
besoknya, Satria memandangi wajah Adinda yang masih tertidur lelap, ia tersenyum sambil mengelus pelan ke bagian perut sang istri.
"masih tidur saja cantik, apa lagi kalau sudah mandi." gumam Satria tertawa kecil, kemudian Adinda merasa terusik dan bergerak, tangan nya meraih pergelangan Satria untuk dipeluk hingga kembali tertidur.
"Adinda, kau manis sekali." Satria mendekatkan wajahnya lalu mencium kening wanita tersebut.
"Mas, kamu sekarang senang meledek ya?." Adinda membuka mata dan menatap Satria dengan manja.
"Aku senang meledek istriku yang cantik ini, bagaimana tidur nya Nona?." kata Satria tersenyum hangat.
"Kamu memang menyebalkan ya mas!." Adinda bangun kemudian mencubit hidung suaminya, tiba-tiba ponsel Adinda berdering.
"Halo Dad? ada apa?." Ucap Adinda.
"Sayang, Mom masuk rumah sakit, dia sangat merindukanmu." Kata William.
"Apa?! Mommy masuk rumah sakit?! aku ke sana sekarang!." Adinda mematikan telepon kemudian buru-buru bangkit untuk mandi.
"Hei, hati-hati dong, kamu kan sedang hamil, Mas tahu kamu khawatir tapi pikirkan kandungan mu." Satria menahan tangan wanita didepan nya yang mulai gemetar.
"Jangan takut oke? Mom akan baik-baik saja." Satria memeluk Adinda, mereka pergi mandi kemudian memakai pakaian untuk berangkat ke kota William.
"Ma, Adinda pergi dulu ya, maaf kalau sedikit merepotkan karena aku akan meninggalkan Arkan disini sebentar." Ucap Adinda.
"Iya sayang, tidak masalah, Mama senang kamu meninggalkan Arkan disini, lagi pula dia masih tidur jadi pergilah dan hati-hati, jaga kandungan mu, oke?." Tania tersenyum hangat, mereka saling memeluk sebelum akhirnya pergi.
Di Rumah Sakit, Adinda segera mendatangi ruangan Rose, ada William dan Angeline yang sedang menunggu di sana.
"Kakak!!!." Angeline berlari dan memeluk Adinda sambil menangis.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Angeline, jangan menangis ya." Adinda mengusap bahu adiknya kemudian mengajak Satria masuk ke dalam ruangan.
"Mom! kenapa bisa seperti ini? apa kau sakit parah?." Tanya Adinda, Rose terasa jauh lebih lega ketika melihat Adinda datang bersama suaminya.
"Sayang, kenapa belum berkunjung ke rumah? Mommy sangat menunggu kalian." Ucap Rose, mendengar hal itu Adinda semakin merasa bersalah dan memeluk Rose.
"Maafkan aku, akhir-akhir ini aku hanya diam di rumah, bahkan aku baru sempat mengunjungi rumah Mama Tania kemarin." Kata Adinda sedih.
"Baiklah, tidak masalah, bagaimana kandungan mu? dimana Arkan?." Ucap Rose.
"Kandungan istriku baik-baik saja, Arkan sedang kami titip pada Mama." Sahut Satria.
"Mom, cepat pulih ya, kalau Mommy sudah sembuh, aku janji akan memberikan Mommy hadiah." Rose seketika tersenyum senang dan berusaha untuk sembuh.
"Terimakasih ya nak, kamu sudah menyempatkan waktu untuk datang, maafkan Dad menganggu kalian." Kata William yang datang tiba-tiba.
"Jangan khawatir Dad, kami akan menyempatkan waktu untuk kalian karena kalian juga bagian keluarga kami." Kata Satria
"Untuk sementara ini, kalian pulanglah dulu ke rumah Mommy dan Daddy karena perjalanan nya sangat jauh, pasti sangat lelah." Satria dan Adinda setuju dengan Rose lalu pamit pulang.
"Kalau begitu aku akan bawa istriku ke rumah, karena aku sangat khawatir dia kelelahan." Ucap Satria.
Diluar turun hujan yang sangat deras, Satria segera memegangi jas nya tepat di kepala Adinda.
"Sayang, tahan sebentar ya, kita akan sampai di mobil." Mereka berdua berlari kecil ke arah mobil dan masuk, tubuh Satria basah, sementara Adinda hanya terkena sedikit.
"Mas, kamu kedinginan ya? maafin aku ya Mas." Ucap Adinda menatap suaminya didalam mobil.
"Jangan meminta maaf, tidak ada yang salah, aku hanya mau melindungi istriku dari dingin nya hujan." Satria tersenyum dan melajukan mobilnya.
__ADS_1
Adinda segera memeluk Satria dan memejamkan mata.
"Apa yang kamu lakukan! lihat! bajumu jadi basah! nanti kau sakit." Satria marah.
"Mas, kalo aku kedinginan yang bikin hangat siapa?." Adinda bertanya sambil memainkan jari-jari Satria.
"Ya akulah, masa orang lain." Jawab Satria.
"Nah kalau Mas kedinginan juga aku yang harus membuatnya hangat." Adinda bersandar di bahu Satria.
sesampainya di rumah, Satria langsung menyiapkan air hangat untuk Adinda berendam.
"cepat sana, nanti kamu masuk angin." Kata Satria.
"Ayo dong Mas sama kamu, aku kan tidak mau sendirian." Adinda menarik-narik tangan Satria.
"Mas ganti baju saja, kamu yang mandi, nanti kalau kepalamu pusing gimana?." Ucap Satria.
"Ayo Mas, Ayo." Adinda terus merengek seperti anak kecil, akhirnya Satria menuruti Adinda.
...
"Jonatan, kita harus pindah ke luar negri." Pinta Selin.
"Apa?! ke luar negri? memangnya kenapa? ko mendadak sekali?." Ucap Jonatan tercengang.
"Ya pokoknya aku mau kita pindah ke sana besok, please?." Selin memohon pada suaminya, hal itu membuat Jonatan bingung.
"Baik, aku akan urus semuanya, kita pergi besok." Jonatan mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
__ADS_1
tak lama ponsel Selin berdering terus menerus, Jonatan segera melirik dengan sinis, menyadari hal itu jantung Selin berpacu dua kali lebih cepat dan segera mematikan ponselnya.