Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
cemburu


__ADS_3

Satria membawa Sheira pergi ke rumah sakit, sesampainya di sana, dokter segera menangani Sheira.


"Tolong lakukan yang terbaik." Pinta Satria.


"Baik Tuan, saya akan melakukan yang terbaik untuk Nona ini." Balas Dokter.


Kira-kira setengah jam Satria menunggu di kursi besi depan ruangan Sheira, tak lupa mengabari Farel kalau dia akan datang terlambat karena ada kendala dijalan.


"Tuan, Nona sudah sadar, apa anda bagian dari keluarganya?." Tanya Dokter.


"Bukan, saya hanya teman nya, bagaimana keadaan dia?." Kata Satria.


"Sepertinya Nona Sheira sering kali menerima kekerasan, beberapa bagian ditubuhnya terlihat membiru, dan saya yakin ada yang sengaja melakukan ini kepada beliau." Jelas Dokter.


"Saya akan mencari tahu nanti, terimakasih." Satria segera masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Sheira yang sedang melamun.


"Sheira?." Panggilnya.


"Terimakasih sudah menolongku." Kata Sheira menoleh ke arah Satria.


"Ceritakan padaku, apa yang telah Adi Kusuma lakukan." Satria memandangi wajah Sheira yang kusut dan pucat.


"D-dia tidak berbuat apapun padaku." Jawabnya gugup.


"Sheira, jangan bohong, Adi pasti melakukan hal buruk untuk menyakitimu kan?! katakan padaku, aku bisa membantumu Sheira." Ucap Satria.


"Adi memukuliku setiap hari disaat aku membuat kesalahan Sat, aku benar-benar tak bisa melawan dia." Tangisan Sheira mulai tumpah dan ia memeluk Satria yang sedang berada disampingnya.


"Lalu siapa preman tadi? kenapa dia menyeret mu dengan begitu kasarnya? apa dia suruhan Adi juga?." Tanya Satria.


"Iya, aku pergi dari rumah, Adi sangat marah atas tindakan bodohku ini, sehingga dia meminta para preman tersebut membawaku pulang." Jelasnya.


"Membawamu pulang dengan cara itu? mereka keterlaluan, aku akan meminta orang-orang ku untuk memberi Adi pelajaran." Satria mengeluarkan ponselnya hendak menelepon seseorang tetapi Sheira menahan tangan itu.


"Jangan, jangan sakiti Adi, bagaimana pun aku mencintainya." Kata Sheira memohon.


"Kau tidak layak mencintai pria yang sudah begitu kejam memperlakukan mu!." Satria marah.


"Aku tahu, tapi aku tak bisa membiarkan orang lain menyakiti Adi, apa lagi orang itu adalah kamu Satria." Kata Sheira memegang tangan Satria.


tak..tak..tak.


suara high heels itu terdengar dari luar dan berhenti tepat didepan pintu.


"S-sheira?." Gumam Adinda pelan, ia melihat wanita itu memegang tangan suaminya sambil bertatap-tatapan.


"Tenanglah Adinda, Mas Satria pasti akan menjelaskan semuanya." Ucap Adinda dalam hati.


ia memilih duduk diluar sambil menunggu Satria datang, walaupun Satria tidak tahu kalau Adinda ada disini, Adinda mendapat kabar dari Farel kalau suaminya tak jadi datang ke Cafe itu, dan dia mengecek lokasi yang saling tersambung di ponsel nya sehingga mampu menemukan keberadaan Satria di dalam rumah sakit.


"Berjanjilah padaku untuk tidak macam-macam terhadap Adi? aku sangat terluka jika dia harus terluka juga." Kata Sheira memohon lagi.


"Aku tidak janji, jika dia menyakitimu sekali lagi, aku pastikan dia mendekam didalam tanah selamanya." Ancam Satria.


"Adinda akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi ku ini." Kata Sheira.


"Dia bukan wanita yang bodoh, aku yakin dia tidak sama sepertimu." Kata Satria berlalu pergi.

__ADS_1


Ketika pintu dibuka, ia melihat Adinda yang sedang duduk sendirian di kursi besi.


"S-sayang?." Satria memanggilnya dengan sedikit gugup.


"Mas." Adinda tersenyum.


"Sejak kapan kamu ada disini? dengan siapa?." Tanya Satria.


"Aku baru sampai, sendirian Mas, maaf ya kalau aku membuatmu kaget, tapi Farel mengatakan bahwa kamu tak jadi datang ke Cafe itu, aku khawatir ka-" Melihat sikap istrinya yang sedikit gelisah, Satria langsung memeluk tubuh itu.


"Aku akan menjelaskan semuanya, jangan salah paham. oke?." Kata Satria, lalu Adinda mengangguk setuju.


...


"Begitu ya Mas ceritanya?." Kata Adinda.


"Aku sama sekali tidak habis pikir dengan Adi, kenapa dia tega menyakiti Sheira." Ucap Satria, lagi-lagi ucapan itu membuat Adinda mendadak terdiam.


"Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan Sheira ya Mas?." katanya dalam hati.


"Kamu naik mobil?." Tanya Satria, tentunya Adinda hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun.


"Sayang, kamu marah ya?." Tanya Satria lagi.


Prakk! suara pecahan gelas itu membuat Satria terkejut dan langsung masuk menemui Sheira tanpa menunggu jawaban istrinya.


"Kau baik-baik saja? panggil aku jika butuh sesuatu." Kata Satria.


"Kau mengobrol dengan siapa?." Tanya Sheira.


"Aku sedang mengobrol dengan istriku, dia datang barusan." Ucap Satria menjelaskan.


"Jangan! kau masih sakit, berbaringlah, pecahan gelas ini akan diurus oleh suster." Kata Satria.


"Sepertinya aku harus kembali setelah keluar dari rumah sakit ini, pasti Adi sangat marah karena tak dapat menemukan aku." Balas Sheira.


"Untuk apa kamu kembali? dia telah menyiksamu! kau lihat aku?! jangan pernah kembali! oke?." Ucap Satria menegaskan.


"Tapi Sat.."


"Kau bisa tinggal di apartemen milikku dalam beberapa waktu sampai Adi bisa sedikit lebih lembut memperlakukan mu." Pinta Satria.


"Kau sedang bercanda? mana mungkin aku tinggal di apartemen milikmu, Adi dan Adinda pasti sangat marah." Jelas Sheira.


"Adinda tidak akan marah, dia pasti mengerti keadaanmu, dia wanita yang baik, percayalah." Sahut Satria.


Adinda sudah pergi meninggalkan rumah sakit beberapa menit yang lalu, ia mengendarai mobilnya ke sebuah tempat bermain kuda.


"Aku ingin menunggang kuda untuk melupakan sedikit kecemburuanku terhadap Sheira." Gumam Adinda.


"Apa yang sedang kamu pikirkan sampai harus datang kesini?." Tanya seorang pria.


"Bukan urusanmu, ini adalah tempat umum dan siapapun boleh datang kemari." Jawab Adinda.


"Kau ingin menunggang kuda?." Kata pria itu.


"Ya."

__ADS_1


Pria tersebut membawakan seekor kuda untung ditunggangi oleh Adinda.


"Ibu hamil tidak boleh terlalu stres, jadi menaik lah denganku, tidak aman kalau sendiri." Katanya.


"Aku bisa melakukan nya sendiri, tidak perlu berdua, terlalu ramai." Sahut Adinda.


"Justru kau harus berada di dalam suasana yang ramai, sebab aku bisa membuatmu menghilangkan sedikit kecemasan di wajah itu." Ucap pria tersebut.


"Bryan?." Adinda menoleh ke arahnya dan menatap dengan bingung.


"Ayo, kita naik kuda bersama." Bryan mengulurkan tangan nya pada Adinda, lalu Adinda meraih tangan itu.


Mereka berdua telah berada di atas kuda yang sama, Adinda berada didepan, dan Bryan duduk dibelakangnya.


"Ayo coba kau jalankan kuda ini." Pinta Bryan.


"Lihat ya, aku pasti bisa menjalankan nya lebih baik dari pada kamu." Kata Adinda.


Kratak..kratakk, suara kuda melaju itu terdengar.


Bryan tersenyum melihat Adinda dengan semangat menjalankan sang kuda.


"Aku baru tahu, istri Satria Anggara ternyata pandai menunggang kuda." Ucapan itu membuat Adinda menghentikan aksinya.


"Kenapa berhenti? kau mual? atau apa? aku akan membantumu." Ucap Bryan.


"A-aku sedikit badmood, bisakah kau yang menjalankan kudanya?." Tanya Adinda.


"Tentu saja." Bryan mengulurkan tangan ke depan dan meraih kaitan itu.


"Bryan? apa kau akan cemburu jika orang yang kamu cintai lebih perduli pada mantan kekasihnya dari pada dirimu?." Tanya Adinda lagi.


"Sangat cemburu, ada apa? apa kau sedang dalam masalah? apa Satria menyakitimu?." Kata Bryan.


"Tidak, aku hanya bertanya." Jawab Adinda.


"Aku akan membawamu memetik buah disebelah sama, kuda ini juga menyukai buah itu." Ajak Bryan, ia melajukan kudanya ke pohon apel merah yang tak jauh dari sana.


"Ayo turun." Bryan membantu Adinda turun dari kuda.


"Tunggu sebentar ya, aku akan petik apel itu." Ia memetik beberapa apel dan memberikan nya kepada Adinda, ia juga meminta Adinda untuk memberikan satu apelnya kepada sang kuda.


"Ayo kuda, makan apel ini." Dengan cepat kuda itu memakan apel yang diberikan oleh Adinda.


"Haha, lihat itu Bryan! dia benar-benar menyukai apel!." Kata Adinda senang.


"Sudah banyak, ayo pergi dari sini." Bryan meraih pinggang Adinda dan berjalan ke arah mobil terparkir.


"Setelah ini kau mau kemana?." Tanya Bryan.


"Aku akan pulang, terimakasih ya sudah menemaniku." Kata Adinda.


"Bagaimana kalau kita mampir dulu ke Cafe dekat sini untuk makan?." Ucap Bryan.


"Tidak perlu, aku sudah makan, ya sudah, sampai jumpa lagi." Adinda beranjak pergi sebelum akhirnya Bryan menarik kembali tubuh mungil itu.


"Aku cinta sama kamu Din." Kata Bryan, ia mendekatkan wajahnya ke arah Adinda, sepertinya dia ingin mengecup bibir itu, kemudian Adinda mendorong Bryan menjauh.

__ADS_1


"Bryan, dengan kita melakukan kebersamaan ini, bukan berarti aku bisa membalas semua rasa cintamu, aku hanya mencintai satu laki-laki di dalam hidup yaitu Satria, aku senang kau menemaniku hari ini, tapi aku minta jangan pernah berharap apapun yang lebih dari diriku." Kata Adinda tersenyum lembut dan pergi.


__ADS_2