
Saat membuka mata, Jeremy belum bisa mengatakan apapun.
Tetapi dalam hatinya ada banyak sekali pertanyaan yang ingin dikeluarkan.
"Kenapa tidak ada Agatha disini ? Apa mungkin dia belum tahu bahwa aku selamat ?." Katanya dalam hati.
"Tuan, kami turut senang anda sudah sadar." Ucap salah satu suster.
"Tidak apa-apa, anda akan segera pulih dalam waktu dekat. Kami akan menghubungi keluarga anda sekarang." Kata suster lagi.
...
"Sepertinya keluarga pasien sedang sibuk, nomor yang mereka tinggalkan sama sekali tak bisa dihubungi." Ucap para suster.
Jeremy yang mendengar hal itu hanya bingung.
"Apa Agatha baik-baik saja ? Dia tidak mungkin melewatkan kabar sedikitpun tentangku, aku percaya padanya." Gumam Jeremy.
"Tuan, tenang dulu ya. Kami akan segera menghubungi keluarga anda kembali. Mungkin sekarang mereka sedang sibuk, tapi tidak perlu khawatir. Sejak beberapa hari lalu istri anda menemani dengan setia disini. Dia bahkan tidak mau keluar ruangan sedetikpun." Penjelasan suster membuat Jeremy sedikit tenang.
Disisi lain, Arkan sedang sibuk membereskan beberapa dokumen penting dikantor.
Rain yang datang tiba-tiba membuatnya sedikit kaget dan bahagia.
"Hei." Kata Arkan.
"Aku membawakan makan siang untukmu." Ucap Rain.
"Sebenarnya aku lelah, tapi setelah melihatmu langsung terobati." Arkan memegang tangan Rain sambil tersenyum.
"Bagaimana tentang Jeremy ? Apa sudah ada perkembangan ?." Ia bertanya.
"Sepertinya belum, Zheng tidak memberi kabar apapun padaku." Balas Arkan kemudian memeriksa ponselnya.
"Aku harap Jeremy cepat sadar agar Agatha bisa mengobati rasa rindunya. Kasian dia." Kata Rain.
"Aku lihat hubungan kalian sudah semakin baik ya ? Senangnya." Melihat Arkan tertawa kecil, Rain memukul pria itu sambil tersenyum malu.
"Bagaimanapun juga kan sebentar lagi aku akan menjadi istrimu." Rain tertawa geli.
"Sabar dulu ya, kau tenang saja." Arkan mengelus kepala Rain.
"Yasudah hentikan dulu kerjanya, ayo makan." Mereka membuka kotak makanan dan saling menyuapi satu sama lain.
.
.
.
"Untuk apa memasang wajah cemas begitu ?." Tanya Liam secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Kau lupa bahwa wanita ini adalah istri Jeremy, dan dia tak akan membiarkan satupun orang menyentuhnya. Termasuk kau !." Zheng marah.
"Kau begitu setia pada cecunguk itu, memangnya berapa uang yang dia kasih untukmu ? Aku bisa memberikannya lima kali lipat asal kau mau menurutiku." Liam tersenyum, ia pikir bahwa tawaran ini akan membuat Zheng tertarik.
"Aku tidak butuh uangmu, dari pada merasa besar kepala, sebaiknya kau berkaca dulu. Kau ini bukan siapa-siapa Liam, kau hanya anak tiri yang diterima dengan sangat baik oleh Tuan Hardest." Liam sangat merasa dihina, kemudian meninju wajah Zheng.
BUGHHH !
"Kurang ajar kau ! Beraninya merendahkan aku !!!!." Kata Liam, Zheng segera membalas pukulannya tepat sasaran.
"Tanpa Tuan Hardest, kau bukanlah apa-apa ! Hanya seonggok sampah yang terus bersembunyi diketiak ibunya." Ucap Zheng.
"Bajingan !!!!." BUGHHH !!! Liam kembali memukul Zheng.
"Hemm." Agatha terbangun, lalu melihat keributan didepan matanya.
"Zheng !!." Teriak Agatha.
"Nona !." Ketika Zheng berbalik untuk melihat wajah Agatha, Liam hampir mendaratkan kembali tinjuannya, sayang sekali hal itu tak berhasil karena dicegah oleh Agatha sendiri.
"Kau tidak berhak memukul siapapun !." Ucap Agatha.
"Diam kau ! Jangan ikut campur !." Liam menarik tangannya dari genggaman Agatha sampai wanita itu terhempas.
"Berhenti Liam !." Suara Hardest membuat mereka bertiga mematung.
"Ayah sudah bilang untuk tidak melakukan tindakan semaumu ! Ini rumah Jeremy !." Kata Hardest.
"Zheng ? Apa maksudnya ? Penghinaan apa ?." Tanya Agatha.
"Tidak ada, anda tidak perlu tau." Ucap Zheng.
"Aku berhak tau karena mereka keluarga Jeremy." Agatha kekeh.
"Nona ! Sebaiknya anda jangan berurusan dengan mereka ! Liam dan Tuan Hardest itu tidak baik ! Mereka bisa menyakitimu kapanpun dan dimanapun." Zheng hendak pergi namun ditahan oleh Agatha lagi dan lagi.
"Tolong jelaskan sesuatu, ada apa dengan keluarga ini ? Aku mohon Zheng." Melihat Agatha memohon, Zheng pun tergerak untuk menjelaskan segalanya.
"Dulu Tuan Hardest memiliki kekasih, mereka berpacaran dibelakang sepengatahuan istrinya. Namun tiba-tiba kekasihnya hamil, sehingga mengakui anak itu sebagai darah daging Tuan Hardest. Mendiang Nyonya marah besar sehingga meminta Tuan Hardest agar berpisah dari kekasihnya tersebut. Sayang sekali Tuan Hardest tak mau, menolaknya mentah-mentah, membuat Mendiang nyonya sedih setiap hari. Namun setelah anak itu lahir, ternyata dia bukan darah daging Tuan Hardest. Beliau telah ditipu." Zheng menceritakannya dengan penuh emosi.
"Lalu apa lagi yang terjadi setelah itu ?." Kata Agatha.
"Tuan Hardest tetap tidak mau menjauhi kekasihnya, dia justru berjanji akan menikahi wanita itu agar Liam memiliki Ayah." Panjang lebar mereka bercerita, sampai tak sadar hari sudah hampir sore.
"Aku mengerti kenapa Jeremy tak menyukai Ayahnya." Ucap Agatha.
"Begitulah yang terjadi. Ah sudah sore, sebaiknya saya kembali kerumah sakit untuk menjaga Jeremy." Balas Zheng.
"Aku ikut." Kata Agatha.
"Anda yakin ? Kalau masih lemah sebaiknya jangan dulu." Zheng menyarankan.
__ADS_1
"Yakin ! Aku sudah baik-baik saja. Ayo kesana." Mereka berdua pun bergegas pergi menuju rumah sakit.
Dirumah sakit, krekk..
Saat pintu dibuka, ia melihat wajah Jeremy yang masih terpejam. Diam-diam Agatha mendekat, kemudian mencium kening suaminya itu.
"Nona, saya akan menunggu diluar." Ucap Zheng, Agatha hanya mengangguk.
"Sadarlah Jeremy, aku sangat merindukanmu." Jeremy mendengar ucapan istrinya, lalu ia membuka mata membuat Agatha terkejut.
"Jeremy !." Sebutnya tak percaya.
"Aku juga sangat merindukanmu." Jawab pria tersebut.
"A-aku akan panggil dokter !." Agatha hendak berdiri memanggil dokter, namun Jeremy menahannya.
"Dokter sudah tau, tidak perlu dipanggil lagi." Ucap Jeremy.
"Benarkah ? Kenapa pihak rumah sakit tak mengabariku ?." Melihat Agatha yang bingung, Jeremy hanya tersenyum.
"Suster sudah mencoba menghubungimu berulang kali, tapi tak ada jawaban. Apa kau baik-baik saja ?." Tanya Jeremy.
"Ah itu, sepertinya.."
"Katakan dengan jujur, apa kau baik-baik saja Agatha ?." Jeremy memegang lembut tangan istrinya sampai Agatha tak bisa menjawab.
"Aku percaya, kau tak akan melewatkan kabar apapun tentangku jika kau baik-baik saja, tapi beberapa jam lalu kau sangat sulit dihubungi." Agatha sangat gugup.
"Jeremy, ponselku mati karena kehabisan baterai. Itu sebabnya aku melewatkan kabar tentangmu, maafkan aku." Agatha mengelus wajah Jeremy.
"Jangan pergi lagi, aku sangat takut saat mendengar kabar buruk itu, aku menyesal sudah menolak tawaranmu." Jeremy melihat ketakutan diwajah Agatha, cepat-cepat ia tersenyum dan berusaha membuatnya lebih tenang.
"Aku tidak akan pergi tanpamu. Hmm soal hadiah itu, entahlah sepertinya aku menjatuhkannya disuatu tempat, aku akan memberikanmu hadiah lain." Ucap Jeremy.
"Apa hadiah yang kau maksud adalah sebuah cincin ?." Agatha menatap suaminya.
"Dari mana kau tau ?." Seketika Agatha langsung menghela nafas dan memukul kepalanya sendiri.
"Hei, ada apa ?." Jeremy khawatir.
"Aku sempat memakai cincin itu, Kakak yang menemukannya tepat disebelahmu saat kau berhasil ditemukan." Jeremy mendengarkan Agatha.
"Tapi kala itu aku melepasnya, dan berlari ketempatmu. Aku begitu antusias saat mendengar kalau kau telah ditemukan. Jeremy aku sungguh minta maaf !." Agatha menunduk tak berdaya dihadapan Jeremy.
"Sayang, kau tidak perlu merasa bersalah, cincin itu tak seberapa." Jeremy mengusap kepala Agatha dan tersenyum.
"Jeremy, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku." Tak sadar air matanya jatuh ketika mengatakan hal tersebut.
Jeremy segera bangun dan menghapus air mata itu.
"Aku tidak rela melihatmu menangis, tanpa kau minta untuk berjanji sekalipun, aku sudah bertekad tak akan meninggalkanmu sampai mati." Agatha memeluk Jeremy erat, sampai-sampai dia menangis kencang. Membuat telinga Zheng terusik dan khawatir sehingga masuk kedalam, betapa terkejutnya dia ketika melihat Jeremy sudah sadar.
__ADS_1
"Jeremy !."