Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Mencari hadiah ulang tahun


__ADS_3

"Kak ! Kakak !." Agatha melempar selimutnya dan menopang tubuh Arkan yang terhuyung-huyung.


"Dadaku sakit." Ia menjatuhkan badan nya, Agatha sangat takut.


"Kakak kenapa ?! Bunda ! Ayah !." Agatha menjerit.


"Kak ! kamu kenapa ?! tunggu disini ya, aku akan panggil Ayah dan Bunda !." Agatha hendak berdiri memanggil orang tuanya, tetapi Arkan menarik tangan sang Adik.


"Kau takut ?." Tanya nya.


"Hah !!!! kau pikir ini lucu ya !." Agatha berteriak, sangat keras ! sampai semua orang dirumah itu mendatanginya.


"Agatha kenapa ?! kenapa menjerit-jerit begitu ?." Tanya semua orang khawatir.


"Hahaha, marahi saja Nek, mulutnya memang suka melewati batas." Kata Arkan.


"Tidak ! bukan aku ! Kakak tadi berpura-... Emhhh ?!!." Arkan menutup mulut sang Adik, dan hanya tertawa kegirangan.


"Jangan dengarkan, dia sedikit aneh, ini semua baik-baik saja. Kalian bisa pergi." Ucap Arkan.


"Dasar anak-anak ini, tidak ada puasnya menganggu semua orang." Adinda menggelengkan kepala.


"Jangan lakukan itu pada Adikmu." Ucap Selina menyingkirkan tangan Arkan dari mulut Agatha.


"Aku sedang bermain dengan Kakak, kau tidak perlu ikut campur." Selina menyadari kalau Agatha tak mau dicampuri.


"Anak ini memang tidak sopan, kau tunggu diluar saja ya Selina." Arkan mengangkat Agatha ke ranjang kemudian melilitnya dengan sprei.


"Kakak !!! aku susah bernafas !." Jerit anak itu.


"Bisa ! ayo lepaskan sprei nya sendiri." Arkan pergi meninggalkan Adiknya.


"Bunda ! tolong aku Bunda !." Agatha menjerit-jerit.


...


"Rain, beberapa hari lagi Adiknya Tuan Arkan mengadakan pesta ulang tahun. Aku bingung harus memberi hadiah apa." Ucap Rubby.


"Benarkah ? kau tahu dari mana ?." Tanya Rain.


"Laos bicara padaku." Rain sedikit berpikir kemudian berniat menemani Rubby mencari hadiah.


"Aku temani kamu cari hadiahnya ya ?." Rubby tidak langsung menyetujui, dia pergi ke kamar dan mencari Laos.


"Kau punya nomor Tuan Arkan ?." Laos kaget.


"Mau apa kau padanya ? jangan macam-macam Rubby." Ucap Laos.


"Tidak macam-macam, aku cuma ingin menanyakan kabarnya, sekaligus berterimakasih atas kebaikan yang dia lakukan malam itu." Laos memberikan nomor ponsel Arkan pada Rubby, cepat-cepat ia menghubungi nomor yang diberikan Laos.


Butuh waktu yang lumayan lama untuk Arkan bisa mengangkat panggilan tersebut.


"Halo." Suara Arkan menggema disebrang telepon.


"Tuan. ini aku, Rubby." Wanita itu tersenyum riang.


"Rubby ? yang kemarin ?." Tanya Arkan.


"Benar Tuan, maaf aku menganggu waktunya tapi bisakah kita mencari hadiah untuk Agatha bersama ? aku punya selera yang bagus, jadi jika pergi bersamaku tidak akan mengecewakan." Kata Rubby penuh percaya diri.


"Benarkah ? kalau gitu atur saja waktunya." Balas Arkan, setelah itu ia mematikan ponsel dan menerima pesan dari Rubby.


"Kita pergi besok pukul tujuh malam." Isi pesan Rubby.


"Selina, kau ingin pergi bersamaku besok malam ?." Tanya Arkan, sementara itu Selina tak tahu harus menjawab apa.


"S-sepertinya akan ada hal yang harus dikerjakan, kau pergi sendiri ya." Jawab Selina.


"Memangnya apa ? bukan kah kau tidak ada kesibukan setelah selesai kuliah." Arkan meminum teh hangat yang dibuat oleh Selina.


"Benar, tapi aku harus mengurus sesuatu, maaf ya." Selina tersenyum canggung.


"Baiklah, kukira kau punya waktu untuk pergi bersamaku besok, tapi semoga urusanmu segera terselesaikan." Balas Arkan.


Besok, menjelang malam.


Rubby sudah tak sabar menanti momen kebersamaan nya dengan Arkan.


"Aku harus memilih pakaian yang paling indah, Tuan Arkan harus melihat keindahan itu pada diriku." Rubby menyunggingkan senyum nya.


"Kau terlihat begitu senang, ada apa ?." Tanya Rain.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Kau sudah cantik begini mau kemana ?." Kata Rubby.


"Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar diluar, kau sendiri apa ingin pergi ?." Rain bertanya.


"I-iya, aku ingin bertemu temanku disuatu tempat, kau baik-baik ya diluar." Rubby mengusap bahu Rain lembut.

__ADS_1


"Kau juga hati-hati ya." Rain tersenyum sebelum akhirnya pergi.


...


"Nona Agatha, ada tamu didepan." Ucap pelayan.


"Tamu ? siapa ya ?." Agatha menuruni tangga lalu melihat siapa yang datang.


"Greg ?!." Matanya membulat.


"Maaf aku datang tanpa memberitahumu." Greg berdiri dan menatap Agatha.


"Ada urusan apa ?." Wanita itu mendekati Greg.


"Apa kita bisa pergi bersama ?." Agatha sedikit terkejut, ia tak percaya pria ini datang tanpa mengabari sekalipun lalu mendadak mengajaknya pergi.


"Aku belum mandi." Ucap Agatha.


"Kau bersiap sekarang, aku akan menunggu." Greg tersenyum, Agatha masih saja tak bergerak dari tempatnya.


"Ayo, kau bersiap sekarang. Aku akan menunggu disini." Kata Greg.


"Baik, tunggu sebentar ya." Agatha meminta pelayan membawakan minuman untuk Greg sebelum ia pergi menuju kamar lalu bergegas mandi.


"Siapa kau ?." Arkan datang memperhatikan pria yang sedang menduduki sofa.


"Aku Greg." Pria itu menjawab.


"Sudah dua kali aku melihatmu disini, apa tujuanmu mendekati Adikku ?." Greg merasakan aura mendominasi dari Arkan.


"Aku hanya ingin mengajaknya pergi." Arkan tertawa kecil, kemudian ia menarik kerah Greg dan dicengkeram kuat-kuat.


"Aku tahu kau yang membawa Adikku kemarin sampai dia pulang larut malam, jangan macam-macam ! tidak hanya satu ataupun dua orang yang mengawasimu." Greg terkejut, tak menyangka kalau Arkan bahkan meminta orang-orang untuk mengawasinya.


"Aku tidak pernah macam-macam pada Adikmu, nyawaku taruhan nya." Kata Greg.


"Orang sepertimu tidak pantas mendekati Agatha, lihat ? Nyalimu sangat kecil." Arkan tertawa melihat wajah Greg.


"Nyaliku tidak kecil, aku hanya bersikap sopan pada seorang Kakak dari wanita yang aku suka, meskipun mungkin saja umur kita sama." Greg tersenyum kecil, Arkan merasa sedang direndahi lalu mendorong pria itu hingga terbentur dinding.


"Jaga mulutmu, berani sekali mengatakan suka pada Agatha didepan wajahku." Ucap Arkan.


"Lalu ? jika tak diperbolehkan menyukai Agatha, apa aku boleh menyukai ibumu ?." Arkan semakin kesal, dia meninju wajah Greg.


BUGH !


"Beraninya kau ?!." Arkan melayangkan tangan nya sekali lagi, namun dicegah oleh Agatha.


"Kakak !." Ia memasang badan didepan Greg.


"Minggir." Pinta Arkan.


"Kau tidak boleh seenaknya memukul orang ! dia temanku !." Kata Agatha berteriak.


"Sejak kapan kau berteman dengan pria ?!." Arkan memelototi Agatha.


"Kakak saja berteman dengan wanita, sudahlah ayo Greg kita pergi." Agatha menarik Greg pergi dari rumah besar tersebut.


"Kakakmu menyeramkan." Greg tertawa.


"Kau jangan main-main padanya." Agatha mencubit Greg kencang.


"Argh ! kau ini kalau tidak menginjak kakiku, pasti mencubit tanganku." Greg kesakitan.


"Sekarang katakan kau ingin mengajakku pergi kemana ?." Tanya Agatha.


"Ke suatu tempat, aku tidak pernah merencanakan ini sebelumnya, tapi aku harap kau suka." Greg tersenyum.


...


Rubby bertemu dengan Arkan ditempat yang sudah mereka janjikan sebelumnya.


"Kau hanya sendiri ?." Tanya Arkan.


"Memangnya dengan siapa lagi ?." Rubby tersenyum kecil.


"Rain ? kenapa tidak bersamanya juga ?." Pertanyaan Arkan membuat Rubby sedikit kesal namun ia harus tetap tersenyum.


"D-dia sedang tidak enak badan." Balas Rubby.


"Benarkah ?! apa dia sakit ? sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja." Arkan terlihat khawatir.


"Ah tidak, tidak separah itu kok, ayo kita berangkat." Rubby memegang tangan Arkan namun pria itu merasa tidak begitu nyaman.


"Jadi, apa menurutmu ?." Tanya Arkan.


"Menurutku ? apanya ?." Rubby tak bisa fokus saat jalan bersama pria yang disukainya.

__ADS_1


"Kau bilang punya selera yang bagus kan ? hadiah untuk Adikku ? menurutmu apa yang bagus ?." Kata Arkan lagi.


"Ah ya maaf aku jadi sedikit lupa, kita pergi saja ke butik yang paling terkenal di kota ini, lalu meminta mereka merancang pakaian paling terbaik, bagaimana ?." Ucap Rubby, sebenarnya dia sendiri bingung harus memberi hadiah apa, selera yang bagus hanyalah alasan agar dirinya bisa berkencan dengan Arkan.


"Butik ? maksudmu gaun ?." Kata Arkan lagi.


"Iya, gaun. Adikkmu pasti sering datang ke acara-acara penting kan ? maka dari itu gaun sangatlah cocok untuknya." Rubby tersenyum.


"Benar juga, kalau begitu kita ke butik sekarang." Arkan melajukan mobilnya untuk menuju butik yang Rubby maksud.


Sampai disana, mereka berdua turun dari mobil dan disambut sopan oleh para pelayan butik.


"Selamat datang Tuan dan Nona, selamat berbelanja ditoko kami." Ucapnya.


"Saya mau pesan gaun yang dirancang khusus oleh desainer terbaik disini, ada ?." Tanya Rubby.


"Mohon maaf Nona, desainer kami sedang menjalani bisnis diluar negri, membutuhkan waktu yang cukup lama hingga dia kembali. Saat ini kami hanya menyediakan pakaian atau gaun yang sudah dirancang sebelumnya." Kata pelayan.


"Begitu ya ? apa tidak ada desainer lain ? butik sebesar ini tidak mungkin punya satu saja kan ?." Pelayan itu menggelengkan kepala sambil tersenyum sekali lagi.


"Maaf Nona, desainer terbaik kami hanya satu. Jika mau melihat-lihat dulu gaun yang tersedia bisa kami tunjukkan." Rubby menatap Arkan, lalu Arkan mengangguk.


"Tunjukkan, saya ingin melihatnya." Kata Arkan.


"Baik Tuan, mari saya antar." Pelayan itu menemani Rubby dan Arkan melihat gaun yang terpajang rapi di beberapa patung.


"Apa ada keluaran terbaru ?." Tanya Rubby.


"Tentu ada Nona, disebelah sana." Mereka berdua mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjukkan oleh Pelayan butik.


"Indah sekali." Rubby terpesona.


"Ini gaun keluaran terbaru, tidak ada lagi dibutik manapun selain kami." Pelayan itu tersenyum.


"Apa ini limited edition ?." Kata Rubby.


"Benar Nona, gaun ini pasti sangat cocok jika dikenakan oleh anda." Balasnya.


"Bungkus gaun ini untukku." Perintah Arkan.


"Baik Tuan." Ia segera membungkus gaun itu dengan rapih.


Setelah Arkan membayar gaun tersebut, keduanya pun keluar dari butik bersamaan.


"Aku harap Agatha menyukainya." Gumam Arkan.


"Tuan, apa setelah ini kita langsung pulang ?." Ucap Rubby.


"Ah iya hampir saja lupa." Arkan tersenyum, Rubby senang kalau ternyata Arkan tak lupa untuk mengajaknya makan bersama sebagai tanda terima kasih.


"Saat ini kau juga belum mencari hadiah untuk Adikku, ingin kemana ? biar ku temani." Kata Arkan, Rubby menghela nafas. Ia bahkan tak mengira jawaban Arkan akan seperti itu.


"A-aku bisa mencarinya nanti, yang terpenting adalah Tuan sudah mendapatkan hadiah ini." Ucap Rubby.


"Baiklah, ayo ku antar pulang." Mereka berdua memasuki mobil dan segera menuju kediaman Laos.


Setibanya disana, Arkan berpamitan untuk kembali kerumah.


selama diperjalanan semua terasa hening, bahkan jalanan pun terlihat sepi.


"Lihat, ada wanita cantik jalan sendirian malam-malam begini." Kata salah satu pria yang sedang menduduki pembatas jalan, mereka berjumlah tiga orang.


"Ayo, hampiri." Ajak lainnya.


"Malam Nona, apa boleh saya mengantar anda pulang ?." Kata pria itu.


"Maaf Tuan, saya bisa pulang sendiri." Sahut wanita.


"Jangan jual mahal begitu Nona, kami ini orang baik." Salah satu dari mereka memegang tangan wanita didepan nya dengan lancang.


PLAKKK !


"Jangan kurang ajar !." Ia hendak pergi setelah menampar salah satu dari mereka, namun ketiganya terlihat sangat emosi dan tak terima.


"Kau ini ditegur baik-baik malah menampar ! dasar sialan !." Satu dari mereka membalas tamparan wanita itu dengan sangat keras.


"Aaah !." Wajahnya terpental, lalu para pria tersebut menjambak rambut si wanita, ia manariknya begitu sadis.


"Aaah sakit ! lepaskan ! tolong !." Jeritnya ketakutan.


"Diam kau wanita rendahan." Ia membekap mulut si wanita sampai kesulitan bicara.


"Percuma kau menjerit, disini sepi tidak ada siapa-siapa, kau pantas menjadi santapan malam kami. Hahahaha." Tak lama ada sebuah mobil melewati jalan yang dikatakan sepi barusan.


"Rain ??!!." Arkan terkejut, tanpa banyak bicara ia menghentikan mobilnya dan mendekati para bajingan itu.


"Lepaskan wanita itu !." Kata Arkan, ketiganya panik dan mendorong Rain hingga menabrak Arkan.

__ADS_1


__ADS_2