
sore hari Adinda mendengar Arkan memanggil-manggil dirinya, ia segera pergi ke kamar untuk melihat keadaan bocah kecil yang lucu itu.
"ya sayang, ada apa?." ucap Adinda berlutut dihadapan putranya
"bunda, aku lapar." gumam Arkan, matanya yang indah tampak berkedip-kedip saat mengatakan hal itu, Adinda tersenyum.
"bunda sudah buatkan kamu makanan, ayo ikut." suara lembut Adinda membuat Arkan merasa sangat nyaman dan bergegas melompat ke pelukan ibu tercintanya
"kau tidur pulas sekali, bagaimana mimpimu?." tanya Adinda
"semuanya gelap, aku tidak bermimpi apapun." sahut Arkan dibalas tawa kecil oleh sang ibu
"ya sudah, duduk disini, bunda akan ambilkan kamu makanan yang paling kau suka." ucap Adinda lalu menyuapi Arkan yang sambil bermain mainan nya di atas meja
"anak ayah sudah bangun." gumam Satria berjalan ke arah Arkan, kemudian mengecup kening itu dan mengelus lembut kepalanya
"ayah, dimana kau membeli mainan ini? aku sangat menyukainya." ucap Arkan
"ayah membelinya di toko mainan dekat kantor, jika kamu suka maka ayah akan memberikan nya lebih banyak lagi nanti, asalkan kau berjanji akan menjadi putra kebanggaan ayah." ucap Satria, Arkan menatapnya sejenak kemudian menaikkan jari kelingking itu
"aku berjanji." kata Arkan, lalu Satria mengaitkan kelingking mereka
"sudah, jangan bicarakan mainan terus, makan lah dulu sampai habis, setelah itu kau boleh melakukan apa saja yang membuatmu senang." ucap Adinda menyuapi Arkan lagi
"aku senang putra kita tumbuh sebagai laki-laki yang pandai." kata Satria
"aku juga senang mas, semakin dia bertambah besar semakin pintar cara bicara dan berprilaku nya." jawab Adinda, ketika makanan habis, Arkan kembali ke kamar dan membuka banyak mainan dari lemari, ia bermain di sana dengan anteng
"kamu tidak makan lagi?." tanya Satria
"tidak, aku belum lapar, bagaimana pekerjaan mu? sudah selesai?." ucap sang istri
__ADS_1
"pekerjaan ku hari ini sudah selesai dan akan dilanjutkan besok, kau mau buah?." kata Satria, Adinda mengangguk dan suaminya segera mengupas buah-buahan di atas meja
"buka mulutmu." Satria menyuapi belahan buah itu ke dalam mulut Adinda
"manis." Adinda tersenyum lalu membuka mulut lagi, cara ia mengunyah buah itu membuat suaminya sedikit terpana
"kau sangat menarik." gumam Satria, ia meletakkan pisau tersebut di atas meja dan menarik Adinda ke dalam pangkuan nya
"aku ingin tanya, seberapa banyak laki-laki diluar sana yang tergila-gila padamu?." tanya Satria membuat Adinda tertawa geli
"sayang, mana aku tahu berapa banyak laki-laki yang menggilai aku, lagi pula aku tidak secantik wanita pada umumnya, jadi jangan berpikir kalau ada yang menyukai ku diluar sana." kata Adinda memainkan jari-jari suaminya
"ck! mana mungkin, aku tahu betul kalau dulu Jonatan sangat tergila-gila padamu, bahkan bukan cuma dia saja tetapi banyak, dan belum lama ini Bryan juga mengejar dirimu terus menerus kan?." kata Satria
"kau cemburu?." kata-kata itu membuat Satria menjadi salah tingkah dan buru-buru menjawab
"tidak, aku sama sekali tidak cemburu, aku hanya bertanya kok." katanya
"iya iya, aku sangat cemburu dengan mereka, walaupun sebagian hanyalah sebuah masalalu." kata Satria
"saat ini memang ada satu orang yang sangat tergila-gila padaku, bahkan aku tidak tahu lagi dengan cara apa menghilangkan kegilaan nya." ucap Adinda membuat Satria melotot
"katakan! siapa orang itu! biar aku akan menghabisi nya." jawab Satria
"orang itu adalah..." Adinda sengaja membuat suaminya penasaran dan terus mengulang kata-kata yang sama
"siapa orangnya?." Satria menyipitkan mata
"orang itu adalah..." lagi dan lagi ucapan itu terulang, sampai-sampai Satria kesal dan mencium bibir bak cherry tersebut, ia melumut bibir itu dan menggendong nya menuju kamar tamu, ia tahu kalau Arkan sedang bermain di kamar jadi tak mungkin ia membawa Adinda ke kamar itu.
Satria terus memainkan lidahnya di dalam mulut Adinda, sementara Adinda hanya menikmati seraya mengencangkan kepalan tangan nya di baju sang suami
__ADS_1
Satria juga membaringkan tubuh istrinya perlahan-lahan ke ranjang, kemudian membuka baju wanitanya hingga dilempar ke sembarang arah. tubuh putih dan bersih Adinda selalu membuat Satria bergairah setiap harinya, ia benar-benar merasa kagum dengan kemulusan tubuh itu, pelan-pelan ia menuruni lidahnya sampai menuju leher, lalu menyesap hingga noda warna merah membekas di sana.
ketika dia ingin membuka kaitan bra Adinda, tiba-tiba saja Arkan datang dan langsung diam mematung saat melihat kedua orang tuanya sedang saling memeluk mesra sambil berciuman.
"bunda, ayah." gumam Arkan, matanya berkedip-kedip seolah tak tahu hal apa yang sedang dilakukan oleh Adinda dan Satria, mendengar suara itu keduanya sangat terkejut, Satria segera menutupi tubuh Adinda dengan cara memeluknya dan menoleh ke Arkan.
"hai nak, kenapa kamu kemari?." tanya Satria canggung
"aku ingin memberikan ini." Arkan melangkahkan kakinya ke depan kemudian memberi secuil barang
'Anting' ya, salah satu anting Adinda jatuh karena terlepas dari kaitan nya.
"terimakasih sayang, kalau begitu kau tunggu diluar, jika masih ingin bermain maka bermainlah di kamar." kata Satria
"baik ayah, aku akan kembali bermain." Arkan berbalik kemudian pergi, jantung Adinda berpacu dua kali lipat, saat menyadari kepergian Arkan ia segera memukul suaminya
"kenapa kau tak menutup pintunya!." gumam Adinda, ia bersandar di bantal tanpa memakai baju.
"a-aku tak akan mengira kalau Arkan akan datang kemari." jawab Satria
"cepat tutup!." protes Adinda, buru-buru Satria menutup pintu, sengaja tak menguncinya karena Arkan tidak akan mampu menggapai gagang pintu tersebut
"Arkan memberikan anting ini padaku, ku harap dia tidak melihatmu tanpa pakaian seperti tadi." kata Satria
"awas saja kalau Arkan akan mengingat hal ini sampai dia dewasa nanti! aku akan memarahi mu!." ucap Adinda kesal
"kita lanjutkan." Satria meletakkan anting di samping kasur, dan melanjutkan kemesraan mereka berdua
beberapa menit kemudian mereka berbaring lalu menyelimuti tubuh itu dengan selimut tebal, keduanya sama-sama tak mengenakan pakaian apapun, diam-diam suatu hal terlintas dalam pikiran Satria, memainkan ujung ****** sang istri yang berwarna pink itu dengan halus dan lembut.
tak disangka perbuatan nya kembali membuat Adinda mendesah kecil, matanya terpejam, hingga akhirnya tertidur oleh kenikmatan.
__ADS_1