kandung Greg." Jeremy benar-benar tidak percaya, mengapa bisa Greg diam saja saat adiknya melakukan hal tidak pantas.


"Dimana Greg saat kau kesulitan ?." Tanya Jeremy.


"Dia datang saat pakaianku telah dirobek, aku- aku sangat takut. Leonard menyeramkan Jeremy, dia benar-benar gila." Jeremy memeluk istrinya erat, terus mengelus kepalanya agar dia sedikit lebih tenang.


"Aku bisa pastikan kau tidak akan bertemu cecunguk itu lagi." Ucap Jeremy.


"T-tidak, jangan lakukan apapun padanya. Walau begitu dia tetap saudara kandung Greg." Pinta Agatha memohon.


"Apa ketakutanmu saat aku sentuh semalam karena ini ?." Agatha melihat wajah Jeremy.


"Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana membiarkan tubuhku disentuh orang lain." Jeremy menghela nafas.


"Tapi aku suamimu, jangan anggap aku ini orang lain." Kata Jeremy.


"Aku sedang berusaha mempercayai kenyataan itu." Jawab Agatha.


"Aku akan meminta dua orang bawahanku untuk menemani kemanapun kau pergi, aku ingin kau aman dari para bajingan seperti Leonard." Jeremy sempat mengingat pekerja dikantornya, karena salah satu dari mereka juga ada yang bernama Leonard.


"Aku tidak perlu ditemani, kau tahu aku tak pernah kemana-mana ?." Jeremy tersenyum kecil.


"Kau memang tidak pernah kemana-mana, tapi kemarin kau menemui Greg." Kata Jeremy.


"Aku tidak akan mengulanginya."


Entah sudah beberapa jam berlalu, Agatha sibuk menonton televisi sementara Jeremy bermain ponsel.


"Sebentar, aku akan mengambil cemilan dibawah." Ucap Agatha meletakkan remote nya.

__ADS_1


"Lupa ? kau bisa dengan mudah menekan tombol ini." Ucap Jeremy.


"Tidak perlu, aku punya kaki." Pria itu mengangguk lalu kembali memainkan ponsel.


Agatha memasuki lift, kemudian keluar untuk mencari cemilan yang dia maksud didapur.


"Nona, kenapa tidak meminta bantuan kami ?." Ucap salah satu pelayan yang belum terlalu dikenal oleh Agatha.


"Ah tidak apa-apa, aku bisa mengambilnya sendiri, kau kerjakan saja tugas lain dengan baik." Agatha tersenyum.


"Nona Marry sudah pulang, sepertinya dia bosan." Pelayan tersenyum kecil.


"Itu berita baik, kalau begitu aku duluan ya karena harus mencari cemilan untuk dimakan." Agatha berjalan santai mendekati lemari es.


Trakk.


Tiba-tiba seluruh lampu dirumah besar ini mati, hal itu membuat jantung Agatha terkejut hingga berdebar.


"Nona ?! anda dimana ?." Pelayan meraba jalan sambil mencari tangan Agatha.


"Apa anda melihat saya ?." Katanya lagi.


Agatha juga sempat menjawab perkataan itu sambil meraba keadaan sekitarnya.


"Kenapa gelap semua ?!." Agatha merasa panik.


Disisi lain Jeremy juga sama terkejutnya saat lampu mati.


"Sejak kapan rumahku kena pemadaman listrik ?! ini pasti ada yang tidak beres." Ia sangat hafal bahwa rumahnya tidak pernah terkena kendala soal listrik.


"Agatha ?!." Jeremy bergegas keluar kamar, menyadari lift juga mati, ia nekat melewati tangga dengan memanfaatkan lampu senter dari ponselnya.


"Tuan ?! lampu padam." Sebut semua pelayan.


"Cari Agatha, temukan dia." Pinta Jeremy mengeraskan suaranya agar semua pelayan mendengar.


"Nona ?! mari kita cari." Kata para pelayan tersebut.


...


Tiba-tiba saja Agatha merasakan tangan seseorang, menghirup aroma parfum yang begitu familiar.


Ia berbalik, kemudian mendapati sebuah pelukan hangat.


"Aku merindukanmu." Suara lembut mengusik ketenangan hatinya, Agatha memegang bahu orang yang kini berdiri tepat didepannya.


"Greg ?." Ia merasakan hembusan nafas Greg.


"Bercerailah, aku akan menikahimu saat itu juga." Pinta Greg, cepat-cepat Agatha melepas pelukan tersebut.


"A-aku tidak bisa melakukan itu." Ia sedikit memundurkan tubuhnya agar menjauh.


"Apa alasannya ? kau tidak mencintai suamimu kan ? untuk apa menikah kalau hidupmu tidak bahagia ?." Greg terus mendekati wajah Agatha.


"Greg, jangan berusaha mengingatkan aku pada semua kenangan kita. Aku bersusah payah melupakan semuanya demi kebebasanmu." Mendengar itu Greg mengernyit.

__ADS_1


"Kebebasan ? apa maksudmu ?." Tanyanya.


"Leonard, Leonard mendatangiku. Dia sangat marah karena Ayah memenjarakanmu, tidak ada cara lain Greg. Syarat yang Ayah berikan hanya menikah dengan Jeremy. Aku sangat menyayangimu, aku ingin kau hidup bebas. Kau sama sekali tidak bersalah atas kejadian itu." Agatha hampir menangis karena lagi-lagi mengingat betapa dia mencintai Greg kala itu.


"Apa itu artinya kau menikah karena terpaksa ?." Greg memegang tangan Agatha.


"Awalnya begitu, tapi hari ini mungkin saja akan berubah. Jeremy memperlakukanku dengan sangat baik, tidak ada alasan untuk tidak jatuh cinta padanya." Kata Agatha.


"Benarkah ? kau tidak lagi berbohong ? Aku ini Greg Agatha. Aku tahu kalau kau sedang menipu dirimu sendiri kali ini." Greg segera memutar tubuh Agatha dan memeluknya dari belakang.


"Kau ingat saat kita latihan menembak ?." Greg memegang tangan Agatha seperti sedang melatihnya memegang pistol.


Agatha hanya diam, mengingat semua kenangan manisnya bersama Greg.


"Merindukanmu saja harus mempertaruhkan nyawa seperti ini, pasti kau mengerti kan seberapa besar cintaku untukmu." Mendengarnya lagi membuat Agatha kesal dan marah.


"Pergi Greg, pergi sebelum Jeremy mengetahui keberadaanmu. Dia akan marah besar dan segera menghabisimu." Agatha menangis sambil membujuk Greg pergi.


"Aku akan pergi jika kau ikut denganku, ceraikan dia." Pintanya lagi.


"Pergi Greg, lupakan aku. Lupakan hubungan kita dulu." Agatha mendorong Greg menjauh, tapi justru ia memeluk wanita pujaannya erat-erat.


"Lepaskan, tidak ada waktu lagi." Saat itu juga terdengar suara Jeremy memanggil namanya.


"Agatha ??!!." Kata Jeremy.


Greg mencium Agatha sambil mengunci tangannya agar wanita itu tidak bisa menolak.


"Agatha ini aku, kau dimana sekarang ?." Jeremy mengarah ke dapur seraya menyoroti ruangan itu dengan senter.


Ia menemukan pelayan yang sedang kebingungan tadi.


"Dimana Agatha ?." Tanya Jeremy.


"Nona tadi ke arah sana Tuan, saya khawatir dia akan ketakutan." Mendengar itu Jeremy berlari mencari Agatha ke ujung dapurnya.


Tepat saat kakinya terhenti, ia melihat Agatha sedang berciuman dengan Greg.


Agatha menyadari sorotan senter tersebut, sehingga membuat tangannya mendorong Greg sekuat tenaga.


"Kau disini ?." Jeremy tertawa.


"Pantas saja tidak bersuara, ternyata sedang menikmati kemesraan kalian ditengah kegelapan." Kata Jeremy, Agatha berusaha menjelaskan apa yang terjadi namun pria itu tak mau mendengarkan.


"Aku turun melewati tangga, berlari mencarimu, memanggil namamu, ternyata kamu disini ? benar-benar tidak habis pikir." Jeremy menyorot wajah Greg dengan marah.


"Ini pasti ulahmu !." Ia hendak memukul Greg tetapi Agatha memasang badannya sehingga tinjuan itu terkena pipi Agatha.


"Aaah." Keduanya sama-sama terkejut.


"Agatha ?!!." Sebut mereka berdua, saat itu juga lampu langsung menyala dan security datang memeriksa keadaan didalam. Tak disangka menemukan Jeremy dan Greg.


"Kebetulan kau disini, bawa dia keluar." Pinta Jeremy yang segera menggendong Agatha dalam pelukannya.


"Aku akan mengambil Agatha dari tanganmu."

__ADS_1


__ADS_2