Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
kesadaran


__ADS_3

di luar, suara langkah kaki terdengar mendekat, sesaat Satria menoleh


"Wina? mau apa?." tanya nya


"tuan Satria, saya turut bersedih atas apa yang dilakukan oleh nona Adinda, jujur saya sangat terkejut saat tahu berita ini dari karyawan yg lain, ini bunga untuk nona Adinda." ucap Wina berbicara seolah sedih saat Adinda terluka


"terimakasih, tapi kau tak perlu repot repot membawakan bunga seperti ini, karena aku bisa membelikan apapun untuk nya." jawab Satria


"benar kah? apa tuan juga akan selalu bisa memberikan apa yang nona Adinda inginkan?." kata Wina


"tentu saja." ucap Satria


"jika iya mengapa sekarang nona Adinda menjadi seperti ini?." kata Wina


"apa maksud ucapan mu?." tanya Satria sinis


"tidak tuan, lupakan saja. apakah tuan sudah makan? kalau belum, saya bersedia menemani tuan makan diluar." tawar Wina


"oh saya memang belum makan, tapi maaf, saya sama sekali tidak berkenan untuk makan bersama dengan kamu." ucap Satria kemudian berbalik memasuki ruangan Adinda


secara bersamaan, ketika Satria masuk Adinda pun mulai membuka mata perlahan..


"Adinda?." ucap Satria bergegas menghampiri istri nya

__ADS_1


"ka-kamu? kenapa kamu di-sini?." tanya Adinda dengan suara yg masih melemah


"itu tidak penting, bagaimana? apa kau sangat merasakan sakit? tangan mu terluka, kenapa kau begitu nekat melakukan nya." ucap Satria


"ah ya, tangan ku memang terluka tapi rasa sakit nya tidak sebanding dengan rasa sakit hati ku saat suami ku sendiri lebih membela wanita lain dari pada istri nya." ucap Adinda dengan mata berlinang


"maaf, mungkin kata maaf ku tidak bisa menyembuhkan luka mu, dan mungkin kau sangat bosan mendengar nya karena entah ini yg ke berapa kali aku meminta maaf pada mu, tapi hanya itu lah yang bisa aku lakukan." ucap Satria bersungguh sungguh


"kau tau? kau sangat menyakiti ku, tapi ya sudah lah, bagaimana pun aku tetap mencintai mu, tak perduli betapa keras nya sikap mu waktu itu pada ku, yang jelas aku tetap tidak ingin kehilangan mu." kata Adinda memaksakan senyum manis nya


"aku tidak tahu lagi harus berkata apa, kau benar benar wanita yang kuat, kau begitu sabar menghadapi sikap buruk suami mu ini, maaf kan aku." kata Satria menggenggam erat tangan istri nya


"aku akan selalu memberikan mu kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi." kata Adinda


diluar,,


"sial! kenapa tidak mati saja sih dia! jika begini, aku akan semakin kesulitan mendekati suami nya!!!." gumam Wina pelan seraya mengepalkan tangan


...


"Din, ya ampun kamu akhirnya sadar juga." ucap teman dinda


"kenapa? kamu khawatir ya?." tanya Adinda

__ADS_1


"yaiyalah, kalo kamu kenapa napa kan aku ga punya temen lagi dong jadi nya." ucap teman nya


"jangan khawatir, aku baik baik aja ko." kata Adinda


"bagus deh kalau gitu."


kreeekk...,, pintu ruangan terbuka


terpampang jelas wajah Wina di sana, dengan cepat Adinda membuang wajah nya ke arah lain agar tidak bertatap tatapan dengan Wina


"tuan? saya senang sekali istri anda cepat sadar." kata Wina


"terimakasih." jawab Satria


"nona? bagaimana? saya kesini datang untuk menjenguk anda, apakah tubuh nona tidak ada yg sakit lg?." tanya Wina


"hh, pertanyaan mu sama sekali tidak berguna!." ucap Adinda


"hei nona, kau harus berbicara pelan sedikit, jika tidak penyakit mu bisa semakin parah." kata Wina mengejek


"Satria?! lebih baik kau bawa wanita ular ini keluar, aku benar benar tidak sudi melihat wajah nya." ucap Adinda


"Wina lebih baik kamu keluar, karena kamu mengganggu ketenangan istri ku." kata Satria menyeret pelan Wina

__ADS_1


"astaga! kenapa istri mu itu tidak mati saja?!!!." ucap Wina kesal


__ADS_2