
setelah makan bersama itu selesai Satria pun pamit kepada istri dan papa nya
"pa aku ke kantor dulu ya, papa jangan khawatir, aku sudah menyuruh anak buah ku untuk mencari keberadaan mama." kata Satria
"iya nak hati hati dijalan." ucap Tio
"sayang? aku jalan ya, kau hati hati di rumah, jangan kemana mana, aku melarang mu keluar dengan siapapun kecuali aku." kata Satria kepada Adinda
"iya iya aku tidak akan kemana mana, tenang saja tak usah cemas." balas Adinda
"baik lah, aku akan pulang nanti sore." Satria mengulurkan tangan nya, Adinda segera mencium tangan suaminya itu, dan Satria mengecup kening Adinda
"hati hati ya." kata Adinda dibalas senyuman oleh Satria
Adinda menatap punggung suaminya yg kini menjauh, lalu ia kembali ke kamar untuk mengecek Arkan
"mau kemana nak?." tanya Tio
"oh, aku mau ke kamar Arkan pah." jawab Adinda
"tidak usah, papa aja yg ke sana, papa ingin melanjutkan bermain dengan Arkan." ucap Tio Anggara dengan cepat di anggukan oleh menantu nya
"kasian papah, dia pasti sangat khawatir keadaan mama sekarang." gumam Adinda kecil
⭐⭐⭐⭐
sesampai nya Satria di kantor, semua karyawan membungkuk hormat menyambut kehadiran nya.
"selamat datang tuan." kata para karyawan bersamaan
Satria hanya berjalan tanpa menoleh ke arah mana pun kecuali depan, ia tetap fokus berjalan sampai ia memasuki lift untuk mencapai ruangan nya.
"selamat datang tuan." kata sekretaris Satria yg muncul ketika pintu lift terbuka
"siapkan berkas berkas kantor yg belum aku tanda tangani." pinta Satria berlalu pergi
"baik tuan."
tepat sekali saat Satria mendatangi kantor, ada seseorang yg ingin melamar pekerjaan di kantor nya, sebelum ini dia telah bertemu dengan Farel dan Farel mengatakan bahwa jadwal interview seseorang itu adalah hari ini
....
tok..tok..
sekretaris Satria pun masuk ke dalam membawa beberapa berkas dan memberitahu bahwa ada seseorang yg perlu di interview
"tuan, hari ini adalah jadwal interview yg di janjikan oleh pak Farel kepada seorang pelamar." kata sekretaris
"lalu?." tanya Satria yg sibuk menatap berkas berkas
"orang itu datang menunggu tuan memanggil nama nya." jawab sekretaris
"mengapa harus aku? bukan kah kau bisa hubungi dia sebelum dia datang untuk membatalkan jadwal interview nya??." ucap Satria melirik ke arah sekretaris
"ma-maaf tuan, saya tidak tahu jika hari ini tuan yg akan datang." balas sekretaris
"lain kali kau harus tanya pada Farel terlebih dahulu, ya sudah suruh dia masuk ke ruang interview." pinta Satria, ia menuju ruang sebelah dan duduk seraya menunggu
beberapa menit seseorang itu datang mengetuk pintu ruangan
"masuk." ucap Satria
__ADS_1
"selamat siang tuan." ucap seseorang yg baru saja masuk
"silahkan duduk." kata Satria, kemudian orang itu duduk dan tersenyum
"siapa nama mu?." tanya Satria
"Wina Anjani." jawab nya
"kapan pak Farel menjanjikan mu untuk di interview???." tanya Satria
"hari ini tuan." jawab orang itu
"tunggu sebentar." Satria menghubungi sekretaris nya dan meminta sekretaris tersebut membawakan surat lamaran orang yg saat ini ada dihadapan nya
tidak menunggu lama surat lamaran itu diantar oleh sekretaris, Satria segera membaca isi lamaran tersebut, serta pengalaman orang dihadapan nya
"kau pernah menjadi sekretaris?." tanya Satria
"iya tuan, saya pernah menjadi sekretaris direktur utama di perusahaan Lee." jawab nya
"oh, siapa nama bos mu?." tanya Satria lagi
"tuan Jonatan." balas orang itu
"kenapa kamu tidak menetap di perusahaan itu? kenapa kau memilih masuk ke dalam perusahaan ku?." kata Satria
"saya sudah lama berhenti dari perusahaan tersebut, karena ibu saya mengalami sakit keras sehingga saya harus mengurus nya." jawab dia
Satria hanya mengangguk tanda mengerti lalu mulai menginterview wanita tersebut
beberapa menit saat sudah selesai Satria tersenyum akibat wanita ini mampu melewati pertanyaan pertanyaan rumit
"aku hanya ada 2pilihan." ucap Satria
"jika menjadi sekretaris ku itu tidak akan bisa karena aku telah memiliki sekretaris, tapi jika kau mau kau bisa menjadi karyawan disini, jadi pilihan nya adalah mau atau tidak sama sekali." kata Satria menatap wanita itu
"karyawan? baiklah saya mau tuan." jawab nya
"kalau begitu selamat bergabung di perusahaan Anggara, semoga kamu bisa membantu perusahaan ini agar lebih maju ke depan nya." kata Satria menjabat tangan wanita itu, begitu juga dengan wanita dihadapan nya yg sangat senang meraih tangan Satria untuk sekedar berjabatan
sesaat wanita itu melihat wajah Satria yg sangat tampan, kemudian Satria melepaskan jabat tangan mereka
"oke Wina kau bisa langsung bekerja atau pulang dulu sekarang, tapi besok kau sudah harus masuk ke kantor, ingat? kau tidak boleh banyak bergosip tentang apapun, kau juga tidak boleh terlambat dalam waktu yg lama, kau juga harus mematuhi aturan di kantor ini." ucap Satria
"baik tuan, terimakasih banyak." wanita itu pergi menuju keluar dan pulang ke rumah nya
setelah itu Satria kembali menanda tangani berkas berkas dihadapan nya, lalu ketika sudah beres ia menghubungi istrinya
tringg tringg....
"halo Satria? ada apa?." tanya Adinda di sebrang telepon
"kau sedang apa?." tanya Satria
"oh aku sedang di kamar sambil duduk duduk saja." ucap Adinda
"Arkan dimana?." tanya suaminya lagi
"Arkan ada ko sama papah, nanti jangan lupa makan lagi ya." ucap Adinda
"tidak akan lupa sayang, kau baik baik di rumah ya, jangan kemana mana, kau ingat kan bahwa aku..."
__ADS_1
"iya Satria, aku gak akan kemana mana, aku ingat, ingat sekali." sahut Adinda
"bagus, ya sudah aku tutup dulu ya panggilan nya." kata Satria
"baik."
saat panggilan terputus Satria pun melanjutkan pekerjaan nya dan Adinda hanya diam diri dikamar seraya menatap ke arah foto foto pernikahan nya
"aku? benarkah ini memang aku?." gumam Adinda memegang salah satu bingkai foto tersebut
"aku cantik sekali saat menikah begini." kata Adinda tertawa kecil
"apakah aku benar benar hilang ingatan??? mengapa aku tidak mengingat momen kebahagiaan itu, bagaimana dulu aku bisa menikah dengan Satria, oh ya ampun aku sangat ingin mengetahui nya." ucap Adinda lagi, ia mencoba mengingat ingat tentang diri nya dulu, ia berharap itu akan berhasil membuat nya kembali mengingat masa lalu, namun kepalanya justru sakit, sangat sakit sekali
"argh kepala ku." Adinda memegangi kepala nya
"tidak, aku tidak boleh tumbang disini!." Adinda mencari obat yg pernah diberikan oleh dokter, ia mencari sambil memegangi kepala nya dengan satu tangan
"kau pasti menemukan nya." gumam Adinda membuka laci secara satu per satu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Halo pembaca setia ku!!😍😍😍
jangan bosen bosen untuk dukung cerita ini😊🥰
semoga kalian selalu suka dengan ceritanya😘😘😘
⭐⭐⭐⭐⭐
jangan lupa selalu tinggalkan jejak ya🥰Like👍🏼komen💬dan vote😍beri tip juga jika kalian suka😍
dukungan kalian sangat berarti bagi author🤩🤩🤩🤩
__ADS_1
SEHAT SELALU PARA READERS!!!!😍😍😍😍**