Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Rumah sakit


__ADS_3

Setibanya mereka dirumah sakit, Adinda dengan cepat memanggil dokter dan Arkan segera dibawa ke dalam ruangan.


"Bunda, jangan tinggalkan aku." Arkan memegang tangan Adinda dengan erat.


"Iya sayang, Bunda disini, Bunda bersamamu, jangan khawatir." Adinda hendak masuk ke dalam ruangan mengikuti para pekerja medis tersebut, namun suster melarangnya.


"Nona, untuk saat ini anda lebih baik menunggu diluar karena kita akan melakukan penanganan pada putra anda." Ucapnya.


"Tapi saya ibunya, saya harus masuk." Kata Adinda, ia ingin mendorong suster itu agar dirinya bisa masuk kedalam.


"Adinda sudah, tunggu saja disini, aku yakin mereka akan melakukan yang terbaik untuk Arkan." Kata Monic.


"Benar Nona, kami akan berusaha menenangkan putra anda saat anda tidak berada didalam, tolong mengerti." Kata suster lagi.


"Din sudah ya, disini saja, kau harus menurut agar anakmu cepat ditangani." Mendengar perkataan Selin, akhirnya Adinda pun menurut.


"Apa yang harus aku katakan pada suamiku." Adinda merasa sangat cemas.


"Jangan khawatir, Arkan pasti akan membaik, sehingga kau tak perlu lagi memberitahu Satria tentang hal ini." Selin menyuruh Adinda duduk disebelahnya.


"Aku sangat takut, apa yang harus aku lakukan, ini semua pasti karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik." Monic dan Selin melihat Adinda menangis, lalu keduanya memeluk Adinda dan menenangkan nya.


"Sabar sayang, kami semua disini bersamamu." Ucap Monic dan Selin bersamaan.


Tak lama kemudian, Dokter pun keluar. Adinda langsung menghampirinya dan bertanya.


"Bagaimana ?! bagaimana dengan putraku ? apa dia baik-baik saja ?." Tanya Adinda.


"Syukurlah putra anda baik-baik saja, dia hanya mengalami telat makan, jadi sebaiknya jangan diulangi karena itu bisa jauh lebih buruk dari pada yang sekarang." Balas Dokter.


"Apa saya boleh melihatnya ?!." Kata Adinda, melihat Dokter itu mengangguk ia pun segera masuk ke dalam, lanjut diikuti oleh Monic dan Selin.


"Bunda." Kata Arkan.


"Hei, bagaimana ? apa masih terasa sakit ? maafkan Bunda ya." Adinda mencium kening Arkan dan memegang tangan nya lembut.


"Suster tadi menanyakan apakah aku sudah makan, kemudian aku menjawab kalau aku baru saja makan, dan dia memberiku obat cair, sehingga tidak sakit lagi." Jawab Arkan.

__ADS_1


"Benarkah ? kau tidak bohong kan ? jangan menutupi apapun dari Bunda saat ini." Monic dan Selin mengelus rambut Arkan.


"Tante, setelah ini apa aku masih tetap akan menginap ?." Tanya Arkan.


"Sayang, Tante rasa tidak dulu ya, karena Arkan pasti akan membutuhkan Bunda, Tante khawatir Arkan sakit lagi, jadi tolong mengerti ya." Kata Monic, senyuman di wajah Arkan perlahan hilang, mereka semua menyadari hal itu.


"Apa yang dikatakan Tante Monic itu benar Arkan, kau tidak bisa menginap dulu, bagaimana kalau perutmu tiba-tiba sakit lagi ?." Selin mengusap wajahnya.


"Tante jahat ! Tante bohong !." Ucap Arkan hendak menangis.


"Sayang, kenapa sampai semarah ini ? apa kau tidak mengerti seberapa khawatirnya Bunda saat kamu mengalami hal seperti tadi ? kau pasti akan menginap dirumah Tante Monic, tapi tidak untuk sekarang, Bunda tidak mau perutmu sakit lagi." Ucap Adinda menjelaskan.


"Perutku sudah tidak sakit, apa Bunda tidak percaya ? kenapa menginap saja tidak boleh, apa aku melakukan kesalahan ?." Sahut Arkan.


"Tidak nak, tidak. Bunda hanya ingin kau tidak pergi saat kondisimu begini, kalau tiba-tiba perutmu sakit lagi, pasti Tante Monic akan kerepotan." Kata Adinda menenangkan putranya.


"Bunda sama saja seperti yang lain, sudah aku tidak mau bicara lagi." Arkan menutup wajahnya dengan selimut kemudian membelakangi mereka semua.


Tring...tring, Adinda mengecek ponselnya kemudian melihat nama sang suami tertulis di sana.


"Sebentar, Mas Satria menelepon." Adinda keluar ruangan dan mengangkat telepon tersebut.


"Ya Mas, kenapa baru memberi aku kabar ? aku merasa sedikit cemas karena kau tidak menghubungiku." Balas Adinda.


"Wah..wah, baru saja aku menelepon tapi kau sudah marah-marah begitu, maafkan Mas ya sayang, Mas tau kok kamu pasti menunggu kabar, tapi semalam saat sampai Mas segera mengerjakan tugas-tugas, kemudian karena lelah Mas langsung tidur dan berpikir untuk memberimu kabar besok saja, maaf." Satria berusaha menjelaskan dengan baik.


"Maafkan aku juga karena tidak mengerti seperti apa kau kelelahan, yang terpenting sekarang kau sudah menghubungiku, apa Mas sudah makan ?." Tanya Adinda.


"Sudah, Mas makan lebih cepat karena takut kamu marah." Sahut suaminya, Adinda tertawa kecil mendengar jawaban itu.


"Kalau aku ada di sana, aku akan membuatkan Mas segelas teh, lalu memijit beberapa bagian tubuh yang pegal." Kata Adinda.


"Mas rindu kamu." Suaranya terdengar hangat, membuat hati Adinda merasa sedikit lega dan tenang.


"Aku juga sama, rindu sekali." Ucap Adinda.


"Kau dimana sekarang ? kenapa rasanya ramai sekali ? apa sedang bermain dengan Arkan di suatu tempat ?." Pertanyaan itu membuat Adinda terkejut, ia tak tahu harus jawab apa.

__ADS_1


"Sayang, kau dengar Mas kan ?." Satria mengulanginya lagi.


"Ah-ya ! aku dengar ! kau benar Mas, hari ini aku sedang mengajak Arkan bermain di suatu tempat, jangan khawatir." Kata Adinda.


"Mas sampai lupa kalau kemarin kamu meminta izin untuk pergi bersama Monic, jadi pastinya kau ada diluar sekarang, entah lah Mas merasa sangat lelah, tapi kau tidak usah cemas karena dua hari lagi Mas segera kembali, kita harus bersenang-senang ! Mas sudah lama tidak melakukan nya denganmu." Ucap Satria.


"Aku tunggu sampai kamu pulang ya, kita akan lakukan bersama nanti he-he." Jawab Adinda.


"Kalau begitu Mas tutup ya sayang telepon nya, lain kali akan Mas hubungi lagi, tolong jaga anak kita dengan baik, aku mencintaimu." Kata Satria.


"Ya Mas, aku juga mencintaimu." Telepon pun berakhir.


"Cie ! pasti jantungnya berdebar ya karena suami menelepon." Kata Monic yang datang tiba-tiba.


"Jangan meledek." Ucap Adinda tersenyum kecil.


"Aku dengar kau bilang akan melakukan nya bersama ? wah, apa itu Adinda ? apa kau akan memberi suamimu hadiah yang istimewa ? ha-ha." Monic menutup mulutnya karena tertawa geli.


"Monic hentikan, kau suka ya meledek aku." Adinda mencubit Monic kemudian tersenyum lebar.


"Aku senang kau kembali tenang, ternyata benar ya sejauh apapun suami, kalau mendengar suaranya saja bisa bikin hati kita bahagia." Kata Monic tersenyum.


"Benar, tidak mendengar suaranya satu hari saja rasanya aku mau gila, tidak tahu kenapa dari semalam hatiku seperti ada yang mengganjal, tapi mendengar suara suamiku seperti tadi menjadi sedikit lebih tenang." Jelas Adinda.


"Apa dia menanyakan putranya ?." Monic bertanya.


"Ya, dia menanyakan anakku, tapi aku tidak beritahu padanya kalau Arkan masuk rumah sakit, dia lupa mengabari ku karena lelah, jadi aku pikir kalau dia mengetahui tentang Arkan akan membuat nya jauh lebih lelah lagi." Ucap Adinda menghela nafas panjang.


"Sabar ya ! tidak lama lagi suamimu akan kembali." Monic memegang bahu Adinda kemudian mengajaknya masuk lagi ke dalam ruangan Arkan.


"Arkan, Bunda akan bertanya pada Dokter kapan kau akan pulang." Kata Adinda.


"Aku tidak mau pulang, aku mau menginap dirumah Tante Monic." Ia memalingkan wajah.


"Bunda harus bicara seperti apa lagi padamu, kenapa kali ini kau sulit mengerti." Adinda memijat keningnya sedikit kemudian meninggalkan ruangan.


Diluar, Adinda menuju ruangan Dokter namun tak sengaja menabrak seorang laki-laki.

__ADS_1


"Awh ! maaf ya, saya minta maaf." Kata Adinda yang terkejut, ia masih menunduk seraya mengambil ponselnya yang jatuh.


"Anda disini ?." Suara yang familiar terdengar ditelinga Adinda, kemudian ia pun mendongak untuk melihat wajah itu.


__ADS_2