
"iya maaf, aku ga bisa tahan emosi kalo udah tentang kamu, kau tau kan aku sangat menyayangi mu??." kata Satria
"mana aku tau, jangan kan soal menyayangi ku, umur mu saja aku tidak tahu." balas Adinda kecut
"oh iya kau ini kan tidak punya ingatan hahaha, ya sudah tak masalah, lain kali akan aku beri tahu berapa umur ku." sahut Satria
"sudah ah, aku malas dekat dekat dengan mu." ucap Adinda yg ingin beranjak pergi namun tertahan oleh tangan Satria
"hei, kemarin kan kita gagal untuk berjalan jalan, bagaimana kalau aku ajak kamu ke pantai?." ucap Satria
"pantai?." Adinda menoleh ke arah Satria dengan tatapan serius
"kau mau kan?? tidak mungkin kau menolak." balas Satria
"hmm bagaimana ya,, aku akan memikirkan nya." kata Adinda sengaja membuat Satria tak sabar menunggu jawaban nya
"ah ayolah, jawab sekarang saja, tidak sulit untuk memilih antara ya dan tidak." kata Satria mulai menekuk wajahnya
"apa kata mu?? tidak sulit??? Satria, kau harus tau bahwa hal itu adalah yg paling tersulit." kata Adinda asal
"jangan mengulur waktu, cepat lah jawab sayang." ucap Satria
"bagaimana kalau kau makan dulu? lalu habis itu aku akan menjawab nya." kata Adinda
"tapi kau harus jawab iya, kalau tidak lebih baik aku pergi lagi saja dan tak usah pulang pulang." jawab Satria dengan nada manja dan sedikit mengancam
"cih, mau kau pulang atau tidak, itu bukan urusan ku, yakan? jadi lebih baik kau makan." Adinda berlalu pergi meninggalkan suaminya yg mematung
"semenjak dia kehilangan ingatan nya, tingkah laku nya menjadi menyebalkan, hahaha tapi aku suka, karena walaupun begitu dia tetap memperhatikan keadaan ku." gumam Satria seraya berjalan menuju lantai bawah untuk makan
di sisi lain...
Sheira sangat sangat marah dengan apa yang Satria lakukan, dia tidak menyangka bahwa laki laki yang dulu pernah tergila gila dengan dirinya menjadi sadis tak karuan akibat Adinda yg kini sangat dicintai Satria.
__ADS_1
"SIALLL!!!! SEMUANYA SIAL!!! kenapa dulu aku harus pergi menuruti perintah ayah dan meninggalkan Satria?!!!! bodoh!!! aku bodoh!!!!." nada Sheira sangat tidak bersahabat
"diam kau!!! ini semua gara gara kau!!!! jika saja dari awal kau tidak menjadi wanita bodoh dalam hidup mu, mungkin kita tidak akan jatuh miskin seperti sekarang!!!!!." sahut ayah Sheira yg datang secara tiba tiba
"stop ayah!! jangan salahkan aku terus menerus seperti ini!!! harusnya ayah berkaca! jika dulu aku menikah dengan Satria maka kita akan hidup bahagia!!!! semuanya dipenuhi dengan uang!! kekayaan!!! aku bisa menjadikan mu raja didalam rumah mewah yg sudah Satria sediakan!!!!." balas Sheira tak kalah pedas
"cukup Sheira!! lancang kamu berbicara seperti itu pada ayah mu!!!!!." ayah Sheira berhasil melayangkan tangan nya ke wajah putrinya
"agh." wajah Sheira kini memerah dan ia menangis lalu berlari masuk ke dalam
Sheira dan ayah nya saat ini jatuh miskin, mereka tinggal disebuah rumah yg kecil dan sempit, karena semua harta yg mereka punya di hancurkan rata dengan Farel, asisten Satria.
Sheira sangat terluka melihat keadaan nya yg tidak indah lagi, begitupun sang ayah, beliau sangat marah kepada Sheira karena jika Sheira tidak mencoba mencelakakan Adinda dan Arkan mereka mungkin tidak akan kehilangan semua harta nya, bahkan untuk bekerja pun sekarang mereka tak bisa, seluruh perusahaan menolak kehadiran nya.
"sungguh wanita yang paling bodoh! kau jatuhkan harga dirimu untuk merebut laki laki yang sudah jelas mempunyai istri, belum lagi derajat laki laki itu sangatlah tinggi di kota ini." gumam ayah Sheira
***
saat hari menjelang sore, Satria meminta Adinda untuk bersiap.
"untuk apa?." tanya Adinda
"kita akan pergi ke pantai sekarang juga, aku sudah meminta izin pada mama dan papa, mereka mengizinkan ku untuk membawa mu kesana." jawab Satria menjelaskan
"apa? ke pantai??? sekarang juga?? hei kau lupa ya, aku belum menjawab pertanyaan mu." balas Adinda
"aku tidak butuh jawaban itu, karena aku ingin kamu ikut, rapihkan baju mu sekarang, aku tunggu di mobil, jika kau kesulitan panggil Desi untuk membantu mu." ucap Satria
"ta-tapi..." belum sempat menjawab, Satria sudah berjalan pergi
menyebalkan!. gumam Adinda
setelah beberapa menit kemudian Adinda berhasil membereskan baju bajunya ke dalam koper, ia segera mengeluari rumah dan menuju mobil suaminya.
__ADS_1
"sayang hati hati ya." ucap Tania
"bilang suami mu, bawa mobil dengan benar, jangan sampai kewalahan." kata Toni
"iya ma, pa, tolong jaga anak mungil ini ya, aku tidak akan berlama lama disana." kata Adinda
"iya sayang, nikmati hari mu selama disana dengan Satria." ucap Tania dibalas senyuman oleh Adinda
di dalam mobil..
"lama sekali, padahal cuma membereskan baju saja." gumam Satria
"jangan komen, aku ini pamitan dulu dengan mama mu dan papa mu, kau tidak membantu ku sama sekali membereskan baju ini, jelas saja lama." kata Adinda
Satria tidak menjawab perkataan istrinya, ia segera melajukan mobil itu dengan cepat menuju pantai keinginan nya, disana terdapat villa besar yg tak jauh dari pantai, villa tersebut milik Satria sendiri, ia sengaja membeli nya beberapa bulan lalu untuk mengajak Adinda pergi kesana.
sesampai nya di villa Rose, Satria mengajak Adinda turun dan masuk ke dalam
"apa kau menyewa nya?." tanya Adinda
"tidak." jawab suaminya singkat
"lalu?."
"aku sengaja membeli nya beberapa bulan lalu, karena aku memang sudah berencana untuk membawa mu pergi kesini." kata Satria
"apa kau mencintai ku sebegitu besar nya??." tanya Adinda menatap serius
"kenapa kau harus bertanya? padahal kau tau jawaban nya, aku bisa berikan seluruh dunia ku untuk mu jika kau mau." kata Satria lembut
"maaf." Adinda kini menunduk, air mata nya sedikit membendung
"kenapa? kenapa kau meminta maaf?." ucap Satria bingung
__ADS_1
"maaf karena aku belum bisa mengingat mu, belum bisa mengingat bagaimana aku dulu menyikapi mu, saat ini dimata ku kau hanyalah orang asing, namun kau harus tau bahwa hati ku berkata lain, dia berkata kalau dia sangat menyayangi mu." kata Adinda menjatuhi air matanya
"hentikan air mata mu, aku tidak ingin ada kesedihan disini, kau ingat? aku mengajak mu pergi untuk bersenang senang, bukan untuk menangis, kau tak perlu khawatir, aku sangat mengerti posisi mu, kau adalah istriku, dan selamanya akan tetap begitu." sahut Satria memeluk Adinda lembut